Perjuangan Cinta Reyna

Perjuangan Cinta Reyna
Terjadi Suatu Keributan


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Mr Exel berpamitan ke kantor dan dia yang akan mengantar sekolah Dika dan Romy sekalian ke kantor.


"Tata sayang, aku minta kamu tetap ada di rumah ya. Kamu boleh keluar tapi harus ada yang dampingi, aku sudah mempekerjakan satu orang lagi untuk menjaga dirimu," ucap Mr Exel.


"Baiklah, sayang. Bukannya Hanny sudah kembali lagi urusannya?"


"Nggak apa-apa, mulai saat ini kamu akan di kawal dua anak buah ku. Dan untuk urusan antar sekolah biar aku saja sekalian aku berangkat ke kantor. Jika kamu mau jemput Dika dan Romy nggak apa-apa. Aku hanya nggak ingin kamu terlalu cape saja."


"Kamu boleh kok setiap jemput anak-anak mampir untuk mengecek salon dan restoran. Asal ada pengawalan."


Mendengar apa yang di katakan oleh suaminya, Reyna menyanggupi.


"Iya, sayang. Aku akan selalu menuruti apa pun yang kamu mau, demi keutuhan rumah tangga kita dan demi keamanan anak ini," ucap Reyna seraya mengusap perutnya yang masih rata.


"Oh iya, kenapa papah lupa nggak pamit sama anak papah ini ya. Maafkan papah ya sayang. Papah kerja dulu, kamu baik-baik di rumah dan jangan nakal. Jaga mamah ya."


Mr Exel mengusap perut Reyna seraya mencium perutnya.


"Tata, aku pergi ya. Ingat selalu waspada karena di luaran sana ada, Santika." Mr Exel mencium kening istrinya.


"Iya, sayang. Kamu juga yang hati-hati ya." Reyna mencium punggung tangan suaminya.


Selepas Mr Exel pergi bersama Dika dan Romy, barulah orang tua Reyna menanyakan perihal kedatangan Rudy dan bapaknya.


"Reyna, untuk apa Rudy datang bersama bapaknya?" tanya Bu Wati penasaran.


"Iya, Reyna. Kenapa sih mereka mengganggu rumah tanggamu? padahal kan kalian sudah tidak ada hubungan lagi?" Ayah Darmawan ikut berkata.


"Katanya mereka mendapatkan pesan sebelum almarhumah Bu Am Meninggal, katanya berpesan supaya menyampaikan padaku bahwa Bu Am minta maaf," ucap Reyna.

__ADS_1


"Hallah, ada-ada saja dech. Paling itu cuma akal-akalan mereka untuk mendekati kamu lagi. Kamu harus lebih waspada saja, jangan sampai kedua mantanmu itu mendekati kamu lagi. Kamu harus bisa menjaga hati suamimu, sebidai mungkin kamu yang menjauh jika ada salah satu dari mantan suamimu mencoba mendekatimu, nasehat Bu Wati.


"Iya, Bu. Aku pasti akan lebih waspada, aku nggak ingin terjadi suatu kesalah pahaman diantara aku dan suamiku, Bu," ucap Reyna meyakinkan ibunya.


"Bagus, Reyna. Terutama si Rony. Sepertinya dia yang paling keras kepala berusaha mendekati kamu. Ayah sempat loh melihatnya ada di sekitaran daerah sini," ucap Ayah Darmawan membuat Reyna dan ibunya saling berpandangan satu sama lain.


"Hah, yang benar saja ayah?" tanya Reyna seolah tak percaya dengan apa yang di katakan ayahnya.


"Untuk apa ayah berbohong padamu, kamu harus berhati-hati dengannya,X pesan Ayah Darmawan.


"Heran sekali dengan kedua mantan suamimu, setelah apa yang mereka lakukan padamu mereka tak punya malu sama sekali mendekatimu. Padahal sudah jelas-jelas kamu ini sudah bersuami," Bu Wati merasa sangat geram.


Sementara saat ini, Rony sedang duduk di depan rumahnya. Dia sedang menunggu Reyna keluar dari rumahnya.


"Kenapa dari pagi aku tak melihat Reyna keluar dari rumah ya?" batin Rony terus saja mengamati rumah Reyna.


Tetapi pada saat dia akan menyalakan mesin motornya, tiba-tiba ada seorang wanita yang tak asing lagi ada di hadapan Rony.


"Rara, bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Rony menatap sinis padanya.


"Tak penting aku tahu dari mana, yang terpenting sekarang juga kamu ikut aku, mas. Karena anak kita yang sulung sedang ada di rumah sakit. Dan dia membutuhkan transfusi darah, tapi di rumah sakit tidak ada stok golongan darah yang sesuai dengan golongan darah anak kita. Bukannya golongan darahmu sama dengan, Aris?" ucap Rara.


"Ra, kamu tak usah membuat suatu kebohongan dengan mengatasnamakan anak kita masuk rumah sakit."


Rony tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Rara.


"Astaghfirullah aldazim, Mas Rony. Untuk apa aku berbohong, ini keadaan sudah gawat. Anak kita tertabrak sebuah motor pada saat pulang dari sekolah."


Rara mencoba menjelaskan pada Rony.

__ADS_1


"Mas, aku mohon padamu. Masa iya kamu tega sama Aris anak kandungmu sendiri? dia saat ini sedang butuh pertolongananmu, mas. Saat ini kondisi Aris kritis," ucap Rara memohon.


"Ahhh kamu pikir aku percaya saja dengan akal busukmu itu hah? sudahlah jangan ganggu aku, masih ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan! tolong jangan ganggu waktu aku!" bentak Rony seraya melajukan motornya tanpa menghiraukan teriakan Rara yang sangat keras.


'Mas-Mas Rony.... tunggu mas...aku mohon mas...," Rara menangis histeris seraya terduduk di halaman rumah Rony.


Teriakan Rara sempat terdengar oleh keluarga Reyna dan Bu Wati. Apa lagi Bu Wati dan Reyna saat ini sedang berada di dalam mini market tak jauh dari apartement Mr Exel.


Bu Wati dan Reyna serta beberapa tetangga yang lain sempat keluar dan bahkan menghampiri Rara yang masih menangis tertunduk di lantai sembari menutup wajahnya dengan dua tangannya.


"Mba, maaf ada apa ya?" tanya Bu Wati merasa iba.


Mendengar teguran itu, Rarapun mengusap air matanya dan menatap ke arah Bu Wati. Pada saat dia melihat ada Reyna di samping Bu Wati, dia langsung marah dan bangun serta akan mendorong tubuh Reyna. Akan tetapi dengan cekatan Reyna sudah menghindar terlebih dahulu.


"Kamu, ini semua gara-gara kamu tahu nggak! Mas Rony meninggalkan aku dan kedua anak kita begitu saja itu demi mengejar mu dan anakmu!"


"Bahkan di saat anak kami kritis di rumah sakit dan butuh transfusi darah atau donor darah dia, malah dia sama sekali tak peduli! jahat kamu Reyna!"


"Apa kamu belum cukup dengan suamimu yang kaya raya itu hingga kamu berusaha mengambil suami orang, hah?"


Setelah melihat siapa yang telah menangis histeris dan berteriak itu adalah Rara. Baik ibunya atau Reyna susah tak iba lagi. Justru Reyna merasa kesal akan segala tuduhan dari Rara.


"Heh, jaga mulutmu ya? apa kamu lupa dengan apa yang kamu lakukan dulu pada rumah tangga aku. Justru kamu dulu yang telah menjadi pelakor dalam rumah tangga aku!'


"Aku sudah ikhlas dengan apa yang kamu lakukan pada aku dan anakku! masih saja kamu menuduh aku yang bukan-bukan!"


"Untuk apa aku ingin kembali dengan suami yang tak punya apa pun. Aku saat ini sudah sangat bahagia dengan rumah tanggaku yang sekarang! nggak ada kamusnya bagiku untuk kembali pada mantan!"


Setelah mengatakan hal itu, Reyna mengajak ibunya pergi dari tempat itu. Bahkan para tetangga yang tadinya iba juga ikut bubar meninggalkan Rara.

__ADS_1


__ADS_2