
Di meja makan terdapat empat kursi yang sudah di isi dengan Ibu dan Ayah dari Amri. Tersisa dua kursi yaitu, di sebelah kanan Ririn dan sebelah kiri Amar orang tua Amri. Ririn Ibu dari Amri mempersilahkan pemuda itu untuk duduk di sebelah suaminya dan Amri duduk di sebelah dirinya.
"Mari nak, silahkan duduk. Tak usah sungkan dengan kami, anggap saja rumah sendiri?!"
"Iya nyonya terima kasih," jawabnya pemuda itu malu-malu.
"Ojo nyonya toh.... celuk wae Ibu, podo koyo Amri?! " (Jangan nyonya ya... panggil saja Ibu sama seperti Amri)
"Iya Bu, terima kasih."
"Siapa nama mu? sepertinya kamu tidak beda jauh usianya dengan Amri anak kami."
Tanya Amar sambil tersenyum.
"Nama saya Alfarezel dan usia saya baru 20 th, tuan." jawabnya sambil menundukan kepala
"Tak perlu panggil tuan, anggap saja kami orang tua mu, nak."
"Baiklah, apa saya boleh panggil anda Bapak?"
Tanya Alfarezel dengan tersenyum.
"Boleh, boleh... silahkan saja, asal kamu senang ," Jawab Amar sambil mengelus kepala Alfarezel dengan sayang.
"Terimakasih banyak pak, panggil saya ezel saja."
"Jadi... Ezel saja nie, ga pemuda lagi seperti orang-orang di desa yang memanggil mu gitu?! Ledek Amri sambil mengambil piring dan sendok yang akan di isi nasi serta lauk pauk."
"Tuan bisa saja," jawab Ezel dengan menunduk malu.
"Udah santai aja lagi, mari makan jangan ngobrol terus kapan makannya. Ya kan Bu, Yah?"
Dengan santai menengok kanan dan kiri meminta persetujuan. Dan Amri sudah siap menyantap makan siangnya.
Ayah dan Ibunya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Amri, yang kadang keluar sifat kekanakanya itu.
"Iya mari makan Zel," kata Ririn seraya mengambil piring dan sendok di sodorkan untuknya.
__ADS_1
Kemudian Ririn mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk suaminya, lalu mengambil untuk dirinya setelah mengambilkan untuk suaminya.
Keheningan begitu terasa setelah Doa makan di pimpin oleh Amri, dengan tenang mereka makan sampai selesai.
"Ezel tinggal dimana? apa orang tua masih ada?"
Amar memecahkan keheningan di meja makan usai minun.
"Saya tinggal di penginapan yang Tuan tinggali, Pak. Dan saya hanyalah seorang yatim piatu."
Menjawab pertanyaan dari Amar dengan menundukan kepala, menutupi kesedihan dirinya agar tidak terlihat oleh keluarga Amri.
Amar yang melihat keadaan itu mengerti, jika Ezel masih ada kesedihan yang ia pendam tanpa mau bercerita. Kemudian Amar mulai menceritakan masa lalunya agar membuat Ezel semangat dan tidak putus asa.
"Dulu aku juga tidak seperti ini Zel, aku seperti sekarang ini karena anakku sudah sukses."
Amar mencoba memancing Ezel agar mau mengangkat kepalanya dan mau mendengarkan.
"Benarkah, Bapak tidak bohong? jangan membuat Ezel senang kemudian jatuh kebawah Pak, Sakit."
Jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
Flashback on
Amar.
"Aku dulu hanyalah seorang buruh diperusahaan kayu lapis dengan pendapatan tak seberapa. Setelah keluar dari perusahaan kayu lapis beberapa taun lalu, aku kini bekerja sebagai buru nelayan."
"Meski hidup sangat sederhana, aku sangat perhatian kepada Amri yang saat itu berada di kota. Aku menemukan bakat dan minat dalam bidang Arsitektur sejak Amri masih di bangku SMA kelas 10.
"Aku pun berpikir keras, aku tau putraku bisa saja memiliki kesempatan besar di sekolah, agar mendapatkan beasiswa dan melanjutkan keperguruan tinggi."
"Aku pun memaksakan diri untuk memasukan Amri ke perguruan tinggi di kota, dengan cita-citanya yang ingin menjadi Arsitektur. Tentu tidak dengan biaya sedikit, sebaliknya biaya pendidikan Amri mencapai 30 juta, belum lagi di tambah kebutuhan harian."
"Sementara setelah keluar dari pabrik, aku hanyalah buruh Nelayan yang berpenghasilan tidak menentu. Kondisi ini membuat aku bekerja lebih giat dan harus memangkas biaya hidup sementara agar bisa bertahan hidup demi menjaga mimpi-mimpi putraku."
"Aku dan istriku hanya makan mie instan dan singkong rebus selama tiga tahun ter akhir, demi membayar biaya pendidikan Amri. Karena aku sudah mengundurkan diri dari pabrik, agar mendapatkan pesangon tapi tak seberapa."
__ADS_1
"Sejak Amri masuk SMA, aku dan istriku talah sepakat memlih untuk makan mie dan singkong rebus, tanpa sepengetahuan Amri. Karena jika Amri tau pasti dia akan putus sekolah dan memilih melanjutkan bekerja sebagai barista waktu itu. Aku memilih mie instan dan singkong karena harganya tidak mahal."
"Kadang aku tentu merasa begitu berat dan lelah, tetapi aku tetap terus bertahan demi istri dan putra ku. Aku berharap Amri bisa mewujudkan mimpi-mimpinya itu.
Flashback off
" Kini Alhamdulillah semua telah terwujud atas restu Allah dan kami selalu berdoa kepadanya, agar di beri kesehatan untuk keluaraga kami."
"Jadi selama ini Ibu dan Ayah membohongi aku? tanya Amri dengan muka sedih.
"Maafkan kami, nak. Kami tidak bermaksud membohongi mu, tapi kami lalukan ini semua untuk masa depan mu." jawabnya
Lalu Ririn pun menimpali perkataan suaminya.
"Iya nak, kami lalukan ini demi kamu. Toh selama ini kami sehat dan baik-baik saja. Sudahlah yang penting sekarang kita sudah bersama dan lebih baik. Tapi jangan lupa dengan yang di Atas, kita harus selalu mengucap syukur atas nikmat-Nya."
Kata Ririn sambil mengelus kepala Amri dengan pelan dan sayang.
Diam tidak ada percakapan di antara ke empat orang tersebut di meja makan. Amri yang masih kalut entah apa yang harus diperbuat sekarang setelah mengetahui perjuangan ke dua orang tuanya. Dan Ezel diam seribu bahasa tanpa mengeluarkan satu kata pun. Ia hanya diam dan menunduk dengan air mata yang meluncur di pipi mulusnya. Ia baru tau jika perjuangan orang tuanya lebih berat, dengan meminjam uang rentenir demi menyekolahkan dirinya ke jenjang lebih tinggi. Namun sebelum dirinya masuk ke perguruan tinggi, orang tuanya malah meninggal akibat kecelakaan maut. Saat hendak pergi ke kota untuk menyusul dirinya yang akan mendaftarkan diri di fakultas kedokteran. Uang itu habis untuk membayar rumah sakit dan biaya pemakaman maupun yang lainnya.
"Heem.... "
Amar mencoba memecah keheningan.
"Ayah mau istirahat dulu, Bu." Lanjutnya.
"Iya... Yah, nanti Ibu nyusul setelah merapikan meja," Jawab Ririn seraya berkata.
"Nak, ajak Ezel kekamar untuk istirahat?!"
Dengan pelan Ririn menyentuh punggung anaknya dan menyuruhnya.
"Eh... iya, baiklah bu." Jawab Amri lalu mengajak Ezel untuk masuk ke kamar ruang tamu untuk beristirahat.
"Ayo Zel, aku atar kekamar dan jangan lupa mandi dan sholat dulu. Nanti aku ambilkan baju ganti untuk mu."
"Iya.. tuan, mari."
__ADS_1
Jawab Ezel berdiri dari tempat duduk dan mengikuti langkah kaki Amri menuju kamar tamu.