Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Bedebat


__ADS_3

Mereka memilih makan di warung terlebih dulu sebelum membungkus beberapa nasi yang akan dibawa untuk di bagikan pada anak-anak panti.


"Kak, aku akan kerja keras setelah lulus kuliah dan akan membantu mengurus panti ini sesuai amanah Nenek."


Zanira, mendengarnya saja sudah membuatku senang dengan kepedulianmu. Tapi kumohon jangan lakukan. Aku saja yang menanggung semua ini. Aku tidak mau kau bertengkar lagi dengan ibumu.


"Terimakasih ya Zan." Hanya itu yang diucapkan, karena meyakinkan Zanira juga akan sia-sia pikirnya.


"Tapi berangkatlah dan selesaikan semua tugas kuliahmu dengan benar. Sebentar lagi kamu magang kan? Mau ke mana?" Zanira hanya diam, dia malah asik memasukan soto ayam kedalam mulutnya.


"Mau magang ke kantor ayah mu?" Selyn bertanya lagi karena Zanira tidak memjawab.


"Tidak."


"Kenapa? Lalu kau mau kemana?" Selyn menatap tajam sepupunya.


"A. G. Q. "


"Apa! A. G. Q. Perusahan besar yang lagi tenar tiga tahun belakangan ini?"


Mendengar nama perusahaan itu sudah membuatnya merinding.


"Siapa yang tidak ingin bekerja di sana Kak."


Ya, aku tahu, siapa yang tidak ingin bekerja di perusahaan yang besar itu. Perusahaan dengan gedung menjulang tinggi yang setiap tahunnya memang memberikan kesempatan bagi lulusan terbaik universitas, untuk melakukan magang kerja. Jika karyawan magang itu bisa bekerja dengan baik sesuai standarisasi perusahaan, maka akan di angkat menjadi karyawan tetap. Dan siapa yang tidak mau bekerja disana. Ribuan orang selalu mengantri memperebutkan untuk mendapatkan kesempatan itu.


"Tapi Zan."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, semoga kau terpilih dan bisa bekerja disana." Selyn mencoba berfikir jernih, tidak mungkin jika direktur perusahaan A. G. Q sampai mengecek dan ikut campur masalah anak magang. Jadi ia berfikir, tidak mungkin direktur perusahaan akan tau kalo Zanira adalah salah satu penerus panti yang mendapat dana donatur darinya.


Kini Zanira mau kembali pulang ke rumah, setalah panjang lebar Selyn berusaha membujuk dan meyakinkan sepupunya, bahwa ia akan baik-baik saja sendirian di panti. Toh ada para penjaga panti pikirnya.


Selyn dan para pengurus anak panti sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Selyn membalas chat pesan masuk, menulis catatan data para donatur dan meminta seseorang untuk memeriksa stok bahan pangan serta kebutuhan lainya. Begitu selanjutnya. Ada yang sedang masak, ada juga yang menyuapi anak-anak panti dan menemani bermain. Selyn melirik hp yang berbunyi di atas meja.


"Apa lagi maunya." Tidak, Selyn hanya melirik dan membiarkan walau pun beberapa kali hp itu menyala. Saat dia mulai kesal karena mengganggu, akhirnya dia angkat juga. "Ada apa!". Sautnya dengan ketus.


"Keluar! Aku di depan panti." Si penelfon langsung mematikan hp.


"Mau apa lagi dia." Selyn menyerahkan hp khusus panti kepada pengurus ibu panti. "Adik mamaku ada di bawah, aku temui sebentar." Ucapnya yang berada di lantai dua di dalam ruangan yang khusus untuk mengurus data dan perlengkapan bisa di katakan kantor.


"Kenapa lagi dia mba?" Ibu panti sangat hafal wanita yang tidak tau sopan santun itu yang datang kemari hanya untuk meminta jatah uang hasil donatur panti.


"Gak tau, sebentar ya bu."


" Hah! Kau masih bekerja di tempat kumuh ini, padahal sudah menikah dengan orang kaya. Menyedihkan sekali, apa kau di campakan setelah pulang dari rumah sakit." Ucapnya sinis.


"Kenapa? Masalah!" Selyn menjawab dengan ketus. Adik dari namanya yang tak lain ibunya Zanira itu tantenya.


Ia melotot mendengar Selyn berbicara .


"Sekarang sudah bisa menjawab ya." Dia melipat tangan dan menatap tajam pada Selyn, semakin kesal saat Selyn juga tak kalah menatapnya dengan tajam.


"Kalau tante iri, kenapa tidak meminta cerai dengan suami tante. Lalu menikah dengan orang kaya seperti ku."

__ADS_1


"Beraninya kau!" Bentaknya.


"Kenapa? Tante mau mengancamku dengan apa. Aku sudah tidak tinggal serumah dengan mama. Mau mengadu, silahkan! Aku tidak peduli."


Selyn melihat tantenya hanya bisa mengepalkan tangan dan mendengus kesal.


"Tante kesini mau minta apa? Mau minta bagian uang hasil donatur? Dengarkan baik-baik, mulai sekarang aku tidak akan peduli jika tante mau mengadu apa pun pada mama. Aku tidak akan memberikan sepeserpun uang itu. Jangan pernah menghubungi atau datang kemari lagi. Dan ingat satu lagi, aku tidak akan takut dengan ancaman tante lagi.


Selyn keluar membuka dan membanting pintu mobil dengan keras. Wanita yang di dalam terlonjak kaget. Selyn tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya kalo dia mengancam padanya, ia akan memberikan uang pembagian donatur dengan suka rela.


"Sial! Aku bahkan kalah adu mulut dengannya sekarang."


Beraninya kau anak kecil, aku akan memusnahkanmu jika kau tidak mau memberikanku lagi pembagian uang itu. Aku akan meminta paksa sertifikat tanah panti asuhan dan menjualnya. Aku butuh uang untuk kesenangan dan memanjakan tubuhku.


Itulah salah satu kenapa Nenek Selyn tidak mau memberikan hak untuk mengurus panti dan memberikan sertifikat itu kepada Selyn. Karena dia orang yang suka foya-foya tanpa ingin bekerja dan menikmati hasil jerih payah orang lain. Sifat ini yang membuat Nenek Selyn semakin sedih dan takut jika rumah panti asuhan di olahnya. Maka uang hasil para donatur pasti ia gunakan untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan anak-anak panti.


Mobil melaju meninggalkan halaman panti asuhan dengan cepat. Wanita itu sangat marah dan ingin segera sampai rumah.


Setelah membating pintu mobil, Selyn melangkah masuk tanpa menghiraukan wanita yang tengah menatapnya dengan tajam dari balik kaca mobil depan. Selyn melihat jelas wanita itu sedang mengumpat di saat dirinya membalikan badan dan meninggalkannya begitu saja. Selyn masuk dan naik ke lantai dua untuk melanjutkan kegiatannya. Dia meminta kembali hp yang di berikan kepada ibu pengurus panti untuk mengecek kembali chat pesan yang masuk dari para donatur mau pun orang-orang yang akan mengambil anak dari panti asuhan tersebut.


Satu persatu Selyn mengecek data yang telah tersimpan dan merapikan berkas-berkas yang telah selasai di tanda tangani untuk para orang yang mengajukan pengambilan anak. Dengan detail dan rinci Selyn membaca setiap lembar kertas yang di ajukan untuk mengadopsi anak.


"Bu, ini sudah selesai. Tolong rapikan dan masukan ke dalam lemari." Ucap Selyn dengan menatap lembut ibu panti di sebelanya.


"Iya mba." Dia melangkah mendekat dan merapikan berkas yang ada di atas meja.


"Terimakasih ya bu." Selyn bergegas bangun dan tidak lupa dengan tas jinjingnya.

__ADS_1


"Apa mba Selyn sudah mau pulang?" tanya ibu panti menatapnya.


"Iya, bu. Saya harus pulang." Selyn melangkah dan berpamitan kepada ibu panti. "Saya pamit pulang ya Bu." Ia berjalan keluar menuju jalan menunggu ojol yang dipesan.


__ADS_2