
Selyn berjalan dengan pelan keluar dari kamar mandi. Dia masih merasakan nyeri pada selangkangannya dengan pelan berjalan menuju suaminya. Ia mendapati Amri yang sedang duduk sambil memegang hp dan masih mengenakan jubah handuk yang masih melekat di tubuh. Ia berdiri tepat di hadapan suaminya, bingung harus mengatakan apa. Dia merasakan cangguh dan memilih diam, hanya itu jalan satu-satunya yang dia pilih.
Amri mengangkat wajahnya, mendapati Selyn yang tengah berdiri mematung di hadapannya sambil memegang stelan jas berwarna biru dongker. Dengan sengajanya Amri melancarkan aksi membuka jubah handuk di hadapan istrinya.
Seketika Selyn langsung memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Dia melihat Amri yang tidak menggunakan sehelai benang pun berdiri di hadapannya dan meraih tangannya. Tubuhnya bergetar sangat hebat merasa takut, malu, cangguh menjadi satu. Apa lagi nyerinya belum hilang sejak kejadian tadi malam yang begitu panjang. Jantung Selyn berdetak semakin kencang seperti mau copot, saat merasakan sentuhan kulit mulus suaminya yang menempel di pipinya.
Ya allah jangan sekarang. Aku masih merasakan nyeri yang tak kunjung hilang. Selyn memohon dengan gemetaran di tubuhnya merasakan ciuman bibir yang begitu lembut menyatu dengan miliknya. Bibir kenyal, manis dan basah ia rasakan dengan lembut.
Tok.... tok.... tok....
Terdengar ketukan suara pintu dari luar kamarnya.
Huffff leganya terselamatkan. Ucap Selyn dengan lirih, Amri hanya mendengar gumaman Selyn saja.
Dengan malasnya Amri mengambil alih baju yang masih di pegang Selyn lalu memakainya. Selyn membalikan badan dan segera melangkah menuju pintu lalu membukanya.
"Ada apa bu Siti?" tanya Selyn yang tengah mendapati kepala maid sedang berdiri di hadapanya.
"Itu Non, ditunggu nyonya dan tuan Amar di meja makan." jawab bu Siti menunduk sopan.
"Iya terimakasih, bu Siti. Sebentar lagi kami akan turun." Ucap Selyn.
Kepala maid hanya mengganguk mengerti dan berlalu pergi, Selyn menutup pintu kembali dan masuk kembali melangkah menuju suaminya yang masih sibuk mengenangkan jas dan menggengam dasi di tangan kanannya.
"Tolong pakaikan dasinya." Amri menyodorkan dasi yang sedang di genggam kepada Selyn. Dia mengambil alih dasinya dan memakainya dengan cepat.
"Sudah." Ucap Selyn tanpa menyadari jika Amri tengah menatapnya dengan tajam. Dia melihat banyak tanda merah di leher jenjang istrinya dan tersenyum. Selyn baru sadar saat mengangkat wajahnya dan matanya beradu dengan Amri. Dia langsung memalingkan muka merasa malu dan cangguh yang masih ia rasakan.
Diam memikirkan apa yang sedang ada di dalam kepalanya. Apa ini nyata? Kini Mas Amri menjadi suamiku? Aku tidak mimpi bukan.
__ADS_1
Amri menjentikan jari tangannya di kening Selyn. "Tuk," bunyi. Jari Amri mengenai kening Selyn yang tangah melamun.
"Aauuwww." Selyn mengusap keningnya dengan pelan. Jentikan tangan Amri membuyarkan lamunannya. " Sakit mas." keluh Selyn menunduk cangguh.
"Cup." satu kecupan mendarat di kening Selyn. Amri memberi ciuaman di kening istrinya tepat bekas jentikan jarinya.
"Maafkan mas, ya. Habis kamu melamun." Amri memeluk Selyn dengan lembut dan hangat yang di rasakannya. Lalu Amri mengajak Selyn untuk turun dan sarapan bersama keluarganya.
Selyn hanya menunduk dan mengikuti langkah kaki Amri yang sudah melangkah menuju pintu. Amri menuruni anak tangga dengan menggandengan tangan Selyn.
Semua orang sudah menunggu di meja makan. Kepala maid sudah menarik kursi utama dan diduduki untuk Amri disana. Yang lain pun ikut duduk termasuk Selyn. Dia duduk di samping suaminya. Selyn mengambilkan steak sapi dan menuangkan mayones serta saos lalu meletakan di atas piring di hadapan suaminya. Tidak lupa kentang goreng sebagai makanan pendamping dengan salat sayur.
"Silahkan di makan, mas." Selyn melihat semua orang yang menatapnya membuat ia cangguh dan menunduk malu.
"Terimakasi." Amri tersenyum manis.
"Amri, apa kamu akan pergi kekantor hari ini?"
"Kenapa tidak libu? Selyn kan baru sehari pulang di rumah ini."
"Aku tidak punya banyak waktu, Bu. Banyak hal yang harus aku kerjakan."
"Baiklah, Nak. Ibu tau kamu sangat sibuk. Makanlah."
Semua membisu setelahnya. Amar hanya diam menyimak percakanpan anak dan istrinya. Selyn terlihat sangat cangguh makan bersama keluarga barunya. Dia menghabiskan makannya tanpa melihat orang-orang di sekitarnya. Biarlah di anggap sombong. Ia masih cangguh dengan keberadaan para maid yang berdiri mengitari meja makan. Perubahan yang tak terduga ia rasakan. Amri telah berjuang untuk mengubah segalanya tanpa sepengetahuan dirinya selama ini. Dalam benak pun bertanya-tanya. Apa benar ini rumah mas Amri? Kenapa dia tidak membicarakannya kepadaku? Rumah ini sangat besar dan mewah di bandingkan rumah papa. Banyak para maid di setiap sudut rumah. Halam rumah begitu luas dan tembok besar menjulang tinggi. Aku tak menyangka, mas Amri akan berjuang dan sukses seperti ini.
"Selyn, temani mas kedepan."
Setelah selesai sarapan, Amri berpamitan kepada kedua orang tuanya dan sudah siap mau berangkat. Mobil sudah di siapkan. Seorang supir membukakan pintu dan berdiri dekat mobil. Selyn terlonjak dan refleks bangun dari tempat duduknya. Dia telah sadar dari lamunannya saat Amri menajaknya kedepan untuk menemaninya sampai di teras rumah.
__ADS_1
Tidak ketinggalan Ezel juga sudah siap dan berdiri di dekat mobil. Dia mengembangkan senyum dan mengucapkan selamat pagi pada Amri dan Selyn. Mereka membalas sapaan Ezel.
"Maaf mas."
"Kenapa?"
"Hari ini juga saya ingin mengunjungi panti."
"Jaga dirimu baik-baik, jangan lupa minta di antar supir."
"Eh iya. Terimakasih mas."
"Ingat jangan lupa obatnya di minum. Jaga kesehatan dan jangan banyak melakukan aktifitas di luar. Aku tidak mau kamu kecapean lalu jatuh sakit." Pesan Amri.
"Ba,baik mas." Selyn tergagap dan menundukan kepala.
Amri mengecup kening Selyn saat mau melangkah menuju mobil. Dia masuk kedalam mobil. Supir pun sudah beranjak masuk mengikutinya. Ezel juga akan masuk, namun Selyn memanggilnya.
"Permisi, Zel. Apa saya bisa meminta no. telepon anda? Dia terlihat berfikir.
"Bolehkah saya mengirimkan pesan untuk menanyakan jam berapa suami saya akan kembali ke rumah. Agar saya tidak melakukan kesalahan."
Ezel mengambil dompet di dalam saku celana dan membuka dompet. Lalu menyerahkan satu lembar kartu nama.
"Kakak ipar bisa menghubungi saya di nomor ini."
"Ah, iya. Terimakasih." Selyn memgambil kartu nama dari tangan Ezel.
"Jangan pernah sungkan kepada saya kakak ipar, saya hanya seorang pemuda yang beruntung sudah dianggap adik oleh tuan rumah ini." Jawabnya. Dia menunduk sopan kepada Selyn sebelum masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Amri sempat menoleh tadi, saat melihat istrinya tengah berbicara dengan Ezel. Tapi apa yang di bicarakan ia tidak mendengar.
Mobil melaju dengan pelan Selyn masih mematung diam di teras rumah. Ia melambaikan tanggan saat melihat Amri tersenyum memandangnya. Setelah mobil keluar dari gerbang Selyn bergegas masuk.