Pernikahan Ke 3

Pernikahan Ke 3
Penelpon Misterius


__ADS_3

Diana berdiri di depan cermin ia melihat beberapa bedaknya tak ada di meja rias " Loh Kemana perginya bedak ku?" tanya Diana.


Karena tak terlalu penting, Diana tidak menghiraukannya.


"Sayang,hari ini kamu ke butik?" tanya Angga yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku kan harus kerja Mas," jawab Diana.


"Nggak istirahat dulu barang sehari dua hari?"


"Tenang saja Mas, aku bisa jaga diriku aku nggak akan pulang larut malam lagi."


"Terserah kau saja, nanti makan siang aku jemput ya."


Setelah membereskan dirinya, Dina membantu Angga menggunakan kemeja, dasi, dan jasnya setelah selesai mereka keluar untuk sarapan.


Ketika tiba di meja makan, Diana begitu kaget melihat Dina yang menggunakan pakaian jilbab dan berdandan serupa seperti dirinya.


"Dina, kamu pakai pakaianku?" tanya Diana


"Iya, aku ambil di jemuran aku mau pakai hijab tapi tak punya baju syar'i jadi aku boleh dong pinjam baju kamu?" ucap Dina.


"Oh tentu saja boleh, kau boleh pakai pakaianku yang mana saja yang kau inginkan. Jika kau mau, akan kuberikan kau uang untuk membeli pakaian syar'i. Aku senang melihat perubahanmu Din," ucap Dina sambil menarik kursi meja makan.


Diana memoles roti untuk Angga.


Bu Rania membawakan susu dan minuman hangat untuk Diana ,Dina dan juga Angga. Bu Rania tersenyum melihat anak-anaknya terlihat akur.


"Mas Angga, hari ini aku numpang lagi ya ke kampus," ucap Dina.


Angga hanya diam tak menjawab ucapan tersebut.


"Kamu pakai mobilku saja Din, karena aku diantar Mas Angga," sahut Diana.


"Iya deh," jawab jawab Dina.


Setelah sarapan selesai, Angga dan Diana langsung berangkat ke butik.


Sementara Dina yang menggunakan mobil Diana.


Dina menuju satu tempat sambil menyetir ia menghubungi seseorang.


"Halo," sapa Dina ketika sambungan telepon tersambung.


"Kita bertemu di tempat biasa sekarang," ucap Dina kemudian mematikan sambungan teleponnya.


***


Dina tiba di sebuah jalanan yang cukup sepi, ia memarkirkan mobilnya di jalan raya.


Sebuah mobil menghampiri Dina. Mobil tersebut memarkirkan mobilnya di salah satu bahu jalan di tepi jalan raya.


"Diana! "panggil seorang pria.


Pria itu mendekati Dina dengan berlari kecil.


"Danu," gumam Dina.


"Eh kamu rupanya Din, aku pikir kamu Diana," ucap Danu.


Dina tersenyum kecut.

__ADS_1


"Memangnya mirip ya, aku dan Diana?" tanya Dina.


" Ya mirip lah, kalian kan saudara kembar .Lagi nungguin siapa Dina ?"tanya Danu .


"Ah enggak lagi nunggu seseorang."


"Kok menunggu seseorang di jalan sepi seperti ini ,nggak takut kenapa-kenapa?" tanya Danu .


"Enggak lah ini kan masih pagi," jawab Dina .


"Ya sudah aku boleh bertanya nggak?" tanya Danu.


"Tanya saja."


"Bagaimana hubungan Diana dengan suaminya?" tanya Danu.


Dina mengkeeucutkan bibirnya sembari menaikkan satu alisnya.


"Oh mereka semakin mesra saja. Sepertinya, harapan kamu untuk memiliki Diana tak lagi bisa. Apalagi saat ini Diana telah hamil," sahut Dina dengan ketus.


Wajah Danu langsung tertunduk lesu.


"Ya Sudahlah, jika memang Angga bisa membahagiakan Diana ,Aku ikhlas kok Din," ucap Danu dengan nada lirihnya.


Dina lagi-lagi tersenyum kecut sambil menatap Danu dengan sinis.


'Coba dari dulu kamu berpikiran seperti itu, selain Diana kan masih ada aku. Lagi pula wajah kami juga nggak jauh berbeda. tapi tentu saja sekarang aku lebih memilih Mas Angga,selain lebih tampan. Mas Angga lebih kaya, anak tunggal lagi,'batin Dina.


"Ya sudahlah Din, aku pergi dulu ya, kamu hati-hati ya," ucap Danu sambil berlalu meninggalkan Dina.


Setelah kepergian Danu sebuah mobil hitam menghampiri Dina.


Seorang pria berkacamata hitam dan berpakaian serba hitam turun dari mobil tersebut ada beberapa mobil yang mengiringi pria itu.


Sebenarnya aku sudah sampai dari tadi, hanya saja aku melihat kau berbicara dengan seorang lelaki, siapa dia ?"tanya pria itu.


"Oh pria itu Danu, temannya Diana. karena aku berpakaian seperti ini, dia mengira aku ini Diana."


"Iya sebenarnya aku juga mengira kau Diana, kau sangat mirip dengan pakaian itu," ucap pria misterius itu.


"Hahaha itulah yang aku inginkan, aku ingin membuat diriku terlihat mirip seperti Diana, agar jika kau membawa Diana pergi yang jauh aku bisa menggantikan posisi Diana sebagai istri dari Angga."


Pria itu menyunggingkan senyum tipis.


"Karena kita sama-sama mendapat keuntungan, kalau begitu aku tak perlu membayarmu," cetus pria misterius tersebut.


"Enak saja kau, aku masih butuh uang banyak.Lagi pula ini perbuatan kriminal, resikonya sangat tinggi."


"Kau bawa mobil Diana?" tanya pria itu.


"Iya, Karena sekarang Diana sudah diantar jemput oleh suaminya."


"Baiklah katakan apa rencanamu sehingga tidak bisa dibicarakan melalui sambungan telepon?"


Dina mendekati pria itu kemudian berbisik setelah selesai ia menyunggingkan senyum menyeringai.


***


Diana tiba di butiknya.


"Nanti siang aku jemput kamu ya sayang," ucap Angga.

__ADS_1


"Iya Mas," jawab Diana.


Angga langsung memutarkan mobilnya, kantornya berjarak sekitar 20 menit dari butik Diana.


Dina masuk ke butik dan memulai mendesain gaun pengantin pesanan salah seorang pelanggan.


Waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi, Diana masih berkonsentrasi mengerjakan pekerjaannya.


Sebuah panggilan telepon masuk membuatnya kaget.


Diana menatap layar HPnya dan melihat sebuah nomor yang tak dikenal sedang melakukan panggilan dengannya.


Nomor tersebut sama sekali belum pernah menghubungi ataupun mengirim pesan pada nya, jadi Diana tak menaruh curiga sedikitpun. Ia pikir itu tanya nomor seorang pelanggan baru.


"Hallo Assalamualaikum," sapa Diana ramah.


"Hiks hiks Diana!"


Terdengar bunyi tangisan dan Diana tahu itu suara siapa.


"Dina kau kah itu?" tanya Diana.


" Hiks hiks Diana tolong aku, seseorang telah menculikku dan menganiayaku. mereka mengira aku adalah kamu sebenarnya mereka ingin menculikmu," tutur Dina diiringi suara tangisan.


"Astaghfirullah, lalu kamu di mana ?"tanya Diana panik, bola matanya memerah seketika.


"Mereka menyuruhku menelponmu nomormu sudah disadap Diana, jika kau Aku datang menyelamatkanku,maka aku akan dibunuh."


"Hiks hiks, Akh sakit! Lepaskan aku!"


"Astaghfirullah hal adzim, "Diana langsung menangis mendengar suara Dina yang terdengar seperti sedang di siksa.


"Aku akan telepon polisi Dina katakan saja di mana alamatnya?"tanya Diana.


Tidak Diana, Jangan telepon polisi. Mereka akan menghabisiku, mereka akan tahu jika kau menghubungi polisi.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Diana dengan panik.


Tiba-tiba sambungan telepon terputus.


"Halo! halo !Dina katakan di mana alamatnya?!" Seru Diana Namun, semua sia-sia karena sambungan telepon sudah diputus oleh orang yang tak dikenal.


beberapa saat kemudian, Diana mendapat kiriman foto Diana dengan wajah yang lebam dan berdarah.


Seketika itu Diana langsung menangis dan dia tak tahu harus berbuat apa-apa.


"Dina !"panggil.Diana dengan tangisan yang menyayat hati.


Sebuah pesan kembali masuk ke nomor Diana, Ia pun langsung mengangkat telepon tersebut.


"Halo," terdengar suara berat seseorang dari sambungan telepon.


"Di mana Dina?!"tanya Diana dengan Isak tangisnya..


'Jika kau ingin Dina selamatkan kau datang ke alamat ini."


Pria yang di seberang telepon pun menyebutkan alamat di mana Dina disekap.


"Ingat jangan pernah telepon polisi atau beritahu siapapun. Jika tidak, adikmu tidak akan bisa melihat matahari esok hari," ucap penelpon gelap tersebut langsung menutup teleponnya.


bulir bening menetes di pipi Diana.

__ADS_1


" Hikss hiks Dina! Apa yang harus aku lakukan," gumam Diana sambil menangis


Bersambung dulu gengs. Kira-kira siapa ya yang menelpon Diana.


__ADS_2