
Kedua orang tua Amri dan Ezel yang kini sudah di anggap sebagai adik pun sedang menunggu kepulangan Selyn setelah dirawat selama tiga hari di rumah sakit. Supir membuka pintu, lalu Amri mau pun Selyn masuk kedalam mobil dan duduk bersebelahan dengan tangan berkeringat dingin di telapak tangan Selyn. Dia duduk di samping sebelah kanan suaminya. Ia meletakan telapak tangan yang berkeringat di atas paha dan meremasnya. Hening tiada percakapan di dalam mobil. Selyn menundukan kepala tanpa ingin menengok kanan dan kiri jalan. Dia merasakan tegang dan malu, bercampur rasa bahagia dalam hati. Sebenarnya Amri juga sama, merasakan ketegangan seperti Selyn. Namun ia bisa mengontrol diri dan mengatur nafas perlahan.
Selama tiga hari di rawat, Selyn maupun Amri jarang mengbrol. Mereka banyak diam di dalam ruangan seperti kaku membeku tak bisa berkata apa-apa selain menanyakan makan dan mandi maupun shalat.
"Maaf, mas." Ucap Selyn menunduk malu memecahkan kebisuan dia antara meraka berdua.
"Kenapa?" Tanya Amri menatap lembut. Lalu Selyn mengutarakannya keinginannya kepada suaminya.
"Hari ini aku ingin pergi mengunjungi panti." Selyn menunduk tidak berani menatap Amri yang menghadap dirinya. Terlihat dengan jelas, bahwa Selyn merasa gugup.
"Apa, tidak! Aku tidak mengizinkan mu pergi hari ini. Kamu baru sembuh Selyn? tutur kata Amri yang begitu lembut. Namun membuat Selyn menjadi serba salah dan memilih diam.
"Hmmmm." Selyn hanya berguman tanpa menatap wajah Amri. Ia sangat takut dan malu. Entah mengapa tiba-tiba muncul perasaan itu. Padahal dari dulu biasa saja.
"Kita pulang sekarang, lain kali bisakan. Kamu harus banyak istirahat. Ingat pesan dokter!" Ucap Amri dengan tegas.
"Ba, baik Mas." Jawab Selyn terbata dan memilih diam. Ia takut jika Amri tambah marah jika dirinya melawan. Padahal Amri hanya bersikap tegas saja agar Selyn cepat istirahat begitu sampai dirumah dan pulih kembali.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menembus keramain jalan di malam hari. Amri sudah menyiapkan rumah baru untuk mereka tempati tanpa sepengetahuan Selyn.
Supir mengendari mobil melewati jalan yang Selyn tahu jika itu rumah orang tua Amri. Namun malah di lewatinya dan tidak butuh waktu lama. Selang 15 menit mereka sampai di rumah yang bertembok pagar besi menjulang tinggi dengan tiang-tiang rumah berdiri kokoh di teras. Ternyata Amri telah menyiapkan sebuah rumah untuk masa depannya dengan Selyn istri tercintanya.
Mobil berjalan melewati pagar besi dengan berjalan pelan di halaman rumah. Kanan dan kiri terdapat rerumputan hijau nan indah di pandang mata. Suasana sangat menyejukan dan terasa hidup. Selyn merasa takjub melihat keindahan halam di rumah tersebut dan berguman dalam hati.
__ADS_1
Rumah siapa ini? Gumam Selyn dalam hati dengan menatap takjub.
Mobil berhenti persis di halaman depan rumah pintu masuk ruang utama. Supir turun terlebih dulu, lalu membukan pintu untuk Amri dan Selyn turun dan melangkah masuk kedalam rumah yang mewah.
Di ruang makan sudah ada kedua orang tua Amri dan Ezel yang tengah duduk berbincang-bincang. Amri dan Selyn menghampiri dan menyalalimi kedua orang tuanya. Amri duduk di kursi tunggal dan Selyn duduk di sebalah kiri Amri menghadap ayah mertua bersebelahan dengan Ezel.
Makan malam yang terasa mencekam, sepertinya hanya milik Selyn. Amri bersikap santai dan tersenyum. Dia makan dengan lahap. Selyn yang di sampingnya sudah seperti kehabisan nafas.
Apa ini makan malam terakhir ku? Kenapa aku merasa gugup sekali. Jantung ku bertdetak sangat kencang. Tubuhku berkeringat panas dingin. Dan aku tidak bisa mengeluarkan suara satu kata pun. Ibu mertua tolong aku. Anak mu begitu terlihat dingin, aku merinding melihatnya. Ucap Selyn dalam hati.
Setelah makan malam, satu keluarga duduk berkumpul. Selyn duduk di samping Amri. Membeku. Dia hanya menyimak, satu kata pun tidak keluar dari mulutnya. Bahkan wajahnya terlihat pucat.
"Kakak ipar, ada apa dengan mu. Apa kau masih sakit?" Ezel jauh lebih bisa berbicara lebih santai setelah di angkat menjadi anak angkat orang tua Amri dan menjadi adiknya. Amri menatap Selyn dengan lembut membuat Selyn semakin salah tingkah.
"Tidak mas, saya baik-baik saja." Menjawab dengan lugas dan menunduk.
Amri bangun dari tempat duduknya setelah obrolan panjang dengan keluarga, membuat Selyn terperanjak dan refleks berdiri.
"Apa kau sudah mau tidur, nak?" tanya ibu.
"Iya bu." Amri hanya memjawab simpel.
"Istirahatlah nak." Ucap Ririn dan menatap Selyn lalu melangkah mendekati Selyn seraya bertanya dengan lembut.
__ADS_1
"Nak, istirahatlah dengan suamimu." perintah Ririn.
"Iy, Iya bu! Jawab Selyn terbata membuat Ririn curiga. Sebenarnya Ririn ingin bertanya lagi, tapi di urungkan. Karena melihat Amri sudah menghilang dari pandangannya.
"Ya sudah, sekarang kamu juga istirahat. Susul suami mu di kamar atas." Ririn menyuruh Selyn menyusul Amri di kamar.
"Ia bu." Selyn melangkah meninggalkan Ezel dan mertuanya. Ia menapaki anak tangga satu persatu dengan pelan sampai atas.
Selyn melihat satu kamar terbuka pintunya kecil, tapi lampu sudah padam. Diam membeku di depan pintu kamar tersebut.
Aaaaaa kenapa aku merasa takut setengah mati. Dalam hati Selyn.
"Kamar siapa ini, ko terlihat gelap tidak seperti kamar sebelah yang terlihat terang." Selyn berguman sendiri masih tetap berdiri di depan pintu. Ia bingung harus melangkah ke arah mana kamar Amri. Karena ibu mertuanya hanya bilang di kamar atas. Sedangkan di atas ada tiga kamar yang dua nyala lampu dan satu kamar dihadapannya terlihat gelap tapi terbuka pintunya.
"Apa yang kau lakukan disana?" Terdengat suara Amri dari dalam kamar yang gelap.
Selyn terlonjak kaget mendengar suara suaminya di dalam kamar yang terlihat gelap.
"Maaf, mas." Selyn melangkah masuk kedalam kamar yang gelap dan berhenti di samping ranjang. Ia berdiri mematung tidak berani tidur di samping Amri.
Amri melihat istrinya berdiri mendengus kesal. "Naik." Perintah Amri. Selyn menurutinya dan membaringkan badan di samping Amri lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Selyn merasa tegang dan gemetar. Ini pertama kalinya satu ranjang bersama seorang pria dalam hidupnya. Jantung berdebar semakin kencang membuat Selyn ketakutan sendiri. Begitu juga dengan Amri, ia merasakan tegang apa lagi yang dibawah sana sudah mengeras dengan sempurna. Menandakan bahwa ia harus menyalurkan untuk melepaskan pelepasan di bawa sana. Amri duduk disamping Selyn yang tengah berbaring membelakanginya. Dia mencoba menarik nafas dalam-dalam dan mebuangnya dengan pelan. Berfikir bagaimana cara menyampaikan keinginannya kepada Selyn. Ia sendiri merasa malu dan hanya diam menyender, bertumpu dengan bantal di bawah leher.
Malam pertama baru akan di mulai 😂😂😂
__ADS_1
Jangan lupa vote, komen, rate bintang lima dan beri tips jika anda berkenan. Tambahkan favorit jika Anda suka. Terima kasih. Salam hangat dari iim young.