Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Takut


__ADS_3

Dua tahun sudah kedunya menikah. Namun Amri dan Selyn, belum juga di karuniai buah hati.


Pagi hari Selyn sedang jalan pagi di komplek taman yang dekat dengan rumahnya. Banyak ibu-ibu sedang merumpi ada juga yang sedang membeli sayuran di abang tukang sayur.


Jalan pagi membuat badan menjadi segar kembali apa lagi dengan sinar matahari pagi yang membuat tubuh semakin sehat.


Amri yang berada di samping Selyn pun tak henti-hentinya memandangi raut wajah ayu Selyn yang terpancar sinar matahari pagi.


Jalanan kompleks begitu adem dan di sepanjang jalan banyak pohon-pohon rindang yang membuat lingkungan terasa sejuk.


Para ibu-ibu berbisik-bisik saat melihat kedatangan Amri dan Selyn saat melintas melewati mereka.


"Kok belum punya anak ya mereka?" tanya salah satu ibu paruh baya kepada temannya.


"Iya ya jeng." jawab ibu yang di ajak bicara.


"Yang punya masalah suami apa istinya ya jeng?" tanya ibu parubaya itu lagi saat melihat Amri dan Selyn sudah melewati mereka. Namun ucapan mereka masih terdengar begitu jelas di telinga Amri dan Selyn.


Mulanya mereka tidak masalah. Namun saat mendengar bisik-bisik tetangga, Selyn mulai resah. Akhirnya Selyn mengajak Amri untuk pergi ke dokter.


Dengan jalan santai mereka berdua menuju rumah, Selyn mencoba menahan dan menepis semua fikiran hal buruk tentang masa depan dan keturunan yang belum ia dapatkan dari Amri. Lalu ia mencoba mengungkapkan keinginan nya kepada Amri.


"Mas?" panggil Selyn dengan ragu.


Amri pun memandang wajah Selyn dengan tersenyum. " Ada apa sayang." saut Amri.


"Apa kita bisa pergi ke dokter kandungan?" tanya Selyn mengigit bibir bawahnya karena takut.


Tatapan mata mereka beradu. " Baiklah jika itu yang kau inginkan." Amri menatap sendu mata Selyn. Ada hal yang ia takutkan dalam dirinya.

__ADS_1


Dengan senyum lebar Selyn mengucapkan. "Terima kasih, Mas." jawabnya. Lalu mereka melanjutkan langkah kaki menuju rumah.


Sesampainya di rumah Selyn bergegas masuk dan mandi melakukan rutinitasnya hingga siap dengan pakaian yang sudah rapih dengan hijab yang di kenakan di kepalanya.


"Mas, aku sudah siap." sapa Selyn menghampiri Amri yang masih duduk di kursi dengan lap top di tas pahanya.


Amri mengangkat kepala menghadap ke arah Selyn yang dengan gembiranya terpancar dari raut wajah ayu nya. Sebenarnya Amri sangat takut, tapi ia selalu menyembunyikan ketakutan itu dari Selyn dan menggati dengan senyuman agar Selyn tidak curiga.


"Tunggu sebentar sayang, Mas bersiap dulu." jawab Amri beranjak dari kursi dan menutup lap top lalu menaruhnya di atas meja. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Amri keluar dari kamar mandi dengan pakaian casual yang terlihat sangat cool di mata Selyn. Dia merona memerah wajahnya, saat melihat ketampanan wajah Amri yang semakin hari semakin menambah ketampanannya. Tatapan mata mereka beradu, Selyn langsung memalingkan wajahnya karena terpegoki sedang menatap wajah tampan Amri. Malu itu pasti yang Selyn rasakan. Dia menundukan wajahnya yang merah merona seperti tomat matang yang sudah di rebus.


Amri melangkah menghampirinya dan mengulurkan tangan mengajak Selyn agar berdiri dari tempat duduknya.


"Sayang, ayo kita berangkat." sapa Amri dengan satu tangan mengadah di hadapan wajah Selyn.


Mereka menapaki anak tangga dan menuju mobil yang terparkir cantik di halam rumah, setelah salah satu supir memarkirkannya saat Amri meminta untuk menyiapkan sebuah mobil waktu Selyn sedang mandi.


Waktu yang mereka tempuh cukup lumayan dengan jalanan yang padat karena aktivitas di siang hari. Banyak orang yang sedang jalan-jalan hanya sekedar mencari makan siang membuat jalanan semakin padat saja.


Tiga puluh menit kemudian meraka telah sampai di salah satu rumah sakit terbesar di kotanya. Amri mengajak Selyn turun dan menggenggam telapak tangannya menuju salah satu dokter spesialis kandungan, seperti permintaan Selyn waktu pagi tadi.


🌷🌷🌷🌷🌷


Mereka masuk ke ruangan pemeriksaan dan menunggu hasil lab keluar.


Amri tak hentinya menatap wajah Selyn dengan tatapan sendu. Khawatir, takut, semua jadi satu. Dalam diri Amri masih mengingat dengan jelas ucapan dokter Mica, teman masa sekolahnya dulu. Amri bimbang mau menjelaskan semua permasalahan dengan Selyn. Ia selalu menutup rapat semua informasi tentang kejadian malam pertama di saat ijab kabul berlangsung selesai, saat Selyn tiba-tiba masuk dalam rumah sakit. Setiap kali Selyn bertanya ada apa dengan dirinya, Amri selalu menjawab tidak apa-apa dan hanya butuh istirahat karena capek.


Selyn melihat kegelisahan terpancar jelas di raut wajah Amri. Dia memberanikan diri untuk bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Mas, kenapa terlihat sangat gelisah?" tanya Selyn menatap manik mata Amri dengan mengerutkan dahinya.


Dengan cepat Amri menghilangkan semua rasa curiga yang di tanyakan oleh Selyn. "Emang kenapa? Mas, tidak apa-apa ko." jawab Amri melebarkan senyum membuat hati Selyn semakit curiga dan semakin ingin tau apa yang di sembunyikan.


"Lalu, kenapa Mas dari tadi sangat tegang dan terlihat cemas. Apa lagi setelah kita keluar dari ruang pemeriksaan? tanya Selyn beruntun.


"Tidak sayang, Mas hanya gugup." elak Amri menutupu semua kecurigaan Selyn. Dengan lembut Amri menyenderkan kepala Selyn ke pundak dan mengelus dengan sayang kepala Selyn. Saat ini mereka sedang berada di ruang tunggu di ruangan yang sepesial untuk para tamu yang menanam saham di rumah sakit itu. Salah satunya Amri, tanpa sepengetahuan Selyn. Jika sebenarnya Amri lah pemegang saham terbesar di rumah sakit itu.


Hati Selyn menghangat mendapat sentuhan lembut dari Amri, kecurigaannya seketika leyap bagai di telan bumi. Dia percaya jika Amri tidak akan pernah bohong dengan dirinya.


Hasil dari lab pun keluar, salah satu perawat memanggil Amri untuk masuk ke ruangan dokter karena Selyn sedang pergi ke kamar kecil.


Kini Amri dan dokter satu ruangan dengan duduk berhadapan hanya meja yang menjadi penghalang.


"Mohon bersabar, Tuan." kata dokter kepada Amri sambil menyerahkan hasil lab. " Istri anda yang mempunyai masalah dan agak susah, istri anda tidak ada harapan untuk bisa hamil." tukas sang dokter sebelum Amri menjawab.


Sesaat Amri diam dan berkata. "Kalo begitu, jangan sampaikan ini kepada istri saya, Dok?" kata Amri sambil memberikan hasil lab tersebut.


"Maksud anda?," Dokter kaget sambil bertanya.


"Saya khawatir itu akan melukai perasaannya. Dokter katakan saja saya yang mandul." jawab Amri memohon.


Dokter pun menjawab. "Tidak bisa begitu. Anda kan tidak ada masalah, Tuan." kata sang dokter dengan sedikit bingung.


Cukup lama meraka berbincang, hingga Amri berhasil meyakinkan dokter untuk mengatakan sesuai keinginannya.


Tak lama setelah perbincangan itu Selyn datang menghampiri meraka. Untung saja meraka sudah selesai berdiskusi.


Selyn duduk dan mendengarkan semua penjelasan dari dokter. Hasil lab yang keluar dia genggam dengan gemetaran. Dia menatap sendu mata Amri.

__ADS_1


__ADS_2