
Bu Wina menghampiri Diana ketika melihat menantunya itu pingsan.
"Diana! Diana! bangun Nak, ada apa Diana?" tanya Bu Wina.
Diana membuka mata kemudian menangis memeluk Bu Wina "Kayla diculik Mah hiks hiks."
"Diculik, bagaimana bisa?"
"Nggak tahu Ma, kami mengira Shakila yang diincar oleh penculik ternyata Shakila hanya pengalihan mereka mengincar Kayla," tutur Diana dengan sedih.
"Astagfirullah cucuku, bagaimana jika terjadi sesuatu pada cucu ku," tangis Bu Wina.
"Aku harus memberitahu kam hal ini pada Papa."
Bu Wina langsung menelpon Pak Wijaya memberitahukan kabar tersebut Ia pun langsung menelepon polisi.
Sementara polisi tetap mencari keberadaan Syakila. Angga sendiri mengamuk di hadapan para bodyguardnya.
"Bagaimana penculikan ini bisa terjadi, bukannya kalian ku suruh menjaga sekitar sini?" tanya Angga dengan emosi kepada para bodyguard-nya.
"Ampun Tuan, tapi kami memang tidak melihat tanda-tanda yang aneh kami tidak melihat Kayla keluar," ucap para bodyguard itu.
"Dasar tidak berguna! jika terjadi pada suatu pada putriku kasihan semua akan ku pecat!"
Danu ikut membantu pencarian. Namun setelah menyusuri setiap ruangan yang ada di sekolah tersebut satu per satu. Mereka tetap tak menujukan hasil .
Danu menghampiri Angga yang terlihat resah dan gelisah.
"Bagaimana, menurutmu Siapa yang melakukannya?"tanya Danu.
"Pasti Rasyid yang melakukannya! lihat saja apa yang akan ku lakukan padanya , jika sampai ia menculik putri ku."
"Aku sudah mengkonfirmasi pihak kepolisian, dan Rasyid masih dipenjara saat ini."
"Mungkin saja Ini semua perbuatan orang-orangnya."
"Entahlah, lebih baik sekarang kita bertenang dulu, kita tunggu mungkin saja si penculik akan meminta tebusan."
"Ayo sekarang kita berkumpul di rumah, siapa tahu penculiknya menelpon kita,"usul Danu.
Danu ikut pulang bersama Angga.
sementara pihak polisi masih mencari keberadaan Kayla.
***
Kayla membuka matanya saat itu ia berada di dalam mobil.
"Aku di mana?" tanya Kayla.
Kayla berusaha melepaskan ikatan tangannya.
"Tolong lepaskan aku! lepaskan aku!" teriak Kayla
Seorang pria, berada di samping Kayla saat itu.
"Hai bisa diam tidak?!" bentak pria itu.
"Aku mau dibawa ke mana Om hiks hiks?" tanya Kayla sambil menangis.
"Lihat saja, sebentar lagi kau pasti sampai."
"Tidak Om, aku mau pulang aku mau pulang Om! bunda dan ayah pasti khawatir!" tangis Kayla, gadis kecil itu menangis sambil meronta-ronta.
"Eh, Bisa diam tidak?! kau tenang saja, sebentar lagi mereka akan menjemputmu," ucap pria itu.
"Hiks hiks hiks, Bunda Ayah Kayla takut!"
Beberapa saat kemudian mereka tiba di sebuah gudang, Kayla digendong dengan keadaan terikat, pria itu kemudian dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Mau diapakan, anak kecil ini nyonya?" tanya pria itu
"letakkan saja dia diatas kursi"ucap seorang perempuan.
"Tante lepaskan ! aku Tante aku ! mau pulang, mau ketemu Bunda hiks hiks, aku mau pulang Tante!" teriak Kayla sambil menangis.
"Diam aku tak akan Melepaskanmu! sebelum mendapatkan apa yang aku mau!"
Seorang pria menghampiri wanita itu
"Bagaimana Sayang?"
"Beres, tinggal minta tebusan."
"Hahaha, Apa kau yakin ayahnya bisa menyiapkan uang sebanyak itu?"
"Aku tidak peduli,yang penting aku dapatkan uangnya dan kita bisa pergi dari sini!"
" Baiklah aku persiapkan rencananya."
***
Diana bersandar pada tubuh suaminya, dengan tubuh yang lemas, Diana tak berhenti menangis sambil berdoa.
"Bagaimana ini ya, Allah selamatkan lah Kayla," ucap Diana sambil menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Sudah berjam-jam Diana menangis hingga tubuhnya menjadi lemah.
"Bunda tenang ya bunda, insya Allah Kayla pasti bertemu."
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Kayla Yah hiks hiks."
"Insya Allah tidak, kita berdoa saja," bujuk Angga walaupun sebenarnya Iya juga mengkhawatirkan nasib Kayla.
Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal di handphone Diana.
Diana buru-buru meraih telepon tersebut
"Halo," sapa Diana
"Halo apa aku sedang bicara pada orang tua Kayla?" tanya seorang lelaki di dalam sambungan teleponnya.
"Rasyid! di mana putriku pasti kau yang telah menculiknya dariku?"
"Haha, Rasyid siapa nyonya?"
Diana bingung, jika bukan Rasyid itu Siapa yang menculik putrinya.
"Kudengar kau sedang kehilangan putrimu, jika putrimu ingin selamat,di jalan Cempaka nomor 30 ingat jika sediakan uang 10 miliar dan kau sendiri yang akan mengantarnya. jika kau sampai menelpon polisi maka Aku pastikan kau akan menyesal!" ancam pria itu dalam sambungan teleponnya.
"Dasar b******* kau, awas saja jika terjadi sesuatu pada putriku ! teriak Diana penuh emosi
"Takkan terjadi sesuatu pada putrimu, jika kau mengikuti semua kemauanku, aku tunggu kau paling lambat jam 03.00 sore. Ingat kau sendiri yang mengantarnya jangan pergi bersama siapapun termasuk suamimu!'
Hiks hiks hiks Diana hanya terdiam.
Telepon itu langsung terputus.
"Apa katanya sayang?" tanya Angga.
Mereka menyuruh aku untuk datang ke jalan Cempaka nomor 30. mereka juga mengancam akan membunuh Kayla jika aku melapor pada polisi,mereka juga meminta uang tebusan sebesar 10 miliar.
"Sepuluh miliar ?! besar sekali."
Hiks hiks Diana tak bisa berkata-kata lagi, tubuhnya begitu lemas, ia pun kembali terkulai tak sadarkan diri.
Angga berkompromi bersama keluarganya.
Setelah berunding dengan pak Wijaya, mere memutuskan untuk mengikuti ke inginan sang penculik. Lagi pula mereka tak tahu siapa yang telah menculik Kayla.
"Mereka juga meminta Diana sendiri untuk mengantarkan uang itu, padahal keadaan Diana saat ini begitu lemah, bagaimana ini?!" ucap Angga pada pak Wijaya.
"Gak apa Mas, biar aku saja yang pergi, aku bisa kok. Aku gak mau sampai terjadi sesuatu pada Kayla."
Angga meminta pendapat orang tuanya.
"Iya Mas, yang penting Kayla selamat, hiks hiks."
"Baiklah biar kami siapkan uangnya."
***
Pukul dua siang, Diana sudah bersiap untuk berangkat. Meski saat itu kondisinya dalam tidak fit.
Perjalanan butuh waktu satu jam, karena tempat yang mereka maksudkan adalah tempat yang sedikit jauh dari permukiman.
Mobil Diana tiba di kawasan yang yang sudah di tentukan oleh penculik.
Kawasan tersebut begitu sepi, tak ada kendaraan apapun yang terparkir di halaman gedung yang terbengkalai.
Diana panik ketika tak mendapati siapa pun disana.
"Hah, bagaimana ini?"tanya Diana sambil mengedar pandangannya.
Diana turun dari mobil.
"Hiks hiks, Kayla! Kayla! dimana kamu Nak?!"
Keadaan begitu sepi, hanya terdengar sahutan binatang-binatang di semak-semak yang terdengar lirih.
Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki.
Diana langsung menoleh ke arah belakang.
"Dimana Kayla?!" tanya Diana.
"Aku aku tunjukkan pada mu, tapi sebelum itu mana uang yang kami pinta?!"
"Ada di mobil, di mana Kayla?!"
Diana menoleh ke arah belakangnya ketika melihat ada suara langkah kaki beberapa orang.
Diana memperbesar pupil matanya.
"Kau?! Dimana putri ku?"tanya Diana dengan emosi.
"Tenanglah Dia ada di dalam gedung."
Diana hendak berlari menuju gedung.
"Tunggu! apa kau tak ingin tau kenapa aku menculik putri mu?"
__ADS_1
"Aku tidak perduli Naysila! yang penting aku ingin menyelamatkan putri ku, jika kau ingin uangnya ambillah di dalam mobil!"
Diana hendak berlari kembali.
"Tunggu!" Naysila memanggil Diana.
"Apa lagi?!"tanya Diana.
"Hahaha, putri mu itu aku ikat dengan gembok dia berada di lantai tiga gedung ini.Dan ingat, dalam sepuluh menit kita meledakkan gedung ini, jadi kau harus cepat! Haha haha."
"Biadab!" teriak Diana.
Ia pun langsung berlari membawa kunci gembok tersebut berlari menuju gedung lantai 3.
Diana tak perduli lagi dengan dirinya yang tengah mengandung, saat ini ia hanya perdulikan nasib Kayla.
Setiap langkahnya Diana selalu berdoa, meminta keselamatan untuk Kayla dirinya dan janin yang ada di kandungannya.
Diana meneteskan air matanya, langkahnya seperti berada di atas angin. Dalam waktu kurang dari lima menit ia tiba di gedung besar lantai tiga tersebut.
Entah apa yang membuatnya begitu cepat berlari.
"Kayla! "teriak Diana ketika melihat Kayla terikat.
Kayla menangis dengan mulut yang tertutup rapat karena di lakban.
Dengan cepat Diana menghampiri Kayla.
Ia langsung mencoba membuka gembok dengan napas yang terengah-engah. Di samping Kayla ada sebuah alarm pengingat penghitung waktu mundur.
"Tinggal lima menit lagi," guman Diana.
Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.
Cukuplah Allah sebagai pelindung dan hanya Allah tempat kami berlindung.
Diana berkali-kali berdoa, dan selalu yakin jika pertolongan hanya datang dari Allah.
Klik gembok terbuka
Diana langsung melepaskan tali pengikat di tangan Kayla dan dalam satu tarikan saja ikatan tersebut terlepas.
"Alhamdulillah. "
Kemudian ia menarik lakban yang menutupi mulut Kayla.
"Bunda!"tangis Kayla.
Kayla memeluk Diana. "Nanti saja Nak, sekarang kita harus pergi dari tempat ini!"
Diana langsung mengangkat tubuh Kayla dan menggendongnya. Diana terus berdoa setiap detik dan setiap langkah kakinya. Tubuhnya terasa ringan meski menggendong Kayla.
Keringat mengucur deras di tubuh Diana dengan jantung yang berdetak dengan kencang,tinggal menuruni anak tangga dan ia bisa keluar dari gedung tersebut.
Duar... suara ledakan terdengar di dalam gedung tersebut.
Diana semakin berlari kencang karena mendengar retakan gedung yang ingin roboh.
Tiba-tiba terdengar suara bangunan ambruk .
"Ya Allah Tolong selamatkan hamba!' Karena saat itu ia masih dekat dengan area gedung.
Kaki Diana tersandung batu. Seketika ia dan Kayla jatuh.
"Allah hu Akbar!"
Duar ....
Bangun itu roboh sebagian.
Dian menutup mata Kayla dan menutup matanya.
Ketika suara meredam, Diana kembali membuka matanya.
"Alhamdulillah ya Allah hiks" . Diana langsung bersujud,sambil tak henti mengucapkan mengangungkan nama Tuhannya.
"Allah hu Akbar!"
Kayla menangis dan langsung memeluk Diana.
"Bunda hiks!"
"Kayla, Alhamdulillah ya Allah hiks."
Beberapa saat kemudian Angga datang menghampiri mereka.
Betapa bahagianya Angga melihat anak dan istrinya dalam keadaan selamat.
"Bunda! Kayla!"Angga langsung memeluk keduanya.
"Alhamdulillah ya Allah. Puji syukur engkau telah memberi pertolongan kepada kami."
Ketiganya pun memeluk dengan haru.
Bersambung dulu ya gengs. Masih ada satu bab lagi.
__ADS_1