Pernikahan Ke 3

Pernikahan Ke 3
Bukit Seribu Tangkai Mawar


__ADS_3

Sore harinya Pak Wijaya dan Angga bertemu dirumahnya Diana.


Kedatangan Pak Wijaya untuk melihat menantunya yang sedang hamil muda.


Setelah menemui Diana, mereka melanjutkan rencana mereka yakini menemui keluarga pak Bramono untuk membatalkan pernikahan Angga dan Naysila secara resmi.


Mereka juga membawa Diana untuk ikut bersama mereka.


Setibanya di rumah Pak Bramono, mereka disambut baik oleh tuan rumah.


Setelah berbasa-basi sebentar, Pak Wijaya langsung mengatakan maksud kedatangannya ke rumah itu.


"Begini Pak, tanpa mengurangi rasa hormat pada keluarga Bapak dan Ibu, Saya bermaksud untuk membatalkan pernikahan Angga dan Naysila yang sebelumnya kita rencanakan. "


Pak Bramono dan Bu Jenny saling memandang.


" Tidak bisa seperti itu Pak, pernikahan tidak bisa dibatalkan tanpa alasan yang kurang jelas. Kami sekeluarga bisa malu dan bisa menuntut bapak," Ucap pak Bramono dengan sedikit emosi.


"Siapa bilang saya membatalkan pernikahan ini tanpa alasan yang jelas. Alasan yang saya berikan sangat mendasar," sahut pak Wijaya.


pak Bramono dan nyonya jennie saling memandang, mereka pun berkompromi sejenak.


Begitupun Naysila, sebenarnya ia merasa sungkan karena telah bertemu dengan Pak Wijaya sebelumnya .


"Alasan apa yang bapak maksudkan?"tanya pak Bharmono.


Diana dan Angga hanya jadi penyimak. Angga terus merangkul istrinya, menujukan kasih sayangnya terhadap Diana.


"Selain karena menantu saya sedang hamil, saya juga memiliki alasan yang jelas untuk memutuskan secara sepihak pembatalan pernikahan ini," Ucap pak Wijaya sambil menyerahkan bukti rekaman CCTV kepada Pak Bramono.


Mereka semua melihat benda yang di letakkan oleh pak Wijaya di atas meja.


Angga dan Bu Wina heran, sebelumnya pak Wijaya tak pernah memberitahu kepada mereka tentang hardisk CCTV tersebut.


"Apa ini Pak?" tanya Pak Bramono.


"Anda lihat sendiri saja."


Jantung Naysila berdetak dengan terkencang,ia semakin menunduk kan kepalanya, sesuatu yang begitu ia khawatirkan. .


Pak Pramono meraih hardisk yang diletakkan di meja ruang tamu .


"Baiklah Pak, karena saya sudah mengungkapkan maksud hati saya , kalau begitu, saya sekeluarga permisi untuk pulang," ucap pak Wijaya.


Naysila melihat hardisk tersebut, ia sendiri penasaran. Sebenarnya rekaman apa yang ada di alat hardisk tersebut.


Naysila khawatir jika rekaman yang berada ditangan Tio dan Simon tersebar itu akan membuatnya begitu malu, padahal Ia sudah membayar Simon dengan menjual tubuhnya pada pak tua yang tadi malam di kencannya.


Tanpa banyak bicara, Angga sekeluarga keluar dari rumah orang tua Naysila.


Naysila menatap dengan tajam kearah Diana, ia begitu membenci wanita itu.


Setelah urusannya dengan keluarga Bramono selesai, pak Wijaya dan Bu Wina langsung pulang ke rumah mereka.

__ADS_1


****


Dina berada di depan cermin rias Ia berdandan seperti Diana berdandan.


Dina terobsesi untuk menggantikan kembarannya itu.


Jadi, ia belajar bagaimana cara agar wajahnya semakin mirip dengan saudara kembarnya itu.


"Lihat saja, Mas Angga juga akan jatuh cinta padaku jika dandanan ku seperti ini. Setelah Diana pergi, maka dengan mudah aku mendapatkan hatinya mas Angga,' batin Dina ia pun tersenyum menyeringai.


Setelah dari rumah Pak Bramono, Pak Wijaya dan Bu Wina kembali ke rumah mereka, sementara Angga dan Diana kembali pulang ke rumah Bu Rania.


Ketika sedang menyetir,Angga mendapat telepon dari seseorang.


"Halo," sapa Angga.


"Iya, kirim saja di alamat yang aku kirimkan padamu kemarin," ucap Angga.


Kemudian Angga memutuskan sambungan teleponnya.


Angga melirik Diana kemudian mengusap perutnya sambil tersenyum..


"Ih Mas Kenapa sih senyum-senyum sendiri aneh deh."


"Ada deh, nanti juga kamu tau."


Angga kembali tersenyum sambil mengemudikan mobilnya, tak ada pembicaraan apapun diantara mereka di dalam mobil itu setelah itu.


Setengah jam kemudian, mobil Angga tiba rumah Diana, Ia memarkirkan mobilnya dengan rapi .


Rangkain bunga tersebut terdiri bunga mawar berwarna-warni, di atasnya juga terdapat lampu neon yang berbentuk love yang di bagian tengahnya terdapat dua nama yang di rangkai menjadi satu yakni Angga dan Diana.


Diana dan Bu Rania sempat takjub melihat rangkaian bunga indah tersebut.


"Kejutan !"ucap Angga sambil memeluk Diana dari belakang.


"Mas Angga, ini untuk apa?"tanya Diana gelalapan karena masih syok.


"Ini untuk ungkapkan permintaan maaf ku," bisik Angga.


"Tapi Mas ... "


"Sudahlah Sayang, aku tak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaan ku terhadap mu, hanya dengan cara ini. Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu aku memesan ini."


"Mas, ini tuh pasti mahal sekali, dan ini tuh pemborosan."


"Nggak apalah sekali-kali, aku terlanjur memesannya ,aku pikir kau takkan memaafkanku dengan mudah," jawab Angga.


"Kenapa tidak Mas, sedangkan Tuhan saja mau mengampuni hambanya. Apalagi jika Mas sudah berniat baik," Tentu saja aku akan menerimanya."


"Sudahlah kalau begitu, Anggap saja ini hadiah untuk mu karena telah mengandung anak dari ku," bisik Angga.


Diana begitu tersanjung hingga meneteskan air mata harunya.

__ADS_1


"Terima kasih Mas, sebenarnya tak juga perlu seperti ini, melihat kau seperti ini saya aku sudah sangat bahagia," ucap Diana sambil menghambur memeluk suaminya.


"Sama-sama Sayang."


Ada empat orang pria yang menurunkan bunga itu karena begitu berat dan besar.


"Mau di letakkan di mana Mas?"tanya seorang Pria.


Angga dan Diana mencari tempat yang tepat untuk meletakkan bunga tersebut.Namun, mereka tak menemukannya karena rumah Diana tak terlalu luas.


Dina dan Rania kagum melihat itu. rangkaian besar itu dibiarkan berada di teras karena tak cukup besar menyimpan buket tersebut di dalam rumah.


***


Plak.. Plak entah berapa kali tamparan tersebut mendaratkan di pipi Naysila.


"Bikin malu ! apa ini pekerjaan mu selama ini ?!" bentak pak Bharmono.


Hiks hiks Naysila hanya menangis tersedu-sedu sembari menahan rasa sakit akibat pukulan Daddynya yang berulang kali.


"Dasar perempuan murahan! pantas saja pak Wijaya membatalkan pernikahan ini! untung saja pak Wijaya tak menyebarkan video itu. Mau di taruh dimana wajah ku ini !"


Pak Bramono terus memarahi Naysila.


"Kau disekolahkan tinggi ternyata kau memilih tempat rendahan!"


Pak Bramono menjambak rambut Naysila.


Naysila menangis segugukan sambil meluk lututnya.Ia tak berani melawan.


"Dasar perempuan murahan ! padahal Aku berharap dengan menikahi Angga, Perusahaan kita bisa kembali bangkit! Tapi semua hancur karena kebodohan mu!"


Pak Bramono terus memarahi Naysila dan mencaci maki putrinya itu.


****


Malam harinya Angga berniat Mengajak makan istrinya itu dibawah lampu neon yang berada di atas bukit 1000 bunga mawar itu .


Keduanya terlihat romantis, sehingga menimbulkan kecemburuan bagi Dina.


Dina merekam momen romantis Diana dan Angga kemudian mengirimnya kepada seseorang . Ia juga menuliskan sebuah pesan.


📩


Lihatlah, betapa romantisnya mereka. Jika rencana kita tidak segera dilaksanakan, aku takut akan sulit memisahkan mereka." Dina kemudian mengirim pesan tersebut ke seseorang yang misterius.


Beberapa saat kemudian sebuah pesan masuk di aplikasi chat Dina.


📩


Baiklah eksekusi akan di jalankan besok.


Dina tersenyum menyeringai

__ADS_1


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya karena besok akan semakin seru


,


__ADS_2