Pernikahan Ke 3

Pernikahan Ke 3
Dua Putri


__ADS_3

Diana terbangun dari tidurnya karena merasakan perutnya yang begitu sakit.


"Astagfirullah hal Azim, aduh perutku kenapa ya," gumannya.


Diana mengangkat tubuhnya kemudian bersandar pada headboard tempat tidur.


"Aduh sakit sekali!" rintih Diana dengan lirih.


Suara rintihan itu terdengar sayup-sayup sampai di telinga Angga, Ia pun tersadar.


"Sayang! Kamu kenapa?" tanya Angga yang merasa khawatir.


"Perutku tiba-tiba sakit Mas," ucap Diana sambil menggigit bibir bagian bawahnya.


"Mungkin kamu akan melahirkan, aku bersiap dulu."


Angga langsung keluar dari pintu kamarnya kemudian menggedor pintu kamar orang tuanya.


Gedoran pintu terdengar di jam 02.00 pagi. Bu Wina melirik jam dinding yang ada di hadapannya.


"Siapa sih yang menggedor pintu masih jam 02.00 pagi juga?"ucap Vina


Ia langsung bergegas membukakan pintu


"Angga Kenapa kamu menggedor pintu jam 02.00 pagi?" tanya Bu Wina


"Diana Bu, sepertinya dia akan melahirkan. Angga tidak tahu bagaimana."


"Oh melahirkan, Ya sudah kamu siap-siap. Ibu ganti pakaian dulu," kita ke rumah sakit sekarang ucap Bu Wina.


Angga membereskan pakaian Diana sesekali ia melirik ke arah istrinya yang merintih menahan sakit."Sebentar ya sayang, sebentar lagi kita akan ke rumah sakit,"ucap Angga.


Setelah siap mereka pun membawa Diana menuju rumah sakit terdekat.


Diana berada di ruang persalinan.  Di sampingnya ada seorang suami yang terus menggenggam erat tangannya.


Diana mengatur nafasnya karena merasakan perutnya yang begitu sakit..


Diana meringis sambil membalik-balikkan tubuhnya. Berkali-kali  ia istighfar, karena menahan rasa sakit.


 Keringat mengucur deras di wajah dan tubuh Diana, dengan sabar Angga mengambil tisu dan membersihkan keringat itu.


"Akh sakit sekali!" Diana mengeluh kesakitan.


Angga meraih tangan istrinya


"Sabar ya Sayang, ingat pahala yang akan kau dapatkan,"  ucap Angga sambil mencium punggung tangan istrinya.


 Diana tersenyum di balik rasa sakitnya 


"Iya Mas."


Setelah 3 jam menahan rasa sakit yang luar biasa,  akhirnya kini saat persalinan pun tiba.


Para perawat bersiap di posisi masing-masing.


Satu orang memberikan instruksi pada Diana.


"Ayo bu tarik napas, hembusan dan dorong !"


Diana mengatur nafas kemudian menghembuskannya secara perlahan ia mengikuti setiap instruksi yang diberikan oleh petugas medis


Diana menarik nafas kemudian mendorongnya dengan kuat hingga wajahnya memerah dan keringat keluar sebesar butir jagung membasahi wajahnya.


"Akh!" Diana menahan teriakan sambil menggenggam tangan suaminya.


Oek oek 


Tangis bayi pecah di ruangan tersebut.


"Alhamdulillah,"

__ADS_1


Ucapan Bu Wina  ketika mendengar suara tangis bayi terdengar di ruangan persalinan.


***


"Selamat ya Pak, bayi Anda perempuan," ucap bidan tersebut


Angga tersenyum sambil mencium pipi istrinya.


"Terima kasih sayang atas perjuanganmu telah melahirkan Putri kita," Angga langsung memeluk Diana yang masih lelah dan mengatur nafas tersebut.


"Ya Mas, segeralah azan kan bayi itu," ucap Diana.


Setelah di bersihkan Angga pun meng Iqamah putrinya itu.


Setelah selesai Diana dibawa ke ruang perawatan setelah persalinan.


Diana menggendong bayi perempuannya,sementara Angga memeluknya dari Diana dari belakang.


"Wajahnya cantik seperti kamu," bisik Angga.


"Iya Mas, Alhamdulillah anak kita sehat," sahut Diana.


***


Bu Rania mondar mandir di depan kamar bersalin, setengah jam yang lalu ia mendapatkan kabar tentang persalinan Dina.


Dina terbaring dengan keringat yang mengucur sekujur tubuhnya.


"Akh !"


Hua Hua sambil mengatur nafasnya.


"Tenang ya Bu, tarik nafas kemudian hembuskan secara perlahan."


Wajah Dina memerah ketika dia coba menarik nafas kemudian menghembuskannya dengan perlahan.


"Lagi Bu, tarik nafas hembuskan dengan perlahan dan dorong!"


Huah ,huah


Keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya yang merasakan sakit yang begitu sakit, ketika hendak melahirkan.


Ketika melewati semua itu, tak ada suami ataupun orang yang menemaninya. ia sendiri hanya dikelilingi para perawat dan petugas medis.


"Ibu maafkan Dina,"ucap Dina sambil terus menangis mengingat betapa menderitanya sang ibu, ketika melahirkannya.


"Ayo bu mulai lagi, tarik nafas perlahan kemudian dorong dengan kuat."


Hiks hiks hiks Dina menangis sambil menggenggam pegangan tempat tidur. 


Dengan nafas yang terengah-engah ia berusaha menahan rasa sakit ketika hendak melahirkan.


"Sekali lagi Bu, ikuti instruksi saya tarik nafas hembuskan dengan perlahan kemudian dorong!"


Dina menarik nafasnya dan mengikuti instruksi bidan yang kini menangani persalinannya.


"Akh!"


Seperti berada di ujung kematian Dina merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu dalam melahirkan putri-putrinya.


Setelah perjuangan yang berat, Dina pun melahirkan seorang anak.


Oek oek suara tangis bayi lantang terdengar di ruangan tersebut.


Dina menarik nafas panjang, kemudian ia merebahkan tubuhnya secara perlahan sambil menangis.


Perasaan lega ketika Allah mengangkat rasa sakitnya ketika melahirkan.


Berkali-kali Dina mengucap syukur dan memohon ampunan karena ia pernah berniat untuk menghabisi saudaranya itu.


Jika saja ia tahu rasanya mengandung dan melahirkan, ia takkan pernah berbuat jahat pada orang lain hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

__ADS_1


Dina merasakan penyesalan yang begitu dalam apa yang ia dapatkan saat ini adalah buah dari perbuatannya.


"Selamat Bu, bayi anda perempuan,"ucap Suster itu.


Setelah selesai dibersihkan ,suster menyerahkan bayi itu kepada Dina.


Dina menangis melihat wajah putrinya yang tak berdosa, yang lebih membuatnya perasaan teriris karena kesalahan dirinyalah, bayi  itu harus terlahir tanpa ayah dan tanpa nasab.


***


Setelah dirapikan, bayi itu diberi kepada bu Rania. 


"Lihatlah anak kamu cantik sekali," ucap ibu Rania sambil mencium cium bayi perempuan itu.


Bukannya menjawab ucapan ibunya Dina terus saja menangis.


"Aku tak mau dipisahkan dari anakku Bu," ucap Dina.


Bu Rania mendekati Dina


"Sabar saja Nak, tak lama lagi hukuman mu akan  berakhir, gendonglah putrimu ini,"ucapannya sambil menyodorkan bayi itu kepada adik Dina.


Dina memeluk erat putrinya menciumnya Ia pun menangis


"Maafkan ibu Nak, karena ibu kamu harus menanggung aib yang besar selain nasabmu yang tidak jelas kamu juga akan mengandung hinaan karena ibumu seorang narapidana, Hiks hiks." Tangisan Dina begitu pilih dengan penuh penyesalan.


Mendengar hal itu tak hanya Bu Rania, Danu yang menemani Bu Rania juga ikut menghentikan air mata.


"Nu, tolong kamu mau gak membantu aku?"tanya Dina.


"Bantu apa Din?"


"Nu tolong iqamahkan anakku,"ucap Dina dengan suara yang lirih karena menahan tangis.


"Tentu saja Din." Danu langsung meraih bayi tersebut.


Setelah di ikamahkan Danu kembali menyodorkan bayi itu ke Dina.


Dina tidur di samping putrinya sesekali ia terbangun untuk mencium putrinya dan mendekapnya.


Naluri seorang ibu muncul di hati Dina rasanya berat untuk berpisah dengan putrinya itu.


Dina kembali menangis jika mengingat bahwa esok ia harus berpisah dengan anaknya dan harus menjalani hari-harinya di dalam penjara sebagai tahanan.


Seperti biasanya, ruang perawatan Dina dijaga ketat oleh petugas kepolisian.  Saat ini Bu Rania tengah membereskan keperluan bayi Dina yang akan mereka bawa menuju rumah.


Tak hanya Bu Rania, Danu sebagai sahabat juga mendukung nya  iia selalu berada di samping Dina menguatkan Dina.


"Aku sedih Nu jika harus berpisah dengan anakku hiks, setelah mengandung selama 9 bulan dengan susah payah dan melahirkannya kini aku merasakan bagaimana rasanya jadi seorang ibu. Rasanya sulit bagiku untuk berpisah jauh dari putriku," ucap Dina sambil menangis dari Isak.


"Iya Din aku mengerti, tapi ya mau bagaimana lagi. Sekarang kau Jangan pikirkan anakmu, dia pasti aman bersama ibumu. Jika kau sedih, anakmu juga pasti akan sedih, Kau harus kuat menjalani semua ini," nasehat Danu.


"Terima kasih ya Nu, Meski aku seorang narapidana sekalipun, tapi kau tetap mau berteman denganku, jarang sekali ada orang tulus sepertimu," ucap Dina.


"Iya Din. Begitulah harusnya seorang teman,harus saling mendukung dan men support dalam kebaikan," ucap Danu.


"Iya Nu, terima kasih sekali lagi."


Seorang petugas polisi datang menghampiri Dina.


"Ayo sudah saatnya kamu di bawa ke sel tahanan kembali," ucap polisi itu.


Dina mencium lekat pipi putrinya dengan air mata yang mengalir deras.


"Semoga kamu jadi anak Sholeha yang membanggakan Nak, meski kamu terlahir dari rahim seorang narapidana,hiks hiks hiks," ucap Dina dengan deraian air mata.


Setelah dirasa cukup, Dina pun menyerahkan putrinya pada Bu Rania meski hatinya hancur.


Hiks hiks tangis Dina sepanjang perjalanan menuju penjara.


Bersambung dulu gengs.

__ADS_1


__ADS_2