Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Menikmati soto


__ADS_3

Perang dapur sudah selesai. Ketegangan saat membuat semangkok soto sudah terhidangkan.


Amri mentap orang-orang yang sedang duduk di meja makan, salah satunya Selyn. Amri duduk di kursi utama, di ruangan yang terbuka dengan pemandangan taman yang indah nan hijau begitu menyejukan untuk di pandang mata. Ruang makan yang luas dengan meja kaca yang terlihat semangkok soto berderet di atasnya.


Selyn melirik menatap semangkok soto di hadapannya." Sepertinya sama dengan soto diwarung. Apa rasanya berbeda dengan soto yang biasa aku makan ya." gumamnya.


Amri meraih sendok dan mulai menyendokan satu suap ke dalam mulut, begitu juga sama dengan ayah dan ibunya. Selyn mulai menyendok soto di hadapannya. Seketika wajahnya terkejut saat merasakan satu suap soto di mulutnya. "Sotonya enak sekali. Ups, keceplosan." Selyn meutup mulut dan menunduk malu.


Mereka yang tadinya makan dalam keheningan menoleh kearah Selyn. Termasuk Amri yang duduk di hadapannya.


Selyn yang melirik suaminya tengah menatapnya menjadi salah tingkah dan berucap. "Sotonya enak sekali mas. Terimakasih sudah memberikan kesempatan saya merasakan soto senikmat ini." sambil mengakat wajahnya yang terlihat memerah di pipinya karena malu.


Ibu dan ayah mertuanya memandang dan tersenyum kearah Selyn. Mereka merasa lucu mendengar ucpan Selyn yang terdengar begitu jelas di telinga.


"Kalau kamu suka, kamu bisa meminta kepada maid untuk membuatkannya setiap hari." ucap Amri.


Wajah kepala maid yang tengah berdiri di belakang Amri langsung terlihat menegang. Selyn yang memperhatikan wajah Bu Siti, seketika paham. Orang yang paling menderita disini saat mengumpulkan para maid adalah bu Siti. Kalo sampai menu soto ini harus di hidangkan setiap hari.


"Tidak apa Mas, saya juga suka makan soto di warung langganan dekat dengan panti." Selyn menyebutkan tempat soto kesukaannya.


Tenang saja Bu Siti, aku tidak akan membuatmu semakin susah. Aku sangat tau saat kau membuat semangkok soto ini membuatmu dan seisi rumah ini kewalahan.


Selyn menatap Bu Siti sekilas, wajah tegangnya sudah menghilang.


Kesunyian kembali tercipta di meja makan. Semuanya kembali fokus pada mangkok soto di hadapan mereka. Selyn bergegas mengunyah dengan cepat saat melirik isi mangkok Amri sudah hampir habis. Dia harus menghabiskannya sebelum Amri selesai. Terlambat, Amri sudah meletakan sendok. Meneguk air puti dan mengambil selembar tissu untuk membersihkan mulutnya. "Dia sudah habis?" gumam Selyn. Saat Amri bangun dari tempat duduknya Selyn reflek ikut bangun, walaupun soto dalam mangkoknya belum habis.


"Habiskan dulu makanannya." ucap Amri dengan lembut saat melihat Selyn bangun dari duduknya.

__ADS_1


"Ah, iya." Selyn menduduki kembali kursi di belakangnya.


Aku bisa menghabiskan makanan enak ini. Kalo tau mas Amri tidak akan menyuruh ku untuk makan dengan cepat kenapa aku harus terburu-buru tadi. Bodohnya aku.


"Saya permisi Bu, Yah." Amri melangkah kesebuah ruangan yang terdapat di bawah tangga. Tepatnya ruang kerja.


"Iya, Nak." jawab orang tuanya serempak.


Setelah Amri masuk kedalam ruangan kerja, aura dingin di meja makan tiba-tiba berubah drastis. Ada hawa dingin yang datang memenuhi udara di ruangan itu. Selyn masih memilih diam dan menghabiskan makanannya. Dia tahu jika ayah dan ibu mertuanya sedang menatapnya.


"Lain kali kalo sedang makan jangan berbicara ya, itu tidak baik." ucap Amar menatap menantu satu-satunya.


Selyn masih diam dan menghabiskan makannya dengan tenang, setelah Amri menyuruh menghabiskan makanannya.


" Nak?" panggil Ririn dengan pelan.


"Iya Bu, ada apa?" jawabnya menatap ibu mertuanya dengan cangguh.


"Kau mendengarkan ucapan ayah barusan?" tanya ibu mertua.


"Saya mendengar ucapan ayah barusan. Maafkan saya ya yah, bu." ucapnya dengan menunduk.


"Berbicara saat makan bukan salah satu yang dicontohkan rassul kepada umatnya."


"Baik bu, maafkan saya yang kurang paham." Selyn hanya bisa menunduk dan merasa malu di tegur oleh mertuanya. Dia sangat malu padahal dirinya sekolah lulusan S2 di LN, tapi rasanya percuma saja. Jika kurang tau tentang ajaran agama.


Ririn dan Amar saling berpandangan. Meraka memaklumi, karena wanita di hadapanya telah mengakuinya tanpa rasa cangguh. Amar dan Ririn tidak menyalahkan Selyn tentang masalah ini. Tapi sedikit kecewa dengan kedua orang tua Selyn yang telah mendidiknya. Mereka lebih memilih dengan kehidupannya masing-masing. Ayah Selyn yang di sibukan dengan tugas dalam bekerja dan ibunya yang menghabiskan waktu di luar dengan teman-teman sosialitanya, tanpa memperdulikan kehidupan masa depan anaknya. Kalo di lihat dari luar memang Selyn terlihat bahagia dalam menjalani kehidupannya. Dari segi materi dia tercukupi sampai melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di LN. Tapi tidak dengan kasih sayang yang di dapat. Selyn merasa kurang perhatian dari kedua orang tuanya. Dia lebih dekat dengan neneknya saat masih hidup.

__ADS_1


"Ibu mengerti, kamu nanti bisa belajar dengan suamimu." ucap Ririn lembut.


"Iya Bu." jawabnya menunduk dalam.


"Amri pasti akan dengan senang hati untuk mengajarimu, Nak. Apa lagi kamu wanita yang sangat di cintainya.


"Baik Bu, nanti saya akan berbicara dengan mas Amri."


"Ya sudah, ibu dan ayah pamit pulang dulu ya. Kamu baik-baik disini, kalo ada masalah dengan suamimu, selasaikan dengan kepala dingin." Ririn berpamitan dan memberi nasehat pada Selyn menantunya.


"Apa ibu dan ayah tidak tinggal bersama kami?" Selyn mengakat kepala menatap mertuanya.


Ririn tersenyum dan hanya menjawab. "Kalo ibu dan ayah tinggal bersama disini, lalu siapa yang akan menempati rumah ibu?" ucapnya lalu berdiri bersama suaminya dan berpamita. " Ibu dan Ayah pamit pulang ya, Nak." Ririn dan Amar melangkah keruangan kerja Amri untuk berpamitan pulang.


"Iya Bu, hati-hati di jalan." Selyn berdiri dan menyalimi kedua mertuanya. Lalu berjalan beriringan dengan ibu mertua kedalam ruangan kerja suaminya.


Tok... tok... tok...


Ketukan pintu dari luar ruangan kerja Amri, membuatnya bangun dari tempat duduknya. Dia melangkah dan membukakan pintu.


"Ada apa?" tanya Amri setelah mendapati istri dan kedua orang tuanya tengah berdiri di depan pintu.


Selyn yang di gandeng tangannya oleh ibu mertuanya hanya diam menatap lantai. Dia masih merasa cangguh dengan pernikahannya bersama Amri. Padahal mereka sudah lama saling mengenal. Mungkin karena Selyn sudah lama tidak bertemu dengan Amri semenjak melanjutkan kuliahnya di LN, jadi dia merasakan seperti masa-masa pubernya kembali seperti waktu masih SMA dulu.


"Ibu dan Ayah pamit pulang, Nak." jawab Ririn.


"Biar supir yang mengantarkannya, bu." Amri bergegas memanggil kepala maid, untuk menyampaikan pesannya kepada supir. Agar mengantarkan kedua orang tuanya kembali kerumah lama.

__ADS_1


Setelah kedua orang tuanya pulang, Amri mengajak Selyn untuk segera mengikutinya naik ke lantai dua di kamarnya. Dia bergegas melangkah menapaki anak tangga mengikuti langkah kaki jenjang suaminya.


__ADS_2