
Kini pemuda yang duduk di antara kaki yang bertumpu dan menghadap ramainya jalan di siang hari masih memandangi pesan yang dikirimkan oleh Selyn. Pada akhirnya ia hanyut dalam lamunan, dengan kepala yang menyender pada tiang-tiang yang berdiri koko di surau.
Flashback on
Pov Amri
"Perkenalkan nama saya Amri Gulfan Qaddafi. Saya anak semata wayang dari pasangan bapak Amar dan ibu Ririn."
"Saya seorang siswa disalah satu sekolah yang ternama di daerah saya. Bahkan kini saya sekolah dengan biaya sendiri, hasil bekerja sebagai barista. Saat ini saya masih duduk di bangku SMA kelas 11 dan sebentar lagi kenaikan kelas."
"Suatu hari saya tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik dan menggunakan hijab. Gadis itu sebut saja namanya Selyn."
"Perkenalan itu terjadi karena saya dan Selyn menjadi panitia di sebuah iven yang di gelar disekolah. Semenjak perkenalan itu, saya dan Selyn semakin akrab. Namun saya tidak tau, jika Selyn adalah anak seorang bupati di kota tempat tinggal saya."
"Lambat laut kami sering bertemu di sebuah acara dan akhirnya kami pun menjadi sahabat."
"Selyn bersekolah di sekolah yang sama dengan saya. Waktu itu Selyn masih kelas 10, tepatnya adik kelas saya. Karena kami sama-sama terpilih menjadi panitia di salah satu acara, kami akhirnya sering jalan bersama. Dimana ada acara pasti di situ ada saya dan Selyn.
"Seiring berjalannya waktu karena keseringan kita bersama. Saya dan Selyn sebenarnya memiliki adanya perasaan yang sama. Namun, perasaan itu kami pendam dalam hati masing-masing dan kami saling menjaganya satu sama lain."
"Seperti biasanya kami selalu jalan bersama sebagai tuntutan panitia di sebuah acara yang di adakan dalam sekolah."
"Waktu terus berjalan berganti dengan hari dan menjadi bulan hingga tahun pun berlalu. Kini kelulusan sekolah telah tiba. Saya mendapatkan prestasi yang baik. Sehingga saya bisa masuk di universitas ternama di daerah saya dengan jalur beasiswa."
"Waktu terus berlalu, tak terasa 1 tahun sudah saya mengeyam pendidikan sebagai mahasiswa jurusan arsitektur. Begitu juga dengan Selyn, ia akan masuk ke perguruan tinggi setelah kelulusan. Namun saat itu Selyn akan kuliah diluar kota, karena permintaan dari keluarga. Selyn pun tidak menolak dan menceritakan hal tersebut kepada saya."
"Lantaran panik karena akan di tinggalkan, kemudian saya ungkap kan perasaan yang selama ini terpendam dalam hati saya. Tapi saya tak menyangka jika selyn akan terkejut hingga meneteskan air mata saat saya menyatakan perasaan ini."
"Lamarlah aku pada orang tua ku saat pulang nanti." ucap Selyn.
__ADS_1
Lalu dengan ragu, saya membalas perkataan Selyn. "Maaf jika saya menolak, tapi saya rasa tidak mungkin terjadi. Karena diluar kota nanti pasti kamu akan menemukan pria yang lebih baik dari aku."
Mungkin cinta saya hanya bertepuk sebelah tangan. Namu saya tidak menyerah dan selalu berfikir positif. Saya akan tetap memegang kata-kata Selyn. Hati saya terus memegang ucapan Selyn dan yakin.
"Waktu terus berjalan, sampai kini kuliah saya telah selesai. Namun Selyn belum juga memberikan kabar."
"Saya anak seorang nelayan yang sudah menjadi sarjana tetapi tetap setia menanti Selyn anak seorang bupati.
Sampai suatu hari saya mendapat kabar dari Selyn yang tiba-tiba menghubungi saya. Sely menceritakan kalo iya juga sudah menyelesaikan kuliahnya dan berencana melanjut kan S2 ke LN.
Saya yang saat itu memang belum memiliki pekerjaan yang mapan, hanya bisa pasrah saat Selyn menceritakan hal tersebut.
Lalu saya mencoba menyinggung tentang perasaan yang pernah saya ungkap kan kepada Selyn waktu itu. Dan Selyn menjawab dengan halus penuh dengan perasaan. "Datangi orang tua ku, sebelum orang lain datang."
Saya mantap dengan persaaan yang saya miliki dan menjawab. "Aku akan datang untuk bersilaturahim kerumah mu."
"Baik lah aku tunggu ke datangan mu besok tepat pukul 10 pagi." ucap Selyn.
"Percakapan lewat telepon pun berakhir. Kemudian saya berbicara kepada kedua orang tua dan mengajaknya untuk melamar Selyn. Namun ayah menolak dengan keras, karena ia tak ingin jika nanti di permalukan. Lantaran ayah hanyalah seorang nelayan yang tidak mungkin menjadi besan seorang bupati."
"Pada akhirnya saya datang seorang diri kerumah Selyn. Tapi apa yang saya dapatkan hanya sebuah penghinaan dan cemoohan.
Flashback off.
"Saya tersadar dari lamunan yang begitu menghanyutkan dan tersenyum getir mengingat semua akan hal itu. Tapi saya berjanji akan terus berjuang demi Selyn yang saya cintai. Saya akan berusaha dan membuktikan bahwa saya bisa sukses atas izin allah."
"Saya tidak akan berkecil hati, melain kan ini saya anggap sebuah ujian yang diberikan allah untuk hamba-Nya."
"Saya bangun dari tempat duduk dan berjalan pergi meninggalkan surau. Lalu melangkah pergi menuju rumah Selyn untuk berpamitan pulang."
Sesampainya di depan pintu saya mengucap salam. "Assalamualaikum....?" Saya masih diam di ambang pintu yang terbuka lebar.
__ADS_1
"Walaikumusalam!" Jawab ibu Selyn dari dalam rumah. Beliau keluar dari ruangan belakang lalu menyambut saya dengan ramah.
"Eh nak Amri, mari silahkan masuk?" beliau dengan ramah menyambut dan mempersilahkan saya masuk.
Saya masuk dan menyalimi beliau terlebih dulu lalu duduk di kursi panjang, sedangkan beliau duduk di hadapan saya. Hanya meja yang menjadi penghalang di antara kami.
"Iya, terimakasih bu." jawab saya menduduki kursi seraya bertanya.
"Kemana Selyn dan bapak, bu?" tanya Saya dengan santun dan mengembangkan senyum.
"Bapak sedang istirahat di kamar, begitu juga dengan Selyn. Mungkin Selyn capek, karena tadi malam baru pulang." jawab beliau membalas senyuman ku.
"Oh, ya tidak apa-apa Bu. Saya hanya ingin pamit saja." dengan senyuman, saya bangun dari tempat duduk dan melangkah menghampiri beliau. Saya menjabat tangan beliau dan pamit pulang.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Waktu terus berputar, namun saya belum juga mendapatkan pekerjaan yang mapan. Sampai akhirnya Selyn berangkat kuliah ke LN.
Saya tidak menyerah dan terus berusaha untuk mengakat derajat keluarga. Agar bisa bersanding dengan keluarga Selyn.
"Hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang konsultan yang sedang mengerjakan sebuah proyek besar. Beliau mengajak saya untuk bekerja sama dalam pembangunan tersebut."
"Kami sedang mengerjakan proyek besar tapi belum mendapatkan seorang arsitek. Apakah kamu bersedia bergabung dengan kami?" Beliau mengajak ku bergabung. Lalu saya bertanya.
"Anda mengajak saya untuk bergabung dalam pembangunan ini?"
"Jika kamu berkenan dan mau membantu kami, saya sangat berterima kasih kepada mu." Jawab beliau merendah.
Saya tersenyum atas jawaban beliau. Lalu saya dengan semangat menyetujinya. "Ya, saya siap membantu anda."
Mungkin ini langkah awal Amri untuk mencapai sebuah tujuan.
__ADS_1
Allah senantiasa menjawab atas segala doa-doa hambanya yang rajin beribadah dan meminta kepada-Nya. Ini adalah salah satu bentuk jawaban yang diberikan allah kepada Amr. Ia memberikan pekerjaan yang tak terduga dalam sebuah pertemuan dengan seorang konsultan.