
Selesai menelpon Angga meletakkan handphonenya di atas nakas.
Diana menghampirinya dengan membawa bubur.
"Ayo mas dimakan dulu buburnya," ucap Diana sambil menyodorkan sendok ke mulut Angga.
"Nanti saja, aku menunggu Naysila."
"Aku gak akan biarin kamu berduaan sama wanita yang bukan mahram mu Mas," sahut Diana sambil menyodorkan sendok tersebut.
"Sejak kapan kamu berani mengatur aku Diana ?" tanya Angga.
"Sejak aku jadi istri kamu."
Angga menghempas napas panjang.
"Aku bilang aku menikahi kamu dengan terpaksa, jadi kamu gak usah ngatur-ngatur hidup aku. Terserah akulah mau bikin dosa kek, gak ada urusannya sama kamu!"
"Tentu ada dong Mas, kalau kamu bermesraan dengan wanita lain itu sudah termasuk Zina, dan jika suami yang berzina bukan hanya suaminya yang akan mendapatkan dosa, tapi istrinya juga. Aku gak mau kamu sampai melakukan hal itu."
"Kamu tuh ya maksa banget!"
"Aku gak maksa Mas. Kalau kamu mencintai pacar kamu, kamu nikahi saja dia. Tapi sebelum kalian resmi, kalian gak boleh berduaan."
"Lalu kamu mau dimadu?" tanya Angga.
Diana terdiam.
"Kenapa diam? Pasti kamu memilih dimadu daripada bercerai kan? Kamu takut kan Diana jadi janda untuk yang ketiga kalinya. Kamu takut orang-orang mencibir kamu, karena kamu sudah menikahi banyak pria?" tanya Angga dengan nada meremehkan.
Bulir bening menetes di pipi Diana.
"Demi Allah, aku gak takut jadi janda untuk yang kesekian kalinya. Karena menurut keyakinan aku semua itu sudah takdir dan aku rela menjalani nasib yang sudah digaris kan untuk ku ."
"Asal kamu tahu Mas, aku mau menerima lamaran dari orang tua kamu, karena permintaan mama, beliau ingin kamu berubah dan kembali ke jalan yang benar dan ia meminta agar aku bisa mengarahkan kamu ke jalan yang benar. Minimal kamu gak keluyuran mabuk-mabukkan apalagi sampai berzina, nauzubillah," papar Diana.
Angga menyunggingkan senyum sinisnya.
"Maksud kamu, kamu itu benar dan aku sesat, gitu maksud kamu?"
"Bukan begitu Mas, tujuan pernikahan itu sebenarnya mulia mas. Seorang suami dihalalkan untuk menggauli wanita yang bukan mahramnya dengan jalan pernikahan agar terhindar dari perbuatan Zina. Lalu kenapa kamu harus mencari jalan yang batil jika Allah sudah menghalalkan seorang istri untuk kamu?" tanya Diana.
Angga tertawa kecil.
"Haha karena aku gak cinta sama kamu Diana," sahut Angga.
Diana tersenyum tipis.
"Sebenarnya aku juga gak cinta sama kamu Mas, tapi aku sadar aku ini seorang istri. Aku punya kewajiban yang harus aku jalani."
"Jika kamu gak cinta sama aku, itu gak masalah.Kamu boleh menceraikanku, dan menikahi gadis pujaan kamu itu Mas."
Angga tersenyum.
"Tentu saja Diana, tapi setelah papa benar-benar menyerahkan perusahaannya kepada ku."
"Gak lama lagi kok, sabar ya Sayang? " Cetus Angga dengan sindirannya.
Diana meletakan bubur itu.
"Terserah, kamu makan saja dulu." Ia pun menyuapi Angga.
***
Setengah jam kemudian Diana selesai dengan urusannya.
__ADS_1
"Mas kamu butuh sesuatu, aku mau keluar membeli minuman."
"Gak ada."
"Ya sudah, aku pergi dulu."
Diana keluar dari ruangan tersebut kemudian kembali setengah jam kemudian.
Di depan pintu masuk Diana mendengar ada suara seorang perempuan.
"Sayang, jadi kapan kamu mau melamar aku ? "
"Setelah aku resmi diangkat jadi presiden direktur di salah satu perusahaan Papa."
"Ehm begitu, iya sih. Kalau kamu sudah punya kedudukan tinggi di perusahaan papamu, mommy dan daddy aku pasti mau merestui hubungan kita."
" Terus, apa kamu akan menceraikan istri kamu itu?"
"Entahlah, jika aku menceraikannya, papa dan mama pasti akan mengambil alih kembali perusahaannya."
"Tapi aku gak mau di madu."
"Haha, Gak usah takutlah, kan aku cuma cinta sama kamu. Akan ku buat Diana sendiri yang meminta perceraian itu dari ku."
Hiks hiks
Diana yang mendengar pembicaraan itu langsung menangis tanpa suara, hanya bibir dan tubuhnya saja yang bergetar.
"Hm, aku jadi makin sayang sama kamu."
"Kalau Sayang, sini cium aku dulu dong."
Diana mendengar itu langsung bereaksi.
Bruak.. pintu langsung di dobrak dari luar.
"Apa yang kalian lakukan di kamar ini ?!" tanya Diana.
" Diana! Kamu tuh kenapa sih, sukanya ganggu saja."
"Kamu bilang aku mengganggu, Mas? Aku ini istri kamu dan tak sepantasnya kamu bermesraan dengan perempuan ini!"
Diana menghampiri Naysila.
"Keluar kamu dari ruangan ini!" usir Diana sambil menunjuk pintu keluar.
"Angga, istri kamu!"
"Diana!"bentak Angga.
"Keluar kamu! Kamu gak punya malu ya, bermesraan dengan lelaki yang berstatus suami orang? Keluar kamu, kalau tidak aku panggilkan satpam! "
"Diana!"
"Diam kamu Mas !"
"Keluar !"usir Diana dengan mata yang melotot.
Naysila tampak ragu, saat itu ia masih menoleh ke arah Angga.
" Keluar atau aku seret kamu untuk keluar!"
"Angga, aku pulang dulu."
Angga tak bisa berbuat apa-apa, karena saat itu juga tak bisa bergerak dengan leluasa.
__ADS_1
" Iya Sayang, nanti aku telpon lagi," sahut Angga.
Naysila pun keluar dari ruangan itu.
Diana langsung menoleh ke arah Angga.
"Apa-apaan sih kamu Diana ! Berani-beraninya kamu mengusir Naysila? Kamu tuh semakin menjijikkan!"
"Kenapa gak, kalian saja berani berbuat mesum bahkan di tempat umum! Biarkan kalian tau siapa yang lebih menjijikkan," sahut Diana ketus.
Diana merapikan barang-barang belanjaannya di atas nakas.
"Aku sudah dengar Mas rencana kamu dan perempuan itu."
"Bagus jika begitu," cetus Angga.
"Aku mau menawarkan kamu kesepakatan."
"Kesepakatan apa?"
"Aku merelakan kamu menikahi wanita itu Mas, tapi sebelum kalian resmi menjadi suami istri, kalian gak boleh melakukan perbuatan di luar batas."
"Apa maksud kamu Diana?"
"Jika memang wanita itu bisa membuat kamu bahagia, kamu nikahi saja dia."
"Maunya sih begitu. Tapi setelah aku punya posisi penting di perusahaan Papa dan itu syarat yang diminta oleh Daddynya Naysila."
"Kalau aku menceraikan kamu, Papa pasti gak mau ngasih kedudukan itu kepada ku."
Diana menghela nafas panjang.
"Iya Mas, setelah kamu mendapatkan kedudukan kamu, aku yang akan minta pada mama dan papa agar mereka melamar wanita itu untuk kamu," ucap Diana dengan bibir gemetar.
Sebenarnya berat baginya melakukan hal itu, tapi apa daya, Angga mencintai wanita itu, Diana hanya tak ingin sang suami jatuh dalam lembah dosa.
"Lalu bagaimana dengan kamu?"
Diana tersenyum.
"Aku juga akan pergi Mas. Aku gak akan mengganggu rumah tangga kalian."
"Baiklah,aku akan berikan harta gono-gini yang besar untuk mu."
Diana mengulas senyum kembali.
"Bukan itu yang aku inginkan Mas."
"Lalu apa?"
Angga tertegun mendengar penuturan Diana. Diana menatap Angga dengan tatapan teduh.
" Jika kedudukan sudah kamu dapatkan, kamu juga sudah menikahi wanita yang seperti kamu inginkan, itu berarti Tuhan memberikan kesempatan untuk kamu berubah. Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Karena tak semua orang diberikan kesempatan yang kedua kali."
" Jadilah anak yang berbakti untuk orang tua kamu, suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk istri dan anak kamu, niscaya kamu akan mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya. Bukan kebahagiaan yang semu seperti yang kamu cari selama ini."
"Ini semua bukan untuk aku, tapi untuk kamu dan keluargamu juga Mas," ucap Diana.
"Ehm, baiklah."
"Aku setuju, kamu benar. Jika aku sudah mendapatkan apa yang aku cari dan inginkan selama ini, aku akan berusaha merubah diriku jadi lebih baik."
"Alhamdulillah, asal kamu ada niat untuk berubah, kamu pasti mendapatkan petunjuk.
Angga tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Bodoh.