
Ayah Selyn berusaha memikirkan cara untuk mematahkan kata-kata pemuda di hadapannya. Dan beliau mendapat akal.
"Kamu taulah zaman sekarang ini. Kalau mengikuti cara kamu itu. Mungkin kamu tidak suka dengan acara persandingan yang mewah. Bapak bisa terima. Tapi apa kamu bisa menerima apa kata yang akan orang-orang katakan."
" Orang akan mengatakan anak aku 'kecelakaan' dan terpaksa menikah dengan kamu. Mau di taruh dimana muka ini." sarkas ayah Selyn.
Lalu Amri pun menjawabnya dengan santai. "Bagus juga pemikiran bapak itu. Kalo anak bapak 'kecelakaan' mana mungkin saya mau menikahi anak bapak. Karena selamanya akan menjadi haram. Orang yang zina tidak akan menjadi halal, sekalipun dengan pernikahan. Kalo bapak memaksa ya sudah. Toh bisa ikut nikah masal kan bagus juga bisa berhemat, tapi tetap ramai." ucapnya.
"Serius lah Nak!" Jawab beliau dengan menurunkan nada suaranya.
Dengan menghela nafas panjangnya Amri menuturkan ucapanya dengan sopan dan santu.
"Begini pak, sekali lagi rasanya tidak perlu membayar puluhan juta dan mahar yang berlebihan. Sehingga memaksa di luar kemampuan. Tapi saya tidak mengatakan tidak ada walimatul urs. Sedangkan walimatul urs itu tetap perlu dan di sesuaikan dengan kemampuan. Itu cara Islam."
"Saya bukan hendak macam-macam dengan bapak. Syariat memang seperti itu. Maha baiknya allah sebab masih menjaga kita selama ini, tapi hal sepele seperti ini pun kita masih memandang ringan dan kita tak percaya dengan apa yang telah allah janjikan."
"Saya benar-benar minta maaf kalau ada kata-kata saya yang membuat bapak tidak senang terhadap ucapan saya. Tidak juga bermaksud tidak ta'dzim dengan bapak dan ibu. Segalanya kita serahkan kepada allah. Kita hanya bisa merencanakannya saja."
Suara Azan Dzuhur berkumandang, jaraknya tidak sampai 10 rumah dari rumah Selyn. Aku mohon undur diri untuk pergi ke surau dan mengajak ayah Selyn juga untuk pergi bersama. Namun ajakan ku di tolak dengan lembut dan halus oleh beliau. Lantas aku memberi salam dan memohon untuk keluar melangkah pergi ke surau untuk menjalan kan kewajiban ku sebagai umat islam.
Di pinggir cendela bertralis besi, Selyn melihat pemuda yang menaruh hati padanya mengeluarkan kopiah dari balik saku celananya dan segera di pakainya untuk memenuhi panggilan allah.
Sedangkan Selyn yang sedari tadi berdiri di balik tirai bersama ibunya, meneteskan air mata mendengar curahan kata-kata pemuda yang telah pergi meninggalkan rumahnya menuju ke surau.
__ADS_1
Pemuda yang kini telah pergi untuk memenuhi panggilan allah itu sahabat Selyn saat dirinya masih duduk di bangku SMA kelas X hingga kini. Pemuda itu sangat santun dan baik. Selalu mengajari Selyn dalam hal-hal positif dalam agama. Setiap ada acara di sekola, mereka selalu hadir dalam suatu acara sebagai panitia.
Pemuda yang pergi menuju suara adalah anak semata wayang dari pasangan Amar dan Ririn. Mereka dari keluarga sederhana.
Saat ini pemuda itu masih melanjutkan perguruan tinggi di salah satu universitas sebagai arsitek. Dan ia menyambi kerja untuk meringankan beban kedua orang tuanya.
Pemuda itu bertubuh tinggi sekitar 178 cm dan mempunyai kulit putih dan bersih, mata yang coklat, bulu mata yang lentik dan alis yang tebal menambahkan kesan tersendiri bagi yang memandangnya.
Selyn masih mematung memegang kerudung lebar pemberian sahabatnya sebagai hadiah padanya. Lalu di genggaman dengan erat. Ibu Selyn juga menetes kan air mata melihat pada perilaku putrinya. Segera Selyn dan ibunya berjalan menuju keruang tamu menghadap sang ayah.
"Apa yang pemuda itu katakan benar. Kita ini tidak pernah memperhatikan syariat-syariat agama selama ini. Terlalu melihat dunia, adat dan apa kata orang selama ini. Padahal mereka tidak pernah peduli juga pada kita." Ibu Selyn menunduk malu akan dirinya sendiri dan berkata kepada sang suami dengan meneteskan air mata.
"Hmm. Entah lah, ayah tidak tahu. Begitu keras yang anak itu katakan tadi." Lalu sang ayah menoleh kesamping menghadap putrinya yang tengah berdiri di samping istrinya dan berkata.
"Terserah pada kamu saja nak, mau diterima atau tidak!" Ayah Selyn bergegas melangkah dan masuk ke dalam kamar meninggalkan istri dan putrinya diruang tamu yang masih diam mematung.
Selyn sangat berharap sahabatnya masih mau menerima dirinya sebagai pendamping dalam hidupnya. Ia sebenarnya sangat malu kepada sahabatnya atas perlakuan sang ayah. Dengan tangan gemetar dan tetesan air mata yang mengalir dipipi mulusnya. Selyn kini mengetik kata demi kata yang diketik pada layar telepon genggamnya. Kemudian Selyn mengirim kan pesan pada sahabatnya.
Pemuda yang baru saja selesai mengambil air wudhu pun tersenyum. Saat mendapatkan pesan dari Selyn.
Ting... ting...
โ๏ธSelyn....
__ADS_1
"............
Dengan senyuman yang mengembang dibibir merahnya, pemuda itu segera membaca pesan yang di terima. Lalu ia segera membalas pesan dari Selyn.
Selyn yang menerima pesan dari sahabatnya segera membuka.
Ting... ting... ting...
โ๏ธ
"Sudah sejak lama aku menyimpan rasa ini, bukannya aku tidak ingin memiliki mu. Tapi aku hanya ingin menjaga mu. Hingga halal bagi aku itu tiba, untuk menyentuh kamu."
"Tapi maaf, jika aku belum sanggup untuk datang melamar mu saat ini. Suatu saat, jika aku sudah sukses. Aku akan segera datang meminang mu. Maka denga berat hati, aku meminta mu untuk bersabar. Hingga pada masa itu tiba. Dan aku minta jaga dirimu dengan baik.
Selyn semakin deras meneteskan air mata yang jatuh membasahi pipi, setelah membaca pesan dari sahabatnya. Ia sangat bersyukur kepada allah, karena allah mau mempertemukan dirinya dengan pemuda yang teguh pendirian. Walau berat, Selyn berusaha tetap tegar dalam menjalani. Ia harus kuat dalam menghadapi ujian.
Kini Selyn terduduk lemas, saat tubuh tidak bisa lagi menopang keseimbangan dirinya. Ia menangis sejadi-jadinya diruangan tamu, dengan di temani oleh sang ibu yang senantiasa membimbingnya. Agar selalu tegar dalam menghadapi semua cobaan.
Ibunya mengajak Selyn untuk duduk dikursi ruang tamu dan memberikannya minum. Air putih yang berada diatas meja kini di berikan kepada Selyn untuk di minum. Lalu beliau menyuruh Selyn agar mengambil air wudhu dikamar mandi, di dalam kamarnya. Kemudian menyuruhnya untuk istirahat sejenak di dalam kamar.
Beliau melangkah pergi meninggalkan Selyn dan bergegas masuk kedalam kamarnya sendiri untuk menjumpai sang suami yang tengah merebahkan diri di atas ranjang tempat tidur.
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
__ADS_1
Seusai menunaikan shalat, pemuda itu kembali mengambil telepon genggam dan membaca pesan yang dikirim oleh Selyn. Sejenak ia teringat akan kenangan masa sekolah, ketika bersama dengan Selyn. Dan membayangkan betapa indahnya persahabatan diantara mereka.
Mohon dukungan dan saranya. Jangan lupa bom like bintang lima, vote, komen dan Tips jika anda baik hati. Terima kasih atas sport semua teman. ๐ค