
Naysila berada di dalam kamarnya.
Tio dan Simon sudah mendesaknya untuk kiriman uang lima puluh juta.
Aduh bagaimana ya, Aku takut Simon dan Tio menyebarkan video itu. Karirku dan juga pernikahan ku yang akan batal.
Naysila menghempaskan napas panjang. Meski berat akhirnya ia harus melakukan itu yakni menelpon Angga.
"Halo," sapa Angga.
"Halo Sayang, bagaimana kabar kamu?"
"Baik," sahut Angga dengan nada datarnya.
"Sayang, kenapa sih akhir-akhir ini kamu jarang menghubungi aku ? Apa kamu sudah tak sayang dengan aku ?" tanyanya bernada manja.
"Bukan begitu aku sedang sibuk saja."
Naysila diam beberapa saat sambil mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan maksudnya.
"Sayang kamu masih disana ?"tanya Angga ketika suasana menjadi hening.
"Iya, ma -masih kok," sahut Naysila dengan gelagapan.
"Sayang, aku butuh uang lima puluh juta," ucap Naysila dengan nekad.
"Lima puluh juta? tapi untuk apa ?"
"Ehm ehm, aku butuh uang itu untuk ke salon dan perawatan. Kamu gak mau kan calon pengantin kamu ini terlihat jelek dan gak glowing saat hari pernikahan?"
Angga bergeming.
"Sayang apa yang aku lakukan ini untuk kamu juga, aku ini ingin tampil cantik dan sempurna di hari bahagia kita nanti," bujuk Naysila.
"Sayang kamu masih disana kan ?" tanya Naysila ketika tak ada suara dari seberang telepon.
"Aku gak bisa memberi kamu uang sebanyak itu Nay. Karena setiap uang yang keluar dari perusahaan harus dilaporkan ke manajer keuangan."
" Kalau begitu pakai uang pribadi kamu dong Sayang."
"Maaf Nay, aku tak bisa memberikannya. Keluarga ku sudah menanggung semua biaya pernikahan kita. Nanti jika kamu mau perawatan kamu bilang saja, biar aku yang langsung bayar di salonnya."
Naysila sedikit kaget mendengar hal itu.
"Tapi Sayang …"
"Sudah aku sedang sibuk saat ini." Angga menutup teleponnya.
"Sayang!"
Belum sempat Naysila merayu, Angga sudah menutup teleponnya.
"Huh! Bagaimana caranya agar aku mendapatkan uang itu!" dengus Naysila.
***
Diana berada di dapur sedang sibuk menyiapkan bumbu.
"Non, lagi ngapain?" tanya bi Inah.
"Oh mas Angga, katanya ingin di bikinin nasi goreng, Bi."
"Oh, biar bibi bantu Non. "
"Gak usah, biar saya saja. Sudah lama saya gak masak, Bi."
"Oh, saya heran saja. Padahal mas Angga kan gak suka nasi goreng."
"Masa sih Bi?"
"Iya Non, nasi goreng dan mie, mas Angga paling anti tuh. Makanan yang begituan."
__ADS_1
"Tapi mungkin lagi ingin di masakan oleh istrinya kali ya Non."
Diana tersenyum." Mungkin Bi."
Bi Inah pun kembali mengerjakan pekerjaan.
"Diana membawa dua piring nasi ke meja makan."
"Nasi goreng untuk siapa Din?"tanya Bu Wina.
"Untuk mas Angga Ma."
Bu Wina mencibir. "Tumben saja tuh anak mau makan nasi goreng," cetus Bu Wina.
"Iya Ma, tadi pagi mas Angga yang minta."
Beberapa saat kemudian Angga datang menghampiri mereka.
"Mana nasi goreng pesanan ku ?" tanya Angga sambil menarik kursi.
"Ini Mas." Diana menyodorkan sepiring nasi goreng pada Angga.
Dengan segera ia melahap nasi goreng tersebut.
Hingga membuat Bu Wina heran.
Setelah sarapan mereka semua memulai aktivitas mereka seperti biasanya.
"Diana! Kamu pulang jam berapa?" tanya Angga.
"Aku tetap lembur Mas, mungkin sampai seminggu sebelum acara akad nikah kalian."
"Ya sudah masuk ke dalam mobil ku, aku antar kamu."
"Iya."
Diana masuk ke dalam mobil Angga mereka pun langsung berangkat.
***
"Jam berapa kamu pulang?"tanya Angga
"Nanti aku telepon saja."
"Jangan terlalu malam."
.
"Iya Mas."
Angga memutar mobilnya. Tanpa sengaja ia melihat seseorang dengan kacamata hitam seperti mengintai dirinya.
Ketika Angga hendak mengejar, pria itu langsung tancap gas.
Angga tak bisa mengejarnya, tapi taknjuga berhasil mendapatkan nomor platnya. Mobil itu melaju begitu kencang.
***
Diana masuk ke dalam butik.
"Assalamualaikum," ucap Diana ketika membuka pintu.
"Waalaikum salam. Selamat pagi Mbak Diana," Sapa Mira dan rekannya.
"Selamat Pagi juga."
Setelah menyapa karyawannya, ia langsung masuk ruangannya.
Diana kaget ketika melihat ada seikat bunga mawar putih yang tertata rapi di atas meja kerjanya.
"Bunga mawar ?"
__ADS_1
Diana Kembali keluar dan menemui dua asistennya.
" Mira, itu bunga mawar yang ada di ruangan saya dari mana ?" tanya Diana.
"Oh tadi, ada kurir yang mengantar nya. "
"Iya, tapi dari siapa ?" tanya Diana.
"Saya nggak lihat Mbak, tidak ada nama pengirimnya, hanya ada amplop menggantung di tangkai bunga."
"Oh baiklah, lanjutkan pekerjaan kalian, karena dalam bulan bulan ini kita akan sibuk," ucap Diana.
Kemudian ia kembali masuk ke dalam ruangannya.
Diana menghampiri buket bunga mawar putih tersebut ada sekitar 7 Kuntum bunga mawar putih yang terikat menjadi satu .
Diana kemudian membuka amplop hitam yang menggantung di salah satu tangkai bunga.
Yang mengherankan adalah warna amplop tersebut berwarna hitam.
Karena penasaran Diana pun membuka amplop itu kemudian membacanya
Tulisan di amplop tersebut membuat mata Diana terbelalak kaget.
'Jika Aku Tak Bisa Memilikimu, Maka Tak akan ada yang bisa memilikimu.'
"Danu," lirih Diana.
Tiba-tiba saja ia teringat akan Danu. Karena selama ini sudah berkali-kali Danu menyatakan cintanya. Namun, selalu ia tolak.
Diana Langsung meletakkan bunga itu kembali ,kemudian meraih handphonenya hubungi Danu saat itu juga
"Halo assalamualaikum," sapa Danu di sambungan teleponnya.
"Waalaikumsalam."
"Nu, kamu ada kirim bunga untuk aku kah?"
"Bunga ? Nggak kok Din."
"Lalu siapa dong, kamu jangan bohong ya, Nu."
"Sumpah Din, aku nggak ada kirim bunga untuk kamu. Mungkin suami kamu atau secret admirer kamu yang lain."
"Huh, aneh Deh, masalahnya Ini pesannya berisi ancaman, Nu."
"Ancaman seperti apa Din ?" tanya Danu.
Diana membacakan pesan tersebut .
'Jika Aku Tak Bisa Memilikimu, maka takkan ada yang bisa memilikimu.'
"Ini pasti kerjaan kamu kan Nu?" tanya Diana lagi
"Sumpah Din, nggak mungkin aku melakukan itu, kita sudah lama berteman, aku tak mungkin mengancammu."
"Tapi Nu, jika bukan kamu, lalu siapa ?" tanya Diana mulai khawatir.
"Din, aku memang mencintaimu, tapi aku tidak mungkin menyakitimu. Apalagi sampai melakukan pengancaman. Itu namanya gak gentle Din."
"Lalu siapa ya Nu. ?" Diana semakin khawatir. Ia takut jika orang tersebut mencelakai Angga
"Aku nggak tahu Din. Suer!"
"Ya sudah kalau gitu, Maaf ya Nu aku sempat menuduhmu."
"Tak apa Din, itu berarti kau harus hati-hati ada seseorang yang ingin mencelakai mu."
"Terima kasih Nu, Assalamualaikum."
Diana menutup telepon itu kemudian menerawang, memikirkan siapa yang kira-kira mengirimkan buket bunga indah yang berisi ancaman tersebut.
__ADS_1
Bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya