
Saat itu juga Mr Exel memerintahkan seluruh anak buahnya untuk segera ke lokasi yang telah Sella katakan.
Akan tetapi setelah sampai di lokasi, tempatnya kosong tidak ada satu manusia pun, hal ini membuat Mr Exel sangat marah dan kesal.
"Sella, bagaimana ini? kenapa di sini kosong tidak ada satu orangpun? apakah kamu salah dalam mendeteksinya?" tanya Mr Exel kesal.
"Tidak kok, Mr. Saya sudah mendeteksi sesuai dengan panggilan telpon tersebut. Atau mungkin ada mata-mata di pihak kita juga bisa jadi, Mr," ucap Sella sekenanya.
"Mata-mata?"
"Iya, ada salah satu anak buah Mr yang telah berkhianat memberi tahu pada Santika tentang rencana kita," ucap Sell"
Sejenak Mr Exel terdiam, dia masih saja belum percaya bagaimana bisa anak buahnya berkhianat. Tapi dia lekas mengecek rekaman video CCTV di seluruh ruangan markasnya. Dan dia benar-benar menemukan ada satu anak buahnya yang gelagatnya mencurigakan.
Dia pun memerintahkan Budi untuk membawa kehadapannya anak buahnya yang mencurigakan tersebut.
"Ini dia, Mr." Budi mendorong kasar salah satu anak buah Mr Exel dengan kasar.
Anak buahnya begitu ketakutan dan gemetaran apa lagi pada saat melihat terpancar amarah di mata Mr Exel.
"Apa kamu tahu kenapa aku memanggilmu kemari, hah?" tanyanya melotot pada anak buahnya yang terus saja tertunduk.
"Nggak, Mr. Saya nggak tahu," jawabnya tertunduk ketakutan.
"Hem, baiklah. Berikan ponselmu sekarang juga!" bentak Mr Exel pada anak buahnya.
Namun dia tak mau memberikannya, hingga Budi dengan paksa mengambil ponselnya dan lekas memberikan pada Mr Exel.
Segera Mr Exel mengecek ponsel tersebut dan alhasil apa yang di katakan oleh Sella ada benarnya juga.
"Dasar kurang ajar! jadi kamu yang telah berkhianat padaku, hah! sekarang katakan dimana tempat persembunyian Santika kalau kamu tak ingin mendapatkan hukuman. Juga keluargamu pasti akan aku hukum!" ancam Mr Exel geram.
"Jangan, Mr. Jangan hukum keluarga saya, saya minta maaf. Saya melakukan ini juga karena terpaksa karena saya butuh uang banyak," ucapnya memelas.
"Nggak usah beralasan apa pun, aku takkan mau mendengarkannya! cepat katakan sekarang juga, sebelum aku berubah pikiran dan berbuat kejam bukan hanya padamu tapi juga pada anak dan istrimu!" ancam Mr Exel lagi pada anak buahnya tersebut.
__ADS_1
"Saya benar-benar tidak tahu dimana saat ini, Nona Santika bersembunyi," ucapnya.
"Hem, kalau begitu sekarang juga kamu telpon dia dan kamu katakan ingin bertemu untuk membicarakan hal penting dengannya! cara bicaramu jangan membuatnya curiga, paham!" bentak Mr Exel.
"Sella, coba kamu bersiap-siap untuk melacak panggilan telpon dari Santika lewat ponsel dia!" tunjuk Mr Exel pada anak buahnya yang telah berkhianat tersebut.
"Siap, Mr."
"Ingat ya, jika kamu tak berhasil memancing Santika keluar, kamu yang akan aku hukum beserta anak dan istrimu!"
Mendengar ancaman dari Mr Exel, anak buahnya begitu gemetaran karena dia tahu sekali bagaimana sifat Mr Exel. Jika sudah mengatakan apa pun pasti akan di lakukannya. Dia pun langsung menelpon nomor ponsel Santika.
"Hallo, Nona Santika."
"Ya Hallo, apakag ada kabar terbaru dari markas Exel?"
"Banyak sekali kabar terkini, Nona. Tetapi saya tak bisa bicara lewat telpon karena ini terlalu berbahaya. Bisakah kita bertemu sekarang juga, nona?"
"Baiklah, kamu temui saya saja di cafe A tepatnya di jalan Mawar."
"Ya sudah, saya juga aman langsung ke sana sekarang juga."
Saat itu juga panggilan telpon segera di matikan oleh kedua belah pihak. Lantas anak buahnya membeti tahu pada Mr Exel, jika Santika akan datang ke sebuah cafe.
"Mr, saya berhasil menemukan tempat persembunyiannya. Yakni si sebuah villa tepatnya di pegunungan," ucap Sella sumringah.
"Bagus kalau begitu kita bagi tugas saja. Kamu dan beberapa temanmu lekas ke lokasi persembunyian dan cari Romy. Sementara aku dan Budi menemri Santika ke cafe."
'Budi, untuk sementara kurung dia dan ponsel ini akan aku sita dulu!" pinta Mr Exel."
Budi segera menyeret paksa anak buah Mr Exel yang telah berkhianat dan mengurungnya di lorong bawah tanah.
Setelah itu, Mr Exel mengajak Budi dan beberapa anak buah lainnya pergi ke cafe dimana Santika sedang menunggu.
Drt drt drt drt
__ADS_1
Satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam ponsel anak buah Mr Exel yang di sita olehnya.
[Saya sudah sampai, di meja nomor 1. Kamu dimana, jangan terlalu lama karena saya ada urusan yang lain!]
Mr Exel tersenyum pada saat membaca chat pesan tersebut. Dia pun langsung membalasnya.
[Otw, sebentar lagi sampai. Bersabar sedikit, Nona.]
Santika sedikit kesal, karena pekerjaan yang paling dia benci adalah menuggu. Akan tetapi dia sangat penasaran dengan apa yang ingin di katakan oleh anak buah Mr Exel. Hingga dia sengaja menunggu.
"Mana sih dia! begitu lama seperti ini, padahal aku masih ada urusan yang lainnya!"gumamnya kesal.
Hingga beberapa menit kemudian, datanglah Mr Exel dan Budi tepat di hadapan Santika.
"Bagaimana Exel tahu jika aku ada di sini?" batinnya mulai panik.
Dan pada saat dia akan bangkit berdiri untuk kabur, Mr Exel memaksanya untuk duduk kembali.
"Kenapa kamu buru-buru, sayang? katanya ingin membahas pernikahan kita, kenapa wajahmu terlihat panik dan cemas seperti itu?" Mr Exel menyeringai sinis.
"Tapi aku tidak merasa janjian denganmu di sini, melainkan aku sedang menunggu seseorang," ucap Santika mulai gemetaran.
"Memangnya kenapa kalau kita tidak janjian terlebih dahulu. Aku ingin tanya padamu dimana kamu sembunyikan Romy? katakan sekarang juga atau kamu ingin aku berbuat kasar padamu!" ancang Mr Exel melotot ke arah Santika.
"Sampai kapanpun aku tidak akan memberitahumu di mana aku menyembunyikan anak tirimu itu. Memangnya sebegitu berharganya dia, padahal dia itu bukan anak kandungmu loh."
"Aku juga tidak akan takut dengan ancamanmu itu. Aku yakin kamu tidak akan berani melukai aku sedikitpun."
Santika begitu bernyali dan dia tidak gentar dengan ancaman yang telah dilontarkan oleh Mr Excel dia malah tersenyum sinis padanya.
"Baiklah Santika, jika itu jangan salahkan aku bila aku benar-benar menyakiti dirimu. Entah itu aku akan membuatmu buruk rupa atau aku akan mematahkan tangan atau mematahkan kakimu bahkan aku bisa membunuhmu saat ini juga!"
"Kamu tahu kan jika aku sudah berkata apapun aku tidak main-main dengan perkataanku!"
"Budi, tolong ambilkan pisau yang telah aku siapkan tadi aku ingin membuat suatu lukisan di wajah mulus Santika saat ini juga. Bahkan aku juga akan membuat tangannya tak sempurna lagi, aku ingin memotong beberapa hari lentiknya itu!"
__ADS_1