
Selyn sudah merebahkan badan dan membelakangi Amri. Setelah mengatakan kata naik tidak terdengar suara apapun. Dia kira Amri sudah tidur di bawah selimut.
Jangan sampai mengeluarkan suara, cukup diam. Baik, pelan-pelan tarik nafas hembuskan, jangan membuat suara. Sebentar lagi pasti dia tidur dengan nyenyak. Aku hanya perlu menahan nafas sampai dia tertidur pulas.
"Selyn?" Saat dia sudah terbaring di tempat tidur, Amri memanggil dan menyibakan selimut. Amri mendekat dan tangan kanannya sudah memegang pundak Selyn dengan lembut. " Aku ingin bicara. Apa kamu sudah tidur."
Sudah tidak tahu sepucat apa wajah Selyn sekarang, tangannya bergetar meremas bantal tidur di kepalanya. Berusaha menggerakkan badan agar leluasa menyingkirkan tangannya. Tenaganya kalah jauh. Tangan Amri sangat kuat bahkan tidak bergerak sedikitpun. Semakin dia menggeserkan tubuhnya, semakin kuat tangan laki-laki itu memegangnya.
"Be, belum mas." Selyn berusaha menjawab tapi suaranya seperti tercekat di leher, terdengar terbata saat bicara. Selyn tidak mempunyai kemampuan untuk berakting.
Amri menghela nafas dengan panjang, sekarang tangannya malah melingkar di tubuh Selyn. Memeluk gadis itu. Selyn semakin pucat dan gemetaran merasakan gugup setengah mati.
"Kenapa denganmu?" berguman di dekat telinga Selyn. Ia merasakan, jika Selyn merasa gugup.
"Ti, tidak apa-apa." terbata, suara Selyn tertahan ketika Amri membalikan badan dan menghadapnya. Dia menunduk salah tingkah saat Amri memegang dagunya.
"Kenapa tubuhmu gemetaran sekali." Ucap Amri yang memegang pipi mulus Selyn dan terasa hangat bagi Selyn yang merasakan sentuhan tangan lembut Amri.
"Bu,...... hemmm. Hemmmm." Tanpa aba-aba Amri langsung ******* bibir ranum Selyn. Dia membuka mulutnya. Bibir lembut Amri menyatu dengan miliknya. Amri melakukannya dengan sangat lembut.
Padahalkan tadi dia sedang kesal padaku. Terpikir sepintas di kepala Selyn.
Menarik nafas sebentar, lalu Amri kembali melancarkan serangan ciuman yang keduanya. Kali ini lebih dalam dan lama.
"Ma, mas.... " Selyn tidak melanjutkan ucapanya saat bibir Amri mulai menelusuri telinga, leher dan bahu Selyn. Kecupan lembut menyalurkan semua perasaan yang sebenarnya. Selyn bergetar merasakan sensasi itu untuk yang pertama kali. Gadis itu memejamkan mata, menggigit bibirnya dan mencengkeram seprei. Amri masih menelusuri lekuk tubuh Selyn. "Mas." pangil Selyn dengan cangguh.
"Hemm." hanya gumaman yang di dapat atas jawabannya. Amri tidak menghentikan aktivitas bibirnya menelusuri leher jenjang Selyn.
__ADS_1
Kau begitu memperlakukan ku dengan lembut mas. Aku semakin takut melihat semua kemampuan aktivitas mu. Kenapa harus melakukannya sekarang. Aku merasakan takut setengah mati. Apa nanti kau akan melanjutkannya. Apa itu sakit. gumam dalam hati Selyn merasa was-was.
"Jangan mas." Ucap Selyn menutup mata. Ia merasakan getaran hebat di seluruh tubuhnya saat mendapatkan rangsangan dari Amri.
"Hemmm." lagi-lagi Amri hanya bergumam.
Bagaiman ini, tangannya mulai meraba tidak bisa dikondisikan. Dia melepaskan hijab ku dan satu tangannya masuk meraba dalam bajuku. Apa yang harus aku lakukan. Membalas perlakuannya atau menghindarinya. Mas maafkan aku, bukan maksud hati menolak atau belum siap. Tapi aku merasa takut mas untuk melakukannya.
Amri mengecup leher Selyn lagi dengan lembut dan membuka kancing baju tidur Selyn satu demi satu terlepas. Dengan bibir yang menelusuri leher putih jenjang Selyn dan mengecupnya hingga berbekas dan berwarna.
Selyn semakin gemetar mengeluarkan keringat dingin. Apa ini, kenapa mas Amri melakukannya sekarang . Dia tadi sedang kesal bukan. Apa tadi hanya firasat ku saja.
"Aaaaaaa,.....sakit." pekik Selyn. Amri menggigit bahu mulus Selyn. "Mas!" Selyn berusaha menggerakan tubuh untuk melepaskan diri dengan pelan dari pelukan Amri yang begitu kuat. Tapi dia tidak berani melawan atau menyentuh tubuh Amri. Ia merasa malu, walau kini Amri sudah sah menjadi suaminya. Yang bisa di lakukan Selyn hanya menjerit dan meremas seprei dengan kuat.
"Mas, lebih baik kita tidur sekarang sudah malam. Besokan mas masuk kerja." Dengan sedikit takut Selyn mengeluarkan alasan agar terlepas dari pelukan Amri.
Amri sudah menahan hasrat sejak tiga hari lalu semenjak kejadian di rumah sakit. Saat dia melihat tubuh putih mulus Selyn untuk yang pertama kalinya tanpa sengaja. Kejadian itu membuat Amri terbayang-bayang. Kepalanya di penuhi dengan Selyn yang menggoda imannya. Sudah berapakali Amri beristigfar dan mencoba menepis bayangan itu, namun syetan selalu saja punya cara untuk menggoda jiwa Amri yang sudah ingin melepaskan hawa nafsu.
Selyn menarik nafas dengan pelan, sambil menurunkan kakinya dari atas ranjang. Dia sudah menyinggu perasaan Amri. Kalo dia masih tidur satu tempat di ranjang dengannya bukankah itu tidak tahu malu namanya. Dia sudah menolaknya.
"Mau kemana. Apa kau lupa kita sudah menikah." intonasi suara Amri yang terdengar keras.
Deg, Selyn yang sudah berjalan tiga langkah dari ranjang diam membeku. Dia tidak mempunyai keberanian untuk bergerak lagi.
Aku tidak bisa melakukannya denganmu malam ini dan membuat kau terbenam di dalam dekapanku. Aku akan memaksamu untuk berada di sampingku. Biar aku yang melakukannya duluan.
"Kenapa membawa bantal dan selimut. Apa kau tidak mau tidur denganku." Ucap Amri yang terdengar dingin di telinga Selyn.
__ADS_1
"Silahkan pergi!" Selyn langsung membalikan badan, berjalan pelan menuju ranjang. Dia naik dan duduk bersimpu di kaki Amri yang duduk bersandar sambil menekuk kakinya. Amri masih sangat kesal. Nafasnya masih berhembus pendek, itu yang di rasakan Selyn saat duduk di dekatnya.
"Maafkan saya mas."
"Sudah malam tidur. Aku sudah tidak berselera lagi." Menggeser tangan Selyn yang memegang kakinya.
"Maafkan saya mas, saya salah, maafkan saya."
"Aku tidak akan memaksamu untuk melayaniku."
"Saya tidak terpaksa sama sekali. Saya melakukannya dengan senang hati, sebagai mana kewajiban seorang istri untuk memberikan hak suami. Bukankah anda tahu jika ini yang saya impikan ketika menjadi istri anda. Bisa tidur bersama."
Lupakan harga diri, aku harus melayani suamiku. Itu sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang istri.
"Sudah tidur!"
"Tidak mas." Selyn meraih tubuh Amri dan memeluknya. Wajahnya terbenam didadanya.
"Saya menginginkannya. Saya ingin bersama mas. Mas tidak memaksa saya. Saya mohon mas jangan marah."
"Khem.. khem.. " Amri hanya menjawab dengan berdehem.
"Maafkan saya." Selyn yang sudah mau melepaskan tangannya mala ditahan. Sekarang Amri balik memeluknya, mulai menelusuri setiap bagian lekuk leher Selyn dengan bibirnya. Kecupan keras sampai membuat Selyn merintih dan membekas tanda merah.
"Maafkan aku, malam ini walaupun kau merintih kesakitan aku tidak akan melepaskanmu." Amri berbisik di telinga Selyn. Gadis ini mencengkeram seprei.
Malam panjang di mulai 😂😂😂
__ADS_1