
Pagi setelah melakukan malam yang panjang. Selyn berada di rumah besar ini. Selyn berdiri berjalan menapaki anak tangga menatap dapur yang hanya ada para maid tengah sibuk menyiapkan sarapan. Di beberapa tempat, dia juga melihat maid yang sedang melakukan pekerjaan rumah tangga. Spertinya penghuni rumah ini banyak juga gumannya sambil turun melangkah turun ke lantai satu.
"Selamat pagi Nona. Saya kepala maid disini." Sapa seorang ibu paru baya memperkenalkan diri.
"Kepala maid?" tanya Selyn dengan cangguh.
"Iya nona. Panggil saya Siti." jawabnya.
"Baiklah Bu Siti. Eh iya apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Selyn yang sudah diam berdiri menapaki lantai satu.
Kepala maid tersentak mendengar pertanyaan Selyn, bagaimana seorang nyonya rumah mau membantu urusan rumah, selama masih banyak maid yang melakukan pekerjaan.
"Memang apa yang mau kamu lakukan. Disini banyak maid yang bertugas untuk membersihkan rumah." Ibu mertua sudah muncul dan jalan mendekat lalu memeluknya.
"Selamat pagi, Bu." Selyn menyapa dengan sopan dan membalas pelukan ibu mertuanya.
"Bagaimana tadi malam, apa kamu tidur dengan nyenyak?" tanyanya.
"Ia, bu. Nyenyak." jawabnya terbata. Selyn menunduk malu.
"Kenapa dengan mu, nak. Apa kamu masih sakit?" Ibu mengangkat dagu Selyn dan menatapnya dalam.
"Tidak, saya sehat bu. Terimakasih atas perhatiannya." Selyn tersenyum pelik.
Saat Selyn dan Ririn masih asik berbincang, terdengar deringan telepon dari arah dapur. Selyn melihat kepala maid dengan sigap berlari dan meraih telepon dalam deringan ke dua.
"Iya, Tuan." Jawabnya.
"Ada apa? Apa Amri membutuhkan sesuatu?" Ibu mertua bertanya saat kepala maid jalan menghampirinya.
__ADS_1
"Tidak Nyonya, tuan meminta nona untuk kembali ke kamar."
"Kenapa saya harus kembali ke kamar Bu Siti?"
"Silahkan nona kembali ke kamar sekarang. Tuan sedang menunggu." Kepala maid tidak memberi penjelasan melainkan menyuruhnya untuk kembali.
"Baiklah, Ibu saya permisi." Selyn menundukan kepala lalu beranjak pergi menapaki anak tangga, dengan berfikir apa yang di inginkan suaminya. Sementara di lantai bawah ibu mertua menatap dan tersenyum.
Duh, pagi-pagi sudah membuat ku tegang saja. Selyn melangkah menuju ke kmarnya.
Ia masuk ke dalam kamar, mencari di mana laki-laki yang telah menghabiskan malam bersamanya. Dia ada di atas tempat tidur. Duduk sambil menggerakan kepalanya ke kanan dan kiri untuk merengangkan otot.
Ya allah, aku sungguh takjub melihat ciptaan mu. Kenapa dia terlihat sangat tampan, padahal baru bangun tidur. Selyn bergumam pada dirinya sendiri. Dia melangkah mendekat ke hadapan suaminya.
Kini ada dua kehidupan yang nampak di kamar ini. Wajah bahagia milik laki-laki yang sudah memperdayai wanita yang di cintainya untuk melakukan malam yang panjang dengannya. Senyum cerah dan kemenangan mengalahkan seluruh isi bumi. Dan satu wajah penuh rona malu dari wanita yang tengah berdiri di samping ranjang persis di hadapan Amri. Ia menunduk, tersipu malu dan hanya menatap lantai yang tengah di injaknya. Meremas tangan yang terasa dingin entah mengapa dirinya merasakan gugup.
Amri benar-benar merasakan indahnya surga dunia. Di malam pertama saat melakukanya dengan Selyn penuh dengan cinta dan perasaan. Ya, mungkin dia merasakan gairah penuh cinta itu. Tapi tidak dengan Selyn. Di lihat dari raut wajahnya sangat terlihat jelas letih bercampur malu.
"Tidak apa-apa mas." Menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Malu, isi kepalanya di penuhi adegan tadi malam yang sangat lekat di ingatannya.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam tujuh, mas."
Hening tidak ada percakapan di antara mereka. Aaaaaaa Selyn merasa frustasi, jantungnya berdegub semakin kencang.
"Aku mau mandi."
Hah mandi? Apa maksudnya. Apa aku harus mandi bersamanya.
__ADS_1
"Kenapa masih diam, ayo bangun. Apa mau ku gendong dan mandi bersama?" Amri hendak menggendongnya namun Selyn segera beranjak. Ia baru paham maksudnya. Lalu tanpa menjawab dia melangkah dan berjalan menuju kamar mandi.
Amri bangun dari tempat tidur, menyusul istrinya yang kikuk menuju kamar mandi. Selyn sudah mengisi air di bak mandi, dia menambahkan sabun dan beberapa tetes aroma terapi yang ada di samping tempat sabun.
Selyn terperanjak saat mendapati Amri sudah ada di kamar mandi bersamanya. Lebih malunya lagi Selyn melihat suaminya tanpa menggunakan sehelai benang pun yang melekat pada tubuhnya. Baju tidur yang di kenakan Amri sudah tergeletak di lantai.
Ya allah, kenapa pagi-pagi begini aku harus melihat pemandangan itu. Aku merasa malu, kenapa aku harus melihatnya sekarang.
Tubuh Selyn bergetar, ia sudah mau melangkah keluar dari kamar mandi.
"Kau mau kemana?" Amri sudah masuk ke dalam bak mandi.
"Keluar." terbata. Selyn menunduk tidak berani menatap wajah tampan Amri.
"Kemarilah." perintah Amri. Selyn tidak bisa menolak dan berbuat apa-apa lagi. Selyn berjalan mendekat dengan menundukan kepala dan duduk di belakang bak mandi. Ia menatap leher dan bahu Amri yang ada di hadapanya. Bahunya terlihat bidang. Kulitnya juga putih mulus dan bersih.
Bagaimana laki-laki bisa mempunyai kulit semulus itu. Selyn mera takjub, ia baru melihatnya dengan sangat jelas. Karena semalam dia tidak berani menatap wajah Amri saat bercinta.
Selyn menatap punggung suaminya dengan tajam. Hening tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Amri tenggelam dalam kebisuan, sementara pikiran Selyn berkeliaran kemana-mana. Memikirkan kejadian malam yang sangat panjang. Selyn terperanjak saat suaminya tiba-tiba berdiri, sementara dia masih melamun. Amri berjalan menuju shower dan membilas tubuhnya. Selyn memalingkan wajah. Menunduk sambil membuang air pada bak mandi.
"Selyn tolong nanti ambilkan stelan jas ku di lemari persis di ruangan sebelah." Setelah mengucapkannya Amri melangkah keluar dari kamar mandi.
"Iy, iya mas." Selyn tergagap menjawabnya.
Setelah yakin jika suaminya sudah keluar dari kamar mandi, dia terduduk lemas di lantai sambil menarik nafas dalam-dalam. Ia masih mengingat kejadian semalam. Masih terasa nyeri pada bagian kepunyaannya. Badan terasa remuk seperti di banting-banting. Amri sangat perkasa, ia tidak bisa mengimbanginya. Apa lagi ini hal baru baginya.
Kenapa mas Amri begitu lihai ya semalam? Apa dia pernah melakukannya? Pertanyaan buruk terlintas di kepalanya. Syetan mulai membisikan hal-hal buruk padanya.
Selyn menepisnya jauh-jauh dan berdiri lalu melangkah keluar menuju ruang pakai yang berada di sebelah kamar mandi. Amri sudah memberi tahunya jika baju kerja dia di tempatkan di ruangan khusus dalam satu tempat dengan kamar mandi saat keluar tadi.
__ADS_1
Kini Selyn kebingungan memilah baju yang akan dipakai oleh Amri. Akhirnya ia mengambil stelan jas berwarna biru dongker dengan dasi yang senada. Kemaja putih pilihan tepat untuk di padukan dengan jasnya.
Dia tersenyum cantik setelah mengambil perlengkapan baju kantor suaminya.