Pernikahan Ke 3

Pernikahan Ke 3
Terkuak


__ADS_3

Masih belum diketahui di mana keberadaan Diana hingga saat ini. Satu-satunya yang menjadi saksi kunci atas kasus tersebut adalah Dina. Sementara Dina masih terbaring tak sadarkan diri di dalam sebuah ruangan.


Pencarian Diana masih terus dilakukan, sementara Angga terlihat begitu gelisah ia mencoba mengutak-atik handphone milik istrinya mencari jejak lain untuk menemukan Diana.


Angga tanpa sengaja melihat nomor Danu.


"Danu,"gumamnya.


Langsung saja ia menghubungi Danu.


"Halo assalamualaikum Diana," sapa Danu ramah.


"Danu, katakan di mana Diana?" tanya Angga dengan intonasi yang tinggi.


"Diana , kau tanya Diana,mana aku tahu. Sudah lama aku tidak pernah bertemu dengan Diana," ungkap Danu.


"Jangan bohong kau! Kau lah yang telah menculik Diana dan menganiaya Dina kan ?!" tanya Angga dengan nada suara yang melengking saking terbawa emosi


"Tunggu dulu, kau bilang menganiaya Dina dan menculik Diana? Hai bro, aku tak mungkin melakukan itu. Mereka itu temanku sejak kecil, aku juga kenal baik dengan ibunya tak mungkin aku menyakiti Dina dan Diana," sahut Danu dengan sedikit emosi pula.


"Kau jangan berbohong! Kau terlalu terobsesi dengan istriku kan?! hingga kau lakukan segala cara untuk memilikinya?!" tanya Angga.


"Apa yang kau Katakan memang ada benarnya, tapi aku tak pernah berniat sekalipun menyakiti Diana apalagi sampai menculiknya. Tadi pagi aku memang bertemu Dina dia menggunakan pakaian seperti Diana, aku sempat menghampirinya, dia bilang jika dia ingin menemui seseorang di tepi jalan pinggir kota," sahut Danu.


"Menemui seseorang," gumam Angga.


"Kau tahu ?siapa yang ditemui Diana tadi pagi ?" tanya Angga.


"Tidak tahu, tapi aku sempat melihat melalui kaca spion ku lihat seorang lelaki berpakaian serba hitam berbicara dengan Dina, mereka terlihat biasa saja tak ada yang mencurigakan," ucap Danu.


Angga coba mencerna penuturan Danu tersebut.


"Kau bilang kau berteman dengan Dina dan Diana sejak dari kecil kan ? Apa kau punya kecurigaan terhadap seseorang?" tanya Angga dengan sedikit melunak.


"Tidak ada, Diana itu orang yang baik, dia pasti tak punya musuh."


"Baiklah kalau begitu," sahut Angga.


"Tapi nanti aku akan berusaha membantumu, dulu Diana sering bercerita padaku, aku coba bertanya pada teman-temannya."


"Oke terima kasih, jika ada kabar cepat hubungi aku," ucap Angga.


Angga menutup telepon itu dengan perasaan yang gelisah. Angga hampir gila karena peristiwa ini.


"Diana dimana kamu, Sayang?"tanya Angga sambil menangis.


Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore, tapi belum ada satu titik terang pun terkecuali rekaman CCTV.


Pihak kepolisian masih mencari pemilik dari plat nomor polisi yang terekam saat menjemput Diana.


Setelah mendapat konfirmasi dari pihak kepolisian mereka kembali bingung karena kepemilikan plat itu sudah berganti nama.


Butuh waktu bagi polisi untuk menyusuri pemilik baru mobil itu


***


Bu Rania berada di samping Dina yang masih tak sadarkan diri.


hatinya resah memikirkan Diana yang kini belum juga ditemukan.


"Diana ke mana kamu, Nak batinnya" Bu Rania sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


Dina membuka matanya setelah hampir setengah hari ia tak sadarkan diri.


Dina menerjab-ngerjabkan matanya sambil melihat keadaan sekelilingnya.


"Alhamdulillah, Kamu sudah sadar nak ucap," Bu Rania.


"Ibu,"ucap Dina lirik Ia pun menangis.


"Dina, Apa yang sebenarnya terjadi?


Kamu tahu di mana Dimana Nak?!" tanya Bu Rania dengan mata yang berkaca-kaca.


mendengar pertanyaan itu Diana semakin menjadi menangis.


***


Angga dan keluarga mendatangi rumah sakit dengan terburu-buru setelah mendapat telepon dari Bu Rania.


Mereka menghampiri ruang perawatan Dina.


"Dina, katakan sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Angga yang langsung melabrak.


Mendengar pertanyaan itu, Dina kembali menangis.


"Katakan! di mana istriku?" tanya Angga dengan sedikit emosi.


" Angga, sabar Angga! Dina masih trauma," ucap Bu Wina.


"Masih trauma bagaimana ? bukannya dia penyebab Diana jadi diculik!" teriak Angga.


Dina menangis dengan tubuh dan bibir yang bergetar sementara air matanya semakin deras mengalir penuh penyesalan.


"Cepat katakan Dina! dimana Diana ?!"bentak Angga lagi.


"Aku tak ingin terjadi sesuatu pada istri dan anakku Ma! cepat katakan di mana Diana!"teriak Angga lagi.


"Diana hiks hiks Diana..."


Flashback


"Bagaimana caranya, agar bisa membawa Diana tanpa beresiko ?"


"Kita Jangan membawa Diana, tapi buatlah Diana sendiri yang datang.Agar tidak meninggal kecurigaan. Kalian pura-pura saja menyekapku dan meminta Diana datang untuk melepaskanku," ucap Dina sambil tersenyum menyeringai.


"Haha boleh juga idemu," sahut pria misterius itu.


"Baiklah kalau begitu ,aku punya tempat yang bagus untuk melaksanakan rencana itu,"ucap pria misterius itu.


"Kita mulai saja rencananya."


Dina membawa mobilnya menuju sebuah gudang, di pinggir kota mengikuti pria misterius itu.


Setibanya di salah satu gedung, orang suruhan pria itu mengikat Dina dengan menggunakan tali pada salah satu tiang yang ada di bangunan kosong tersebut.


Dina merasa santai ketika diikat karena mengira itu hanya sandiwara.


Namun, tidak demikian adanya


Setelah diikat Dina mulai di pukuli.


"Plak!" satu tamparan keras mendarat di wajah Dina.

__ADS_1


"Akh!"teriak Dina


"Apa yang kau lakukan?" tanya Dina sambil menangis.


yang kau suruh, iya aku lakukan.


"Tapi aku hanya_" belum pun selesai bicara, Dina kembali mendapat bogem mentah dari pria itu. Dina dipukuli hingga babak belur.


Pria itu kemudian menghubungi Diana dan mengancam Dina untuk memancing Diana .


"Kau juga harus mati, karena kau yang tahu rahasiaku," ucap pria misterius itu sambil menendang tubuh Dina yang tergeletak di atas lantai.


Setelah membuat Dina tidak berdaya pria itu menjemput sendiri Diana di butik milik Diana


flashback off.


Dina menangis tersedu-sedu sambil menyesal atas apa yang telah ia lakukan.Keadaannya yang seperti ini, karena ia telah berniat jahat pada saudaranya sendiri.


"Hiks hiks Maafkan aku ucap Diana," menangis dengan penuh penyesalan.


"Dasar biadab kau Dina, teganya kau menyakiti saudaramu sendiri hanya untuk ambisimu apa salah Diana padamu?" tanya Bu Rania sambil menangis.


Bu Rania semakin sok mendengar pengakuan Dina tersebut.


mendengar pengakuan Dina itu membuat Angga semakin geram, hampir saja iya menghajar Dina.


"Biar ku hajar kau! teganya kau pada istriku."


Angga hendak memukul Dina, Namun ditahan oleh Pak Wijaya dan Bu Wina.


"Sabar Ngga', tahan dulu emosi kamu bisa-bisa nanti kamu sendiri yang rugi," bujuk Bu Wina.


Dina semakin jadi menangis.


"Aku tak mau mendengar tangisan penyesalanmu itu ! baiknya kau katakan di mana sekarang Diana berada.Siapa laki-laki yang telah membawa Diana itu?!" tanya Angga dengan emosi yang meledak-ledak.


"Aku tak tahu di mana Diana di bawa. karena dia tidak memberitahu, Kemana dia akan membawa Diana."


Brengsek! itu semua gara-gara kamu, kamu tahu kamu,kau telah mencelakai istriku! jika terjadi sesuatu pada Diana, aku sendiri yang akan membunuhmu!" ancam Angga karena terlalu emosi.


Diana masih menangis, iya begitu syok, sekujur tubuhnya masih terasa sakit.


"Cepat katakan !siapa lelaki yang telah membawa Diana pergi?" tanya Angga.


bibir Dina bergetar hebat ketika hendak mengatakan siapa dalang dari drama penculikan Diana tersebut.


"Cepat katakan Din!" Angga kembali membentak, mereka semua yang berada di sana juga tak sabar mendengar penuturan dari Dina itu.


Hiks hiks hiks


"Yang menculik Diana adalah Rasyid, suami pertamanya."


Seketika semua orang membelalakkan mata mendengar keterangan Dina tersebut, bagaimana mungkin yang mereka ketahui Rasyid sudah meninggal 2 tahun yang lalu ketika mereka hendak menuju hotel.


"Apa kau sadar Din, Rasyid bukannya sudah meninggal?" tanya Bu Rania.


"Tidak Bu, sebenarnya Mas Rasyid tidak benar-benar meninggal, ia hanya pura-pura. ia terpaksa pura-pura meninggal agar ia tidak dipenjara karena kasus penipuan pengalihan nama perusahaan."


"Mas Rasyid seorang psikopat dia rela berbuat apa saja demi mencapai maksud dan tujuannya, bahkan dialah yang melakukan penembakan pada Mas Irfan dan penusukan pada Mas Angga."


mereka semua sok mendengar penuturan Dina tersebut.

__ADS_1


Apalagi Bu Rania ia hampir tak percaya Rasyid yang begitu baik, begitu sopan dan begitu ramah bisa melakukan perbuatan keji semacam itu.


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏 terimakasih.


__ADS_2