
Setelah mengantar Ezel ke dalam kamar, Amri pun melangkah keluar kamar ia hendak mengambilkan baju ganti untuk Ezel. Namun ketika melewati kamar orang tua nya, ia mala di panggil Ayah nya untuk masuk ke dalam ruangan yang terdapat di sebelah kamar orang tua nya. Ruangan itu adalah ruang kerja Amri.
"Amri..... "
Suara seorang lelaki yang berada di dalam ruang kerja.
Sontak saja Amri terkagetkan dan menghentikan langkahnya lalu menengok. Ia mendapati Ayah nya sudah berdiri di ambang pintu ruangan kerja.
"Iya... Ayah, ada apa?" tanya Amri.
"Bisa kita bicara sebentar, nak?" lanjutnya.
"Bisa.... tunggu sebentar Yah, aku mau mengambilkan baju ganti untuk Ezel dan segera kembali." jawabnya lalu melangkah ke dalam kamar untuk mengambil dan mengantarkan baju untuk Ezel ganti.
Amar masih diam mematung di ambang pintu menunggu kedatangan putranya. Tak butuh waktu lama Amri pun datang dan mereka akhirnya masuk bersama ke dalam ruang kerja.
Amri pun memulai percakapan dengan Ayah nya dan bertanya.
"Ada hal penting apa sampai Ayah memanggil ku untuk datang kemari."
"Tidak ada apa-apa, hanya saja Ayah merasa iba dengan Ezel. Apa kamu tau sesuatu tentang dirinya, nak?"
Tanya Amar sembari menepuk punggu Amri dengan pelan.
"Iya, Ayah... waktu itu aku bertemu dengannya di kejadian itu." lanjut Amri
"Kejadian bagaimana maksud mu, nak?"
Tanya Amar dengan sedikit menekan nada bicaranya.
__ADS_1
"Jadi begini, Yah ceritanya......
Flashback on
Amri
"Udara begitu hirau taacuh malam itu. Ada dua orang anak yang sedang duduk saling berdekapan di teras samping rumah tingkat yang gelap, tanpa penerangan sedikitpun. Hanya pancaran cahaya lampu jalan milik rumah-rumah di sekitar komplek itu yang menerangi gigil andal badan mereka. Sang adik kira-kira berusia tujuh tahun sementara Ezel berusia tujuh belas tahun. Tubuh Ezel amat kurus dan gigilan tubuhnya lebih andal di bandingkan dengan adiknya yang sedang tertidur di dekapannya."
"Tak ada selimut, tak ada jaket, tak ada makanan. Mereka hanya mengenakan baju pendek dan celana pendek. Sang adik tiba-tiba terbangun dan merintih, sebab perutnya terasa sakit. Sejak kemarin mereka belum makan. Mereka tak punya uang sepeserpun walau hanya untuk membeli sepotong roti."
"*Kak, perutnya sakit... " erang sang adik yang mau tidak mau menciptakan sang Ezel sebagai abang jadi kebingungan. Ia pun sangat lapar dan kedinginan. Tapi, apa yang dapat mereka makan??
"Tidur aja, dik... besok pagi kita niscaya dapat makan." Ezel berkata seperti itu untuk berusaha menghibur adiknya*."
"Sang adik pun tertidur, tapi sebagai abang Ezel dapat mencicipi, jika sang adik sedang terisak di pelukannyan. Ezel tahu, perut adiknya niscaya sangat lapar, sama seperti dirinya. Ia pun tak tahu hingga samapai kapan mereka akan tetap bertahan, jika keaadannya seperti itu terus."
"Sejak ke jadian tiga hari yang lalu waktu itu, orang tua mereka meninggal dunia dan mereka sudah tidak punya daerah tempat tinggal lagi. Mereka tak punya sanak saudara untuk mereka jadikan sabagai sandaran hidup."
"Anak kecil mana dapat bayar uang kontrakan," begitu alasan sang pemilik rumah kontrakan itu.
"Sejak kejadian orang tua mereka meninggal, mereka terus berjalan tanpa tujuan. Baru menjelang malam mereka hingga di teras rumah yang waktu itu menaungi badan ringkih mereka. Waktu itu, Ezel tidak merasa yakin. Jika mereka dapat melewati malam yang begitu hirau taacuh itu."
"Mereka tidak berani meminta tolong penduduk sekitar. Mereka terlalu takut untuk meminta tolong. Karena meraka tau, mereka akan di pandang sebela mata. Di anggap pengemis yang hanya berpura-pura mengemis untuk membiayai orang tua tanah meraka yang pengangguran."
"Di tengah rintikan halus hujan malam yang hirau taacuh itu, dua orang abang adik itu pun tertidur dengan perut yang sangat lapar dan badan yang lemah. Hanya berselimut badan satu sama lain yang saling berpelukan."
"Pagi harinya, di kala sang adik terbangun, ia menemukan Ezel sedang merintih kesakitan sambil memegang perutnya."
"Sang adik yang masih kecil itu pun panik dan pada awalnya ia hanya dapat menangis. Tangisan itulah yang pada resikonya mengundang penduduk sekitar. Semua orang berdatangan untuk melihat perhatian siapa yang menangis sepagi itu."
__ADS_1
"Beberapa orang pribadi menghampiri dua badan kurus itu, kemudian menyidik keadaan mereka. Baju mereka berair kuyup dan dan Ezel amat panas. Beberapa orang lainnya mengambilkan pakain untu mereka, beberapa orang lagi memberikan makanan dan ada seorang Ibu yang dengan baik hati mau mengolesi perut Ezel dengan minyak angin, sebab Ezel mengeluh perutnya amat sakit.
"Sang adik melamun dari tangisan dan di bawa oleh seorang penduduk kerumahnya. Sementara Ezel yang merintih kesakitan, di larikan kerumah sakit untuk di periksa dokter."
"Waktu itu aku tidak sengaja sedang melintas dan di mintai tolong penduduk untuk membawa Ezel kerumah sakit."
"Rupanya, hari itu ialah hari terakhir sang abang beradik itu bertemu. Karena setelahnya, mereka tidak pernah bertemu lagi selamanya. Sang adik meninggal di rumah penduduk, sebab penyakit angin duduknya sudah sangat parah. Akhir ke hujanan semalam di tambah dengan perut yang kosong. Seorang penduduk yang membawa adiknya terlambat menyadari, jika adik Ezel sudah tidak bernafas lagi setelah sampai dirumah mereka."
"Sedangkan Ezel yang di rawat, ia selamat dan akhirnya setelah sembuh aku pun menyuruhnya tinggal di penginapan yang membutuhkan pekerja yang di kerjakan disana."
Flashback off.
"Begitulah akhir dari perjalanan hidup Ezel yang aku tau, Yah?!"
Amri menghela napas panjangnya dengan pelan.
"Sungguh kasian sekali nasib anak itu. Apa kau berniat menguliahkan nya, nak?"
Tanya Amar kepada putranya dengan seulas senyuman
"Aku sudah menyuruhnya, tapi ia menolaknya, Yah. Dia bilang belum siap untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Padahal dia bilang kepadaku waktu itu ingin sekali mengambil jurusan kedokteran."
Jawab Amri dengan pelan dan menundukan kepala
" Ya sudah, nanti Ayah coba ngomong sama Ezel siapa tau mau menurut dengan ku."
Dengan pelan Amar meneput punggung putranya pelan dan menyemangatinya.
"Iya Yah, aku setuju. Semoga saja Ezel mau dan bisa bangkit kembali dari keterpurukan nya. Aku kasian melihatnya, Yah?!"
__ADS_1
Begitu semangat Amri mendapat dukungan dari Ayah nya yanga mau membujuk Ezel agar mau melanjutkan Kuliahnya.
Amri sangat senang dan sangat sanggup untuk membiayai kuliah Ezel. Ia juga berniat mengajak Ezel tinggal dirumahnya agar bisa menemani orang tuanya.