
Rara sangat kesal pada saat mendengar segala yang di ucapkan oleh Reyna. Tetapi bisa tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya bisa diam menatap kepergian Reyna dan ibunya serta para tetangga yang sempat mencibir ke arahnya.
"Aku tidak akan pulang sebelum berhasil meluluhkan hat, Mas Rony. Aku akan menunggu hingga ngga dia pulang."
Rara duduk di bangku yang ad di depan rumah Rony.
Sementara Rony saat ini sudah sampai di sekolahan Romy. Tetapi dia sama sekali tak melihat adanya Reyna. Dia pun memberanikan diri bertanya pada security yang sedang bertugas.
"Jadi tadi yang antar ke sekolah suaminya bukan Reyna? berarti saat ini Reyna ada di rumah dong, pantas saja aku tak melihat dirinya."
Saat itu juga Rony melajukan motornya arah pulang. Dan pada saat sampai didepan rumah, dia pun kesal karena melihat Rara masih ada di depan rumahnya.
"Ra, untuk apa kamu masih ada di sini? pulang saja sana!" usirnya ketus.
"Nggak, mas. Aku nggak akan pulang sebelum kamu ikut aku ke rumah sakit untuk mendonorkan darahmu untuk, Aris," pintanya memelas.
"Baiklah, kali ini aku mengalah dan akan ikut denganmu. Tetapi jika kamu bohong, aku tidak akan memaafkan dirimu!"
"Alhamdulillah, ayok mas kita berangkat sekarang juga naik motormu saja ya? nanti aku ganti ongkos bensinnya, karena aku kemari naik taxi on line," ucap Rara.
Hingga dengan terpaksa Rony menyanggupi, sementara di rumah sakit kedua orang tua Rara sedang kelimpungan bingung karena kondisi cucunya sudah sangat parah. Sementara Rara tak juga kunjung datang.
"Pah, bagaimana ini? Rara bilangnya sebentar tetapi kenapa lama sekali, padahal darah harus secepatnya di donor kan," ucap mamahnya.
"Coba papah telpon saja." Saat itu juga papahnya menelpon nomor ponsel Rara.
Kring kring kring kring
ponsel Rara berdering.
__ADS_1
"Angkat tuh, siapa sih yang telpon brisik banget!" ucap Rony di sela mengemudikan mobilnya.
Rara meraih ponselnya di dalam tas selempangnya.
"Hallo, Rara. Kamu sedang bada di mana sih lama amat, kondisi anakmu sudaj semakin kritis, papah takut terjadi hal yang tak di inginkan."
"Kami sedang ada di jalan, pah. Sebentar lagi juga sampai kok. Jangan berkata hal buruk tentang Aris, pah."
Saat itu juga panggilan telpon di matikan oleh papahnya Rara karena dokter tiba-tiba memanggilnya.
"Dok, ada apa ya?" tanya papahnya panik.
"Tuan, kami minta maaf. Pasien saat ini sudah tak bisa di selamatkan lagi, karena gagal mendapatkan transfusi darah yang sesuai dengan golongan darahnya. Pasien kehabisan darah hingga akhirnya Anfal," ucap sang dokter.
Mendengar akan hal itu, papahnya jatuh terduduk di bangku yang ada di ruang rawat cucunya.
"Inalillahi wa Inalillahi rojiun.."
"Aris bangun, cu. Ayohlah bangun, kamu itu masih terlalu kecil untuk pergi ke surga." mamahnya Rara terus saja meraung menangis memeluk cucunya yang sudah tak bernyawa.
Tak berapa lama, Rara dan Rony sudah datang di rumah sakit.
"Pah, kenapa menangis?" tanya Rara hatinya sudah cemas.
"Kenapa kamu lama sekali? padahal Aris butuh darah secepatnya, kamu lihat sendiri sana apa yang telah terjadi pada Aris," ucap papahnyado sela Isak tangisnya.
Rara dan Rony segera masuk ke ruang rawat Aris, mereka terperangah dan membola matanya pada saat melihat seseorang tertutup kain kafan.
"Mah, mana Aris?" tanya Rara meneteskan air mata.
__ADS_1
"Aris sudah pergi, Ra. Kamu kemana saja, katanya mencari donor untuk Aris tapi ko lama sekali? padahal dokter sudah mengatakan padamu bukan, supaya jangan terlalu lama. Akhirnya seperti ini, Aris kehabisan darah dan akhirnya Anfal," ucap mamahnya seraya terus menangis.
"Lihat, mas! ini semua gara-gara kamu yang tak mau langsung ikut denganku untuk mendonorkan darahmu untuk Aris! puas kamu telah membunuh anak kita!" bentak Rara menangis seraya memukuli dada Rony.
Sementara Rony hanya bisa diam terpaku menatap Aris yang tertutup kain kafan. Dia pun menitikkan air matanya. Dia pikir Rara hanya berbohong saja hingga dia sempat menolak ikut dengannya.
"Ya Allah, aku pikir Rara bohong. Ya Allah, maafkan kesalahanku ini yang terlalu egois memikirkan diri sendiri. Ya Allah, seharusnya Engkau beri waktu aku sedikit lagi untuk bisa memberikan darahku untuk Aris," batinnya menyesal.
"Kenapa kamu hanya diam, mas? kembalikan nyawa Aris sekarang juga, ini semua salahmu!" bentak Rara menangis histeris.
Sementara Papahnya masuk untuk menenangkan Rara.
"Sudahlah, Ra. Ini juga kesalahanmu, untuk apa kamu mencari donor dengan meminta darah pada orang yang tak punya hati seperti, Rony. Kamu juga telah bohong pada papah dan mamah. Kamu bilang temanmu golongan darahnya sama dengan, Aris. Jika kami tahu kamu akan menemui, Rony. Kami yang akan mencarikan donor darah untuk Aris!" papahnya menyalahkan Rara yang tak jujur padanya.
"Maafkan aku, pah. Aku pikir Mas Rony itu tak kejam pada anak sendiri, ternyata dia sangatlah kejam tak berperikemanusiaan sama sekali!" ucap Rara.
"Sudah, kalian tak usah berdebat terus. Mending kita urus pemakaman Aris," lerai mamahnya Rara.
Saat itu juga jenazah Aris di bawa pulang dengan menggunakan mobil ambulance. Sesampainya di rumah, orang tua Rara langsung mengurus semuanya yang diperlukan untuk proses pemakaman cucunya.
Selama prosesi pemakaman, Rony hanya diam saja. Dia tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Karena dia sadar dia memang salah. Hingga acara pemakaman selesai, barulah Rony mengucap kata maaf pada Rara.
"Ra, aku minta maaf ya. Aku pikir kamu itu berbohong dengan kondisi, Aris," ucapnya tertunduk lesu.
"Apa, maaf? sampai kapanpun aku takkan memaafkan kamu, mas! lagi pula kata maafmu itu tidak bisa mengembalikan nyawa, Aris!' bentak Rara masih saja berderai air matanya.
"Ra, ini semua juga bukan sepenuhnya kesalahan aku. Jika kamu tak teledor dan tak ceroboh dalam menjaga Aris, pasti dia tak alami kecelakaan pada saat pulang sekolah. Justru di sini kamu yang sangat bersalah atas meninggalnya, Aris," ucap Rony tak mau di salahkan sepenuhnya oleh Rara.
Mendengar akan hal itu, papahnya Rara geram dan lekas mengusir Rony.
__ADS_1
"Pergi sana kamu dari sini, bukannya menyesal malah bisanya menyalahkan Rara! dasar pria tak tahu diri dan egois!" bentak papahnya Rara mengusir Rony begitu saja.
Hingga pada akhirnya Rony berlalu pergi dari rumah mewah orang tua Rara. Dia melenggang lemas melajukan motornya arah pulang ke rumahnya. Tetapi pikirannya terus tertuju pada, almarhum Aris. Hingga pada saat mengemudi , air matanya terus saja meleleh.