Perjuangan Seorang Suami

Perjuangan Seorang Suami
Mengalah


__ADS_3

Setalah pulang dari rumah sakit Amri dan Selyn menuju taman dimana waktu SMA mereka sering menghabiskan waktu bersama. Amri ingin menghibur Selyn sang istri dan mencoba membujuk Selyn agar mau bersabar dengan keadaan yang menimpah dirinya yang mandul setau Selyn.


Jalan yang begitu lenggang mempermudah Amri untuk cepat sampai di taman. Ia menatap sendu Selyn yang duduk di samping kemudi dengan tatapan mata yang kosong dan wajah yang terlihat sedih setelah mendengar dirinya mandul.


Kini Amri mencoba medekat dan membelai Selyn dengan lembut. Ia pun menyenderkan kepala Selyn yang masih duduk diam seperti patung.


"Sayang?" panggil Amri pelan dengan tangan mengelus kepala Selyn dengan sayang.


Hening tidak ada jawaban, hanya kebisuan yang Amri dapatkan. Ia mencoba kembali memanggil dan mengecup kepala Selyn.


"Sayang, jangan seperti ini. Mas tau mas yang salah, Mas yang mandul. Tapi kita masih bisa menggunakan banyak cara untuk bisa membuahi kandungan mu seperti perkataan dokter. Kita harus banyak berdoa dan ikhtiar. Selagi kita berusaha, pasti allah akan memberikan petunjuk dan jalan yang terbaik." ucap Amri mencoba menenangkan hati Selyn dengan tutur kata yang lembut.


Deraian air mata meluncur begitu saja di pipi mulus Selyn yang masih menyender di pundak Amri. Dia merasakan basah di pundaknya dan dia memastikan jika sang istri sedang menangis. Hati Amri terasa semakin nyeri melihat sang istri yang menangis. Selama pernikahan mereka, baru pertama kali ini Amri melihat Selyn yang sedih dan menangis di dalam dekapannya.


"Kenapa semua itu terjadi pada ku, Mas?" tiba-tiba Selyn melontarkan pertanyaan yang membuat Amri bingung harus menjawab apa.


"Sabar, ini semua ujian darinya. Kau mau sabarkan Sayang?" ucap Amri memberi pengertian Selyn dengan sabar. Ia menghela nafas beratnya dan mengajak Selyn turun dari mobil menuju taman.


Amri melepaskan pelukannya dan mengajak Selyn turun." Sayang kita turun sebentar di taman. Kamu masih ingatkan taman ini?" tunjuk Amri ke arah samping kiri Selyn dengan senyuman.

__ADS_1


Hanya anggukan kepala Selyn yang Amri dapatkan sebagai jawaban. Amri pun turun terlebih dulu dan mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Selyn yang masih duduk diam di dalam mobil.


Setelah keluar dari mobil yang terbuka pintunya, Selyn melangkah menatap dan menerawang ke depan. Entah apa yang sedang ia fikirkan. Amri hanya mengikuti langkah kaki Selyn dari belakang.


Taman yang dulu pernah menjadi saksi bisu pertemuan mereka saat Selyn akan pergi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di luar kota. Amri yang menyatakan cintanya saat perpisahan di taman ini. Di bawah pohon yang rindang dengan tempat duduk kayu panjang yang mereka duduki.


Dengan tatapan mata Sendu Amri memperhatikan Selyn yang duduk merenung dengan kepala menunduk dengan tangan yang di satukan dengan lutut. Perih dan tersayat bagai tersayat sembilah pisau, itu yang Amri rasakan saat ini. Bingung itu pasti, tapi tidak mungkin dia mengatakan jika Selyn lah yang bermasalah. Jika itu sampai di ketahui oleh Selyn, pasti dia akan lebih sakit dan terpuruk dari yang di alami saat ini. Lebih baik Amri yang menanggung semua ini, dia takut Selyn akan sakit jika banyak fikiran dan mengakibatkan ginjalnya akan bermasalah karena stres dan kurangnya asupan makanan. Tidak, itu semua sangat tidak di inginkan oleh Amri. Dia sangat memcintai Selyn, biarlah orang memandang dirinya yang hina karena mandul tidak bisa memberi keturuna. Asal jangan Selyn sang istri yang di cemooh dan di caci maki oleh semua orang.


Saat ini Amri di lema harus bagai mana dan harus berkata apa. Dia membiarkan Selyn menenangkan diri dan memilih duduk di samping Selyn tanpa mengeluarkan suara.


"Sudah lama aku menginginkan seorang anak, Mas? Tapi bagai mana dengan sekarang, keadaan Mas yang tidak bisa memungkinkan. Aku harus apa, Mas!" teriak Selyn tiba-tiba saat Amri duduk di sampingnya. Dengan sabar Amri membujuk dan merengkuh tubuh Selyn agar tenang.


"Dua tahun sudah kita menjalani rumah tangga dengan bahagia. Tapi percuma Mas, kalo kita tidak bisa memiliki keturunan. Buat apa Mas kerja banting tulang jika kita tidak mempunyai anak, Mas! Buat apa!" teriak Selyn lebih kencang dalam dekapan Amri.


"Mas, janji mau berusaha? tanya Selyn mengakat wajahnya dan menatap manik mata Amri.


"Iya, Mas janji akan berusaha. Walau pengobatan mahal sampai ke luar negeri pun akan Mas lakukan buat kamu. Agar kita memiliki keturunan." ucap Amri meyakinkan Selyn dan menatap raut wajah Selyn yang terlihat pucat dengan mata yang membekang dengan air mata yang masih membekas di pipi mulusnya.


"Sayang, kau terlihat pucat sekali." Amri semakin khawatir dengan memegang kedua pipi Selyn. " Apa tadi pagi sudah di minum vitaminnya?" tanya Amri lagi.

__ADS_1


Dengan senyum mengembang di bibir mungil Selyn menjawab." Maaf, aku lupa. Mas tidak marah kan?" ucap Selyn menundukan pandangan matanya dari tatapan mata Amri.


"Ya ampun sayang, kamu harus minum sekarang. Apa kamu bawa vitaminnya? tanya Amri semakin khawatir.


Hanya gelengan kepala sebagai jawaban Selyn. Amri semakin gelisah dan mengajaknya pulang.


"Sekarang kita pulang, kamu harus minum vitaminnya sayang." tukas Amri bangun dari tempat duduknya.


"Aku masih pengen disini Mas?" ucap Selyn memohon. Amri hanya menghela nafas panjangnya dan memberikan waktu untuk Selyn.


"Baiklah tapi tidak lama, lima belas menit saja. Kamu harus segera minun vitamin sayang." jawabnya dan kembali duduk di samping Selyn.


"Terima kasi, Mas." Selyn menatap dan melebarkan senyuman.


Dengan gemas Amri mencubit hidung mungil Selyn dan berkata. " Sayang, kalau kamu seperti ini. Ingin rasanya, Mas menggigit mu." ucapnya menatap tajam.


"Iiiihhhhh apa si Mas, ini." Selyn memalingkan wajah yang sudah memerah karena tatapan mata Amri yang ia tau menjurus ke sebuah hubungan.


Dengan santainya Amri bepindah duduk di tanah pas di depan Selyn. Tanpa risih ia duduk di tanah tanpa alas untuk duduk. Ia duduk dengan kepala yang di senderkan di atas pangkuan kaki Selyn dengan dua tangan yang melingkar di pingganya." Sayang apa kau masih ingat dengan kenangan indah kita di bawah pohon ini?" tanya Amri yang manja di pangkuan Selyn.

__ADS_1


"Iya Mas, aku ingat sekali. Kamu waktu itu menyatakan cinta pada ku." jawab Selyn memerah wajahnya mengingat kenangan itu. Ia sangat ingat waktu itu. Sampai ia menangis karena terharu akan pernyataan cinta Amri di saat perpisahan dirinya yang akan melanjutkan kuliah di luar kota.


"Aku sangat bahagia saat itu." ucap Amri mengakat kepalanya dari pangkuan Selyn dan menatap rona mereh di wajah Selyn.


__ADS_2