
Mica yang tengah duduk tenang di kursi kebesarannya menghela nafas panjang. Ia melihat jelas kegusaran nampak di wajah Amri, yang tengah duduk sambil menghentak-hentakan kakinya dan menggerakan jari-jari tangannya di atas paha.
Amri yang masih duduk dengan gelisah pun bertanya. "Jadi,... bagai mana kedaan istri ku, Mic?"
"Apa selama ini, istri anda sering mengalami hal seperti ini?" Tatapan mata Mica menyipit dipenuhi tanda tanya kepada Amri.
Lalu Amri menjawab. "Saya tidak tau, Mic. Karena selama Istri ku melanjutkan kuliah nya di LN. Ia tidak pernah mengeluh atau membahas masalah kesehatannya. Yang saya tau istri saya baik-baik saja dan tidak ada keluhan penyakit apa pun selama ini. Tapi saya sempat dengar dari Ezel, bahwa belakangan ini istri saya sering mengalami pusing, mual, muntah dan nafsu makan berkurang."
"Memang istri anda tidak menunjukan adanya tanda-tanda bahwa ia sedang sakit. Mungkin fikir istri anda maupun keluarga hanya masuk angin atau kecapean saja. Tapi karena.......," belum selesai Mica berbicara Amri sudah memotong omongan yang di ucapkan Mica.
"Karena apa Mic, jawab! Tolong bicaralah. Apa fakta yang kamu ketahui. Aku tidak mau ada salah paham di antara kami. Ini menyangkut masa depan kami. Jadi tolong bicaralah, Mic." Terdengan suara Amri yang begitu putus asa, membuat Mica tak tega untuk mengatakannya. Namun inilah yang harus Amri ketahui.
"Jadi, apa anda siap mendengarkan penjelasan dari saya." Tanya Mica menghela nafas beratnya dan memikir cara, bagai mana untuk menyanpaikan hasil medis agar tidak melukai perasaan Amri.
"Insaya allah saya siap!" Dengan sekali tarikan nafas Amri meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa ia siap menanggung apa pun yang tengah terjadi dengan sang istri.
"Sebelumnya mohon maaf, ini hanya perkiraan medis. Selebihnya kuasa-Nya. Dan tolong dengar kan baik-baik perkataan saya." Ucap Mica.
"Iya insya allah saya siap!" Jawab Amri dengan tegas.
"Jadi istri anda mengalami hal sejenis mual, muntah, pusing dan kurang nafsu makan, apa lagi terlihat pucat. Kemungkinan besar istri anda mengalami gejala gagal ginjal kronis," Mica menjeda perkataannya dan mengamati raut wajah Amri yang napak terkejut dan tegang saat mendengar ucapannya. Lalu melanjutkan kembali ucapanya dengan satu kali tarikan nafas.
__ADS_1
"Mungkin istri anda kecapai dari sejak pagi, sehingga mengalami penurunan pada fungsi ginjalnya secara perlahan dan mengakibatkan beliau pingsan. Pada tahap awal biasanya gejala belum dapat terasa dengan jelas, karena penurunan fungsi ginjal masih dapat di toleransi oleh tubuh. Tapi anda perlu tau, gejala lebih parah mulai terasa jelas saat penurunan fungsi ginjal sudah memasuki tahap lanjut. Seperti istri anda sekarang."
Amri sangat syok mendengar fakta bahwa istrinya mengalami gejala gagal ginjal dan apa yang harus di lakukan.
"Lalu saya harus bagai mana, Mic?" Tanya Amri dengan bibir bergetar."
"Anda tenang saja, kami akan usahakan semampu kami untuk mengobatinya. Karena secara medis, diagnosa ditetapkan setelah mengetahui gejala, riwayat penyakit pasien dan keluarga. Serta melakukan pemeriksaan fisik, untuk memastikan kondisi ginjal pasien, saya perlu melakukan beberapa tes untuk menilai fungsi ginjal dan mendeteksi kerusakan ginjal. Tes tersebut meliputi; tes urin, tes darah, pemindaian(USG, MRI dan CT scan)."
"Jika itu yang terbaik tolong lakukan, Mic. Tapi tolong jangan kasih tau istri saya tentang hal ini." Dengan sendu Amri memohon agar Mica merahasiakannya.
"Loh.... kenapa? Istri anda harus tau tentang keadaan tubuhnya." Jawab Mica dengan bingung.
"Tolong jangan, saya takut nanti Selyn akan merasa tidak berguna sebagai istri. Aku tau bagaimana perasaannya, apa lagi setela mengetahui jika ia memiliki keadaan tubuh yang tidak normal pasti Selyn akan terpuruk dan semakin membuat kondisinya lemah dan menurun." Amri mencoba meminta pengertian dari Mica, agar mau membantu merahasiakannya.
Akhirnya Mica menyetujui permitaan Amri dengan syarat. Jika sang istri mengalami hal tersebut lagi. Amri harus siap mencari pendonor ginjal untuk istrinya, agar bisa menjalani operasi dan normal kembali walau tidak 100 persen. Amri menyetujui perjanjian itu. Dan siap mencari siapa saja orang yang mau mendonorkan ginjalnya kepada sang istri.
"Baiklah, saya janji akan merahasiakan dengan syarat. Anda segera mencari pendonor, saat ginjal istri anda sudah tidak berfungsi lagi. Karena ini demi kebaikan istri anda dan tidak mungkin suatau saat jika istri anda tidak mengetahui perihal ini, apa lagi saat menjalani operasi." Tukas Mica memberi tahu.
"Terima kasih banyak, Mic atas kerja samanya." Amri mengangguk paham dan tersenyum getir.
Amri harus tegar, menerima dan merasakan pahitnya dalam rumah tangga yang baru saja di jalaninya. Belum juga genap sehari, bisa di katakan baru hitungan jam tapi dirinya sudah di uji dengan datangnya cobaan yang datang menimpa sang istri.
__ADS_1
"Tapi anda harus menjaga pola hidup istri anda. Dan usahakan istri anda tidak boleh terlalu capek." Mica memberikan saran serta memberikan nasehat.
"Pola hidup yang bagai mana, Mic maksudnya?" Tanya Amri yang tidak paham dengan arah pembicaraan Mica, karena ia masih memikirkan cara. Bagaimana merahasiakan perihal ini dari sang istri, agar tidak mengetahui dirinya yang sedang sakit. Dan Amri akan membicarakan dengan ayah, ibu maupun orang tua istrinya. Tapi dengan syarat mereka harus merahasiakan perihal ini dari Selyn.
"Jadi maksud saya, istri anda harus merubah pola hidup. Seperti menjaga pola makan, serta membatasi asupan protein dan kalium dari makanan untuk meringankan kerja ginjal. Makanan dengan kadar kalium tinggi, di antaranya adalah seperti buah pisang, jeruk dan sayuran seperti kentang, bayam dan tomat."
"Lalu..... ," tanya Amri memotong pembicaraan Mica yang belum tuntas. Mica hanya menghela nafas dan melanjutkan perkataannya.
"Sedangkan makanan dengan kadar kalium rendah, antara lain adalah apel, anggur, stoberi, kol, wortel dan buncis. Dan usahakan agar istri anda olah raga, minimal tiga kali dalam seminggu secara rutin. Dalam satu jam kurang lebihya per olahgar." Tegas Mica.
"Baiklah saya mengerti dan terima kasih atas sarannya." Amri menganggukan kepala tanda ia sudah paham dan segera pamit.
" Baiklah Mic, saya permisi dulu untuk menemui istri ku."
"Oh ya silahkan, silahkan. Tolong sampaikan salam ku pada istri anda jika sudah siuman nanti." Jawab dokter Mica dengan tersenyum.
"Iya nanti saya sampaikan, Mic. Sekali lagi terimakasih." Ucap Amri seraya bangun dari tempat duduk dan melangkah keluar ruangan lalu membuka pintu dan mengucap salam.
"Assalamualaikum...... ?" Salam Amri dan berlalu pergi.
"Walaikumusalam wr. wr, " Jawab dokter Mica.
__ADS_1
Amri melangkah dengan sedikit lari kecil menuju ruangan yang ditempati sang istri, karena sudah di pindahkan dari ruangan UGD setelah pemeriksaan berjalan lancar.