Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Sore


__ADS_3

Setelah membersihkan diri dan mengganti pakain, Selyn duduk menyisir rambutnya. Dia merapikan rambut cukup lama karena rambut panjangnya. Biasanya dia mengikat rambut dengan asal tapi tidak di rumah ini. Kali ini dia hanya mengikat rambut menjadi satu di tengah dengan ikat pita. Dia sudah memakai pakaian yang di sediakan di lemari bajunya. Pakaian bermerk jika di belikan ke pasar bisa untuk membeli kira-kira 15 stel baju yang biasa ia beli.


Selyn menuruni anak tangga dan menuju dapur, ia tidak melihat adanya aktivitas disitu. Dapur terlihat sepi, ia mengambil sayuran untuk di masak makan malam. Baru saja Selyn memotong sayuran untuk bahan masakannya, kepala maid keluar dari ruangan belakang dan menghentikan aktivitasnya.


"Nona, tuan sudah kembali." ucap seseorang yang tiba-tiba berdiri disampingnya. Selyn terlonjak kaget saat menengok kesamping menatap orang yang telah berdiri mematung, menghentikan aktivitasnya.


"Astagfirullah. Bu Siti mengagetkan ku saja." Ucap Selyn memegang dadanya yang berdetak kencang karena kaget.


"Maaf ya Non, tapi tuan sudah ada di depan." Bu Siti menunduk meminta maaf.


"Ia Bu. Terimakasih sudah memberi tahu saya."


Ya allah kenapa Ezel tidak memberi tahu ku jika mas Amri akan segera pulang. Beri kabar lewat telepon rumahkan bisa, kalo tidak punya no. hp ku. Bagaimana kalo tadi aku masih berada di luar rumah. Benar-benar keterlaluan kamu Zel.


Selyn segera mencuci tangan dan bergegas meninggalkan dapur. Kepala maid mengikuti langkah kaki Selyn dibelakangnya. Selyn menyambut kedatangan suaminya di ruang utama. Karena Amri sudah turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah.


Selyn mengembangkan senyuman. "Sore Mas." Sambutnya dan menyalimi suaminya. Amri menatap istrinya dan mengecup keningnya sekilas. Dia melangkah dengan kaki jenjangnya dengan cepat di ikuti oleh Ezel di belakangnya. Selyn menghela nafas dengan panjang. Lalu mengikuti langkah dengan setengah berlari. "Kenapa mereka berjalan cepat sekali." gerutunya dalam hati.


Setelah sampai kamar Amri duduk di sofa, dia menyenderkan kepala dan memejamkan mata.


Sepertinya mas Amri sangat lelah.


Selyn hanya diam dan berdiri menatap suaminya tidak berani melangkah dan duduk didekatnya.


"Kenapa berdiri disitu?" Amri membuka mata dan menatapnya.


"Eh, iya Mas, maaf." Selyn menunduk malu.


"Duduk! Amri menepuk sofa kosong di sebelanya.


Selyn menuruti ucapan apa yang di suruh suaminya. Dia duduk bersanding dengan suaminya.


"Apa yang kau lakukan hari ini?" Amri mengelus rambut Selyn yang panjang.

__ADS_1


Kenapa mas Amri bertanya, bukanya dia sudah tau kalo aku pergi ke panti.


"Jangan membuatku mengulangi kata-kataku." Ucapnya dengan tegas.


"Iya mas, maaf. Saya hanya pergi ke panti asuhan."


"Benarkah?" Amri menatap Selyn dengan sorotan mata tajam, seperti mengisyaratkan kau berani berbohong pada suamimu.


Apa mas Amri tau jika aku bertemu dengan Zanira atau tante. Apa dia mengawasiku.


"Saya hanya bertemu sepupuku saja di panti, itu pun tidak disengaja. Kami hanya pergi sarapan dan hanya berbincang-bincang sebentar. Setelah itu saya kembali ke panti.


"Apa aku bertanya kamu pergi dengan siapa?"


Selyn menggigit bibirnya dia menjadi salah tingkah dan diam.


Apa yang ku katakan salah, bukanya tadi mas Amri yang bertanya. Kenapa sekarang malah balik tanya. Aku kan hanya menjawab pertanyaanya.


"Iya Mas." setelah menjawab Selyn langsung berdiri dan melangkah masuk ke dalam kemar mandi. Dia mengisi air di bak mandi dengan penuh.


Lagi-lagi Selyn terperanjak kaget saat Amri sudah berdiri di belakangnya.


Ya allah ini masih sore, kenapa aku harus melihat hal yang membuat ku panas dingin.


Selyn menundukkan kepala agar tidak melihat tubuh suaminya yang tanpa sehelai benang pun tengah berjalan melewatinya menuju bak mandi. Selyn masih berdiri mematung ketika Amri sudah masuk kedalam bak mandi.


"Selyn? Tolong bilang kepada maid, aku ingin makan semangkok soto untuk makan malam." ucap Amri dengan lembut.


"Iya mas." setelah menjawab, dia melangkah keluar dan menutup pintu. Selyn langsung bernapas lega.


Ya allah, aku benar-benar merasa cangguh. Bagai mana bisa mas Amri dengan santainya berjalan dihadapanku tanpa sehelai benang pun. Ya, ya aku memang istrinya, tapi malu sedikit kenapa. Eh tadi mas Amri menyuruhku untuk menyampaikan kepada maid, kalo dia ingin makan semangkok soto. Kenapa terdengarnya makan malam. Padahal sekarang masih sore. Apa dia meminta soto buatan sendiri?


Selyn menyampaikan pesan suaminya kepada kepala maid, dia terlihat tegang. Kepala maid langsung memanggil semuai maid yang ada di dalam rumah tersebut dan memerintahkan berkumpul seperti biasa. Dan kesibukan luar biasa terjadi didapur itu.

__ADS_1


"Jadi benar apa dugaan ku. Membut soto sendiri, sungguh merepotkan. Kenapa tidak membeli saja kan lebih simpel." gerutu Selyn.


Saat Selyn hendak menapaki tangga, dia melihat Ezel keluar dari sebuah ruangan.


Pas sekali dia keluar, aku ingin protes padanya.


"Permisi Ezel, bisa kita bicara." sapa Selyn saat mendekatinya.


"Iya kakak ipar." Ezel menundukan kepala sopan, dia mempersilahkan Selyn untuk bicara.


"Ezel apa Anda tahu maksud saya yang mengatakan untuk memberi tahu saya kapan informasi mas Amri akan pulang.


"Ia, bukankah kepala maid sudah memberi tahu kakak ipar informasi tadi."


"Maksud saya bukan begitu!" protesnya.


"Lalu yang di maksud kakak ipar bagaimana?" tanya Ezel menatap wanita di hadapanya.


"Beri tahu saya kalau mas Amri akan kembali dua atau satu jam sebelumnya, minimal setengah jam sebelumnya. Bagaiman kalau tadi saya belum pulang dan masih ada di panti asuhan." Selyn berbicara dengan amarah, menunjukan bahwa ia sangat kesal.


"Kenapa saya harus melakukan itu. Kakak ipar kan bisa mengirim pesan sendiri kepada Tuan."


Selyn gelagapan mendengar jawaban Ezel, dia segera berkilah dengan menjawab.


"Karena saya tahu Anda selalu berdiri di samping mas Amri kemana pun dia melangkah. Bukankah begitu."


Selyn melihat bibir laki-laki di hadapannya menyeringai mendengar jawabanya.


"Baik, lain kali saya akan mengirimkan pesan kepada Anda satu jam sebelum kepulangan Tuan. Sekarang saya permisi." ucanya menunduk sopan dan melangkah pergi.


Selyn menatap punggu laki-laki yang telah pergi menjauh. Dan dia segera melangkah menapaki anak tangga menuju latai dua di kamarnya. Setelah sampai di depan pintu kamar Selyn ragu untuk masuk, dia memilih diam sebentar dan membuka pintu dengan pelan. Dia takut jika Amri sudah selesai mandi dan belum memakai baju. Pasti yang dia rasakan gugup saat melihat tubuh polos suaminya. Selyn mengendap masuk kedalam kamar dan duduk menunggu Amri yang masih berada di dalam kamar mandi. Dia menghela nafas panjang dan meluruskan kaki saat membaringkan badan disofa dengan bantal empuk sebagai alas kepalanya.


Pintu kamar mandi terbuka, Selyn menatapnya dengan rasa was-was. Saat melihat Amri keluar dengan baju yang sudah lengkap dia menghela nafas dengan lega.

__ADS_1


__ADS_2