Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Pelajaran hidup


__ADS_3

Flashback part 3


Dan pemahaman ini ternyata suatu perkembangan, semakin kita belajar mengenal Rabb kita. Insya Allah semakin bertambah pemahaman dan pengetahuan kita, dan akan semakin sadar bahwa masih banyak sekali hal yang tidak kita ketahui.


Dari proses pembelajaran inilah aku semakin memahami siapa Allah yang harus aku sembah. Kini aku sedikit lebih paham, kerana masih banyak hal yang belum aku pahami. Tentang kekuatan rabubiyah Allah sebagi pencipta yang berkuasa, yang melazimkan bahwa hanya Dia-lah yang berhak di sembah dan mengapa aku tidak boleh mempersekutukan-Nya. Karena jika aku melakukan kesirikan, maka itu akan menjadi dosa yang tak terampuni. Jika tidak mau bertaubat."


flashback off


Setelah Mica menceritakan semua tentang perjalanan kehidupannya kepada Amri, mereka pun akhirnya saling berpamitan untuk melakukan aktifitas selanjutnya.


"Begitulah perjalanan saya mencapai Islam saudara ku"


Kata Mica


"Aku hanya bisa mendo'a kan agar anda lebih istiqomah dalam menjalaninya"


Ucap Amri dengan sedikit menyungingkan senyum di bibirnya, lalu berdiri dari duduk dan berpamitan kepada Mica. Karena Amri harus segara membagikan Undangan kepada sahabat maupun teman di kantornya.


"Amin.... terima kasih banyak saudara ku. Oh ya kenapa anda ada di kantor ini? "


Jawab Mica lalu brtanya.


"Saya bekerja disini dan minggu depan saya akan melangsungkan pernikahan. Saya mau mengantarkan undangan ini."


Amri pun menunjukan satu undangan yang di ikat dengan pita merah.


"Selamat ya saudara ku.... semoga sakinah, mawadah, warohma smapai akhir hayat."


Dengan tulus Mica mengucapkan sambil tersenyum.


"Terima kasih Mica. Maaf saya permisi dulu karena masih ada kepentingan "


Dengan sopan Amri undur diri dari perbincangan tersebut.


"Oh... iya, silahkan saya juga mau masuk ke dalam karena mau mengantarkan ini. "


Tukas Mica sembari menunjukan Amplop berwarna coklat yang di genggam tangan kanannya.


"Apa anda bekerja sama dengan kantor kami?" Tanya Amri.

__ADS_1


"Oh... tidak saudara ku, saya kesini karena suami saya ada projek di kantor ini."


Tukas Mica lalu berkata.


"Saya bekerja di RS. X di sebrang jalan kantor ini dan kebetulan tadi suami saya ada dokumen yang ketinggalan, jadi saya mau mengantarkan nya. "


Sambil menunjukan jarinya ke arah jalan Mica seraya menjawab dan memperlihatkan satu Map berwarna coklat kepada Amri.


Lalu Amri pun tersenyum mengerti dan berdiri kemudian berpamitan.


"Mari.... Mica, saya izin untuk undur diri."


Jawab Amri sambil berlalu pergi menuju resepsionis untuk menitipkan undangan untuk temannya. Karena ini di jam kerja, jadi Amri tidak mau mengganggu pekerjaan mereka.


Mica pun berdiri dan melanjutkan langkah kakinya, untuk masuk ke dalam kantor. Karena Maulana, suami dari Mica sedang ada Projek di kantor tersebut. Dan akan kembali bekerja di rumah sakit, dimana sekarang Mica bekerja. Sedangkan Amri ia melanjutkan untuk membagikan undangan. Dan akan melanjutkan perjalanan ke desa, untuk berpamitan kepada anak-anak yang ia ajar.


Ia Amri memang salah satu dari di antara temannya yang terpilih sebagai inspirator.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Siang itu terlihat sangat cerah, secerah hati Amri.


Amri yang mengikuti program sambung anak negeri; sebuah program untuk memberikan dakwah inspirasi kepada anak-anak yang tinggal plosok desa. Amri adalah salah satu inspirator yang terpilih dalam program tersebut.


Amri pun memberi penyambutan serta bertanya kepada anak-anak.


"Assalamualaikum.... anak-anak."


"Walaikumsalam wr. wb. "


Jawab anak-anak serempak.


"Anak-anak kalian apa tau itu surga? "


Tanya Amri mengawali materi.


"Tau kakak." Teriak anak-anak serempak


"Siapa yang mau masuk surga? Angkat tangan? "

__ADS_1


Tanya Amri memancing kelas agar lebih hidup dan bersemangat.


"Saya! " Teriak anak-anak kompak


Mata Amri terpaku pada seorang anak yang duduk paling depan, karena tidak mengangkat tangan. Si anak itu diam saja dan terlihat gelisah. Maka untuk memastikan, Amri mengulangi pertanyaannya untuk kedua kali. Lagi-lagi siswa menjawab kompak 'Saya' sambil mengangkat tangan, bahkan ada yang naik ke kursi agar terlihat oleh Amri. Namun seorang anak yang tidak mengangkat tangan juga tidak bereaksi. Sehingga Amri mendekat dan bertanya.


"Adik sakit? tanya Amri tapi si anak menggelengkan kepala


"Adik kenapa tidak mau angkat tangan? tidak mau masuk surga?"


Lanjut Amri. Anak itu pun secara tegas bilang


"Tidak mau kak! "


jawab si anak


"Loh kenapa? semua teman-teman di kelas, kakak, semua orang mau masuk surga loh?"


Tanya Amri ramah sembari mengelus pundak si anak dengan sayang.


"Bukan begitu kak. Saya merasa tidak pantas masuk surga, sering bangun kesiangan. Kadang gak sholat subuh. Saya sering bohong kepada emak, pernah jahili teman sampai nangis, sering tidak patuh, saya malu sama Tuhan, Kak. Saya malu mengucap sampai berteriak untuk masuk surga tapi perbuatan yang saya lakukan seperti penghuni Neraka"


Ucap si anak dengan wajah polosnya di sertai derai air mata yang membasahi pipi gembulnya.


Mulut Amri tercekat. Tanpa di sadari, Amri juga meneteskan air mata. Mendengar alasan dari si anak. Amri mendapatkan sebuah 'tamparan' amat keras. Hati Amri merasa ngilu mendengar dan melihat polosnya anak di hadapannya ini. Buliran putih bening yang keluar dari pelupuk mata Amri kini semakin meluncur dengan deras. Amri menangis dan memeluk anak yang tadi berbicara.


Dengan hangatnya Amri memeluk memberi energi semangat buat si anak agar mau berusaha berubah dan menjalankannya dengan lapang dada. Amri menasehati anak tersebut dengan lembut dan penuh dengan perhatian. Lalu kemudian Amri segera melanjutkan pelajaran dan materi-materi yang akan di pelajari oleh anak-anak.


"Pelajaran di tutup untuk hari ini, kakak rasa sudah cukup."


Dengan tegas Amri berucap


"Iya kak" Jawab anak-anak serempak


"Assalamualaikum wr. wb. Sampai jumpa kembali minggu depan anak-anak. "


"Walaikumsalam wr. wb. Sampai jumpa kebali kak. " Jawab anak-anak dengan girang.


Lalu berakhir dengan penutupan doa dan di sambung dengan salim anak-anak kepada Amri. Amri pun menyambut setiap uluran, setiap tangan anak-anak satu demi satu hingga sampai yang terakhir.

__ADS_1


Dengan senyum mengembang di bibir Amri berlalu keluar ruangan dan menuju mobil nya yang terparkir di tepi jalan. Amri melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kini tinggal satu tujuan yang Amri datangi. Yaitu di sebuah penginapan yang Amri tinggal selama ada beberapa pekerjaan sewaktu di kota tersebut. Di sebuah penginapan itu ada satu penjaga yang sangat akrab dengan Amri. Bahkan Amri sering menasehatinya agar menuju jalan yang benar.


Terimakasih.


__ADS_2