Pernikahan Ke 3

Pernikahan Ke 3
Vonis Hukuman


__ADS_3

Diana bersandar pada headboard tempat tidurnya sesekali ia menghapus air matanya.


Angga yang baru saja pulang dari kantor  tak sengaja melihat istrinya terlihat sedih.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Angga sambil duduk di samping Diana.


"Enggak kok, Mas,"  ucap Diana sambil menghapus bulir bening di pipinya.


Angga menggenggam erat tangan istrinya.


"Kamu ingin bertemu dengan saudara kamu ya?" tanya Angga.


Diana menatap suaminya dengan tatapan berembun.


"Apa boleh Mas, aku membesuk Dina,"ucapnya dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca.


"Iya sayang, besok kita akan besuk Dina. Maafkan aku karena telah melarangmu bertemu dengan saudaramu. Aku tidak tahu rasanya menjadi kamu, karena aku tak pernah memiliki saudara,"ucap Angga.


"Yang namanya saudara, tetaplah bersaudara  Mas. mungkin Dina pernah melakukan kesalahan, tapi bukan berarti kita terus menghukumnya dan tak peduli padanya. Jika diberi kesempatan,mungkin saja Dina akan berubah" ucap Diana.


"Iya sayang, kamu memang berhati lembut dan tulus, tak sama seperti aku. Sudah kamu jangan sedih ya ,besok kita akan jenguk Dina," ucap Angga sambil menghapus bulir bening yang menetes di pipi Diana.


Diana tersenyum kemudian menghambur memeluk suaminya "Terima kasih Mas, atas pengertiannya."


"Sama-sama sayang."


Keesokan harinya Dina dan Angga bermaksud menemui Dina, mereka juga menghubungi Bu Rania untuk pergi bersama.


Setelah menelpon Bu Rania, mereka pun berjanji menemui Diana di kantor polisi karena Dina menjadi tahanan titipan.


***


Karena sudah perjanjian akan bertemu, Bu Rania bersiap untuk memesan taksi online.


Sebuah mobil datang menghampiri Bu Rania. Setelah memarkirkan mobilnya pria tersebut keluar dari mobil dan menghampiri bu Rania.


"Assalamualaikum Bu," ucap Danu.


"Waalaikumsalam Nak, Danu."


"Ibu mau pergi?"tanya Danu.


"Iya Nak, ibu mau ke kantor Polisi untuk melihat keadaan Dina."


"Ayo Bu, kalau begitu biar saya antar, saya juga sebenarnya datang kemari, untuk menanyakan kabar Dina," ucap Danu.


"Kebetulan sekali, ibu baru mau pesan ojek online."


Danu menuntun Bu Rania kemudian membukakan mobil untuk wanita paruh baya itu. Setelah itu mereka masuk dan langsung menuju kantor polisi di mana Dina ditahan.


Ketika tiba di kantor polisi mobil mereka berpapasan dengan mobil Angga.


Mereka pun turun dari mobil dengan saat yang hampir bersamaan.


"Danu kamu ikut ke sini?" tanya Diana ketika mereka saling berhadapan.

__ADS_1


"Iya aku ingin tahu keadaan Dina."


Setelah berbasa-basi sebentar, mereka pun langsung menghubungi pihak terkait untuk bisa bertemu dengan Dina.


***


Dina  meringkuk berbaring di atas lantai dingin yang hanya beralaskan karpet.


Wajahnya pucat dengan tubuh yang terlihat masih semakin kurus dan mata yang berkantung.


"Dina, ada yang ingin bertemu denganmu," ucap kepala sipil sambil membukakan gembok penjara.


Meski merasa pusing, Dina pun berdiri dan mengikuti ke mana arah polisi itu membawanya.


Dari kejauhan Dina sudah berurai air mata ketika melihat saudara kembarnya dan ibunya sedang berada di ruang tunggu.


"Ibu! hiks hiks Diana! Hiks hiks."


Tubuh Dina yang kurus dan lemah itu berguncang karena menangis.


Diana dan Bu Rania langsung menoleh ke arah Dina yang berjalan mendekati mereka.


 "Dina, Ya Allah Nak. Kenapa kamu kurus seperti ini?" tanya Bu Rania.


"Ibu Hiks."


Tanpa bisa menjawab, Dina langsung memeluk bu Rania dan menangis hingga cegukan.


"Dina hiks,"tangis Bu Rania sambil memeluk putrinya semakin erat.


Bu Rania pun tak dapat membendung air matanya begitupun Diana.


"Iya Nak, nanti ibu cari obat, agar perasaan mual-mual kamu bisa berkurang," ucap bu Rania.


Beberapa saat mereka pun mengurai pelukan.


Dina langsung menoleh ke arah Diana yang menangis melihat nya.


"Hiks hiks Diana Maafkan aku," tangis  Dina pecah ketika dia memeluk saudara kembarnya itu.


Kedua bersaudara kembar itu pun menangis semakin haru.


"Iya Dina, Bagaimana keadaan kamu?" tanya Diana.


Hatinya begitu sakit melihat saudara kembarnya itu, terlihat tidak terurus pucat dan hanya sendiri berada dalam penjara yang dingin dan pengap.


"Maafkan aku Dina, ini semua karena aku  selalu merasa  iri padamu," ucap Dina dengan penuh penyesalannya.


"Iya Dina, Aku sudah memaafkan kamu. Sekarang waktunya untuk memperbaiki diri. Kami di sini ada, untuk mendukung kamu," ucap Diana sambil mengusap punggung Dina.


Dina semakin haru dan semakin kuat memeluk saudara kembar yaitu.


"Iya Dina, sekarang aku sadar jika aku salah. Semoga ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki diri," ucap Dina.


" Iya Dina, Tuhan maha pengampun dan pemaaf.  Jika benar kau menyesalinya, insya Allah kau akan temukan jalan kembali  dan terbaik dalam hidupmu," ucap Diana.

__ADS_1


"Iya Diana, Semoga Allah bisa memaafkan segala kesalahanku."


"Amin ya rabbal alamin," ucap mereka semua secara serempak.


"Setelah beberapa saat, Dina harus kembali, mereka pun memutuskan untuk pulang."


Setelah bertemu dan meminta maaf dengan saudaranya. Dina menjadi lebih tenang, Ia pun bisa tidur dengan nyaman meski hanya beralas tikar permadani.


Dina harus menjalani hari-harinya di dalam penjara dalam keadaan mengandung, perutnya pun semakin hari semakin besar.


Tak hanya itu, Dina harus terus menjalani proses pemeriksaan hingga persidangan.


Saat persidangan, ia selalu didampingi oleh ibu dan saudara kembarnya.


Setelah beberapa tahapan pemeriksaan, kini tibalah Dina di sidang pertamanya saat itu perut Dimas semakin besar begitupun Diana.


Usia kandungan mereka sama-sama menginjak 7 bulanan.


Diana baru saja menggelar selamatan posisi 7 bulanan.


Selain pembacaan doa selamat untuk dirinya, mereka pun membaca doa untuk keselamatan kandungan Dina yang berada dalam penjara.


Setelah 2 bulan menjalani persidangan, kini tibalah waktunya penetapan hukum sanksi pidana untuk Dina.


Dalam keadaan lemah dan perutnya buncit, Dina duduk di kursi pesakitan mendengar putusan hakim ketua tentang vonis yang akan ia terima.


"Dengan demikian setelah melewati proses penyidikan dan pembuktian,kami menyatakan jika saudari Dina Mariska dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 4 tahun penjara dipotong masa tahanan."


Tok tok tok hakim mengetuk palu.


Seketika Dina menangis mendengar vonis yang harus ia terima.


Setelah selesai persidangan Bu Rania menghampiri Dina yang masih menangis di kursi pesakitan.


"Sepertinya aku akan melahirkan di penjara Bu," tangis Dina.


"Dina kamu sabar saja, ibu bersedia menjaga dan merawat anak kamu selama kamu menjalani masa hukuman,"ucap Rania.


"Iya Dina kamu sabar ya,ini untuk kesempatan bagi kamu untuk berubah, perbanyak ibadah dan memohon pertolongan dari Allah agar proses  melahirkan kamu dipermudah," ucap Diana.


"Iya terima kasih." meski merasa sedih karena putusan yang harus ia terima. Dina masih bersyukur karena punya saudara dan orang tua yang selalu mendukung dan menunjukkan jalan yang baik kepadanya.


Seorang polisi menghampiri Dina ayo kembali ke tahanan polisi tersebut.


Dina menatap wajah Bu Rania dengan sendu, begitupun bu Rania yang langsung menangis melihat anaknya yang harus dibawa ke dalam penjara dalam keadaan hamil besar.


"Dina Hiks hiks," ucap Rania lirih.


Diana menghampiri Bunda Rania kemudian memeluknya


"Sabar bu kita beli dukungan Dina dari jauh, jika ibu menangis Dina juga akan merasa sedih, biar saja dia menjalani hukuman di dunia ini, daripada dia harus menanggungnya di akhirat nanti," ucap Dina sambil memeluk ibunya.


Bersambung dulu gengs, sambil menunggu author up ada rekomendasi karya keren nih.


Karya otor Erni Sari

__ADS_1




__ADS_2