Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Silaturahmi


__ADS_3

Havva Zuhayri Selyn biasa dipanggil Selyn. Dia adalah seorang gadis yang Amri sukai sejak masih di bangku SMA. Namun mereka hanya sebatas bersahabat, tidak ada ikatan apa pun.


Hari ini, Amri datang ke rumahnya untuk bersilturahmi memenuhi janji yang telah mereka sepakati.


"Assalamualaikum.....?" salam seorang pemuda diam mematung di depan pintu, menunggu jawaban dari dalam rumahnya.


Dari dalam rumah terdengar suara bapak-bapak yang menjawab salam ku.


"Walaikumusalam!" mendengar lantangnya suara ayah Selyn, pemuda itu yang tak lain adalah Amri diam kaku membatuk.


Lantas Selyn keluar dari dalam rumah dan mempersilahkan Amri untuk duduk dikursi ruang tamu.


"Silakan, mari silakan duduk." ucap Selyn menyambutnya.


"Eh, iya. Terima kasih." jawab Amri yang berjalan masuk.


Setelah mengucapkan salam dan berjabat tangan. Amri duduk di depan kursi yang hampir menghadap dengan ayah Selyn. Hanya koran yang menjadi 'sitroh' di antara mereka.


Hampir 10 menit suasana senyap tanpa suara. Dan ibu Selyn keluar dari ruang belakang membawa air dan kue kering. Amri tersenyum manis.


"Silahkan di minum dulu nak. Kamu sudah sarapan?" tanya ibu Selyn kepada Amri.


"Sudah Bu, terima kasih." jawab Amri menunduk malu.


Lalu beliau duduk di sebelah Selyn dan berkata. "Kamu ini malu-malu segala dengan kami." ucapnya seraya melebarkan senyuman.


"Saya hanya segan Bu. Hehe." jawab Amri dengan kikuk.


"Maaf, saya lihat kamu ini sudah sering kemari. Kapan kamu akan mengirim rombongan (lamaran)?" sela ayah Selyn menghentikan percakapan istri dan pemuda di hadapannya.


Ibu Selyn pun terkejut. "Eh, ayah ini." Sautnya dengan menepuk pundak suaminya dengan pelan.


"Hmm, saya belum banyak memiliki uang pak." Amri menjawab dengan santu dan menundukkan kepala.


"Ya kumpulin dulu dong, baru nanti kesini lagi." Saut beliau dengan sedikit ketus.

__ADS_1


"Bapak dan Ibu, ingin saya menyediakan uang berap untuk lamaran ini?" tanya Amri dengan ragu. Kemudian ibu Selyn menjawab.


"Kalo bisa ya 20 juta." dengan entengnya beliau berucap. Lalu, ayah Selyn pun ikut menimpali perkataannya.


"Hee, tapi kalo bisa lebih besar dari orang sebelah yang naksir juga sama Selyn anak kita!" dengan lantangnya beliau membandingkan Amri dengan pemuda sebelah rumahnya.


"Maaf, kalo boleh tau itu berapa bu?" tanya Amri kepada beliau.


"40 juta, sukur-sukur kalo bisa lebih." ayah Selyn menjawab dengan melirik mata.


"Ya allah,.. 40 juta. Dari mana saya mendapatkan uang sebanyak itu. Aduh,.... besar sekali pak. Apa kah tidak bisa lebih sedikit. Kita buat acara sederhana saja. Cukup mengundang keluarga, kerabat dan tetangga dekat." Amri mencoba berdiskusi.


"Itu nasib mu Nak. Kamu yang akan menikahi anak kami. Lagi pula, Selyn lah satu-satunya anak perempuan kami." jawab ayah Selyn dengan melipat tangan di atas dada.


Amri hampir hilang akal, ketika di sebutkan 'harga' untuk Selyn. Dan Amri mencoba kembali berdiskusi dengan orang tua Selyn.


"Boleh saya bertanya lagi. Apakah anak bapak pandai memasak?" tanya Amri dengan santun


"Hmm,... boro-boro. Bangun tidur saja sudah jam 9 lebih, bukan bangun pagi lagi itu. Habis bangun terus langsung makan siang." ayah Selyn manyaut begitu saja.


"Ehmmm,...Ibunya pun sama. Suka terlambat bangun juga." saut ayah Selyn dengan lantang.


"Ih,.. ayah ini!" Ibunya tertunduk malu.


Amri terbengong sesaat, ketika mendengar perdebatan kecil di antara kedua orang tua Selyn di hadapannya.


"Ehem,.... iya cukup pak. Sekarang saya sudah tau. Kalo boleh saya bertanya lagi, bisakah Selyn membaca Qur'an?"


"Bisa, sesikit-sedikit ko." jawab ibu Selyn tersenyum.


"Belajar sama maknanya?" tanya Amri lanjut.


"Mungkin!" beliau menganggukan kepala.


"Hmmm." Amri bergumam.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya beliau merasa heran dengan Amri.


"Oh, tidak apa-apa bu. Pertanyaan terakhir, apa kah Selyn rajin sholat?" kemudian ayah Selyn menjawab dengan nada bicara sedikit kesal yang terdengar begitu jelas ditelinga.


"Apa maksudmu menanyakan semua ini!Kamu kan teman Selyn sejak di sekolah. Harusnya kamu sudah tau." jawab beliau dengan ketus.


"Maaf Bapak dan Ibu, saya rasa Selyn tidak bisa memasak, tidak bisa shalat, tidak bisa mengaji dan tidak bisa menutup aurat dengan baik. Sebelum Selyn menjadi istri saya, dosa-dosanya juga akan menjadi dosa bapak dan ibu."


"Kecuali Selyn hafiz Qur'an 30 juz dalam kepala, pandai menjaga aurat, menjaga diri dan batasan-batasan pada agamanya. Barulah dengan mahar 100 juta pun saya usaha kan untuk membayar."


"Tapi jika segala sesuatunya tidak harus di bayar mahal, mengapa harus di paksakan untuk membayarnya mahal. Seperti halnya mahar. Sebab sebaik-baik pernikahan adalah serendah-rendah mahar."


Mata ayah Selyn di rendung tajam oleh mata istrinya. Keduanya diam tanpa suara. Sekarang ketiganya menundukan kepala (Ayah, Ibu dan Selyn).


"Memang sebagian adat menjadikan anak perempuan untuk di jadikan objek pemuas hati. Untuk menunjukan kekayaan dan bermegah-megah dengan apa yang ada, terutama pada pernikahan."


"Adat budaya memang kerap mengalahkan perkara agama. Para orang tua membiarkan, bahkan menginginkan anak perempuan di hias dan dibuat pertunjukan di muka umum. Sedangkan pada saat akad telah dilafadz oleh suami, segala dosa anak perempuan bapak sudah di tanggung oleh sang suami." dengan satu kali tarikan nafas, Amri bisa menyelesaikan ucapan dengan lantang dan sopan.


"Aku hanya ingin anak ku bahagia dengan merasakan sedikit kemewahan. Hal seperti itu kan hanya terjadi sekali seumur hidup." dengan nada sedikit diturunkan ayah Selyn menjawab dan mengeluarkan keinginannya.


"Bapak ingin anak bapak merasakan kemewahan?" Amri mencoba bertanya dengan nada lembut dan santun.


"Tentulah kami berdua pun akan turut gembira." jawab belaiu dengan lembut.


"Apa sungguh demikian? Boleh saya sambung lagi? Bapak, ibu,.... saya bukanlah sipa-siapa. Sekarang dosa anak bapak, bapak juga yang tanggung. Tapi esok lusa setelah akad nikah, terus dosanya Selyn saya yang tanggung."


"Belum lagi pas bapak dan ibu ingin kami bersanding lama di pelaminan yang megah. Anak ibu dirias dengan riasan secanti-cantiknya, dengan make up dan baju yang paling mahal, di hadapan ratusan undangan agar kami terlihat mewah pula."


"Selain setiap mata yang memandang kami akan mendapatkan dosa. Apakah itu sebegitu penting hal tersebut, jika dalam kehidupan sehari-hari kita malah berusaha untuk hidup sesederhana mungkin tanpa berlebihan." Dengan santun Amri mencoba memberi penjelasan kepada kedua orang tua Selyn.


๐ŸŒท๐ŸŒทSelamat membaca novel saya yang ini, semoga membuat kalian sedikit terhibur dan maaf jika banyak salah tulisan maupun kata. Karena saya hanyalah manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan.๐ŸŒท๐ŸŒท


Novel ini Up ga tentu setiap hari. karena bukan Novel harian jadi kalo memang anda suka silahkan ditambahkan favorit.


Jangan lupa tinggalkan ๐Ÿ‘, bintang lima lalu vote dan komen untuk memberi inspirasi bagi saya.Terima kasih.๐Ÿค—

__ADS_1


__ADS_2