Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Nasehat


__ADS_3

Baru beberapa suap, tiba-tiba air mata mulai berlinang membasahi pipi gadis itu. Amri pun akhirnya bertanya.


"Ada apa Nona?" Tanya Amri


"Tidak apa-apa. Aku hanya terharu," Jawab si gadis sambil menyeka air matanya.


"Bahkan orang yang baru aku kenal saja, mau memberi ku semangkok bakso. Tapi.... Ibu aku sendiri, setelah bertengkar dengan aku, malah menyuruh ku pergi dari rumah dan mengatakan agar aku tidak kembali lagi."


"Kakak yang baru ku kenal, begitu peduli pada ku, di banding dengan Ibu kandung ku sendiri," Lanjut si gadis sambil sesekali menyeka air matanya sambil terisak.


Setelah mendengar cerita si gadis, Amri menarik nafas panjang, lalu berkat;


"Kenapa kamu berfikir seperti itu?"


Sejenak Amri menjeda pertanyaanya lalu melanjutkan ucapannya kembali.


"Coba kamu renungkan hal ini, aku baru saja memberi mu semangkok bakso namun kamu begitu terharu. Sementara Ibu mu, telah memasak untuk mu berkali-kali, sejak kamu kecil hingga saat ini, mengapa kamu tak berterima kasih padanya? Mala kamu bertengkar dengannya."


Tanya Amri sembari memberi tissu kepada si gadis.


Gadis itu terhenyak mendengar hal sederha yang di katakan oleh Amri


Mengapa dia tak bisa berfikir tantang hal tersebut sebelumnya? Untuk semangkok bakso dari orang yang baru saja di kenal, dia begitu sangat berterima kasih. Tetapi untuk seorang Ibu yang telah memasak untuknya selama bertahun-tahun, dia belum dapat menunjukan kepeduliannya. Dan hanya karena persoalan sepele dia akhirnya bertengkar dengan Ibunya.


Dengan menggeleng kepala Amri membatin


Dengan segera si gadis menghabiskan baksonya, lalu menguatkan hatinya untuk segera pulang kerumah. Setelah mendapat nasehat dari Amri, ia bertekat apapun yang terjadi nanti di rumah. Ia akan siap menanggung resikonya. Kemudian, ia berpamitan dengan Amri setelah menghabiskan baksonya.


"Kak, saya pamit pulang dulu dan terimakasih sudah mengingatkan saya tentang hal ini?!"


Gadis itu menundukan kepala seraya berkata kepada Amri dan berpamitan.


"Sama-sama, kita sebagai seorang muslim wajib mengingatkan. Selagi kita tau dan saling membantu jika kita mampu."


"Iya Kak, terima kasih sekali lagi. Permisi," Si gadis bediri dari tempat duduknya dan melangkah keluar jalan untuk pulang kerumah, tapi Amri mencegahnya dan bertanya.


"Maaf, nona kalo boleh saya tau. Rumah nona dimana biar saya antar sekalian?"


Cegah Amri seraya bertanya.

__ADS_1


"Tidak usah kak, rumah saya dekat dari sini." Kata gadis itu


"Ga apa-apa, ga usah sungkan. Mari ikut saya kesana."


Ucap Amri sambil menunjuk mobil yang terparkir di kiri jalan.


Gadis itu hanya menggangukan kepala dan mengikuti langkah Amri.


Sebelum pergi Amri membayar bakso dan minumannya. Kemudian ia segera melangkah dan membuka pintu mobilnya untuk si gadis.


Kini hujan mulai reda, jalanan terlihat terang oleh lampu penerangan di sepanjang jalan menuju penginapan.


Mobil yang di kendarai Amri melaju dengan pelan. Keheningan di dalam mobil terasa sangat cangguh di antara dua anak manusia yang duduk di belakang kemudi dan di kursi penumpang. Dikeheningan tersebut Amri mencoba mencairkan suasa dan bertanya.


"Di mana rumah nona?" Tanya Amri tetap fokus dengan kemudinya.


"Pertigaan depan belok kiri, Kak?!" Si gadis menunduk malu dengan jari menunjuk jalanan di depan yang terdapat pertigaan.


Tak butuh waktu lama selang lima menit pun mereka akhirnya sampai di rumah gadis itu.


Pintu mobil terbuka, dengan cepat gadis itu keluar dan berlari. Lalu membuka pintu rumah tanpa mengucapkan salam.


Namun begitu gadis itu membuka pintu, dia melihat wajah ibunya yang tua penuh dengan rasa letih dan cemas. Itu yang terlihat dari sudut pandang Amri yang masih mematung di samping pintu masuk.


Saat pertama kali mata Ibunya melihat si gadis berdiri di depan pintu, kalimat yang pertama kali keluar dari mulut Ibunya adalah;


"Sayang, kamu sudah pulang. Aku sangat khawatir. Ayo cepatlah masuk, aku sudah masak makan malam untuk mu. Kamu segera ganti baju, lalu makan dulu sebelum tidur. Ayo cepat, nanti keburu dingin. Jadi kurang enak kalo dimakan."


Ucap Ibunya yang duduk di kursi ruang tamu.


Pada detik itu, Amri melihat si gadis sudah tak dapat menahan tangisnya. Gadis itu berlari menghampiri Ibunya, dan bersimpuh menangis di kedua kakinya.


Melihat pemandangan seperti itu membuat Amri tersenyum getir dan meneteskan air matanya. Lalu dengan segera Amri pun mengetuk pintu dan memberi salam.


"Assalamualaikum, malam Bu?"


Sapa Amri dengan tersenyum setelah menghapus air matanya yang sempat menetes di pipinya.


"Walaikumsalam wr. wb," Jawab Ibu si gadis dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


"Maaf, anda itu siapa ya?"


Tanya Ibu gadis itu dan bangun dari tempat duduknya lalu melangkah kedepan pintu. Dimana Amri masih diam mematung di ambang pintu.


"Maaf, Bu sebelumnya apa saya boleh masuk?" tanya Amri


"Oh... ya, ya silahkan masuk," Jawab Ibu itu dengan salah tinggkah.


Amri pun di persilahkan duduk dan mulai memperkenalkan diri.


"Maaf, Bu sebelumnya. Saya Amri, tadi saya bertemu dengan anak Ibu di pinggir jalan."


Setelah duduk Amri membuka pembicaraan dengan Ibu tersebut.


"Oh... jadi nak Amri namanya toh. Apa nak Amri yang mengantar Dian?" Tanya Ibu itu.


"Dian?"


Amri pun bingung, karena tidak tau siapakah yang disebut Ibu itu


"Iya... Dian anak Ibu ini," Jawab si Ibu seraya mengelus sayang rambut Dian yang duduk di sampingnya.


Amri menggangguk paham dengan maksud Ibu tersebut.


"Apa Dian menyusahkan nak Amri?" tanyany kembali.


"Oh... tidak Bu, tadi saya hanya bertemu dan hanya saja sejalan dengan arah jalan saya menuju penginapan. Jadi saya sekalian antar Dian pulang, karena tadi saya lihat Dian kehujanan."


Jawab Amri sedikit menutupi permasalahan yang ia tau dari Dian yang sudah menceritakan hal yang sebenarnya. Namun Amri tidak mau ikut campur dalam permasalahan di antara Ibu dan Anak itu. Cukup ia memberi nasehat kepada Dian agar bisa mengerti dan menghormati Ibunya. Biarlah mereka yang menyelesaikan permasalahan mereka sendiri.


"Terima kasih ya nak," Ucap Ibu Dian.


"Sama-sama Bu, itu sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong siapapun yang membutuhkan dan selagi saya bisa pasti saya bantu." Jawab Amri dan segera berpamitan karena sudah mulai larut malam.


"Maaf Bu, saya pamit dulu karena sudah malam."


Amri segera berdiri dan mengucap salam.


"Tidak mau minum dulu nak, apa istirahat dulu di rumah kami." Ibu Dian mencegah dan menyuruh Amri agar mau singgah dirumahnya.

__ADS_1


__ADS_2