Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Berkunjung ke panti


__ADS_3

Setelah mengganti pakainya dengan baju sehari-hari yang biasa Selyn gunakan ia bergegas keluar kamar. Lalu menuruni anak tangga sambil memegang hp dan tas jinjing yang selalu ia bawa di tangan. Penamilnya terlihat berbeda dari tadi pagi saat Amri di rumah. Dia menggati pakaian dengan gamis dan memakai hijab yang melekat di kepala. Angun dan catik itu kata yang di ucapkan Amri saat pertama kali melihat pertama kali bertemu dengannya.


"Wah, wah sudah cantik, mau kenama nak?"


Ibu mertua sudah ada di bawah tangga, beserta para maid. Selyn merasa cangguh sebenarnya.


"Saya mau pergi berkunjung ke panti bu, suami saya mengizinkan saya pergi kesana." Selyn berhenti sebentar, menjawab pertanyaan Ririn.


"Jangan pergi telalu lama ya, Nak." Ibu mertua sudah memegang lembut tangan telapak tangan Selyn. " Ingat jam pulang Amri kerja."


"Iya, bu. Terimakasih sudah mengingatkan saya."


"Sama-sama." Selyn berpamitan kepada ibu mertua dan menyaliminya.


Dari luar pintu utama kepala maid masuk.


"Nona, ada ojol yang menunggu didepan."


"Baik Bu Siti, terimakasih. Sebentar lagi saya keluar." Selyn lalu menundukan kepala hormat pada ibu mertua. " Saya permisi Bu." Saat menuruni anak tangga tadi ternyata Selyn telah memesan ojol.


"Apa ojol, kenapa tidak menggunakan supir?" tanya ibu mertua terkejut mendengar ucapan kepala maid.


Selyn melangkah keluar meninggalkan ibu mertuaanya. Dia hanya menggelengkan kepala dan tersenyum atas jawaban pertanyaan dari ibu mertuanya.


Ririn hanya menghela nafas panjangnya dan membiarkan Selyn melangkah pergi meninggal rumah. Dia tidak berani mengekang atau meemrintah kehendak seseorang. Apa lagi Selyn, menantu satu-satunya. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan dan tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya.

__ADS_1


Saat di pertengahan Selyn melangkah, kepala maid yang menemaninya bertanya dengan sopan.


"Nona kenapa Anda naik ojol, bukankah tuan berpesan untuk menggunakan mobil. Di rumah ini masih ada mobil yang bisa Anda pakai, supir mengantarkan Anda kemana pun." Bu Siti mengingatkan pesan yang telah di sampaikan tuannya.


"Tidak apa-apa Bu Siti." Selyn menepuk pundak bahu perempuan itu, kepala maid terperanjak. " Saya sudah terbiasa naik ojek waktu kuliah." Selyn berjalan cepat menuju dimana driver sedang menunggu. " Maaf Pak menunggu ya, ayo kita berangkat." ucap Selyn begitu sudah sampai dan membonceng motor tersebut.


Driver ojol menggeleng kepala memandang rumah di mana penumpangnya keluar dari gerbang rumah yang menjulang tinggi. Terlihat mobil bejejer di halam rumah. Orang kaya memang susah dimengerti, gumamnya. Padahal mobil banyak, tapi malah memilih naik ojol. Driver menjalankan motor menuju tempat yang di tuju sesuai aplikasi yang di pesan oleh Selyn.


Dalam perjalanan Selyn menghabiskan waktu dengan memikirkan kejadian bangun tidur. Ia diam membisu, tidak ada percakapan apa- apa dengan driver yang masih fokus membawa motornya memecah ramainya jalan di waktu pagi.


Flashback on


Selyn bangun lebih dulu, dia kaget saat dirinya berada dalam pelukan Amri yang hanya menggunakan celana pendek.


Selyn sulit bergerak, Amri menahan pinggangnya kuat. Memberinya kesempatan menatap wajah Amri lebih dekat. Kulitnya yang putih mulus, alis tebal dengan bibir terlihat tipis.


Selyn mencoba bangun, hingga akhirnya dia terlepas dari pelukan Amri. Masih bingung apa yang harus dilakukan.


"Ya allah, sudah pagi." ucap Selyn merangkak ke kanan menuju jendela kaca. Dia mengintip celah, bagaimana di luar sana sudah pagi. Matahari mulai naik ke atas menunjukan bahwa hari pagi telah di mulai.


Pemandangan yang indah menyejukan mata membuat Amri mengambil ponselnya dari atas nakas dan memotret Selyn secara diam-diam. Dengan cepat ia meletakannya kembali ponselnya di atas nakas lalu memejamkan matanya kembali.


Selyn menoleh, dia melihat Amri masih memejamkan mata. "Dia masih tidur." Selyn melangkah turun dari ranjang dan berjalan tertati menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika berjalan dia merasakan aneh ada sesuatu yang mengganjal di antara pahanya. Dia menegang, ia mulai panas dingin saat mengingat tangan Amri kembali merayap dan menyentuh kewanitaannya. Selyn tidak bisa menolaknya. Wajahnya memerah saat mentap kaca di wastafel. Ia melihat jelas bekas kecupan merah di leher dan dadanya.


Sebenarnya Amri merasa kasian saat mengintip dari balik selimut melihat Selyn tengah berjalan dengan susah. Dia hendak menggendongnya namun di urungkan dan memilih pura-pura kembali tidur.

__ADS_1


Selyn melihat bercak darah pada celana dalamnya. Dia membersihkan bercak itu dengan sabun dan memasukan ke dalam keranjang kotor yang berada di dekatnya. Sebenarnya ia sangat malu saat melihat bercak darahnya sendiri, mengingat kejadian malam yang panjang baru saja di lalui. Bayangannya kembali memutar di kepalanya mengingat kejadian malam pertama.


Sebenarnya aku sangat takut, merasakan sakit pada kewanitaanku. Kata orang bisa membuat sakit sampai mengeluarkan darah. Tapi mas Amri menginginkannya. Aku tidak bisa menolaknya lagi. Kata dia tidak sakit dan mencobanya. Aku merasakan nyeri saat pertama kali kejantanan mas Amri menerobos masuk ke dalam kewanitaanku. Aku meremas punggungnya yang bertelanjang dada. Tangannya mulai merayap di dadaku dan meremasnya. Aku menggigit bibir sendiri saat mas Amri mulai menggerakan kejantanan dan menghentakan secara pelan. Namun aku merasa sakit dan menjerit lalu memejamkan mata menyembunyikan wajah di dada bidang mas Amri. Aku merasa frustrasi merasakan sensasi yang baru pertama kali ku alami.


Tersadar dari lamunannya Selyn segera mengucurkan air di atas kepala di bawah guyuran air sower.


Setelah mandi Selyn memilih untuk keluar dari kamar dan menuju kelantai satu. Ia hanya memakai baju lengan panjang berwarna putih menampakan lekuk tubuhnya yang seksi beserta celana panjang berdasarkan bahan kain sutra yang terlihat sangat pas di lekuk jenjang kaki panjangnya. Kepalanya masih terlilit dengan handuk setelah keramas tadi. Rambut panjang Selyn sangat susah untuk dikeringkan dan ia hanya membiarkan rambutnya kering dengan sendirinya. Dia diam mematung sesaat mengamati ramainya rumah tersebut.


Flashback off


Selyn terkejut saat motor sudah berhenti, ternyata dia sudah sampai di halaman panti asuhan.


"Mba sudah sampai," driver ojol memberi tahu.


"Eh iya. Maaf ya Pak saya melamun." Selyn mengambil uang di dalam tas jinjingnya. Dia menyerahkan selembaran uang kertas berwarna merah.


"Kembalinya Mba." ojol memanggil Selyn yang sudah melangkah menuju panti asuhan.


"Buat Bapak saja, makasih ya." Ucap Selyn. Ojol mengangguk tersenyum dan kembali pergi meninggalkan Selyn sendiri.


Selyn baru berjalan tiga langkah menginjak halaman panti asuhan, dia terkejut saat seseorang muncul dari pintu kayu. Dia terlihat muram. Wajah perempuan itu terlihat lesu. Tdak bersemangat sedikit pun. Wanita itu datang menghampiri Selyn yang diam mematung menunggu dirinya melangkah mendekat.


"Kak Selyn." Panggilnya pelan dan berjalan mendekat kesamping Selyn.


Bersambung.......... 🤗🤗🤗

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen jika berkenan.


__ADS_2