
Terdengar suara azan berkumandang, Amri pun melajukan mobilnya dengan pelan menuju masjid yang dekat dengan jalan tersebut. Amri memarkirkan mobil lalu masuk kedalam masjid. Lalu ia berjalan menuju tempat berwudu terlebih dulu dan setelah selesai Amri pun masuk kedalam masjid sembari mendengarkan khotbah, dari salah satu ulama di atas mimbar. Ia hari ini adalah hari jumat, Amri pun duduk bersilah dan mendengarkan khotbah tersebut.
Terdengar bisik-bisik, dari dua orang yang sedang berbicara mengenai sang ulama tersebut.
"Lihat lah ulama itu, yang memiliki ilmu luas dan tidak ada bandingnya di kota ini."
Kata salah satu orang yang sedang berbicara. Lalu teman yang satunya pun menyautinya.
"Seluruh Ulama waktu itu tidak satu pun yang mampu menandinginya di saat berdebat, terutama bab Tauhid." Jawabnya.
Lalu yang satunya pun menimpali jawaban temannya tersebut.
"Ia maka muncullah sifat kesombongannya, bahkan akhirnya ia berani mengatakan bahwa Allah itu tidak ada. Sayangnya belum ada ulama yang mampu mengalahkan beliau berdebat."
Sampai saat ini para ulama sudah kumpul di masjid dan Amri pun masih dengan santainya mendengarkan khotbah tersebut.
Amri mendengar khotbah sang ulama yang berada di atas mimbar. Gaya bicara terdengan sombong dan congkaknya begitu keras ditelinganya. Membuat hati nurani Amri merasa harus bertindak dan menghentikan kesombongannya.
"Siapakah di antara kalian, hai para ulama yang akan sanggup menjawab pertanyaan ku!"
Kata ulama yang berdiri di mimbar dengan sombongnya.
Sejenak suasana hening, para ulama diam, namun tiba-tiba berdirilah Amri dan berkata.
"Omongan apa ini? Maka barang siapa yang tahu pasti ia akan jawab pertanyaan mu."
Dengan menekan nada bicaranya Amri pun berkata.
"Siapa kamu hai anak ingusan, berani kau bicara denganku. Tidakah kamu tahu, bahwa banyak yang berumur tua, bersorban besar, para pejabat, dan para pemilik jubah kebesaran, mereka semua kalah dan diam dari pertanyaan ku. Kamu masih ingusan dan muda menantangku!"
Dengan sombongnya sang ulama tersebut menudingkan jarinya menunjuk Amri, yang berdiri ditengah-tengah banyaknya para jamaah sholat jumat.
"Allah tidak menyimpan kemulian dan keagungan kepada pemilik sorban yang besar dan para pejabat dan para pembesar. Tetapi kemudian di berikan kepada Al-ulama."
Dengan lantang dan tegas Amri pun menjawab.
"Apakah kamu akan menjawab pertanyaan ku?"
Tanya sang ulama yang masih berdiri tegak di atas mimbar.
"Ya, aku akan menjawab pertanyaan mu dengan taufiq Allah."
Jawab Amri dengan santainya.
"Apakah Allah itu Ada?"
__ADS_1
Tanya sang Ulama kepada Amri
"Ya, ada."
Jawab Amri dengan nada tegas.
"Dimana Dia?"
tanyanya kembali.
"Dia tiada tempat bagi Dia."
Jawab Amri
"Bagaimana bisa disebut ada bila Dia tidak punya tempat?"
Tanyanya dengan meremehkan Amri dengan nada sedikit mengejek.
"Dalilnya ada di badan kamu, yaitu Ruh. Saya tanya, kalo kamu yakin Ruh itu ada, maka dimana tempatnya? di kepalamu, di perutmu, atau di kakimu?"
Sang Ulama diam seribu bahasa dengan muka malunya. Lalu Amri meminta susu kepada salah satu anak kecil yang sedang duduk di sampingnya, dan salah satu ulama yang duduk di belakang Amri pun bertanya kepada Sang ulama besar yang berdiri di mimbar.
"Apakah kamu yakin di dalam susu ini ada rasa manis?"
Tanya sang ulama yang sedang duduk di belakang Amri sembari menunjuk susu yang di pegang Amri di tangan kanannya.
Jawab sang ulama besar yang masih di mimbar.
"Kalo kamu yakin ada rasa manisnya, saya tanya. Apakah manisnya ada di bawah, atau di tengah atau di atas?"
Tanya Amri dengan menunjukan susu yang di pegang.
Lagi-lagi sang ulama besar tersebut diam dengan rasa malu. Lalu Amri pun menjelaskan.
"Seperti Ruh atau Manis yang tidak memiliki tempat, maka seperti itu pula tidak akan di temukan bagi Allah tempat di alam ini. Baik di Arsy atau di Dunia ini!"
Lalu sang ulama bertanya lagi kepada Amri
"Sebelum Allah itu apa dan setelah Allah itu apa?"
Tanyanya dengan tidak tahu malunya.
"Tidak ada apa-apa sebelum Allah dan sesudahnya tidak ada apa-apa!"
Jawab Amri dengan lantang
__ADS_1
"Bagaimana bisa di jelaskan, bila sebelum dan sesudahnya tidak ada apa-apa?"
Tanyanya lagi.
"Dalil ada di jari tangan kamu. Apakah sebelum jempol dan apakah setelah kelingking? Dan apakah kamu bisa menerangkan, jempol duluan atau kelingking duluan? Demikianlah sifat Allah. Ada sebelum semuanya ada, dan tetap ada bila semua tiada. Itulah makna kalimat Ada bagi Hak Allah!"
Lagi-lagi sang ulama di permalukan, lalu ia berkata kepada Amri.
"Satu lagi pertanyaan ku, Apa perbuatan Allah sekarang?"
"Kamu telah membalikan fakta, seharusnya yang bertanya itu di bawah mimbar dan yang di tanya di atas mimbar."
Jawab Amri yang begitu kesal melihat tingkah seorang ulama, tapi tidak mencontohkan hal yang baik. Melainkan hal kesombongan dan ke angkuhannya.
Sang ulama pun malu dan akhirnya turun dari mimbar dan Amri pun berjalan menuju mimbar dan naik ke atas mimbar.
Sang ulama pun akhirnya duduk di bawah bersam para jamaah dan ulama lainnya lalu melontarkan pertanyaan kepada Amri.
"Apa perbuatan Allah sekarang?"
Sang ulama mengulang pertanyaan kembali.
Dengan santainya Amri menjawab dengan nada sedikit meninggi.
"Perbuatan Allah sekarang adalah menjatuhkan orang yang tersesat seperti kamu.
Amri menjeda jawabannya sembari menatap ulama tersebut dengan tatapan yang tajam. Lalu melanjutkan ucapannya.
"Kedalam jurang neraka dan menaikan yang besar seperti aku ke atas mimbar ke agungan. Maha suci Allah yang telah menyelamatkan keyakinan Islam melalui seorang anak ingusan. Mudah-mudahan kita semua di jauhkan dari sifat-sifat; Sok, Tinggi Hati, Angkuh, Meremehkan, atau merendahkan orang, Buruk sangka, Takabur dan Dzalim."
Dengan satu tarikan nafas Amri bisa menuntaskan jawaban untuk sang ulama.
Ulama tersebut pun menunduk malu, Amrin pun akhirnya menutup pertanyaan tersebut karena sudah saatnya sholat tiba pada waktunya.
"Dengan rendah hati, saya mohon maaf jika banyak berkata, dan maaf jika saya menyinggu para Muslimin disini. Bukan maksud saya menggurui atau pun sok. Saya hanya menyampaikan dengan taufiq."
Sejenak suasana hening, semua para ulama diam dan kemudian Amri pun mengucapkan penutupan dengan salam.
"Assalamualaikum wr. wb."
Salam penutup Amri di sambut dengan hangat oleh para ulama dan Jamaah sholat jumaat di masjid tersebut.
"Walaikumusalam wr. wb."
Jawab serempak dengan senyum lebar disetiap orang yang tengah menjawab salamnya.
__ADS_1
Mohon maaf jika banyak salah kata, saya hanya manusia yang tak luput dari kata dosa.