Perjuangan Cinta Reyna

Perjuangan Cinta Reyna
Keras Kepala


__ADS_3

Setelah semua tawanan terkumpul di markas besar Mr Exel. dia pun kembali lagi memeriksa satu persatu tawanan tersebut terutama Santika dan papahnya.


Mr Excel meminta salah satu anak buahnya membawa Santika dan papahnya ke ruangan khusus untuk dimintai keterangan lebih lanjut lagi.


Belum juga Exel mulai bertanya banyak hal, papahnya Santika telah terlebih dulu mengomel.


"Exel, apa-apaan sih kamu? masa iya kamu menangkap semua anak buah Santika dan juga Santika serta aku, apa sebenarnya maumu?" tanyanya lantang.


"Om gak usah pura-pura nggak tahu deh om, pasti om juga telah bekerjasama dengan Santika kan?" ucap Mr Exel ketus seraya berkacak pinggang.


"Kamu itu ngomong apa sih, Exel? aku tidak tahu menahu akan hal ini makanya aku tanya padamu, malah kamunya banyak bertanya! nggak usah bertele-tele, aku nggak suka akan hal itu!" bentak Papahnya Santika.


"Sebaiknya Om tanya sendiri pada anak Om ini kenapa aku sampai bisa menangkap Om dan juga dia serta semua anak buahnya!" Mr Exel balik membentak hingga Santika dan papahnya terlonjak karena kaget.


"Sebenarnya apa yang kamu lakukan pada Exel, Santika?" tanya Papahnya ketus.


"Aku itu nggak melakukan apapun, pah. Exel saja yang banyak tingkah menangkap kita dan semua anak buah aku," ucapnya masih bisa berkilah.


"Kamu itu ngomong apa tadi? kamu mau mengelak, mau aku sebarkan bukti yang aku simpan pada papahmu?"


"Anak kesayangan Om ini telah menyuruh anak buahnya untuk menculik anakku, si Romy. Makanya aku tanya padanya dimana dia saat ini menyembunyikan Romy?"


Mendengar akan apa yang di katakan oleh Mr Exel, sejenak Papahnya menatap Santika penuh tanda tanya.


"Apa benar yang Exel katakan, Santika?" tanyanya penasaran.


Sejenak Santika hanya diam saja tak menjawab apa yang di tanyakan oleh papahnya. Hingga membuat papahnya marah besar.


"Santika, jawab pertanyaan papah! kenapa kamu malah diam saja?" bentaknya lantang.

__ADS_1


"Pah, aku tidak melakukan hal itu sama sekali. Kenapa papah lebih percaya pada Exel daripada percaya pada anak papah sendiri sih."


Santika masih saja mengelak.


"Santika, dari tadi kamu terus mengelak padahal kamu yang telah menculik Romy. Bahkan kamu menelpon aku mengancamku akan membunuh Romy bila aku tidak menuruti segala kemauanmu. Apa perlu aku berikan buktinya padamu, dan kalau kamu masih saja seperti ini aku akan melaporkanmu pada aparat hukum," ancam Mr Exel kesal.


"Santika, papah memang menginginkan kamu menikah dengan Exel. Tapi papah tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbuat curang seperti ini, apalagi sampai mengorbankan seorang anak yang tak berdosa. Santika, katakan di mana saat ini kamu menyembunyikan si Romy itu jangan sampai papah marah juga padamu!" bentak papahnya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mengatakan di mana aku menyembunyikan, Romy. Aku juga tidak takut jika kamu akan melaporkan aku ke aparat hukum," tantangnya tersenyum sinis.


"Dasar wanita keras kepala, baiklah jika seperti itu aku akan membuat laporan tentang kelakuan burukmu itu dan aku pastikan kamu akan mendatang lama di dalam penjara!" ancam Mr Exel lagi.


"Santika, cepat katakan saja di mana saat ini kamu menyembunyikan anak itu! papah nggak mau kamu masuk dalam penjara," bujuk Papahnya.


"Aku tidak takut masuk dalam penjara, pah. Yang penting aku puas dengan apa yang aku lakukan," ucap Santika masih saja tidak mau mengaku.


"Santika, kenapa kamu keras kepala sekali sih!" bentak papahnya.


Mr Exel semakin kesal dan emosinya sudah tidak dapat dikendalikan lagi, ia hampir saja menampar Santika tetapi dia pun menahan tangannya sendiri untuk tidak melakukan hal itu.


"Baiklah jika seperti itu aku akan membawamu ke aparat hukum sekarang juga dengan bukti-bukti yang akurat," ucap Mr Exel.


"Exel, om mohon jangan lakukan itu. Om yakin Santika akan memberitahu kita di mana saat ini dia menyembunyikan anak itu," bujuk papahnya Santika.


"Maaf saja Om, kesabaranku sudah habis dan detik ini juga aku akan membawanya ke aparat hukum," ucap Exel.


"Silakan saja kamu bawa aku ke aparat hukum, tetapi kamu tidak punya bukti yang kuat untuk menyeretku masuk penjara. Karena nanti selama di dalam kepolisian aku tidak akan mengakui apapun yang aku lakukan justru aku akan merekayasa semuanya. Dan aku yang akan menuntut balik kamu, Exel."


Santika sangat percaya diri, dia pun menyeringai sinis.

__ADS_1


"Baiklah kalau mau kamu seperti itu Santika."


Saat itu juga Exel memerintah anak buahnya menyeret paksa Santika membawanya ke aparat hukum dan kebetulan Exel memiliki kenalan yang menjabat sebagai Komisaris Besar di salah satu kepolisian.


Santika tidak tahu jika percakapannya tadi itu terekam dalam video rekaman CCTV yang akan menjeratnya untuk masuk dalam penjara dalam waktu yang cukup lama. Exel sengaja tidak mengatakan jika ruangan tersebut terdapat CCTV dia akan memberikan sebuah kejutan buat Santika di kantor polisi nanti.


Tak berapa lama mereka telah sampai di kantor kepolisian dan Exel langsung menemui Komisaris Besar di kepolisian tersebut yang adalah teman baik Exel selama dia berada di Indonesia ini.


"Ini orangnya, Mr Exel?" tanya Komisaris Besar Joy.


"Benar sekali, Pak. Dan ini saya sertakan bukti yang kuat, atas laporan saya."


Mr Exel menunjukkan rekaman video CCTV yang ada di ruangan dimana saat tadi dia meminta keterangan pada Santika.


Sejenak Komisari Besar Joy melihat rekaman video CCTV tersebut, dia sempat menggelengkan kepalanya.


"Nona, apa anda tidak takut dengan hukuman penjara yang akan anda terima dengan menculik seorang anak?" tanya Komisaris Besar Joy.


"Pak, untuk apa saya takut. Saya sama sekali tidak melakukan apapun yang di tuduhkan oleh, Exel," elaknya.


"Oh ya, saya lupa. Saya barusan memakai headset jadi anda juga tak bisa mendengarkan percakapan yang ada di rekaman video CCTV ini," ucap Komisaris Besar.


Sejenak Komisaris Besar Joy memitae ulang rekaman video CCTV tersebut dan menunjukkannya secara langsung pada Santika.


Melihat hal itu Santika terperangah, matanya membulat dadanya bergetar hebat. Dia mulai panik akan tetaoi dia mencoba menutupi rasa tersebut.


"Hah, jadi ruangan itu terdapat CCTVnya? aku pikir tidak ada, mampus dech jika seperti ini aku benar-benar akan mendekam lama di dalam penjara," batin Santika.


"Santika, katakan saja dimana kamu sembunyikan anak itu supaya kamu tidak masuk penjara. Ayolah, papah mohon," bujuk papahnya.

__ADS_1


Namun Santika hanya diam saja, dia sama sekali tak merespon apa yang di katakan oleh Papahnya.


__ADS_2