
Namun pada saat ia akan pulang, tak sengaja ia melihat Reyna menggendong si kecil Erlan sedang ada di pintu gerbang menyalami Exel yang akan berangkat ke kantor.
"Bukannya itu Reyna, wah suaminya tampan seperti sekali. Kaya pula," gumam papahnya Rara di balik kemudinya.
"Ternyata setelah cerai dari Rony, Reyna malah mendapatkan suami sangat tampan dan sangat kaya. Kenapa anakku begitu bodohnya, tak bisa mencari suami kaya raya seperti yang Reyna lakukan. Sejak jadi janda, Rara sama sekali tak punya kenalan pria kaya," batinnya mulai iri melihat kebahagiaan Reyna.
"Kenapa bukan anakku yang mendapatkan pria kaya raya seperti itu," gumam papahnya Rara.
Dia pun berinisiatif untuk membuat rumah tangga Reyna hancur seperti rumah tangga anaknya karena dia tak rela melihat bahagiaanya dengan pria tampan dan kaya raya. Saat itu juga dia melajukan mobilnya tepat dihadapan mobil Exel yang akan berangkat ke kantor, hingga Budi mengurungkan lajunya.
"Mobil siapa itu Budi, tidak sopan sekali tiba-tiba berhenti tepat di hadapan mobilku?" tanya Exel kesal.
Sementara Reyna yang akan masuk ke dalam rumah ia pun mengurungkan niatnya karena melihat kejadian itu.
"Mobil siapa itu kok menghalangi laju mobil suamiku?" Reyna membalikkan badannya dan melihat ke arah mobil yang ada tepat di depan mobil suaminya.
Budi pun turun dari mobil dan menghampiri si sopir.
"Heh, pak! bisa nggak sih mengemudikan mobilnya? hampir saja membuat celaka orang, coba kalau tadi aku sudah menjalankan mobilnya pasti akan terjadi tabrakan dan mobil bosku rusak karena mobil anda!" bentak Budi menggedor kaca jendela mobil yang di tumpangi mantan papah mertua Rony.
Pria paruh baya tersebut keluar dari mobil dan mengulas senyum pada Budi, serta melirik sinis pada Reyna.
"Hah, itu kan mertuanya Mas Ronny?" batin Reyna heran.
"Mas, aku ingin bicara sebentar dengan bos situ bisa kan? tolong minta dia keluar dan kemari," pintanya seenaknya.
__ADS_1
"Heh, pak. Bos aku itu orang penting tak ada waktu untuk meladeni orang seperti anda, jadi minggirkan mobilnya atau akan aku tabrak!" bentak Budi kesal karena sikap pria paruh baya yang menurutnya tak sopan itu.
Pria paruh baya itu bukannya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Budi, dia malah melangkah menuju ke mobil Exel dan mengetuk pintu mobil bagian belakang Exel merasa kesal sekali dengan ulah pria paruh baya tersebut.
Excel pun membuka jendela pintu mobilnya, diapun melotot ke arah pria paruh baya itu.
"Anda ada masalah dengan saya?" tanya Exel kesal.
"Tuan yang tampan tolong jangan kesal dulu, sebaiknya anda turun dulu karena saya ingin bicara dengan anda. Ayolah tampan, luangkan waktumu sebentar saja," pinta papahnya Rara.
Hingga pada akhirnya, Exel turun dari mobilnya dan menghampiri pria itu. Sementara Reyna tak tinggal diam, dia mendekati Exel.
"Mah, apa kamu kenal pria ini?" tanyanya.
"Kenal, dia ini mertuanya mantan suamiku," ucap Reyna menatap tajam ke arah pria tua itu.
Reyna menjadi semakin tak mengerti mendengar apa yang dikatakan oleh pria tua itu.
"Heh Pak Tua, kalau ngomong itu dipikir jangan asal nyeprot gitu aja! Sama saja itu dengan pencemaran nama baik, anda bisa saya laporkan ke aparat hukum telah berkata buruk tentang istri saya!" Exel tak terima dengan apa yang di katakan oleh pria tua itu.
"Saya sama sekali tak mengatakan hal buruk tentang istri kesayangan anda. Tapi saya mengatakan hal yang sebenarnya karena pada saat cucu saya berada di rumah sakit dia meminta Rony untuk segera datang mendonorkan darahnya tetapi tak kunjung datang, dia lebih mementingkan mantan istri dan anaknya," ucap ketus pria tua itu.
"Heh, pak. Jaga ya ucapan anda. Saya tak pernah lagi berhubungan dengan Mas Rony sejak kami berpisah jafi jangan asal ucap," Reyna pun tak terima dirinya di hasit oleh papah Rara.
"Tata sayang, kamu tak usah khawatir. Aku percaya kok sama kamu, tidak dengan pria tua ini. Masuk sajalah, aku juga akan segera ke kantor. Untuk apa memikirkan orang seperti dia yang ngomong nggak jelas banget."
__ADS_1
Pinta Exel pada Reyna, dan Reyna pun patuh ia lekas masuk ke dalam rumah beserta Erlan.
Sementara Exel lekas masuk ke dalam mobilnya begitu juga Budi. Mereka sama sekali tak menghiraukan pria tua itu.
"Budi, jalankan mobilnya. Lewat arah lain jika memang tak bisa lewat karena ada mobil pria tua itu. Nggak ada gunanya banget, ganggu waktuku saja," ucap Exel.
Sementara pria tua itu merasa kesal karena belum juga berkata apapun, Exel sudah pergi terlebih dahulu.
"Sialan sekali, kenapa pria tampan itu cuekin aku dan malah dia percaya sekali dengan Reyna. Padahal aku belum juga berkata apapun, dia sudah pergi begitu saja."
"Apa sih yang sudah di lakukan oleh Reyna, hingga pria tampan dan kaya itu sangat patuh terhadapnya?"
Terus saja pria tua ini marah-marah sendiri seraya masuk ke dalam mobilnya. Dia pun gagal membuat Exel membenci Reyna. Dia melajukan mobilnya arah pulang.
Beberapa jam kemudian, dia sampai di rumah dengan suasana hati yang sangat tak menentu.
"Pah, dari mana saja kok lama sekali?" tanya Rara.
"Dari rumah Rony, tapi tidak ada orangnya kata tetangga dia sudah pindah. Dan papah tadi akan menghasut suami Reyna supaya membencinya malah belum apa-apa papah di cuekin sama si tampan itu," ucap Papahnya merasa kelelahan karena tak bisa mengemudi perjalanan jauh.
"Pah, untuk apa sih membuat masalah dengan Reyna dan suaminya. Itu tidak akan berhasil sama sekali yang ada papah malu sendiri karena aku juga sudah pernah melakukan hal yang sama tapi malah aku di hujat oleh para tetangga yang ada di sana, semua tentang membela Reyna," ucap Rara.
"Jelaslah, mereka kan kaya raya. Tidak seperti kita, jauh sekali perbedaannya. Kamu itu seharusnya seperti Reyna bisa mencari suami yang kaya raya. Tapi selepas cerai kamu seperti ini," cibir papahnya.
"Pah, kenapa sih iri dengan keberhasilan orang? itu tidak baik loh pah. Lagi pula bukan aku tak bisa mencari pria kaya, tapi aku belum ingin menikah lagi, masih trauma, pah," ucap Rara beralasan.
__ADS_1
'Hah, itu semua hanya alasan kamu saja kan? pada dasarnya kamu itu tak bisa mencari pengganti Rony yang lebih baik," ejek papahnya.