Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Mengganti baju


__ADS_3

Selyn mengerjapkan matanya dengan pelan. Ia seperti mimpi mendengar merdunya lantunan ayat suci yang di bacakan seorang laki-laki. Matanya mengerjap menyesuaikan dengan sekitar. Menggeleng kepala berulang berusaha mencoba mencari kesadaran. Dia duduk bersandar. Masih dengan setengah sadar.


"Nak." Terdengar suara berulang kali memanggilnya dan di susul seorang laki-laki yang tengah duduk bersilah memegang Qur'an yang berdiri mematung.


Hemm ada apa sebenarnya ini. Jam berapa memang sekarang? Ucap Selyn dalam hati.


"Nak, kau sudah sadar?" terdengar suara wanita paru baya yang Selyn kenal.


"Ada apa bu?" tanya Selyn kepada Ririn, masih setengah sadar.


Kepalaku masih terasa pusing. Selyn berguman dengan tangan yang memegang kepala.


"Selyn kau sudah sadar, nak." Ucap Ririn dan memanggil Amri yang masih berdiri mematung memegang kitab suci.


"Istrimu sudah sadar, mendekatlah kemari." Ririn memanggil Amri untuk mendekat. Amri berjalan mendekat ke arah istrinya. Tapi dia hanya berdiri tidak melakukan apa-apa.


"Sambutlah istrimu, nak." Tangan Ririn meraih pergelangan tangan Amri, membuat ia salah tingkah. Namun ia segera melepaskan tangan ibunya dengan pelan agar tidak menimbulkan rasa kecawa.


"Ia, ibu." Terbata Amri menjawab. Dia duduk di bangku sebelah ibunya dan menatap wajah Selyn yang terbaring lemah dengan menunduk malu.


"Nak, sekarang ibu pulang dulu. Besok ibu akan datang menjenguk mu." pamit Ririn memegang tangan Selyn dengan lembut. Selyn hanya tersenyum dengan lemah.

__ADS_1


🌷🌷🌷


Tok... tok... tok.


Terdengar ketukan pintu dari luar kamar rawat yang Selyn tempati. Amri yang masih diam duduk di samping ranjang Selyn pun berdiri dan melangkah menuju pintu lalu membukanya.


"Maaf, Tuan. Bisakah anda menggantikan pakain Nona muda?" Amri yang tengah memegang handel pintu tersentak. Dia menatap perawat tidak percaya. Bagai mana dia bisa menyuruhnya menggantikan pakain untuk Selyn yang belum pernah ia sentuh. Walau kini telah sah menjadi istrinya. Sementara Selyn yang masih membaringkan badan di ranjang pasien hanya diam tanpa komentar.


"Ah, saya ambilkan bajunya sebentar. Tapi tolong salah satu di antara saja yang melakukannya." Ucap Amri kepada kedua perawat wanita yang masih diam berdiri di depan pintu.


"Tapi, Tuan. Ibu Ririn yang menyuruh saya menyampaikan pesan ini. Jika saya melanggar dan menggantikan pakaian Nona muda, bisa kena hukuman." Jawab dua perawat dengan tubuh yang gemetar karena takut.


Amri menyerahkan pakai tidur pada perawat wanita itu, akhirnya dialah yang membantu Selyn. Amri bergetar melihat wajah ayunya selyn saat melepas hijab serta menelan ludahnya dengan kasar saat menerima gaun pengantin istrinya, lalu membalikan badan membelakangi istrinya dan menundukan kepalanya. Ia sangat tegang, ini pertama kalinya dia melihat tubuh seorang wanita. Apalagi itu istrinya membuat jiwa lelakinya bangkit. Namun ia mencoba mengatur napas dan menenangkan yang di bawah sana, yang berdiri tegang. Setelah berganti pakai, Selyn kembali membaringkan badannya di ranjang pasien.


"Selamat malam Tuan. Silahkan kembali istirahat, saya permisi." Sapa perawat wanita itu tersenyum dan melangkah menuju pintu. Amri berjalan mengikuti perawat samapai di depan pintu. Perawat membungkukan badanya sebelum menghilang di balik pintu yang tertutup. Tersadar dia masih memegang pakaian istrinya, Amri masuk kedalam kamar mandi. Lalu meletakan baju itu ke dalam keranjang yang tersedia di dalam kamar tersebut. Sejenak ia menapat langit-langit pada dinding kamar mandi untuk menjernikan pikirannya. Keluar dari kamar mandi itu, dia melewati istrinya yang sudah memiringkan tubuhnya. Dia berdiri lama di ranjang pasien yang di tempati oleh Selyn dan menatap lekat perempuan yang kini menjadi istrinya.


Ia tersenyum merekah memandang perempuan yang tengah berbaring diranjang pasien. Perempuan yang dia perjuangkan selama ini. Kini telah menjadi miliknya dan akan menjaganya sampai maut memisahkan. Perempuan itu miliknya. Dia sangat berharap rumah tangga yang baru di bangun ini akan langeng seumur hidup. Dia berdoa agar menjadi imam yang baik untuk istri dan anak-anaknya kelak.


"Tolong, matikan lampu." Terdengar suara Selyn yang lemah.


"Eh, ia. Selamat malam." Amri terkagetkan dari pandangan yang menatap penuh ke arah Selyn dan bergegas, dia mematikan semua lampu. Lalu berjalan menuju sofa yang terdapat di sebelah kanan tempat ranjang Selyn. Dia menyelimuti tubuhnya. Dan terlelap begitu saja tanpa mengganti baju stelan jas yang dia pakai saat melaksanakan ijab kabul hingga kini. Amri berdoa dalam mimpinya berharap mimipi indah bersama Selyn.

__ADS_1


Pagi setelah hari pernikahan. Amri berada di ruangan yang bernuasa putih dimana lagi kalo bukan rumah sakit. Di ruangan tersebut Amri duduk di sofa dan menatap Selyn yang masih terlelap dengan tidurnya. Ia melihat wajah ayu Selyn tanpa menggunakan hijab dan tersenyum. Dia di kagetkan dengan suara sapaan seorang wanita di sampingnya.


"Selamat pagi tuan, saya kepala perawat di rumah sakit ini." Sapanya dengan senyum berdiri di sampung tempat duduk Amri. Lalu menyuruh dua perawat lainnya untuk mengecek kondisi Selyn dan menenpatkan sarapan pagi untuk Selyn di meja.


"Pagi." Singkat Amri menjawab dan beranjak berdiri. Kepala perawat itu tersenyum kikut melihat sikap dingin Amri. Bagaimana seorang tuan muda terkesan dingin saat pertama kali menjumpainya. Amri menundukan kepala lalu melangkah pergi melewati ranjang pasien dan masuk ke dalan kamar mandi untuk melakukan aktifitas mandinya di pagi hari. Amri menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk merenggangkan ototnya.


Setelah melakukan rutinitasnya, Amri keluar dan berjalan ke sofa. Ia mendapati Selyn yang sudah bangun menyender di dinding ranjang pasien dengan bantal yang di tumpuk di belakang kepalanya. Selyn tersenyum melihat ke arah Amri lalu menyapanya.


"Pagi, mas?" Sapa Selyn tersenyum manis.


"Pagi, Selyn. Apa kamu sudah makan?" Tanya Amri dengan kikuk. Padahal sudah terlihat jelas bahwa makanan di samping ranjang Selyn di atas meja masih utuh.


"Belum, mas." Selyn melirikan mata ke samping tempat tidur. Amri semakin salah tingkah atas pertanyaan sendiri.


"Eh, ia. Sarapan dulu Lyn, nanti minum obat agar cepat pulih." Jawab Amri yang sudah kepalang basah terlihat salah tingkah.


"Ia, mas. Selyn makan." Selyn menyibakan selimut hendak turun dan mengambil sarapan di meja. Amri segera berdiri dan menahan Selyn agar tidak turun dari ranjang. Tangan Amri bergetar hebat. Ini pertama kali dirinya memegang wanita.


"Jangan turun, aku ambilkan." Cegah Amri menaikan selimut kembali dan mengambilkan sarapan untuk Selyn. Selyn hanya tersenyum saat menerima satu mangkok bubur pemberian Amri.


"Terima kasih, mas." Ucap Selyn tersenyum malu. Sebenarnya dalam hati Selyn pun sama. Ia sangat tegang saat di sentuh oleh Amri untuk pertama kalinya. Selyn makan dengan menunduk.

__ADS_1


__ADS_2