
Di saat mereka sudah memasuki kamar dan merebahkan tubuhnya, tiba-tiba Selyn mendekat dan mengecup pipi Amri.
Saat Selyn tidak menjauhkan wajahnya dari Amri, pria itu merasa heran.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin menciumku lagi?"
Tanpa diduga Selyn yang malu-malu memberikan ciuman untuk Amri. Pria itu sedikit terkejut.
"Ada apa ini?" tanya Amri yang bingung melihat tingkah istrinya yang sangat berbeda saat ini.
"Aku tidak takut." ucap Selyn lirih.
"Apa?" Amri tidak mendengar ucapan Selyn seperti bisikan.
Suara Selyn yang sangat kecil saat mengucapkannya membuat Amri bertanya kembali.
"Apa? Coba ulangi lagi?"
"Aku tidak takut." ucapnya menunduk.
"Takut apa?" Amri semakin bingung.
"Aku...... " pipi Selyn memerah malu. "Aku akan melakukan kewajiban sebagai istri."
Amri terkejut, kemudian menyeringai. "Kamu mau?"
Selyn hanya mengangguk malu sebagai jawabannya.
Amri kembali meyakinkan. "Kamu serius?" dia masih tidak percaya dengan perubahan yang di tunjukan Selyn malam ini. Pasalnya Selyn selalu cangguh jika di dekatnya, Amri memahi itu.
"Ya. Aku mau." jawabnya mantap.
"Aaakkkkhhhh..... " Selyn menjerit saat Amri tiba-tiba menindih tubuhnya dengan satu tangan yang membuka kancing bajunya.
"Dengar Selyn, kamu yang menginginkannya. Dan aku bersumpah tidak akan melepaskan mu apapun yang terjadi." ucap Amri mantap.
Selyn mengangguk malu-malu, dia membalas ciuman Amri.
🌷🌷🌷🌷
Rasa lapar membangunkan tubuh wanita yang sedang tertidur di atas dada suaminya. Perlahan bulu lentik itu bergerak. Selyn menatap jam dinding tanpa menggerakan tubuhnya. Ini masih pukul 2 dini hari. Berarti Selyn hanya tidur satu jam.
Dia ada dalam pelukan Amri, tertidur dengan dada telanjang suaminya yang menjadi bantal.
Rasanya tubuh Selyn remuk tidak berbentuk, untuk bergerak saja sangat sakit. Selyn mendesah saat rasa sakit dia rasakan. Bagaiman tidak, Amri melakukannya dari pukul 8 malam dan berakhir pada pukul 1 dini hari.
Merasakan gerakan kecil dalam pelukannya, Amri terbangun. " Ada apa?" tanya Amri dengan suara khas bangun tidurnya.
__ADS_1
Selyn menahan selimut, dia merasa malu. Apa lagi mendengar suara serak dan berat Amri, membuat pipinya memanas.
"Selyn, ada apa?" Amri mengulangi pertanyaan.
"Aku lapar," ucap Selyn dengan suara pelan. Dia tidak bergerak karena Amri memeluk punggungnya.
"Kamu lapar?" tanya Amri dengan suara lembut.
Selyn menganggukan kepala, dia mengadah menatap Amri yang sedang menatap langit-langit.
"Apa kamu ingin makan sesuatau?" tanya Amri menatap wajah istrinya.
"Makan apa saja." jawab Selyn yang masih di bawah selimut.
"Makan aku." tanya Amri meledek.
Selyn menunduk kembali, dia sungguh malu. Membuat Amri terkekeh gemas dan bertanya.
"Kenapa kamu menunduk? Apa kamu masih malu? Kamu sudah melihat banyak bagian tubuh ku."
"Aku lapar, Mas." jawabnya.
"Baiklah, akan aku buatkan makanan."
Amri melepaskan pelukan tangannya dan menyibakan selimut.
"Aaaaaaakkkhhh.... " Selyn menjerit merasakan sakit saat Amri bergerak.
"Sedikit." ucap Selyn yang masih menahan nyeri ditengah pahanya.
"Tunggu disini, akan aku buatkan makanan di lantai bawah." Amri merasa iba melihat istrinya menahan sakit dan tidak tega menyuruhnya untuk ikut ke bawah.
"Aku ingin membersihkan diri, Mas." Selyn merasa risih.
"Nanti saja." ucap Amri.
"Aku merasa tidak nyaman." Selyn menjawab dengan malu-malu dengan mata yang menatap pahanya.
Amri melihat ke arah tatapan Selyn, bercak darah ada di paha istrinya. Padahal ini sudah yang kedua kalinya, Amri merasa heran sendiri.
"Aku ingin mandi."
"Jangan mandi, aku akan membersihkanmu." Ucap Amri menatap istrinya dengan tatapan lembut.
"Apa?" Selyn merasa malu jika hal itu sampai terjadi.
"Aaakkkhh." Selyn mengeluh dan melingkarkan tangannya di leher suaminya saat Amri menggendong tubuhnya menuju kamar mandi dan mendudukan di atas kloset.
__ADS_1
"Mandi pada jam seperti ini tidak sehat, aku akan membersihkanmu dengan waslap." Ucap Amri membuat Selyn menunduk malu seperti biasanya.
Saat Amri hendak membuka pahanya untuk di bersihkan bagian itu, tangannya di cegah oleh Selyn.
"Ada apa?" tanya Amri mentapnya.
"Aku malu?" memerah wajah Selyn.
"Kamu malu? Aku bahkan sudah melihat seluruh tubuhmu. Lagi pula aku ini suamimu.
Selyn diam membiarkan Amri membersihkannya. Dan dia sangat ingat, meski Amri melakukannya berjam-jam, tapi Amri melakukannya penuh dengan kelembutan. Bahkan Selyn malu sendiri, ketika mengingat bagaimana Amri mencium keningnya berulang kali ketika Amri menumpahkan benih didalam rahimnya.
"Ranjang di sana kotor, kita akan tidur di kamar utama." ucap Amri setelah selesai mengelap paha mulus Selyn.
Selyn hanya menganggukan kepala, dia membiarkan Amri menutupinya dengan handuk dan membawanya keluar kamar mandi. Amri juga memakaikan baju pada Selyn penuh dengan kelembutan.
"Terima kasih," ucap Selyn saat baju tidur melekat pada tubunya.
Amri tersenyum dan mengecup pucuk rambut Selyn dengan lembut. Lalu Amri mengenangkan kaos berwana puti dan siap menggedong Selyn menuju dapur dilantai satu.
"Aku bisa jalan sendiri." ucap Selyn menatap Amri yang hendak menggendongnya.
"Berdiri pun kamu kesulitan. Ayo aku gendong." jawab Amri menggerakan tangan.
"Tidak perlu."
Amri tidak menghiraukan ucapan Selyn. Dia menggendong Selyn tanpa izin. Amri merasakan Selyn bersandar didadanya, dia suka Selyn yang seperti ini. Tidak merasa cangguh dan malu, penurut itu yang Amri suka.
"Ingin menunggu di kamar atau di ruang televisi." tanya Amri setalah sampai di lantai bawah.
"Disini saja," tunjuk Selyn pada sofa dekat dapur.
Amri mendudukan Selyn dengan pelan dan hendak melangkah, namun terhenti ketika Selyn bersuara.
"Aku akan membatu Mas memasak." ucapnya pelan.
Amri membalikan badan dan berkata. "Diam di tempat, kamu harus banyak istirahat dan mengembalikan energi untuk melanjutkan aktivitas kita." ucapnya menatap Selyn.
Saat itu juga, pipi Selyn kembali bersemu merah seperti tomat.
Ini bukan pertama kalinya Amri memasak, tapi ini pertama kalinya Amri memasak untuk seorang wanita. Sambil memasak Amri menatap Selyn yang duduk sambil menonton televisi yang menempel pada dinding tembok dekat dapur. Amri memotong wortel, kentang dan jagung. Tidak lupa telur dan daun bawang sebagai penyedap rasa. Bumbu telah disiapkan lalu di tumis. Bau khas bawang putih yang wangi menggugah selera makan Selyn. Perut semakin keroncongan dan demo meminta untuk segera di isi. Amri memasukan semua sayuran, tidak lupa telur yang sudah di aduk dengan kuah yang telah mendidih. Sup jangung telah di hidangkan dimeja makan setelah perang dapur selama 15 menit telah di lewati oleh Amri. Dia melangkah dan menggedong Selyn menuju meja makan.
Amri menyuguhkan satu mangkok penuh sup jagung yang dibuat spesial untuk Selyn.
"Makan ini." Ucap Amri memberikan satu mangkok sup di hadapan Selyn.
"Mas bisa masak?" tanya Selyn menatap heran.
__ADS_1
Amri menyilangkan tangan didada dan tersenyum menatap Selyn." Kamu pikir aku hanya bermodal tampan, aku juga seorang pria berkualitas."
Selyn yang mendengar ucapan Amri tersipu malu dan berkata. "Terima kasih." ucapnya.