
"Zanira, ada apa? Sepagi ini kau sudah disini. Kamu gak kuliah? Apa yang terjadi?" Selyn memberondong sepupunya dengan pertanyaan. Apa lagi tiba-tiba sepupunya mucul di panti asuhan tanpa pemberitahuan. Dia tidak menelfon atau kirim chat.
"Aku tidak apa-apa Kak."
Zanira menarik tangan Selyn, dia yang baru melangkah hendak masuk ke panti asuhan, tangannya di tarik menuju taman dan duduk di bawa pohon. Di taman depan panti asuhan, disana terdapat tempat duduk yang berjajar di bawah satu pohon yang rindang. Tempat ini nyaman untuk duduk dan di gunakan buat istirahat.
"Apa Kakak masih sakit?" Tanyanya dengan kuatir.
" Ada apa denganmu? Aku baik-baik saja." Selyn tersenyum ceria menatap sepupunya yang duduk bersebelahan.
"Apa mas Amri melakukan sesuatu? Apa yang terjadi setelah Kakak pulang dari rumah sakit." Zanira menyentuh pipi Selyn. Ia melihat rona merah diwajah Kakaknya yang menunduk malu. Zanira yang masih polos bertanya dan mengangkat wajah Selyn dengan kedua tangannya yang menempel dipipi.
"Kenapa wajahmu berubah menjadi merah Kak? Apa mas Amri ada memukulmu." Dengan polosnya Zanira bertanya-tanya merasa iba melihat wajah Kakaknya saat duduk baru mengamatinya.
"Aku tidak apa-apa? Mas Amri tidak akan memukul ku, dia sangat lembut. Mana mungkin dia seberani itu." Ucapan Selyn dengan malu-malu.
"Apanya yang lembut, Kak." Tanya Zanira membuat Selyn gelagapan tidak bisa memjawab. Dia jadi salah tingkah dan mencoba mengartikan makna yang di maksudnya.
"Maksudnya perlakuan mas Amri kepada Kakak." Ucapnya membuat Zanira mengerti dan manggut-manggut kepala.
__ADS_1
"Mas Amri sangat baik, dia sangat cocok untuk Kakak. Waktu pertama melihatnya, aku sampai tak berkedip memandangnya. Dia begitu baik memperlakukan wanita." Selyn menggigit bibirnya mendengar ucapan sepupunya. Memang mas Amri sangat baik, kau belum tau saja bagaimana dia kalo sedang beradegan ranjang. Sangat buas seperti Harimau mencengkeram mangsanya. Ingatan Selyn kembali memutar adegan semalam. Zanira menepuk punggung Selyn yang seketian diam tidak menjawab pertanyaanya.
"Kak!" Panggil Zanira menepuk pelan pipi Selyn, membuat dia tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya. Kau udah sarapan belum." Ucap Selyn mengalihkan pembicaraan.
"Kak Selyn belum sarapan?"
"Aku hanya makan kentang goreng sama jus saja tadi, mau makan?"
"Iya ka, boleh. Aku juga laper."
"Zanira apa kau sedang melakukan aksi protes dirumah?" Sepertinya tebakan Selyn benar, karena Zanira menundukan kepala. "Apa kau bertengkar dengan ibumu?" Zanira menunduk semakin dalam.
Aaaaaaa aku sudah bisa menebaknya, tapi kenapa saat mendengar penjelasanya aku semakin benci padanya. Sudahla, toh sudah sering di ributkan. Aku juga sudah tinggal bersama mas Amri, jadi tidak susah lagi untuk memperpanjang masalah ini. Sebesar apa pun perlakuan baik ku kepada tante pasti akan selalu salah di matanya.
Saat mereka masih berbincang-bincang ada seseorang yang datang menghampirinya.
"Mba Selyn sudah datang? Kami sudah menunggu lama kehadiran mba." Ibu pengurus panti asuhan menyapanya.
__ADS_1
"Baru saja, Bu. Maaf ya baru bisa berkunjung. Apa anak-anak sudah pada sarapan? Saya dan Zanira akan membeli makanan." Selyn menjawab dan berdiri dari tempat duduknya.
"Ia mba."
"Anak - anak lagi apa?" Selyn bertanya lagi.
" Ada yang masih mandi, ada juga yang lagi belajar dan main."
"Baiklah, mau sarapan apa, biar sekalian saya beliin.
"Apa saja, mba." jawabnya merasa cangguh dengan cucu pemilik panti asuhan.
Selyn tersenyum, lalu dia menarik tangan sepupunya. Agar jalan mengikutinya. Di dekat taman ada warung makan yang menyediakan banyak menu untuk sarapan.
Rumah dua lantai yang di datangi ialah rumah peninggalan Nenek yang di perebutkan oleh tantenya ibu dari Zanira. Padahal Nenek sudah berpesan sebelum meninggal, jika rumah itu akan selamanya menjadi tempat untuk berteduh anak-anak yatim. Nenek sudah menyumbangkan dan menyerahkan kepada ibu pengurus jika rumah itu dijadikan panti asuhan. Selyn yang selalu datang memantau atas amanah Nenek. Semua isi surat wasiat diserahkan kepada Selyn, maka dari itu tantenya selalu memperpanjang masalah dengan Selyn membuatnya semakin benci. Tapi Selyn selalu bersikap biasa saja di depan Zanira saat berdebat dengan tantenya ibu dari Zanira. Selyn tidak mau Zanira tau jika sebenarnya dirinya membenci ibunya. Karena bagai mana pun dia tetap tantenya, adik dari mamanya. Dan Selyn sangat menyayangi Zanira selayaknya adik Sendiri.
Selyn telah menjaga amanah dari Neneknya dengan baik. Walau dia tinggal lama untuk meneruskan kuliahnya di London, tapi dia selalu memantaunya lewat telepon dengan meminta bantuan dari Zanira. Selyn bertemu dengan sekelompok organisasi donatur untuk anak panti. Dari situlah anak-anak bisa makan dan bersekolah, karena Selyn tidak bisa membiyayai semua kebutuhan anak-anak panti. Dan dia sangat bersyukur mendapatkan donatur tatap dengan begitu dia bisa mengelolah panti asuhan sampai sekarang. Tiga tahun belakangan ini pantai asuhan semakin ramai dan Selyn kekurangan biaya untuk mereka. Dia meminta bantuan lewat Zanira untuk mencarikan donatur, namun dia selalu mendapat masalah dengan ibunya. Alasannya karena Selyn.
Dulu hanya lantai satu saja yang terdengar canda tawa anak-anak. Tapi tiga tahun belakangan ini semakin penuh dan menjalar ke lantai dua. Sekarang Selyn sudah mendapatkan donatur tambahan dan tetap. Tapi entah siapa dia, Selyn tidak tau namanya. Selyn masih penasaran denganya karena tidak pernah menyantumkan namanya saat memberikan sumbangan. Ibu penjaga panti asuhan pun tidak tau nama yang sebenarnya donatur itu. Dia hanya menyebutkan inisial jika di tanya namanya. A.G.Q itu nama yang selalu tercantum di daftar buku isi donatur panti asuhan ini. Singkatan itu seperti nama sebuah perusahaan yang Selyn ketahui sedang naik daun tiga tahun belakangan ini.
__ADS_1
Namun Selyn juga masih penasaran dengan direktur pemilik gedung A. G. Q. yang tidak pernah menampakan diri, atau sekedar nama yang terlintas di majalah bisnis dan siaran berita televisi bisnis. Entah mengapa direktur itu membuat Selyn penasaran karena misterius.
Semua sosial Media tidak ada data diri riwayat kehidupan pemilik gedung A.G.Q yang menjulang tinggi di kotanya. Terdengar sepintas bahwa pemilik gedung tersebut seorang pemuda yang taat agama dan sangat tampan. Semua karyawan wanita selalu memuji kebaikan dan bertekuk lutut saat melihat wajah tampannya. Membuat hati kecil Selyn semakin penasaran. Tapi Selyn mendapat kabar dari ibu panti, jika direktur pemilik gedung A. G. Q telah menikah empat hari yang lalu. Tepatnya di hari pernikahan Selyn sendiri. Selyn sempat berfikir jika itu hanya kebetulan saja. Tidak mungkin suaminya yang di beritakan. Karena Selyn hanya tau jika Amri hanya seorang arsitek.