Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Tanda


__ADS_3

Amri terus memandangi wajah Selyn yang terlelap dalam pelukannya. Setelah makan tengah malam, mereka tidak melanjutkan lagi hubungan. Dia tahu Selyn lelah dan butuh istirahat. Melihat Selyn yang merintih kesakitan ketika bergerak saja membuat Amri tidak tega, apa lagi melihat pangkal paha Selyn yang merah karenanya.


Rasa kantung perlahan menyerbu Amri. Dia perlahan memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi.


Pagi hari Amri dan Selyn tengah sibuk bersiap, mereka hendak pergi mengunjungi rumah orang tua Selyn. Selyn berdiri di depan cermin. Ia berkali-kali ngaca dengan wajah sedikit malu, karena lehernya terlihat ada beberapa tanda merah akibat bekas kecupan Amri. Sedangkan Amri yang dari tadi memeperhatikannyan hanya menahan tawa dan menghampirinya.


"Kenapa senyum-senyum Mas?" ucap Selyn begitu Amri mendekat di sampingnya. " Gimana ini Mas, leherku membekas merah. Masa iya aku pergi kerumah mama dengan seperti ini." ucap Selyn menunjuk leher yang merah dengan mengerucutkan bibirnya.


Amri masih diam dan menahan tawa, ia meraih kerudung yang ada di dalam lemari dan memakaikanya di kepala istrinya.


"Kalau begini kan sudah tidak kelihatan?" ucap Amri dengan senyum setelah memakaikan hijab di atas kepala Selyn.


"Tapi mas, masa iya seharian di rumah mama aku seperti ini. Kan gerah mas?" jawab Selyn mengakat hijab yang melilit tebal di lehernya.


"Kalau kamu merasa gerah ya sudah lepas saja kerudungmu!" seru Amri.


Selyn hanya menghela nafas panjangnya." Ya suda cepat berangkat." ujar Selyn dengan wajah cemberut hingga Amri tidak bisa menahan tawanya lagi, melihat istrinya cemberut seperti itu. Dengan begitu gemas ia langsung memeluknya erat tubuh istrinya itu.


"Rasanya aku ingin sekali menggigitmu kalau sedang cemberut seperti ini." ucap Amri melebarkan senyuman, Selyn hanya bisa menahan senyum dengan rasa perasaan yang begitu bahagia.


Mereka berdua pun berangkat kerumah orang tua Selyn dengan mengendarai mobil. Hanya butuh waktu 15 menit perjalanan, mereka sudah sampai di rumah orang tua Selyn. Karena memang letak rumahnya tidak terlalu jauh. Jaraknya sama seperti jarak rumah orang tua Amri. Sesampainya di rumah mamanya, Selyn dan Amri sudah tidak melihat papanya, karena pagi-pagi buta papanya sudah berangkat untuk melakukan perjalanan jauh tugas di luar kota dari kantor selama beberapa hari ke depan.


Selama seharian di rumah hingga sore, Selyn sama sekali tidak membuka hijabnya. Sehingga membuat mamanya bertanya-tanya dengan heran.

__ADS_1


"Sayang, tumben kamu di dalam rumah tidak melepaskan hijab? Apa kamu tidak merasa gerah?" tanya mamamnya kepada Selyn.


"Ehmm,... tidak Ma! Entahlah aku merasa nyaman seperti ini." jawab Selyn dengan tersenyum pelik, lagi-lagi membuat Amri menahan tawanya karena mendengar jawaban istrinya. Selyn langsung menatap dengan tajam kepada Amri. Dia langsung mengembangkan senyum menatap Selyn kembali agar tidak ngambek lagi.


"Kemarin mama menjahit kerudung untuk mu tapi masih belum selesai, tinggal sedikit lagin. Mama akan pergi ke kamar untuk menyelesaikannya." ucap mamanya beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Selyn dan Amri di ruang televisi. Ia melangkah ke kamarnya untuk menyelesaikan jahitan kerudung yang akan dibuat untuk Selyn.


Setelah melihat mamanya menutup pintu kamar, Amri mengajak Selyn untuk pergi ketaman belakang rumah. Ia menggenggam tangan istrinya menuju taman yang terdapat ayunan, kemudian duduk bersebelahan di atas ayunan yang di duduki bersama. Tangan Amri langsung mengangkat hijab yang di kenangkan Selyn lalu membukanya. Ia tau jika Selyn malu mau membuka hijab di depan mamanya karena terdapat bekas merah di leher. Amri meminta pita rambut kepada Selyn untuk di ikat kan dirambutnya yang tergerai panjang saat memakai hijab.


"Kamu pasti merasa tidak nyaman dalam rumah mengenangkan hijab setebal ini?" ucap Amri.


"Sudah tau tapi masih bertanya lagi!" ucap Selyn cemberut, Amri hanya tersenyum.


"Oh,.. iya Mas. Kamu lebih menyukai anak perempuan atau anak laki-laki? tanya Selyn dengan menatap penuh kedua bola mata Amri.


"Aku hanya bertanya dan ingin tau saja, Mas lebih suka anak perempuan atau anak laki-laki?" tanya Selyn mengulanginya lagi. Sejenak tatapan Amri beradu pandang dengan kedua mata Selyn yang menatapnya dengan tajam. Ia segera merangkul dan menjatuhkan kepala Selyn di bahunya.


"Anak laki-laki atau anak perempuan sama saja, aku sama-sama memyukainya." ucap Amri seraya tersenyum, mendengar ucapan Amri, Selyn pun ikut tersenyum.


"Kemarikan ikat pita rambutmu! Aku akan mengingat rambutmu." pinta Amri dengan menadahkan tangan di hadapan wajah Selyn. Dia langsung memberikan ikat pitanya kepada Amri. Ia memutar badanya membelakangi Amri. Dan Amri mencoba menguncir rambut Selyn yang tergerai panjang dengan ikat pita rambutnya, namun selalu gagal. Bahkan berulang kali ia bahkan membolak balik dan membongkar ikatan rambutnya.


Karena Amri tidak pernah menguncir rambut wanita sebenarnya. Apa lagi rambut Selyn yang menjutai kebawah sehingga membuat dirinya merasa kesulitan. Bahkan peluhnya sampai menetes dan mengalir ke pipinya.


"Mas bisa menguncir rambutku atau tidak? Kenapa lama sekali!" celuk Selyn.

__ADS_1


"Diam dulu ini hampir selesai." saut Amri yang masih mencoba mengikat rambut Selyn.


5 menit, 15 menit, 30 menit telah berlalu.


"Sudah selesai..! Lihatlah aku sudah bisa menguncir rambutmu." ucap Amri dengan wajah yang terlihat girang.


Lalu Selyn mencoba memeriksa ikatan rambutnya namun ikatan rambutnya terlihat berantakan. Meskipun sesekali mulutnya mengerucut kesal karena Amri tidak rapih, tapi Selyn tetap berterimakasih dan menghargai usaha suaminya. Namun kedua mata Selyn menatap tajam pada dahi Amri.


"Mas ini! Menguncir rambutku saja sampai mengucurkan keringat seperti ini." ucap Selyn tertawa meledek dengan satu tangan mengusap keringat dahi suaminya itu.


Tanpa mendengarkan ucapan Selyn, Amri langsung memegang dan menaikan wajah Selyn hingga lebih dekat dengan wajahnya.


"Selyn? Mulai sekarang jangan membuka hijabmu di depan pria lain kecuali aku." pinta Amri. Selyn berfikir dan bertanya.


"Memang kenapa, Mas?" tanya Selyn penasaran dengan menundukan pandangan matanya. Tatapan mata Amri begitu membuatnya salah tingkah.


"Bukannya lebih bagus, kalo mengenangkan hijab?" elak Amri. Sebenarnya Dia tidak mempermasalahkan Selyn mengenangkan hijab atau tidak. Tapi dalam hati Amri merasa takut jika ada pria lain yang melihat raut wajah istrinya tanpa hijab. Cemburu itu sudah pasti.


Selyn hanya menganggukan kepala sebagai jawaban dan mengerucutkan bibirnya. Amri semakin gemas melihat tingkah istrinya, yang semakin hari semakin membuatnya hidupnya bahagia apa lagi nanti kalau sudah punya anak.


"Itu bibir minta di makan, gak mau di turunin?" ucap Amri meledek Selyn.


"Ihh,... apaan si Mas." jawab Selyn merasa malu dan bangkit dari tempat duduknya melangkah masuk rumah meninggalkan Amri di taman belakang rumah mamanya. Ia berjalan sambil tersenyum mengingat kejadian tadi malam. Wajahnya memerah seketika membayangkan adegan rajangnya dengan Amri yang begitu kuat sampai berjam-jam. Semalam saja membuat dirinya merasakan sensasi yang begitu dahsyat.

__ADS_1


__ADS_2