Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Kegelisahan


__ADS_3

Dengan menekan nada suaranya, Amri terus meminta penjelasan dari Ezel aga mau berkata jujur.


"Ezel demi Allah ini ada apa sebenarnya. Tolong jangan mengalihkan pembicaraan. Kenapa ini, trus kemana Ibu, Ayah dan semua keluarga Selyn? Dimana mereka semua!"


Dengan bibir bergetar, Amri terus menekan nada bicaranya agar Ezel mau berkata jujur


"Tuan, yakin siap mendengarkannya? jawab Ezel sedikit ragu.


"Iya, aku siap. Ada apa sebenarnya, jawab Ezel!" Amri sedik membentak Ezel, ini pertama kalinya Amri memarahi seseorang selama hidupnya.


Ezel yang melihat Amri marah pun takut dan akhir berkata.


"Jadi begini tuan,.......


Flashback on


Ezel


"Saat tuan, pergi ke surau Ibu merasakan kejanggalan terhadap nona Selyn, yang shalat begitu lama dan tak kunjung keluar kamar."


"Akhirnya Ibu menyuruh, Mama nona untuk melihat bagaimana dengan keadaan nona di dalam. Apakah sudah selesai shalat atau belum. Apa sedang memakai make-up lagi atau karena malu untuk keluar sendiri."


"Beliau pun akhirnya menghampiri kamar nona, tapi kejadian ini tak terduga. Nona yang masih menggunakan gaun pengantin dan mukenah saat melaksanakan shalat isya, ternyata ia dalam ke adaan tergeletak di atas sajadah. Setelah di cek, ternyata nona pingsan dan di larikan kerumah sakit karena suhu badannya panas."


"Semua keluarga tidak mau mengambil resiko, karena panik mereka langsung membawanya kerumah sakit. Karena kata Mamanya, setelah nona pulang dari LN ia sering kali meresakan pusing, mual, muntah dan kurang nafsu makan. Orang tua nona mengira itu adalah efek kecapean dan masuk angin dan tidak menganggapnya serius. Namun sampai hari ini, di acara pernikahan ini nona pun masih merasakan sakit itu ada. Padahal kata orang tuanya, nona sudah meminun obat tapi tadi pagi nona terlihat sedikit pucat. Itu kata beliau."


Flashback off

__ADS_1


"Begitu yang ku dengar tadi tuan, saat beliau sedang berbicara dengan Ibu di dalam kamar," Ezel menarik nafas panjangnya dan menepuk punggung tangan Amri, untuk memberikan semangat.


"Di rumah sakit mana Selyn berada," tanpa babibu Amri langsung menanyakan dimana kebaradaan Selyn sekarang dengan perasaan yang sangat cemas.


"Mari tuan, saya antar. Karena Ibu berpesan agar saya menunggu tuan dan mengantarkan nya jika usai shalat isya." Jawab Ezel


Amri pun hanya menggunakan kepala sebagai jawabannya, ia sudah sangat lemah dan tak bertenaga lagi. Apa lagi saat mendengar sang istri masuk rumah sakit. Untuk berjalan saja rasanya sudah tak mampu untuk melangkah. Rasanya seperti mimipi yang melayang tinggi di atas langit ketujuh lalu jatuh ke dalam dasar bumi yang paling bawah.


Amri sangat terpukul saat mendapatkan berita sang istri tercintanya masuk rumah sakit. Ia tak menyangka , di hari pernikahan yang seharusnya terlihat suasana gembira dan merasakan kebahagian, menikmati indahnya menjadi sepasang pengantin baru, kini berganti dengan kesedihan dan harus menerima kanyataan pahit.


Apa pun yang terjadi nanti dengan Selyn, ia harus kuat dan menerimanya. Jika ini sudah kehendak-Nya, Amri siap menerima semua ujian yang di berikan. Mungkin ini awal ia menjalani rumah tangga yang begitu mengharukan. Di hari yang tak terduga ini, semua acara pernikahan menjadi hancur berantakan.


Ia belum sempat melihat raut wajah ayunya Selyn ketika ijab kabul maupun resepsi pernikahan.


"Apakah Selyn begitu anggun, saat mengenakan gaun pengantin warna putih, beserta hijab yang melekat di kepala dan krudung besar sebagai mahkotanya?"


Kini mereka sudah di dalam mobil yang di kendarai oleh Ezel, dan Amri hanya melamun sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


Di tengah lamunan Amri bertanya-tanya pada dirinya sendiri, " Sebenarnya apa yang telah kamu rahasiakan dari ku Selyn?" sejenak Amri menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


Ia memikirkan apa sebenernya yang telah di rahasiakan. Apakah Selyn mempunyai penyakit, tapi kenapa ia tidak menceritakan dengan Amri. Seandainya Selyn ada penyakit pun seharusnya Amri lebih tau di bandingkan orang lain, ia siap menerima keadaan Selyn. Baik jika sedang sehat maupun sakit, ia sanggup untuk merawatnya atau mengobati ke luar negeri demi kesembuhannya.


Pikiran Amri berkecamuk entah apa yang harus ia lalukan, bingung, bimbang, kuwatir, sedih menjadi satu.


Sesampainya di rumah sakit Ezel hanya diam karena ia melihat kegelisahan di dalam diri Amri, saat di perjalanan Amri terlihat tidak tenang dan selalu gusar. Ezel pun memahami kondisi ini.


Amri berjalan dengan langkah kaki sedikit berlari kecil. Menyusuri setiap lorong koridor untuk menjumpai dimana ruangan yang di gunakan sang istri.

__ADS_1


Begitu melihat keluarganya tengah duduk di bangku depan ruang UGD, Amri pun segera menghampiri dan minta penjelasan.


Tapi sebelum Amri melayangkan pertanyaan kepada Mamanya Selyn, seorang dokter perempuan keluar dari ruangan yang Selyn tempati. Ia segera bergegas menghampirinya tapi betapa terkejutnya dirinya melihat dokter tersebut. Tapi sejalan kemudian, ia senang karena dokter itu adalah temannya dan ia akan lebih luas untuk bertanya tentang kondisi sang istri yang tengah terbaring di ranjang pasien.


Baru saja sang dokter menutup pintu ruangan ia di kagetkan dengan suara seorang.


"Assalamualaikum... saudariku?!"


Sapa Amri kepada dokter Mica yang tengah menutup pintu.


"Walaikumusalam wr. wb," jawab Mica dengan membalikan badan setelah menutup pintu. Lalu Mica pun memandang bingung kepada Amri, yang tiba-tiba ada di belakangnya seraya berkata.


"Ada yang bisa saya bantu saudara ku," Ucap Mica dengan sopan.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Amri yang begitu panik tanpa memperjelas siapa yang ia maksud kepada Mica.


Mica semakin bingung dengan pertanyaan yang di layangkan oleh Amri. Kemudian Ibu Amri pun bangun dari tempat duduknya dan bejalan menghampiri Amri. Dengan lembut sang Ibu mengelus pundak Amri dengan sayang untuk menenangkan kepanikan anaknya dan berkata.


"Dokter pasian yang ada di dalam itu, istri anak saya," ucapnya dengan mencoba tersenyum.


Sang dokter baru memahami apa maksud yang di ucapkan Amri barusan dan mengganggukan kepala sebagai tanda ia mengerti, apa yang di bicarakan Ibunya Amri lalu ia berkata.


"Bisakah anda ikut keruangan saya wahai saudara ku?" tanya dokter Mica.


Amri hanya menggunakan kepala dan berjalan di belakang Mica menuju ruangan dokternya itu. Sesampainya di dalam ruangan, dokter Mica pun menyuruh Amri duduk dan mulai berbincang agar suasana tidak tegang dan rileks.


"Bagai mana kabar mu saudara ku?" tanya dokter Mica untuk mencairkan suasana agar tidak tegang.

__ADS_1


"Alhamdulillah atas nikmat Allah yang diberikan, saya sehat, " Jawab Amri yang terlihat gusar.


__ADS_2