
Flashback part 2
Di kota orang aku sendiri tanpa sanak saudara, teman ataupun sahabat yang dapat aku ajak diskusi tentang Islam. Aku belajar tentang Islam dari pengajian-pengajian masjid di desa yang terdengar lewat pengeras suara atau acara desa dan kecamatan yang biasanya terdapat sentilan tentang ajaran Islam. Dan tentunya tidak ketinggalan, aku belajar dari diskusi yang sangat-sangat banyak dengan Maulana.
Dan ketika keyakinan ini bertambah kuat, aku merasa kebutuhan mendesak yang harus aku lakukan yaitu aktifitas menyembah Allah.
Rasanya, keyakinan aku akan sia-sia dan terasa hampa. Jika tidak ada aktifitas beribadah yang harus aku lakukan untuk menyembah Allah.
Namun aku belum bisa sama sekali, belum bisa cara beribadah dengan yang ada pada Islam. Dengan melihat cara orang sholat di TV dan memperhatikan teman sholat, akhirnya aku bisa meniru gerakan sholat. Tentu saja segala sesuatunya masih kacau saat itu.
Dengan hanya memakai piama tidur tanpa tau ada aturan yang harus menutup seluruh aurat saat sholat. Menggelar selimut sebagai sajadah dan berdiri tidak mengetahui harus menghadap kemana.
Aku sholat hanya dengan tiga kalimat kata yang aku ketahui; Bismillahirrahmanirrohim, alhamdulillah, allahuakbar. Dengan gerakan tanpa tau urutan dan aturan, rasanya melegakan. Karena aku bisa melepaskan keinginan untuh menyembah satu ilah dan hanya ilah inilah yang harus aku sembah.
Aku lakukan ini berkali-kali tanpa di ketahui oleh siapa pun. Aku masih belum mengetahui tentang pembagian sholat yang lima waktu. Aku masih sendiri waktu itu, menjadi kepala Puskesmas dan aku pun masih merahasiakan statusku dari siapa pun. Termasuk staf di kantor, bahkan Maulana pun tidak tau kalo aku melakukan sholat, karena aku masih malu, takut dan masih menutup diri.
Sampai pada akhirnya, Maulana menawarkan aku untuk masuk dalam Islam dan aku pun menyetujuinya. Aku masih terus berdiskusi, belajar dan berfikir. Sehingga aku benar-benar merasa yakin dan mantap untuk memeluk Agama Islam.
Sampai waktunya..... aku dan Maulana memberanikan diri, datang kepada orang tua ku. Disitu Maulana mengutarakan keinginan ku, untuk memeluk Agama Islam kepada orang tua ku.
__ADS_1
Dapat di bayangkan apa yang terjadi, kekagetan luar biasa, marah, tidak percaya melegak keluar. Orang tua meminta ku untuk mengutarakan sendiri hal tersebut, dan aku pun menyatakan hal yang sama, Aku Ingin Masuk Islam.
Mereka tetap tidak percaya dan memintaku untuk memikirkannya kembali. Aku pun kembali ketempat dimana aku di tugaskan waktu itu, dan Maulana kembali ke jakarta tempat ia bekerja.
Beberapa waktu kemudian, Bapak, Ibu, dan Adik ku, menemuiku di mana aku bertugas saat itu. Menanyakan kembali akhir keputusan akhir ku. Saat itu, aku meminta Maulana menemaniku. Karena aku dalam kondisi sangat takut dan kalut.
Jawabanku pun tetap sama, Aku Ingin Masuk Islam. Betapa marah orang tua ku mendengarnya, sebuah kemarahan yang aku belum pernah menyaksikan sebelumnya. Ibu pun berkata;
"Apa kau sanggup menghiyanati-Nya!"
"Teganya engkau mengingkari keyakinan mu!"
Aku pun memahami jika seperti ini, karena semua keluarga ku non muslim. Dan semuanya adalah aktivis-aktivis dalam ke agamaan. Tidak ada satu pun yang beragama lain. Dan ..... aku juga yang akan diperkirakan mengabdi dengan sesungguhnya pada keyakinanku, ternyata menjadi orang pertama yang masuk ke Agama Islam. Tentu ini hal yang sangat berat. Terutama untuk kedua orang tuaku, anggapan-anggapan negatif baik dari keluarga besar lainnya. Tentu akan datang bertubi-tubi menekan mereka.
" Dengan keputusanku yang tidak berubah ini akhirnya hubunganku dengan keluarga agak menjadi renggang. Derai air mata sejak itu masih mengalir. Aku sempat ragu mengingat perkataan Ibuku. Pikiranku terus saja berkecamuk, benarkah itu? benarkah aku harus kembali padanya? benarkah jika aku memeluk Islam, Dia akan marah?
Berkutat pada kebimbangan antara perkataan orang tuaku dan apa yang telah aku lakukan pelajari dalam Islam. Dalam puncak kebingunganku, aku bermimpi..... Aku hendak pergi tidur. Tiba-tiba terdengar ketukan dari jendela kayu yang bersebelahan dengan tempat tidurku.
Ku buka jendela tersebut dan aku kaget, karena di depanku ada sosok seseorang yang memakai jubah putih dengan wajah tidak jelas. Dan dalam mimpi itu aku di pahamkan bahwa itu benar. Sosok itu tidak berbicara apa-apa namun tampak dia seperti tersenyum tidak marah dan hendak menyalimi ku. Setelah itu sosok tersebut berlalu, aku pun terbangun dalam keadaan bingung dan takut.
__ADS_1
"Apa maksud mimipi ini? Pikirku. Apakah ini suatu tanda, bahwa pilihanku benar."
Waktupun berlalu dan aku semakin kokoh memutuskan keputusanku, untuk memeluk Agama Islam. Maulana yang selalu hadir dalam perjalananku menggapai Hidayah Islam ini, akhirnya melamarku.
Alhamdulillah..... akhirnya orang tuaku pun mengizinkan kami menikah. Hubungan kami dengan keluarga sudah baik kembali sampai saat ini. Kami menikah dengan wali dari KUA, rasa haru dan bangga menyelimuti saat itu. Setelah menikah, aku minta di belikan mukenah dan minta di ajarkan sholat. Dan Maulana terus mendampingi dan mengajarkan ku sholat lima waktu.
Sampai, aku telah dapat melakukan sholat sendiri. Maulana bisa menjalankan kewajibannya untuk sholat di Masjid.
Perjalananku dalam memahami Islam tentu saja tidak berhenti sampai situ saja. Setelah lima tahun sejak aku masuk kedalam Agama Islam, aku melanjutkan studi S 2 di FK UGM. Jurusan ilmu kedokteran Dasar dan Biomedis (minat Histologi dan Biologi sel) dan aku seperti tersentak untuk yang kedua kalinya.
Aku baru menyadari dan memahami betapa Allah mengatur segala sistem dalam tubuh kita dengan rapih, cangih, teratur dan sempurna. Sampai tahap molekuler, tanpa kita sadari. Aku banyak termenung saat menyadari hal itu, namun juga menjadikanku banyak bertanya kepada dosen pakar saat itu.
"Subhanallah..... Dia-lah pencipta, pengaturan, pemelihara yang semedikian rupa rumitnya. Dan tidak mungkin semua itu berjalan, beroperasi dan bermekanisme dengan sendirinya. "
Mulai saat itulah, aku lebih terpacu lagi untuk belajar dengan membaca dan memahami Al-Quran. Dan proses belajar itu berlangsung sampai sekarang.
Dahulu aku telah mengetahui bahwa Allah-lah, ilah yang di sembah dalam Agama Islam. Namun, perlu waktu bertahun-tahun untuk aku memahami, bahwa hanya Allah-lah ilah yang BERHAK untuk di sembah."
🙏🙏🙏🙏🙏🙏 Mohon maaf jika saya banyak kata yang salah, yang di sengaja maupun tak di sengaja. Novel saya hanya menceritakan tentang pengalam pribadi saya.
__ADS_1
Buka bermaksud untuk menyinggu maupun menggurui anda. Ini masih lanjut beberapa kata lagi untuk di bab selanjutnya dan Terima kasih.