
Diana mengetuk-ngetuk meja yang sambil memikirkan Siapa kira-kira orang yang telah mengirimi nya buket bunga dengan ancaman tersebut.
"Siapa ya,"guman Diana.
"Selama ini aku hanya dekat seorang pria, itu pun hanya Danu."
Diana coba untuk mengabaikannya namun ada kekhawatiran terhadap Angga.
'Aku hanya khawatir yang terjadi Mas Irfan dan Mas Raziq ada kaitannya dengan ini dan itu berarti Mas Angga berada dalam bahaya,' batin Diana.
'Apa aku beritahu pada Mas Angga atau pada mertuaku.'
'Aku dan Mas Angga memang sebentar lagi berpisah, aku takut sebelum kami berpisah, orang tersebut lebih dulu nekat menghabisi Mas Angga.
Diana semakin gelisah, berkali-kali Ia coba membuang nafas kasarnya rasanya ia ingin memberitahukan hal tersebut pada mertuanya . Namun ia takut Bu Wina menjadi khawatir.
"Apa ini kerjaan orang iseng ya, " guman Diana lagi.
"Ah sudahlah mungkin ini orang iseng saja."
Diana pun membuka laptopnya, kemudian mengerjakan pekerjaan desain gaun pengantin untuk Naysila.
Sebuah pesan masuk di handphonenya.
Diana membuka pesan dari nomor yang ia kenal sama sekali, dan kaget ketika melihat tulisan yang ada di pesan tersebut.
📩Aku mencintaimu Diana dan sampai kapanpun kan pernah
Melepaskanmu .Tunggulah Aku Pasti kembali.
Diana membelalakkan bola matanya.
"Apalagi sih ini?"
Diana kembali mengambil nafas panjang.
"Apa aku harus melaporkan kejadian ini pada polisi?" Diana bermonolog.
Tut Tut sebuah pesan kembang masuk .
📩Jangan laporkan hal ini pada siapapun, jika tidak kau akan menyesal. Kau hanya punya dua pilihan bercerai dengan suamimu yang sekarang,atau suamimu akan mati seperti sebelumnya.
Diana merasakan sesak seketika.
"Apa ? Ternyata orang yang mengancam ku, adalah orang yang membuat mas Irfan celaka. Apa dia juga penyebab meninggalnya mas Rasyid."
Karena masalah itu, Diana merasa sedikit terganggu. Berkali-kali ia menghela napas panjangnya karena berkali kali juga ia salah memotong pola.
'Apa yang harus aku lakukan?'
Diana menatap ke arah lurus dengan tatapan hampa.
"Apa aku minta pada mas Angga untuk menceraikan ku saja, aku tak ingin karena aku, mas Irfan jadi celaka." Diana bermonolog.
"Lagi pula cepat atau lambat sesuai kesepakatan, kami juga akan berpisah."
Diana meraih handphonenya.
Kemudian menghubungi seseorang.
"Halo," sapa Angga.
"Halo mas, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Diana gugup.
"Iya Din, nanti aku jemput kamu untuk makan siang."
"Iya Mas."
Diana menutup teleponnya.
__ADS_1
Jam makan siang sebentar lagi.Ia kemudian menuju etalase yang ada di ruangannya.
Diana meraih gantungan jas yang ia jahit secara khusus untuk Angga.
"Mas Angga pasti akan semakin tampan dengan jas ini," ucap Diana. Tak terasa bulir bening menetes di pipinya.
"Semoga Naysila bisa menjadi istri yang baik untuk mas Angga," tutur Diana dengan air mata yang menetes di pipi mulusnya.
Sambil menunggu Angga, Diana merapikan ruang kerjanya.
Beberapa saat kemudian Angga datang menghampiri Diana.
Angga masuk ke dalam butik tersebut tanpa permisi. Ia nyelonong begitu saja dihadapan kedua karyawan Diana.
Karena mereka sudah tahu, jika Angga suami dari bosnya. Mereka membiarkan Angga masuk dengan bebas.
Diana kaget karena mendengar suara pintu di dorong.
Angga langsung menghampiri Diana.
"Ada apa, katanya kau ingin bicara dengan ku ?" tanya Angga.
"Iya Mas, aku ingin bicara sekaligus ingin memperlihatkan mu sesuatu."
Angga mengedarkan pandangannya, saat itu tak sengaja ia melihat buket mawar putih yang masih begitu segar terletak begitu saja di meja Diana.
Diana memang sengaja tak membuang buket tersebut, karena ingin mencari tahu siapa pengirim bunga itu.
"Bunga dari siapa itu Din?" tanya Angga bernada cemburu.
Ah, ehm, Diana gugup.
"Gak tau Mas, gak ada pengirimannya."
Angga mendelik.Diana segera menghampiri Angga dengan membawa jas.
Kemudian ia memakaikan jas tersebut kepada Angga.
"Bagus sekali jas nya Din," ucap Angga dengan haru.
"Iya Mas, aku selalu memberikan yang terbaik untuk mu, karena itulah aku desain spesial jas ini untuk kamu. Kamu akan terlihat semakin tampan dengan jas ini Mas," ucap Diana sambil menatap Angga dengan tatapan berembun.
Kedua netra mereka beradu selama beberapa saat, Diana yang tak kuasa di tatap oleh Angga kemudian menundukkan wajahnya.
Angga mengangkat dagu Diana dengan satu telunjuknya, hingga wajah Diana berada tepat di hadapannya.
Mau tak mau Diana kembali menatap wajah Angga.
Secara perlahan Angga mendekatkan bibirnya ke bibir Diana. Diana hanya mampu memejamkan matanya. Sedetik kemudian ia merasakan sebuah kehangatan yang begitu lembut dari bibir kenyal Angga.
Angga membuka mulut Diana dengan mendorong lidahnya. Diana pun membuka mulutnya dan membiarkan Angga mengeksplorasi bagian dalam mulutnya.
Jantung Diana berdetak kencang, nafasnya begitu memburu. Ada hasrat yang mulai ia rasakan saat itu.
Karena ini adalah ciuman pertamanya.
Memang mustahil jika seseorang yang sudah sering berhubungan suami belum pernah merasakan ciuman itu. Tapi begitulah Diana dan Angga.
Angga menyesap dengan lembut bibir Diana sembari memainkan lidahnya.
Ciuman itu semakin hangat bahkan semakin panas
Tok tok tok, suara gedoran pintu menghentikan gerakan mereka.
Diana jadi salah tingkah Ia merasa bibir seperti menebal dan mati rasa karena ******* Angga.
Pipi Diana memerah dengan semu.
Untuk mengalihkan perasaan malunya itu, Diana segera menyuruh masuk karyawannya .
__ADS_1
"Masuk saja!" sahut Diana.
Mira masuk dengan membawa sebuah nota tanda terima barang.
"Mbak, saya butuh tanda tangan!"
"Oh Iya."
Diana kemudian menghampiri Mira dan menandatangani surat tersebut.
Setelah selesai Mira kembali ke luar dari ruangan tersebut.
"Ayo Mas, katanya mau makan siang bareng."
Diana membungkus jas milik Angga kemudian membawanya.
Mereka keluar dari butik tersebut menuju mobil. Angga mengemudi mobilnya menuju sebuah restoran.
Setibanya di restoran, Angga memilih tempat duduk di pojokan.
Kebetulan saat itu restoran tengah sepi pengunjung.
"Kamu tadi mau ngomong apa Din ?" tanya Angga.
"Nanti saja mas setelah makan agar lebih enak bicaranya."
Selesai makan siangn, barulah Diana bermaksud untuk menyampaikan maksudnya.
"Kamu mau ngomong apa tadi ?"tanya Angga.
Diana tertunduk beberapa saat.
"Din, kamu mau ngomong apa? Sepertinya serius ?"
Diana menatap wajah Angga beberapa saat.
"Mas, aku ingin proses perceraian kita di percepat," ucap Diana lirih.
Seketika raut wajah Angga berubah jadi tegang.
"Apa?! Tapi kenapa?!"
"Gak kenapa-kenapa Mas, aku hanya ingin masalah kita secepatnya selesai. Lagi pula cepat atau lambat hal itu juga akan terjadi kan ?" Kilah Diana.
Angga mendengus kesal.
"Kamu kenapa Din, perasaan beberapa hari ini kita baik-baik saja. Bukanya itu semua kamu yang memberi usul."
Diana terdiam dan tak tahu harus berkata apa.
"Kenapa Diam?! Pasti karena Danu kan ?!" tanya Angga sambil menepak meja.
"Mas ini gak ada hubungannya dengan Danu!"
"Lalu siapa? Atau kamu sudah punya kekasih lain? Seseorang yang mengirimi kamu bunga itu ! Iya kan?!" tanya Angga dengan membentak.
"Mas bukan itu masalahnya," ucap Diana coba menenangkan Angga.
"Lalu apa ?!"
Diana bergeming.
"Kau tak bisa menjawabkan? ! "
Diana tertunduk sambil meneteskan air matanya.
Angga mengambil napas panjang. "Baiklah jika itu maumu, akan ku jatuhi kau talak saat ini juga! Jangan pernah kau pulang ke rumah lagi!"
Seketika bola mata Diana memerah. Diana menatap kepergian Angga dengan linangan air mata.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja .