
Setibanya di kota, Angga langsung membawa istrinya ke klinik terdekat. Selain untuk memeriksa keadaan Diana dan kandungannya. Diana juga perlu diinfus untuk mengembalikan cairan tubuhnya yang hilang.
Setibanya di rumah sakit, Angga menghubungi Bu Wina dan Bu Rania untuk mengabarkan berita bahagia, ditemukannya Diana dalam keadaan selamat dan tak kurang satu apapun.
Mendengar sang menantu pulang dengan selamat, Bu Wina dan Pak Wijaya buru-buru menghampiri rumah sakit.
"Diana," panggil Bu Wina sambil menghambur memeluk menantu kesayangannya itu.
"Alhamdulillah, sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Bu Wina sambil mengusap kening Diana.
"Iya Ma, Diana tidak apa-apa, kandungan Diana pun tidak bermasalah."
"Alhamdulillah Nak kamu bisa ditemukan tepat waktu.Mama sempat khawatir, Untung saja saudara kembar mu, itu mau mengakui semuanya," papar Bu Wina sambil memeluk Diana kembali.
bola mata Diana memerah dan berkaca-kaca ketika mengingat penghianatan Dina terhadapnya.
"Iya Ma, Maafkan Dina ya, karena Dina, mama dan papa jadi repot ,"ucap Diana. sebenarnya Ia pun terluka karena saudara kembarnya sendiri yang terlibat kasus ini.
"Iya sayang, yang penting bagi Mama kamu dan janin yang ada di dalam kandunganmu itu selamat, itu saja. Biar Rasyid dan Dina bisa mendapat hukuman yang setimpal dari perbuatannya."
"Iya Ma," sahut Diana lirih.
"Iya sayang, sekarang kamu makan ya, Mama masak ini untuk kami" ucap Bu Wina sambil membuka rantang yang ia bawa.
Bu wina menyuapi Diana. Diana begitu bahagia karena memiliki keluarga yang begitu sayang dan perhatian padanya.
hanya satu hari dirawat di rumah sakit, Diana pun di perbolehkan untuk pulang.
di dalam mobil Dina menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
"Mas Bagaimana keadaan Dina?" tanya Diana.
"Katanya sih, masih di rumah sakit," sahut Angga dengan ketus.
"Boleh nggak, aku jenguk Dina Mas?" tanya Diana.
"Nggak boleh sayang, maaf kali ini aku melarang kamu. Aku harus menjaga kamu dari orang-orang yang berniat jahat terhadap kamu dan anak Kita," ucap Angga sambil menarik Diana dalam pelukannya.
Angga menggenggam erat tangan istrinya, kemudian menciumnya, iya begitu khawatir jika Dina nekat kembali menyakiti Diana.
"Baiklah Mas, aku takkan melihat Dina tanpa seijinmu," ucap Dina sambil menggantungkan tangannya pada salah satu pundak Angga.
"Itu baru namanya istri solehah," ucap Angga sambil mencium pipi istrinya.
Angga dan Diana saling menatap dan melempar senyum bahagia.
**"
Beberapa hari telah berlalu, ruang perawatan Dina masih dijaga ketat oleh petugas polisi.
Bu Rania tetap setia mendampingi Dina selama dalam perawatan.
Karena keadaannya mulai membaik, Dina sudah diperbolehkan untuk Pulang, meski wajahnya terdapat beberapa luka memar.
__ADS_1
Bu Rania berberes-beres karena sebentar lagi ia akan membawa Dina pulang ke rumah.
tok tok tok ...
terdengar suara gedoran pintu. Bu Rania menoleh ke belakang, seorang pria berpakaian polisi sedang menghampirinya.
"Permisi ibu," ucap polisi tersebut.
Dina harap-harap cemas melihat kedatangan polisi itu.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Bu Rania yang juga khawatir.
"Maaf sebelumnya, karena Dina ditetapkan sebagai tersangka, kami akan membawa Dina menuju kantor Polisi untuk dimintai keterangan. selama Dina menjalani pemeriksaan, dia akan ditahan."
Bu Rania begitu sedih, tapi apa daya Dina memang keterlaluan.
Mendengar keterangan polisi tersebut Dina langsung menangis.
Hiks hiks hiks
"Bu, aku tidak mau dibawa kantor polisi Bu, apalagi aku sedang hamil, bantu aku bu," ucap Dina sambil menarik lengan Bu Rania.
"Ibu nggak bisa ngapa-ngapain Din, kamu yang berbuat ,kamulah yang bertanggung jawablah," ucap Bu Rania sambil meneteskan air matanya.
Bu Rania begitu sedih jika membayangkan Dina harus berada dalam penjarahan apalagi saat itu, Dina tengah hamil muda, tapi Bu Rania juga tak berdaya, Ia juga tak bisa melawan hukum.
"Baiklah nona Dina, silakan bersiap-siaplah. Sebentar lagi petugas kami akan membawa anda," ucap polisi tersebut.
Hiks hiks
"Maaf mbak, ini bukan wewenang saya, saya hanya menjalankan tugas. Ini surat penangkapan anda," ucap polisi tersebut sambil menyerahkan selembar kertas yang berisi keterangan penangkapan Dina.
hiks hiks Dina menangis hingga tersedu-sedu.
"Bu tolongin Dina, Bu !Dina nggak mau masuk penjara," ucap Dina sambil memelas menarik tangan ibunya.
"Ibu tidak bisa bantu kamu Din, ini sudah menyangkut nyawa seseorang. Ibu bisa apa, sekarang bersiaplah,karena Pak polisi sebentar lagi akan membawa kamu," ucap Bu Rania sambil menangis.
"Tidak pak polisi, tolong lepaskan saya pak Polisi, saat ini saya masih sakit, saya ingin istirahat di rumah dulu," pinta Dina sambil menakup kedua tangannya pada polisi tersebut.
"maaf Mbak, kami hanya menjalankan tugas," sahut polisi itu. kemudian ia membantu Diana untuk bangkit dari tempat tidurnya.
"Ayo Mbak ikut kami ,"ucap polisi itu sambil menuntun Diana untuk keluar dari ruangan.
"Ibu !Dina nggak mau dipenjara Bu," ucap Dina sambil menoleh ke arah Bu Rania.
Bu Rania tak bisa berkata-kata apa lagi, sambil membereskan barang-barang Dina, ia menangis.
"Bu, tolong Dina! Bu ,"ucap Dina ketika sampai di depan pintu.
Bu Rania tak menoleh sedikitpun pada Dina, sebenarnya ia tak tega melihat putrinya itu di penjara.
"Bu ! tolong Dina Bu, keluarkan Dina dari penjara, Bu! lakukan apa saja, yang penting Dina bisa keluar dari penjara!" pinta Dina sambil menyeret langkanya karena di giring oleh polisi. Mendengar hal itu, Bu Rania semakin menangis.
__ADS_1
"Ayo Mbak, Sekarang kita perginya" ucap polisi tersebut sambil menarik pelan tangan Dina yang kembali menoleh ke arah Bu Rania.
"Ibu!" tangis Dina lagi
Bu Rania tak mau menghiraukan panggilan Dina itu, ia terus menggemaskan barang-barangnya sambil menangis.
Setibanya di depan halaman parkir, Dina digiring dengan menggunakan mobil polisi.
***
Setibanya di kantor polisi Dina langsung dimintai keterangan.
Saat itu, ia bertemu dengan Rasyid dan beberapa orang kawanan Rasyid juga.
Di kantor polisi, keduanya tak berkutik. Mereka seperti orang yang tidak saling mengenal, saling membuang muka.
Bahkan Dina enggan memberitahu Rasyid, jika ia tengah mengandung anaknya.
Setelah selesai memberi keterangan kepada pihak kepolisian, Dina kembali dimasukkan ke dalam sel tahanan wanita.
Seorang sipir wanita membuka pintu jeruji besi.
"Di sini tempatmu!" ucap wanita itu dengan sinis.
Baru masuk ke ruangan itu saja, Dina sudah merasa mual . Segera saja ia menuju kamar mandi
berkali-kali Dina muntah di dalam kamar mandi penjara.
"Aduh, perutku sakit sekali ," keluh Dina sambil menyentuh bagian ulu hati nya.
setelah muntah, ia kembali ke ruangan tahanan nya.
Seorang sipir perempuan datang menghampiri jeruji besi di mana Dina di tempatkan.
"Makan siangmu!' ucap sipil itu dengan wajah yang sinis
Petugas sipir datang memberikan nasi dengan tempe dan sayur bening.
Dina menelan salivanya ketika melihat menu makan siangnya.
"Aku tak mau makanan ini, apa tidak bisa makan, makanan yang lain ?"tanya Dina
"Heh, Kau pikir ini hotel apa ?" sahut rekan Dina yang juga narapidana.
langsung saja Dina kehilangan selera makan meski saat itu ia lapar.
Selain makanan, tempat itu juga kotor dan tidak nyaman membuat Dina tidak betah. Dina pun menangis.
"Ibu, Dina ingin pulang,"ucapnya.
Setiap malam Dina menangis karena ia hanya tidur hanya beralas lantai dengan karpet yang dibawa oleh Bu Rania.
Bersama dulu gengs.
__ADS_1