Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Petunjuk


__ADS_3

Pagi adalah waktu yang istimewa bagi setiap orang. Manusia menjalankan apa yang telah di rencanakan, serta mewujudkan apa yang di harapkan. Waktu pagi terus kita isi dengan energi yang positif. Karena dari energi positif ini akan mendatangkan hal-hal yang baik. Pagi telah datang buka mata dan gapailah mimpi indah


Seperti hari ini, Amri akan datang ke kantor untuk memberikan undangan pernikahan di kantor. Dengan semangat dan doa yang iya panjatkan kepada-Nya.


Di tengah perjalanan menuju loby iya tak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang mirip dengan teman semasa SMP, tapi iya merasa aneh pada gadis itu.


Banyak perubahan di dalam dirinya. Sejurus kemudian ternyata gadis itu masih mengenali Amri walaupun 12 th lamanya tidak bertemu.


Gadis itu pun menghampiri Amri dan memberi salam.


Amri tertegun hatinya merasakan kejanggalan dalam diri temannya itu lalu menjawab salamnya dan bertanya.


"Assalamualaikum.... saudaraku Amri, apa masih mengel saya?


Tanya gadis itu.


Amri pun menjawabnya dengan ramah.


"Walaikum salam wr. wb saudariku?!


Maaf jika tidak salah, apa benar anda itu Mica?


Tanya Amri pada gadis yang bernama Mica teman semasa SMP nya dulu di kampung.


Iya karena sekarang Amri hidup di kota setelah membangunkan rumah untuk orang tuanya.


Gadis yang bernama Mica pun tersipu malu dan menjawab dengan senyuman.


"Iya Amri, saya Mica?!


Jawab Mica


"Subhanallah, sunggu saya sampai tak mengenali anda. Sekarang banyak perubahan dari anda. "


Iya dulu Mica terbiasa memakai celana pendek dan kaos lengan pendek dan sekarang malah berubah menjadi berhijab.


Menjadi sebuah tanda tanya dalam benak Amri, tapi iya tidak mau mencampuri urusan orang lain dan hanya memeberi pujian saja.

__ADS_1


"Iya terimakasih Amri, saya mualaf?!Jawabnya sambil menunduk karena malu.


"Alhamdulillah saudariku, selamat datang di agama yang baru"


Amri memberi ucapan dan memberikan semangat buat Mica.


"Iya terimakasi Amri. Mungkin jika aku tidak bertemu dengannya aku tidak akan menjadi lebih baik seperti sekarang ini?"


Ucap Mica.


"Apa dia seseorang yang spesial di kehidupan anda?"


Tanya Amri dengan sedikit menundukkan kepala.


"Iya dia sangat spesial bagi kehidupanku dan Alhamdulillah sekarang menjadi suamiku"


Jawab Mica dengan mata berkaca-kaca.


Amri melihat air mata di pelupuk mata Mica dan segera menyuruhnya duduk karena saat ini mereka ada di depan pintu masuk loby.


Setelah mereka duduk di kursi dalam ruangan loby, Mica pun akhirnya menceritakan bagaimana perjalananya sapai iya bisa masuk Agama islam dan itu sangat di tentang oleh keluarganya tapi inilah jalan yang dipilih.


Mica berucap dengan bibir yang bergetar.


"Tenangkanlah diri anda dan baca istigfar, baru lanjut jika anda sudah tenang hatinya?"


Amri memberi nasehat dan kesempatan untuk Mica bercerita.


Sejenak Mica menuruti ucapan Amri dengan menarik nafas lalu buang dengan pelan dan istigfar. Lalu melanjutkan perkataa yang sempat tertunda.


"Jadi dulu saya dan suami saya bertemu di salah satu perguruan tinggi, dia yang menuntunku menjadi seperti sekarang ini"


Flashback on


🌷Mica 🌷


setelah lulus SMA, aku masuk kuliah di FKG-UGM. Dan seperti sebelum-sebelumnya aku kembali aktif dikegiatan keagamaan.

__ADS_1


Kali ini aku mengikuti persekutuan mahasiswa di FKG dan ditingkat UGM. Aku sangat senang dan menikmati kegiatanku tersebut waktu itu. Dari macam-macam aktifitas, panitia dan lomba.


Ternyata keaktifanku dalam kegiatan keagamaanku ini, semakin masuk kedalam ketika aku bergabung dengan pelayanan. Pesertanya kebanyakan mahasiswa.


Disini kami belajar banyak hal tentang keimanan. Dibimbing oleh pembimbing dalam satu kelompok. Disini juga kami dianjurkan dan diminta untuk menghafal. Dengan di beri panduan berupa kartu, untuk di hafal dan setiap pertemuan harus bertambah hafalan.


Akhirnya aku bisa menyelesaikan paket kurikulum dan di minta untuk membimbing.


Metode pelayanan ini bisa di kenali dengan metode sel, belajar dengan kelompok, belajar bersama anggota kelompok. "


Entah mengapa setelah aku masuk stas(tingkatan)klinik, mulai ada beberapa teman muslim yang mendekati dan ingin memperkenalkan Islam padaku!


Reaksi ku? Jelas marah dan kutolak.


Pernah juga aku di pinjami Al-Quran dan di minta untuk membacanya, sampai aku tak ingin berbicara dengannya. Dan sampai akhirnya aku bertemu dengan dia. Sebut saja Maulana yang alhamdulillah kini menjadi suamiku.


Kalo teman-teman lain memperkenalkan Islam dengan cara langsung, tapi tidak dengan Maulana. Dia mengenalkan Islam dengan sisi yang berbaur keagamaan yang ku anut saat itu. Dan aku sangat antusias saat itu. Kesempatan Emas bagiku! Pikirku. Aku juga banyak bertanya tentang isi buku keagamaan, bahkan kata dia telah tamat membaca buku yang aku baca waktu itu.


Aku semakin bersemangat waktu itu, banyak yang iya ketahui tentang buku yang aku baca perihal agama.


Ternyata sejak kecil dia suka membaca buku-buku tentang keagamaan serta sejarahnya dan ketika dia kuliah di UGM, dia juga kadang berkunjung ke toko buku tentang keagamaan untuk di baca.


Namun yang terjadi selanjutnya, ternyata di luar dugaanku. Dia memang banyak tau tentang agamaku. Namun dia juga memiliki pengetahuan tentang Islam.


Kami sering berdiskusi membuat kami menjadi semakin dekat. Akupun telah lulus kuliah dan bekerja. Begitu pula dengan Maulana, hanya saja dia bekerja di jakarta.


Namun kami masih terus melanjutkan diskusi tentang keagamaan kami masing-masing. Ya.. masih berlanjut seperti itu. Pengenalan Agama Islam yang di lalukan dengan cara tidak langsung. Dari diskusi-diskusi itulah dia terkadang memasukan sentilan-sentilan Islam dengan cara tidak langsung dan tidak aku sadari.


Masih ada rasa penasaran, jengkel dan marah berbaur menjadi satu. Namun banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa aku jawab.


Maulana tidak pernah mendebat tentang agamaku, melainkan dia selalu memberi arahan dan memberi sentilan-sentilan yang berbaur Islam. Kami tidak pernah berdebat tentang agama kami melainkan kami disini saling berdikusi.


Sejak itulah aku melihat dan menilai Islam. Seakan-akan sedang menjadi juri untuk keduanya. Berat dan tertekan. Itu yang kurasakan ketika bergumul dan berusaha keras untuk melepaskan diri dari keyakinanku. Agama yang telah ku cintai sejak kecil, namun dari sinilah aku mulai membuka diri selain keyakinanku. Aku baru bisa mempelajari seperti apa itu Islam sebenarnya. Kesan pertama


yang kudapatkan dalam penilaianku adalah;


"Apa yang jelek dengan Islam? Kelihatannya ajarannya baik dan menyentuh hati."

__ADS_1


Sejak itulah aku mulai tertarik dengan Islam dan menjadikanya alternatif pengganti agamaku. Aku mulai bekerja di luar kota, disebuah puskesmas di kota kecil. Sendirian, tanpa sanak saudara, ataupun teman dekat dan sahabat.


Masih lanjut πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2