Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Berbagi itu indah


__ADS_3

Baru saja Amri berdiri dan hendak mengucapkan salam, ia mendapat tawaran dan teguran oleh tuan rumah. Lalu Amri pun menjawab dengan nada pelan agar tidak menyinggung perasaan beliau.


"Maaf Bu, dengan rendah hati sebenarnya saya ingin sekali sejenak singgah dirumah Ibu. Tapi mohon maaf, saya harus segera pergi."


"Baiklah nak, aku tidak bisa memaksa. Jika berkenan laik waktu mampirlah nak, digubuk kecil ini." Jawabnya


"Iya Bu, terima kasih banyak. Saya pamit dulu Bu, permisi."


Ucap Amri lalu melangkah menuju keluar pintu dan memberi salam.


"Assalamualaikum, mari Bu?!" Lanjutnya.


Dian yang memeperhatikan Amri sedari tadi pun merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, getaran yang begitu dahsyat saat menatap wajah tampan Amri. Membuat dirinya semakin salah tingkah sendiri dan menunduk tanpa mengeluarkan suara.


Apakah Dian jatuh cinta?


"Walaikumsalam wr. wb, hati-hati nak di jalan," jawab Ibu Dian lalu melambaikan tangan saat melihat Amri hendak masuk kedalam mobil. Dan Amri membalas lambain tangan itu, lalu segera masuk kedalam dan melajukan mobilnya menuju penginapan.


Tak butuh waktu lama, sekitar 10 menit dari rumah Dian. Ia tiba di penginapan, lalu memakirkan mobil di garasi penginapan tersebut.


Begitu keluar dari mobil Amri merasa sedikit janggal dalam hatinya. Tak biasanya penginapan itu terlihat galap dan sepi, akhirnya Amri pun melangkah dan mengetuk pintu penginapan tersebut.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum..... "


Tak ada jawaban dari dalam penginapan itu, lalu Amri pergi meninggalkan mobil yang terparkir cantik di garasi penginapan itu yang tampak sunyi. Kemudian ia melangkah menuju jalan, yang terdapat banyak orang sedang berada di pos ronda. Amri pun bertanya kepada meraka tentang keberadaan pemuda yang menempati penginapan tersebut.


"Maaf Bapak-bapak, sebelumnya saya mau tanya. Apakah di antara Bapak-bapak ada yang tau, dimana pemuda yang menempati penginapan itu?"


Tanya Amri sambil menunjukan ibu jarinya mengarah ke penginapannya.


"Pemuda itu di penjara seumur hidup kerena memiliki tanggungan hutang yang belum di lunasinya," jawab salah seorang yang tengah duduk di pos ronda itu.


"Katakan pada ku, berapa jumlah hutangnya?"

__ADS_1


Tanya Amri kemudian


"Kurang lebih tiga puluh delapan juta," Jawab orang yang sama.


"Terima kasih Pak atas infonya, saya permisi."


Setelah berpamitan, Amri kembali ke penginapan lalu duduk di teras yang terdapat satu meja berserta dua kursi yang berhadapan. Amri mengurut kening yang terasa sedikit pusing mengunakan tangan sebelah kanan dan menghela nafas beratnya.


Kemudian Amri terus menyelidikinya hingga larut malam. Dirinya baru tau, siapa pemilik hutangnya itu. Maka ia pun memanggilnya pada malam itu juga, lalu memberinya uang senilai tiga puluh delapan juta untuk melunasi hutang pemuda itu kepada orang tersebut.


Namun Amri meminta kepada pemilik hutang tersebut, untuk tidak memberitahukannya kepada seorang pun. Bahwa ia telah melunasi hutang, selama dirinya masih hidup. Lalu Amri pun berpesan kepada pemilik hutang tersebut.


"Aku mohon padamu jika sudah masuk waktu pagi, keluarkanlah pemuda itu dari tahanan."


Pemilik hutang tersebut pun mengangguk setuju, karena hutangnya telah lunas dan segera pergi meninggalkan Amri yang masih duduk di kursi itu sendirian.


Waktu menunjukan pukul 5 pagi. Amri segera pergi tanpa istirahat maupun bertemu dengan pemuda itu. Dengan mata mengantuk, Amri mencoba mengemudi mobilnya dengan pelan. Sejenak ia berhenti di masjid dekat dengan jalan tersebut. Ia menunaikan sholat subuh terlebih dulu, lalu ia melanjutkan untuk istirahat sejenak, agar menghilangkan rasa kantuknya.


Setelah menempuh jarak kurang lebih 4 jam dari penginapan. Kini Amri telah sampai di rumahnya, tepat pukul 12 siang dan ia segera masuk rumah setelah memarkirkan mobilnya. Lalu melangkah menuju kamar dan segera mandi, setelah selasai ia melanjutkan untuk sholat zduhur. Karena suara azan sudah berkumandang sejak dirinya sampai di depan rumah tadi.


Pemilik hutang tersebut menepati janjinya dan pemuda itu pun di bebaskan dari tahanan.


Setelah di keluarkan dari tahanan, pemuda itu pun pulang ke penginapan tersebut dan oranga-orang yang bertemu dengan Amri pun berkata kepada pemuda itu.


"Ketahuilah bahwa kemarin Tuan Amri disini dan menanyakan kabarmu, tetapi sekarang beliau sudah pergi."


Tanpa mengucap kata, pemuda itu pun pergi ketempan Amri tinggal, hingga ia pun berhasil menyusul setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam menggunakan bus umum.


Sampainya di rumah Amri, pemuda itu pun mengetuk pintu dan mengucap salam.


Tok.... tok... tok....


"Assalamualaikum.... "


"Walaikumsalam wr. wb."

__ADS_1


Terdenga suara dari dalam rumah dan membuka pintu.


Melihat kedatangan pemuda itu, Amri tersenyum dan bertanya, "Wahai pemuda dari mana saja kamu? Aku tidak melihatmu di penginapan."


"Betul Tuan, aku di tahan lantaran hutangku." jawabnya


"Lalu bagai mana ceritanya kamu bisa bebas dari tahanan itu?"


Tanya Amri seraya memperlisahkan pemuda itu untuk duduk di teras rumah.


" Ada seorang lelaki yang datang melunasi hutang ku. Namun sampai sekarang, aku tidak tau siapa dia," jawab pemuda itu.


"Lalu....?" tanya Amri kemudian


"Beliau hanya berkata, " Wahai pemuda, pujilah Allah yang telah memberikan taufiq kepadamu. Sehingga hutang mu terlunasi."


Itulah pesan yang di sampaikan beliau melalui pemilik hutangku.


Mendengar jawaban dari pemuda itu Amri hanya tersenyum dan mengajaknya untuk masuk kedalam rumah.


"Mari masuk, Ibu ku sudah memasak untuk makan siang. Pasti kamu belum makan bukan?"


"Tidak usah tuan, saya sudah senang melihat anda dalam ke adaan biak-baik saja. Kata orang-orang kemarin anda mencari saya, jadi begitu keluar dari tahanan saya langsung menyusul anda," Jawab pemuda itu.


"Jangan sungkan, angap saja seperti rumah sendiri. Ayo masuk, kita makan bersama."


Lanjut Amri seraya mengajaknya masuk ke dalam rumah dan menuju ruang makan bersama pemuda itu.


Pemuda itu berjalan dengan menundukan kepala karena malu. Ini pertama kalinya ia menginjakan kaki di rumah Amri. Dan tak di sangka, yang ia tau jika Amri hanyalah seorang pemuda biasa dan sederhana. Ternyata memiliki rumah yang begitu besar dan megah, namun tak mengubah cara pandang hidup Amri kepada siapa pun. Ia sangat senang dan bersyukur, ternyata di dunia ini masih ada orang seperti Amri. Yang kaya tapi tidak sombong, melainkan baik hati dan mau mengajarkan ilmu untuk dirinya.


Ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu setia dan mengabdikan dirinya untuk Amri maupun keluarganya.


Di ruang makan sudah ada dua orang tua Amri yang sudah duduk menunggunya. Lalu Amri memperkenalkan pemuda itu, kepada kedua orang tuanya dan mengajaknya duduk di meja makan.


Mohon Maaf jika banyak tulisan maupun kata yang salah disini 🙏

__ADS_1


__ADS_2