
Sejak saat itu, Mr Exel menjadi salah satu donatur tetap di panti asuhan itu. Dia memberikan segala kebutuhan untuk panti tersebut setiap bulannya.
Sedangkan Santika mendapatkan hukuman penjara yang setimpal dengan perbuatannya.
"Sialan bagaimana mungkin Exel bisa menemukan anak tirinya dalam kondisi hidup, padahal aku memerintahkan pada anak buahku untuk membunuhnya. Kurang ajar, malah hanya di biarkan hidup begitu saja. Jika Exel menemukan anak tirinya dalam kondisi mati aku akan senang sekali walaupun aku harus meringkuk di dalam penjara dalam jangka waktu yang cukup lama itu tidak akan membuat aku sedih atau menyesali apa yang telah aku perbuat," gerutunya di dalam hati kesal.
Hukuman penjara juga berlaku untuk semua anak buah Santika yang telah menculik, tetapi salah satu diantara mereka di biarkan bebas oleh Exel karena dia yang telah membuat Romy tetap hidup sampai detik ini.
Bahkan orang tersebut berjanji pada Exel dan para parat polisi untuk tidak menjadi orang jahat lagi dia benar-benar menyesali akan perbuatannya tersebut dan tak kan mengulanginya lagi.
Kini kehidupan di rumah tangga Reyna dan Exel untuk sesaat nyaman tentram damai kembali tidak ada suatu permasalahan lagi.
"Sayang, terima kasih atas kerja kerasmu jerih payahmu dalam mencari dan menemukan keberadaan Romy. Padahal dia itu bukan anak kandungmu tetapi kamu benar-benar gigih benar-benar membuktikan padaku jika kamu itu benar-benar setulus hati menyayangi Romy seperti anakmu sendiri." Reyna bergelayut manja di dada bidang Exel.
"Itu sudah pasti, Tata sayang. Jika aku tidak menyayangi Romy sepenuh hatiku tidak mungkin dari awal aku akan mengizinkanmu merawat Romy bersama kita," ucapnya seraya mengecup pucuk rambut istrinya.
"Kamu tahu nggak, aku itu mudah kesetrum jika kamu manja seperti ini. Rasakanlah ada sesuatu yang berkedut di bawah sana dan melompat-lompat minta keluar dari sarangnya."
Mr Exel menuntun salah satu tangan Reyna meraba ke sesuatu yang telah tegang berdiri tegak di dalam sangkarnya.
"Hem, pasti ini kode kan?" canda Reyna terkekeh.
"Bukan kode lagi, tapi pertanda kamu harus segera menjinakkan burungku yang sedang meronta ingin keluar dari sangkarnya," Exel mengedipkan matanya genit.
__ADS_1
"Tata, mau kan? kalau nggak mau juga nggak apa-apa, aku nggak memaksa," ucap Exel.
"Sayang, aku ini kan istrimu. Jadi sudah seharusnya aku mau melayanimu kapan pun kamu mau, asal jangan di mana pun. Kita harus punya etika dan sopan santun, jangan seperti pasangan suami istri yang lain. Begituan di mobil atau di kantor," ucap Reyna terkekeh.
"Kalau menurutku nggak apa-apa, Ta. Mungkin kan mereka ingin sensasi sesuatu yang baru."
Perlahan Mr Exel mendekatkan bibirnya ke bibir Reyna, terjadilah ciuman yang panas satu sama lain saling bertukar saliva saling mengexplor rongga mulut. Lidah bersilat dengan lidah, bibir menggigit bibir.
Bahkan salah satu tangan Mr Exel tak di biarkan begitu saja. Dia mulai meraba mainan kesayangannya yakni dua benda kenyal milik Reyna. Di remasnya di mainkan pucuk buahnya yang sudah mengeras.
Hingga malam itu terjadilah permainan ranjang, penyatuan tubuh keduanya. Hingga tak terasa mereka sama-sama terlelap dalam tidur nyenyaknya, hingga pagi menjelang Reyna pun bangun.
Dia dengan cekatan mempersiapkan semua kebutuhan untuk ke kantor Exel. Akan tetapi selagi Reyna membuka pintu almari ingin meraih baju kantor suaminya. Dia di peluk dari belakang oleh Exel.
"Memangnya kamu mau mengajak aku ke mana, sayang?" tanya Reyna seraya membalikkan badannya sehingga kini posisi dirinya berhadapan dengan suaminya.
"Nggak usah jauh-jauh, sayang. Aku hanya ingin kita sejenak refreshing healing menghirup udara yang segar. Misalnya kita kesuatu pegunungan bagaimana menurutmu?" saran Exel.
"Baiklah sayang, terserah kamu saja, yang penting pikiranmu kembali fresh segar tidak tegang seperti kemarin. Maafkan aku ya sayang gara-gara kamu sibuk mencari Romy pikiranmu pasti begitu tegang terkuras memikirkan keberadaannya," tatapan sendu Reyna mampu mengalahkan segalanya.
"Sudahlah sayang, tak perlu kamu membahas hal itu. Yang lalu biarlah berlalu yang terpenting, ini bisa kita jadikan pelajaran untuk ke depannya lagi supaya kita harus lebih mawas diri waspada berhati-hati dalam segala hal. Dan setelah kejadian ini aku juga akan memperketat pengawalan terhadap keluarga ini supaya tidak terulang lagi hal buruk pada salah satu keluarga kita." Exel memeluk mesra tubuh istrinya.
Setelah itu mereka pun bersiap-siap untuk segera pergi menuju ke puncak gunung sesuai keinginan, Exel.
__ADS_1
Tak lupa pasangan suami istri ini berpamitan terlebih dahulu pada orang tua, Reyna.
"Ayah-ibu, kami ingin pergi sejenak untuk menyegarkan pikiran kami yang sempat tegang kemarin. Kami titip Romy ya, Bu. Nggak usah khawatir, karena aku sudah meminta beberapa anak buahku untuk mengawal ayah atau ibu yang akan menjemput Romy pulang sekolah," pamit Exel.
"Iya kalian hati-hati ya."
Saat itu juga Exel mengajak Reyna melangkah ke pelataran di mana Budi sudah siap di depan kemudinya. Dari jauh Rony kembali cemburu pada saat melihat Exel merangkul Reyna.
Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, karena dia hanya orang biasa tidak punya apa-apa sedangkan Exel orang yang berduit kedudukannya tinggi, ibarat pepatah bagaikan langit dan bumi.
Kenapa aku terus saja menyesali perbuatan aku di masa lalu dengan menyia-nyiakan istri baik dan sesetia Reyna? kenapa aku sampai detik ini juga belum bisa mengikhlaskan ia bahagia bersama dengan pria lain," gumamnya seraya mengepalkan tinjunya.
"Padahal ikatan kami cukup kuat karena adanya Romy. Tetapi hal ini tak lantas membuatku mudah meluluhkan hati Reyna kembali. Apakah karena dulu pernikahan kami atas dasar perjodohan sehingga memang tidak ada rasa cinta sedikitpun pada diri Reyna padaku?"
Terus saja Rony menggerutu seraya menatap kepergian mobil Exel yang semakin tak terlihat saja. Bahkan dia membayangkan jika saat ini dirinya yang sedang ada di mobil itu bersama dengan Reyna.
Dia tak sadar senyam senyum sendiri, seolah dirinya saat ini sedang bepergian bersama Reyna. Hingga satu teguran membuat lamunannya buyar.
"Mas Rony, kenapa senyam-senyum sendiri. Awas loh nanti kebablas dan akhirnya masuk rumah sakit jiwa," tegur salah satu tetangga seraya terkekeh.
"Heh, kalau bacot yang benar ya! mau aku lempar pake sendal ku ini, hah!" bentak Rony menahan rasa malu.
Tetangga tersebut terkekeh seraya lari terbirit-birit.
__ADS_1