
Pagi menjelang, pada saat Reyna sedang mengecek salonnya, tiba-tiba datang Santika. Dia langsung mencekal lengan Reyna secara kasar.
"Heh, Reyna! bagaimana kamu bisa mendapatkan Exel? asal kamu tahu ya, aku tidak akan pernah rela jika kalian bahagia. Dan asal kamu tahu, hanya aku yang boleh memilikinya!"
"Kamu cepat pergi dari sosu, Exel atau aku akan bertindak kasar padamu atau pada anakmu! "
"Kamu itu tak pantas bersanding dengan Exel karena kamu hanyalah seorang janda dua kali juga. Hanya aku saja yang pantas ada di sisinya!"
"Sekarang juga kamu tinggalkan dia atau aku akan membuat hidupmu dan anakmu sengsara!"
Mendengar ancaman dari Santika, kini Reyna telah yakin jika apa yang di katakan oleh suaminya adalah benar. Santika yang terlalu obsesi pada Exel. Bukan Exel yang dulunya adalah mantan Santika.
"Hello, apa anda tidak malu? karena anda telah mengemis cinta dari pria yang sama sekali tak cinta pada Anda? walaupun saya pergi, pasti suami saya tidak akan mau dengan anda. Karena dia benar-benar cinta mati padaku," ucap Reyna sengaja mengejek.
"Jaga bicaramu ya, aku sama sekali tak mengemis cinta. Tetapi aju dan Exel memang dulunya saling cinta. Jika tidak bada kehadiran dirimu, pasti kami telah bersama lagi," bentak Santika.
Reyna hanya tersenyum sinis tak menghiraukan ucapan dari Santika hal ini membuat Santika emosi dan tak bisa mengontrol amarahnya lagi. Secara tiba-tiba dia mendorong tubuh Reyna dan untung saja ada Rony di belakangnya langsung menangkap tubuhnya.
"Reyna, kamu tak apa-apa!" tanya Rony khawatir.
"Mas Rony, sejak kapan kamu ada di sini?" Reyna langsung melepaskan diri dari Rony dan langsung menjauh.
"Heh, jangan kasar ya kamu sama Reyna!" bentak Rony melotot ke arah Santika.
"Ih siapa lagi sih kamu? apa kamu ini selingkuhan Reyna ya, hingga peduli seperti ini?" ejek Santika.
"Kalian berdua pergi saja dari sini, aku sedang banyak kerjaan tak ingin di ganggu oleh kalian," ucap lantang Reyna.
"Sombong amat kamu, Reyna! semua kan hartanya Exel, justru seharusnya aku yang berhak mendapatkan ini semua bukan kamu!" bentaknya ketus.
Reyna malas meladeni apa yang di katakan oleh Santika, hingga dia memutuskan untuk pergi dari salon tersebut. Dan pada saat Reyna akan melangkah tiba-tiba Santika akan memukulnya.
Santika sudah melayangkan tangannya tetapi di tangan Reyna di tangkap oleh Hanny dan di pelintir ke belakang.
__ADS_1
"Ahhh sakit, siapa sih kamu ikut campur urusan aku saja!" bentak Reyna pada Hanny.
"Siapa saya? saya adalah orang yang akan selalu melindungi, Nona Reyna! jadi anda jangan coba-coba mengganggunya!" bentak Hanny semakin menekan tangan kanan Santika ke punggungnya sendiri.
"Aaahhhh sakittttt tahuuu.....! lepaskan atau aku laporkan kamu ke polisi, dasar wanita bar-bar!" ancam Santika seraya merintih kesakitan.
"Silahkan saja, kamu pikir saya takut hah! justru saya bisa melaporkan anda balik!" bentak Hanny semakin bertambah menekan tangan Santika.
"Aahhhhh..... ampun....." teriaknya tak kuasa lagi hingga air mata menetes begitu saja.
"Hanny, lepaskan saja. Untuk hari ini cukup dulu kamu memberinya pelajaran. Semoga saja dia jera, jika dia mengulang lagi aku izinkan kamu sekalian saja mematahkan tangannya," ucap Reyna tersenyum sinis.
Saat itu juga Hanny melepaskan pelintiran tangan pada Santika seraya mendorong tubuh Santika keras hingga hampir saja Santika membentur tembok.
"Kamu pikir aku akan tinggal diam! aku akan membuat perhitungan pada kalian berdua, terutama padamu Reyna! dan aku pastikan secepatnya kamu akan. di benci oleh Exel. Dan pada akhirnya Exel akan memilih ku!" Santika berlalu pergi seraya terus merintih kesakitan.
"Terima kasih ya, Hanny."
"Sama-sama, Nona. Ini semua sudah kewajiban saya untuk menjaga anda, apa lagi anda sedang hamil muda," ucap Hanny menyunggingkan senyuman.
"Pasti, Hanny. Aku akan selalu waspada, kamu tak usah khawatir."
"Heh, Mas Rony! kenapa kamu belum juga pergi dari sini, cepat pergi mas!" bentak Reyna.
"Reyna, aku ingin bicara sebentar denganmu," pinta Rony memelas.
"Sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Tolong pergi dari sini, atau aku panggil anak buah suamiku untuk menghajar dirimu!' ancam Reyna.
"Reyna, bagaimana pun diantara kita ada suatu ikatan yang kuat yakni ikatan seorang anak yakni, Romy. Tolong dengarkan dulu apa yang ingin aku katakan," pinta Rony terus saja membujuki Reyna.
Namun Reyna tetap saja pada pendiriannya, dia malah meminta Hanny untuk mengurus Rony.
"Hanny, kamu urus dia dan aku menunggumu di mobil."
__ADS_1
Reyna melangkah pergi.
Dan pada saat Rony akan mengikuti langkah Reyna, Hanny menghadang dirinya.
"Pergilah, Tuan! jangan sampai saya berlaku kasar pula terhadap anda," ancam Hanny.
Namun Rony menganggap enteng kekuatan yang di miliki oleh Hanny. Hingga dia tetap menerjang akan mendekati Reyna.
Pada saat hampir sampai menjangkau Reyna, Hanny tak sungkan menendang ************ Rony.
'Aahhhh... burungku...kurang ajar ya kamu!" Rony ingin membalas dengan menghajar Hanny akan tetapi sia-sia saja.
"Sialan, ternyata wanita ini memang benar-benar tak terkalahkan! aku salah telah meremehkan kekuatannya," batin Rony.
Dia berjalan tertatih menuju keluar salon dan melangkah ke mobilnya. Seraya sesekali memegangi burungnya.
Setelah itu Hanny masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju ke restorannya.
"Sialan, sekarang susah sekali aku untuk bisa mendekati Reyna. Jika tidak ada wanita itu, aku pasti sudah bisa mendekati Reyna dengan sangat mudahnya," batin Rony.
Rasa kesal saat ini sedang dirasakan oleh Rony karena usahanya untuk bisa mendekati Reyna selalu saja gagal. Dia tak bisa berpikir jernih untuk saat ini. Dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kotanya.
"Aku lupa, jika aku harus terlebih dahulu membereskan Rara." Rony melajukan mobilnya arah pulang.
Beberapa jam kemudian dia telah sampai di rumahnya.
"Mas, kamu sering banget pergi ke luar kota. Padahal kamu sudah tak ada urusan lagi di luar kota," tegur Rara ketus.
"Hem, sepertinya aku telah memutuskan satu hal. Mau tak mau kamu harus mau dan harus terima!" ucap Rony lantang.
"Kamu ngomong apa sih, mas? pulang-pulang kok seperti ini?" tanya Rara mengernyitkan alisnya.
"Ra, aku ingin kita cerai. Aku sudah tak sanggup lagi hidup bersama dirimu yang tak bisa bersikap dewasa. Kamu selalu saja membawa orang tuamu di dalam permasalahan rumah tangga kita," ucap Rony.
__ADS_1
"Nggak, mas. Sampai kapanpun aku tak mau jika kita pisah. Apa kamu tak kasihan pada dua anak kita?" Rara mulai panik