Perjuangan Cinta Reyna

Perjuangan Cinta Reyna
Pengakuan Santika


__ADS_3

Akhirnya Santika berani berkata, tetapi dia bukan berkata menunjukkan dimana dia menyembunyikan Romy saat ini.


"Pah, iya aku akui memang aku yang telah menculik anak dari istri Exel! tapi sampai kapanpun aku takkan menunjukkan dimana saat ini dia berada!" ucapnya ketus.


"Nona, anda jangan main-main dengan apa yang anda katakan. Jangan pernah mempermainkan hukum! jika anda tak menunjukkan dimana anda sembunyikan anak yang telah anda culik, anda bisa mendapatkan hukuman yang berat!" ancam Komisaris Besar Joy.


"Pak, saya tidak peduli. Toh jika saya memberitahu dimana saya sembunyikan anak itu, tetap saja saya akan di penjara. Jadi untuk apa saya katakan," ucap Santika menyeringai sinis.


"Astaga, Santika! kenapa kamu menjadi seperti ini sih? papah sama sekali tak menyangka!" papahnya marah besar.


"Jangan menyalahkan aku, papah juga bersalah dalam hal ini! jika papah waktu itu tak memperkenalkan dan menjodohkan ku dengan Exel. Aku tidak akan jatuh cinta padanya!"


"Di saat aku sudah benar-benar cinta padanya, Exel malah menolakku! aku tak terima dengan penolakan dia, pah!"


"Apa lagi aku tahu dia lebih memilih seorang janda beranak satu yang tak selevel denganku!"


"Heran saja aku padamu, Exel. Apa sih kurangnya diriku ini di banding janda itu ibaratkan aku langit dia itu bumi!"


"Aku tak terima jika kamu bahagia di atas penderitaanku. Aku menderita, wanita itu juga tak boleh bahagia. Dia juga harus menderita berpisah dengan anaknya."


Mendengar apa yang di katakan oleh Santika, baik Komisaris Besar maupun Exel menggelengkan kepalanya. Mereka merasa heran dengan sikap Santika yang sangat keras kepala itu.


"Nona, dunia ini luas. Banyak pria yang justru lebih baik dari Mr Exel yang bisa nona dapatkan dan miliki. Lantas kenapa nona malah bermain api mengorbankan diri nona untuk mengejar sesuatu yang telah menjadi milik orang lain."


"Hidup ini singkat, nona. Untuk apa kita membuat rumit sendiri. Seharusnya nona bisa move on dari Mr Exel dan memulai hidup baru dengan memilih pria lain."


"Yakin anda tak menyesal jika masuk dalam jeruji besi dalam waktu yang bertahun-tahun lamanya?"


"Sayang sekali anda menyia-nyiakan hidup anda yang sangat berharga."

__ADS_1


Santika malah tersenyum sinis mendengar ucapan yang begitu panjang dari Komisaris Besar Joy.


"Pak, ini adalah hidupku bukan hidup bapak jadi tak usah menasehati. Dan pastinya bapak pernah kan merasakan jatuh cinta? pasti jika kita sudah cinta dengan seseorang akan sulit untuk melupakan."


"Apa lagi ada pepatah jika cinta itu buta, bukan hanya akal dan pikiran tapi juga mata hati. Aku tidak akan pernah menyesal dengan apa yang telah menjadi keputusanku. Justru aku sangat puas bisa membuat istri Exel menderita."


"Aku yakin sekali jika saat ini istrinya tak berselera makan, tak bisa tidur, tak fokus melakukan apa pun. Dan aku yakin dia setiap hari menangisi anaknya. Di sinilah rasa puasku, tangisnya adalah bahagia aku."


Exel mengepalkan tinjunya pada saat mendengar semua yang di katakan oleh Santika.


"Pak, saya akan pulang dulu. Tolong proses dan berikan hukuman seberat-beratnya padanya. Jika perlu berikan dia hukuman seumur hidup."


Exel pamit seraya menjabat tangan Komisaris Besar Joy. Dia bahkan tak menghiraukan Papahnya Santika sama sekali.


Sebenarnya Exel sangat kecewa tapi dia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia juga tak mau menikah dengan Santika dan melepaskan Reyna yang saat ini sedang hamil anaknya.


Sepanjang perjalanan pulang, Exel hanya diam saja. Dia bingung harus bagaimana caranya untuk bisa membujuk Santika menunjukkan dimana ia menyembunyikan, Romy.


"Jika aku punya solusi yang tepat, pasti aku akan membantu majikanku ini," batin Budi.


Gelisah melanda Exel, dia pun sedang memikirkan cara yang tepat untuk bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan, Romy.


"Aku harus ngomong apa sama, Tara. Pasti dia akan kecewa, jika aku tak berhasil mengetahui keberadaan, Romy," batinnya terus saja gelisah.


Tak berapa lama sampai juga Exel di apartementnya. Dia langsung mendapatkan sambutan dari Reyna.


"Sayang, bagaimana hasilnya? apakah Santika telah memberitahukan dimana keberadaan Romy?" tanyanya menatap sendu suaminya.


"Reyna, suamimu itu baru pulang. Pasti sangat lelah, jangan langsung di tanya macam-macam," tegur Bu Wati.

__ADS_1


"Iya, Bu. Maaf ya sayang, aku terlalu mengkhawatirkan Romy jadi seperti ini. Apakah kamu akan makan atau apa?" tanya Reyna.


"Tata, aku hanya ingin mandi saja. Sama sekali tak lapar, buatkan saja aku secangkir kopi hangat."


Exel melangkah menuju ke kamarnya dan langsung mandi.


"Ya Allah, wajah suamiku sama sekali tak ada senyuman. Apakah ini pertanda dia tak mendapatkan informasi tentang keberadaan, Romy?" batin Reyna mulai resah kembali.


"Reyna, kamu jangan panik ya. Percaya saja pada Allah, pasti Romy akan segera ditemukan. Ayahmu juga sedang ikut mencarinya," Bu Wati mencoba menenangkan anaknya yang terlihat cemas.


"Iya, Bu. Aku mau buatkan minuman dulu untuk suamiku ya, Bu." Reyna melangkah ke dapur untuk membuat se cangkir kopi spesial.


Tak berapa lama, Exel telah selesai mandi, istrinya juga sudah ada di sampingnya menghidangkan secangkir kopi.


"Tata, aku minta maaf ya. Aku tak berhasil mendapatkan informasi dari, Santika. Padahal saat ini dia juga sudah aku bawa ke kantor polisi, akan tetapi dia tetap tidak mau memberitahu dimana keberadaan, Romy," ucap Exel seraya meminum kopinya.


"Astaghfirullah aladzim, lantas apakah aku harus menemuinya? supaya dia mau menyerahkan Romy padaku lagi?" tanya Reyna ragu.


"Itu juga tidak akan berhasil, Pak Joy saja sudah memaksanya dengan segala ancaman juga tak berhasil," ucap Mr Exel.


"Berarti selamanya aku tidak akan bertemu dengan anakku lagi?" tiba-tiba air mata Reyna meleleh begitu saja.


"Tata, kamu jangan putus asa dulu. Percaya saja pasti kita akan menemukan keberadaan Romy. Hanya saja kita belum menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan ini." Mr Exel memeluk tubuh istrinya yang sedang rapuh karena berpisah dengan anaknya.


"Iya, sayang. Aku minta maaf ya, terlalu memikirkan Romy." Reyna mengusap air matanya.


Dia ingat akan pesan ibunya yakni tak boleh terlalu bersedih.


"Sayang, aku sudah ikhlas dengan semua ini. Karena aku percaya jodoh, maut, rezeki sudah ada yang atur. Anak juga hanya titipan Allah, jadi aku tidak boleh memaksakan kehendak Allah. Aku percaya Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk kita, " ucap Reyna.

__ADS_1


Dia tak ingin terlalu bersedih hingga membuat anak yang ada di dalam kandungannya juga ikut bersedih. Dia harus bisa bijaksana dan adil. Dia juga tak ingin mengecewakan suaminya. Ingin benar-benar menjaga janinnya supaya selalu sehat.


__ADS_2