
Mendengar perkataan serta melihat pisau yang begitu tajam dan runcing yang saat ini sedang dipegang oleh Mr Exel, Santika mulai ketakutan dan terlihat begitu cemas di raut wajahnya.
"Bagaimana Santika, kamu masih akan berpegang teguh pada pendirianmu itu? baiklah kalau begitu kamu ingin aku menggoreskan lukisan dipipi kanan atau kiri dulu?" Mr Exel menempel kan pisau tersebut pada salah satu pipi Santika.
"Awas aja, Exel! jika kamu berani melukai pipiku ini, aku tidak akan segan-segan melaporkan tindakanmu itu pada papahku! dan dia pasti akan menghajarmu habis-habisan saat ini juga detik ini juga!"
Santika masih saja berani melawan Mr Exel walaupun sebenarnya dia sudah terlihat sangat ketakutan.
"Budi, seret dia dan bawa dia bersama kita! sepertinya terlalu enak buat dia untuk dilukis pipinya aku akan membuat suatu pertunjukan yang lebih menarik untuk dirinya!" perintah Mr Exel pada Budi.
Saat itu juga Budi menarik paksa Santika tetapi Santika mencoba melawannya dengan dia berteriak histeris di cafe tersebut.
"Lepaskan aku, kalian mau bawa aku ke mana hah? kalian pikir aku takut dengan ancaman kalian sama sekali aku tidak takut!" bentaknya lantang.
Walaupun banyak orang yang melihat kejadian itu tapi tidak ada satupun yang berani menolong Santika karena semua orang telah tahu siapa itu Mr Exel. Semua orang hanya berani menatap ketakutan melihat kejadian itu.
Budi terpaksa bertindak kasar karena Santika teriak terus, hingga dia menamparnya sampai pingsan seketika itu juga. Lalu ia menggendong tubuh Santika supaya cepat sampai di mobil.
Mobil dilajukan dengan segera menuju ke markas besar Mr Exel dengan membawa serta Santika yang dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Selama dalam perjalanan menuju ke markas besarnya Mr Exel tak lupa menelpon Sella untuk menanyakan kabar aksi mereka berhasil atau tidak.
kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke dalam nomor ponsel, Sella. Iya lantas lekas mengangkatnya.
"Sella, apakah kamu telah berhasil menemukan keberadaan Romy?"
"Maaf, Mr. Di sini juga tidak ada Romy, hanya beberapa anak buah Santika saja
Bahkan kami telah menangkap mereka juga, dan akan kami bawa ke markas besar."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu cepat ke markas!"
Saat itu juga Mr Exel dan Sella mematikan panggilan teleponnya.
"Sialan, sebenarnya di mana Santika menyembunyikan Romy? Santika ini licik juga, lantas aku harus bagaimana untuk bisa menemukan jejak Romy?" batin Mr Exel begitu bingung.
Tak berapa lama sampailah mereka di markas pesan Mr Exel. Segera Budi mengangkat tubuh Santika dan meletakkannya ke dalam sebuah tahanan bersama dengan anak buah Mr Excel yang telah berkhianat padanya.
Beberapa detik kemudian Sella dan beserta anak buah Mr Exel yang lainnya juga telah sampai di markas tersebut, mereka juga telah membawa beberapa tawanan yakni anak buah Santika.
Mereka juga telah di masukkan ke dalam sel yang kosong.
"Sella, bagaimana mungkin kamu tidak menemukan Romy?" tanya Mr Exel mulai gelisah.
"Maafkan saya, Mr. Saya telah berusaha mencarinya beserta anak buah anda juga telah mencari keseluruh penjuru ruangan yang ada di rumah Santika. Tapi kami sama sekali tidak menemukan adanya, Den Romy," ucap Sella.
"Lantas dimana lagi kita harus mencarinya?" tanya Mr Exel gelisah.
Jika sedang dalam kondisi gelisah atau panik, Exel sama sekali tak bisa berpikir jernih.
"Baiklah kalau begitu saat ini juga kamu beserta yang lainnya geledah rumah papahnya Santika semoga saja Romy ada di sana," perintah Mr Exel pada Sella.
Saat itu juga Sella pergi lagi bersama beberapa anak buah Mr Exel menuju ke rumah papahnya Santika. Hanya beberapa menit saja telah sampai di sana.
"Heh, kalian mau apa? kenapa masuk rumah orang sembarangan? kalian ini siapa hah?" tanya Papahnya Santika pada saat semua anak buah Mr Exel dan Sella menggelar rumahnya.
Namun baik Sella maupun anak buah Mr Exel tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan dari papahnya Santika.
"Heh, kenapa kalian tidak menjawabnya? jika kalian diam, aku akan laporkan kalian sekarang juga ke aparat hukum!" pada saat papahnya Santika akan mengangkat telpon rumahnya, Sella langsung menahannya.
"Tuan, dimana anda dan anak anda menyembunyikan Romy? katakan sejujurnya sebelum hilang kesabaran saya!" bentak Sella.
__ADS_1
"Menyembunyikan Romy siapa, aku tak tahu sama sekali. Di sini aku tak menyembunyikan siapa pun!" bentak papah Santika.
"Baiklah, kalau begitu anda juga akan kami bawa untuk di tahan bersama dengan Santika! karena kalian tetap saja tak mengakuinya!"
Dengan paksa beberapa anak buah Mr Exel membawa paksa Papahnya Santika.
"Heh, apa-apaan ini? kalian akan membawa aku kemana, hah?" bentaknya lantang.
Namun kembali lagi tidak ada yang menjawab apa yang di tanyakan papahnya Santika. Segera mobil di lajukan ke markas Mr Exel.
Sementara saat ini Reyna sedang menelepon Mr Exel menemukan kabar Romy.
"Sayang, bagaimana hasil pencarian terhadap Romy?'
"Kamu yang sabar ya, Tata. Di sini aku sedang berusaha sebisa mungkin untuk mencarinya. Semua anak buahku telah aku kerahkan, percaya saja pasti Romy akan segera di temukan."
"Jadi sampai detik ini, Romy belum di temukan juga?"
"Belum, Ta. Maafka aku ya, Tapi aku telah berhasil menangkap Santika. Sudah dulu ya, aku akan tanya pada Santika dimana ia sembunyikan Romy."
Saat itu juga Reyna mematikan panggilan telponnya. Ia pun mulai panik dan menangis lagi, membuat orang tuanya ikut bingung.
"Apa Exel belum juga menemukan keberadaan Romy?" tanya Bu Wati.
"Belum, Bu. Ya Allah, jaga anakku dimana pun dia saat ini berada. Bu, apakah Romy sudah makan ya? Bu, aku khawatir Romy kedinginan, kehujanan."
Air mata Reyna tak bisa di bendung lagi.
Melihat akan hal itu orang tuanya Reyna juga ikut sedih dan bingung. Tapi mereka juga tak bisa berbuat apa pun. Mereka hanya bisa mendoakan dan mensupport Reyna supaya bersabar dan percaya saja jika saat ini kondisi Romy baik-baik saja.
"Reyna, kamu jangan terlalu panik. Yakinlah bila Allah akan menjaga Romy. Dia pasti saat ini baik-baik saja," ucap Bu Wati.
__ADS_1
"Iya, Reyna. Kamu juga tak boleh egois dengan hanya memikirkan Romy. Ingatlah jika di dalam kandunganmu ada anak yang lain yang juga butuh kasih sayang dan perhatianmu. Jika kamu sedih, kasihan juga anakmu ikut sedih," ucap Ayah Darmawan mencoba menasehati Reyna dengan sangat halus.
Sejenak Reyna sadar akan apa yang barusan di katakan oleh, Ayahnya. Hingga Reyna perlahan menghapus air matanya dan mencoba menenangkan dirinya.