Pernikahan Ke 3

Pernikahan Ke 3
Tekanan


__ADS_3

Naysila tiba di club malam yang biasa didatangi oleh Angga. Ia bermaksud mencari keberadaan Angga.


"Eh, lu ada lihat Angga ngak ?tanya Naysila pada Simon dan Tio.


"Gak ada, sudah sebulan lebih, gua gak ketemu Angga."


" Luh calon bini nya, kenapa tanya kita-kita?"


"Gua pikir Angga ada di sini. Kangen saja sama dia," ucap Naysila sambil meneguk minuman di gelas Tio.


Simon dan Tio saling melempar senyum dan menaik turunkan alisnya.


"Udahlah lo lupain aja Angga untuk sementara waktu, nanti setelah lu jadi bininya, belum tentu lu bisa senang-senang," kata Tio.


"Bener banget tuh. Mending Lo senang-senang sama kita, ya gak ?" Simon memberi isyarat pada Tio.


"Iya bete gua," cetus Naysila sambil menuang botol minuman ke gelas mini yang ada di hadapannya.


Kedua orang menatap tubuh Naysilla yang sedang menggunakan pakaian minimalisnya. Dengan tanktop dan rok begitu mini. Tentu saya Naysila mengundang perhatian dua pria itu.


Tio dan Simon menatap gadis itu penuh hasrat. Mereka pun mengedip-ngedipkan matanya.


Tio berusaha mengalihkan perhatian Naysila dengan mengajak bicara. Sementara Simon mencampur bubuk kedalam minuman Naysila.


"Minum lagi Nay, mumpung lu datang, biar gua yang bayar."


Naysila meminumnya tanpa curiga sedikitpun.


Simon dan Tio saling melempar senyum.


Beberapa saat kemudian, perangai Naysila berubah, tatapan matanya begitu sendu melihat kedua orang itu.


"Simon, kamu mau kan temani aku malam ini," ucap Naysila sambil melingkarkan tangannya ke leher Simon.


"Sudah  bereaksi," ucap Simon sambil mengedipkan mata ke arah Tio.


"Bawa saja," sahut Tio.


"Tentu dong. Yuk kita habiskan malam ini bersama."


Tanpa perlawanan sedikitpun, Simon merangkul Naysila dan membawanya ke dalam mobil.


Tio memesan kamar hotel yang akan digunakan untuk eksekusi.


Naysila yang sudah terbakar gairah itu dengan penuh kerelaannya menyerahkan diri pada dua pria itu.


***


Angga meletakkan Diana di atas ranjang.


"Kamu istirahat saja."


"Iya Mas, tapi aku mau mandi dulu."


"Ya sudah nanti aku gendong ke kamar mandi."


"Gak usah, aku bisa jalan sendiri kok."


Diana turun dari ranjangnya. Dengan berjinjit ia menuju kamar mandi.


Terdengar suara kran air berbunyi.


Beberapa saat kemudian Diana keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan kain kecil yang melilit rambutnya.

__ADS_1


Wajahnya tampak lebih segar saat itu.


Diana menuju lemari pakaian kemudian mengambil piyamanya. Saat itu Angga juga sedang melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan celana boxer.


Diana diam beberapa saat , rasanya ia malu jika harus berganti pakaian di depan Angga.


"Mas bisa keluar dari kamar ini gak sebentar ?"tanya Diana.


"Loh emang kenapa?"


"Aku mau ganti baju."


"Ya gantilah,"


"Aku malu kalau kamu ada di sini."


"Ngapain malu, setiap hari aku lihat tubuh kamu kok. "


"Ish beda saja, kamu keluar saja dulu. Aku mau ganti pakaian," usir Diana.


"Iya, "dengus Angga dengan kesal.


Angga Keluar sambi menutup pintu kamarnya.


Setelah itu barulah Diana merasa keluasa untuk menggunakan pakaian.


Setelah selesai, Diana langsung terlelap karena ia begitu ngantuk.


***


Azan subuh terdengar di salah satu aplikasi ponsel Diana.


Matanya menerjab-nerjab, Diana merasakan sedikit sesak karena di himpit oleh Angga. Tangan kekar Angga menimpa perut rampingnya.


Saat itu tubuh mereka seperti menempel. Apalagi tangan Angga memeluknya dengan erat.


Diana coba untuk merenggangkan pelukan Angga tersebut.


"Mau kemana ? Istirahat saja," gumam Angga sambil menarik tubuh Diana kembali dalam pelukannya.


"Aku mau sholat subuh Mas, Ayuk Mas sholat subuh bersama," ajak Diana.


"Ehm nanti saja lah. Kamu sholat duluan saja," gumam Angga dengan mata terpejam.


Diana turun dari ranjangnya. Dengan berjingkat ia menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Setelah shalat dan berdoa Diana kembali dengan rutinitas paginya.


***


Naysila membuka mata dan merasakan sekujur tubuhnya yang terasa begitu sakit.


Tulang-tulangnya terasa remuk redam.


"Akh!"


"Aku dimana ?"tanyanya sambil meringis kesakitan.


Naysila mengedarkan pandangannya ke segala arah, kepalanya masih terasa pusing.


Namun ia tersentak kaget ketika melihat seorang pria tidur di sampingnya.


Ia menyingkap selimut dan ternyata tak ada satu helai benang pun yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


Naysila semakin kaget ketika mengamati bukan Angga lah yang kini bersamanya.


Naysila membalikkan tubuh pria yang terbaring terlungkup tersebut untuk mengetahui siapa pria itu.


Jantungnya berdegup kencang antara takut dan penasaran.


"Tio !" Serunya sambil menutup mulut ia hampir tak percaya.


Tidak mungkin ! bagaimana aku bisa tidur bersama Tio.


Naysila menangis sambil menggeser tubuhnya untuk menjauhi Tio, saat itu Naysila merasakan kembali menyentuh tubuh seseorang.


"Hah!" Naysila kaget, sekaligus takut


Kamar itu masih gelap karena tertutup gorden yang tebal. Hanya sedikit sekali cahaya matahari yang masuk hingga pandangan menjadi kurang jelas.


Dengan tangan gemetarnya Naysila membalikkan tubuh pria yang juga bugil yang ada di sampingnya itu.


"Astaga ! Simon !" Pekiknya ketika melihat wajah yang tak asing , Naysila pun menangis.


"Apa yang terjadi pada ku hiks …, kenapa aku berada di kamar ini bersama mereka Hiks."


Naysila menangis sejadi jadinya, ia tak tahu apa yang akan terjadi pada pernikahan dengan Angga, jika sampai dirinya Ketahun telah tidur dengan dua orang pria sekaligus.


Karena tak sanggup membayangkan hal itu, kepalanya terasa sakit ia pun kembali pingsan.


***


Jam menujukan pukul sepuluh pagi. Naysila kembali membuka matanya karena mendengar suara berisik, seperti orang yang tertawa.


"Haha, sudah bangun rupanya," ucap Simon sambil meneguk minumannya. Keduanya tersenyum ke arah Naysila yang masih syok.


"Apa yang kalian lakukan pada ku ?" tanya Naysila setengah menangis.


"Haha, ternyata dia lupa!" Cetus Simon sambil tertawa.


"Kau lupa rupanya, jika kau yang meminta kami untuk melayanimu," sahut Tio.


"Apa ! Tapi tak mungkin! "


"Tak mungkin apanya?Kau lihat sendiri rekamannya!" 


Tio memperlihatkan rekaman video mereka. Melihat hal itu Naysila langsung menjerit histeris.


"Hiks hiks Tolong hapus video itu dan jangan disebarkan video itu!" pinta Naysila sambil menangis dan memohon.


"Haha boleh saja, asal ada syaratnya," ucap Simon dengan licik.


"Apa syaratnya?" tanya Naysila.


"Jika kau memberikan kami uang tunai lima puluh juta, maka handphone yang berisi rekaman ini akan jadi milik mu," , ucap Simon.


"Apa?! Darimana aku  dapat uang lima puluh juta, sedangkan job ku sedang sepi saat ini."


"Haha bodohnya kau! Bukankah calon suami mu itu seorang presiden direktur? Minta saja padanya."


"Tapi …" Naysila terlihat ragu.


"Kau mau kehilangan calon suami mu, atau uang lima puluh juta. Kami beri waktu lima menit untuk berpikir."


Naysila terdiam dengan air mata yang mengalir deras.


Bersambung dulu gengs.

__ADS_1


__ADS_2