Pernikahan Ke 3

Pernikahan Ke 3
Melamar


__ADS_3

Dina sedang menyisir Shakila di depan meja rias.


" Bunda, Ayah Shakila di mana sih, Kayla dan teman-teman Shakila yang lainnya kok punya ayah, sementara Shakila nggak punya ayah?" tanyanya dengan polos.


Deg deg


detak jantung Dina berdetak dengan kencang. Dina tak menyangka, jika secepat itu putrinya akan bertanya hal-hal yang begitu berat untuk ia jawab.


Beberapa saat, Dina melamun kemudian dia tersentak dari lamunannya ketika Shakila memanggilnya.


"Bunda! kok diam aja sih?" tanya Shakila.


"Eh, gak kok Nak."


Nadia kembali menyisir rambut Shakila.


"Bunda anak haram itu apa sih?" tanya Shakila tiba-tiba.


Dina begitu kaget mendengar pertanyaan Shakila tersebut.


"Kamu tahu dari mana Nak, kata-kata seperti itu?"


"Tahu dari kata tante Merry, tante Merry memanggil aku dengan sebutan anak haram, Karena itulah aku nggak punya ayah," tutur Shakila dengan polos.


Dina kembali tersentak, ketika mendengar kata-kata putrinya itu. Katanya tersebut membuat hatinya begitu pilu hingga membuat Dina kembali meneteskan air matanya.


Kemudian, ia langsung merangkul putrinya." Maafkan Bunda ya, karena Bunda kamu jadi bahan ejekan orang-orang."


Dina kembali menangis sambil memeluk Shakila


"Bunda, kenapa Bunda menangis?"katanya Shakila lirih.


"Nggak papa. Bunda hanya sedih mengenang nasib kamu," ucap Dina.


Shakila langsung mengusap punggung Dina "Bunda, jangan menangis. Kalau Bunda sedih, Shakila ikut sedih," ucapnya.


Dina buru-buru menghapus air matanya.


"Iya Nak, Bunda nggak akan nangis lagi Bunda bahagia punya anak seperti kamu, jadi nggak ada gunanya Bunda menangis."


"Yuk sekarang kita sarapan, karena bunda harus pergi bekerja," ucap Dina sambil menuntun putrinya keluar dari kamar.


"Bunda kerja di mana?"


"Bunda kerja di butiknya bunda Kalya."


"Kenapa harus kerja?"


"Karena kita gak mungkin menunggu uluran tangan dari bunda Diana terus, Nak."


Shakila duduk di meja makan.


"Kamu sarapan Ya, Nanti sore setelah bunda pulang kita jalan-jalan."


"Iya Bunda."


Dina menyuapi Shakila terlebih dahulu barulah setelah itu ia sarapan.


Selesai sarapan, Dina berniat memesan ojek online untuk mengantarnya ke butik. Namun, baru saja hendak membuka aplikasi Dina kemudian melihat mobil yang begitu ia kenali berhenti di depan rumah.


"Hai Din," sapa Danu.


"Mau ke mana?"tanya Danu.


"Aku mau ke butik, kerja."


"Ayo, sekalian aku antar."


"Iya Nu, terima kasih."


"Aku izin sama ibu dan Shakila dulu ya," ucap Danu.


Setelah beberapa saat masuk ke dalam, Danu kembali keluar.

__ADS_1


"Ayo Din, aku antar."


Dina dan Danu masuk ke dalam mobil secara bersamaan.


Setibanya di depan butik,


Dina dikejutkan dengan pemandangan yang tak biasa.


Di depan butik terdapat gapura yang terbuat dari rangkaian bunga Lilac putih berbentuk hati.


Di gapura tersebut juga tertuliskan 'Marry me!'


"Apa ini?"tanya Dina kaget.


Danu mengeluarkan sebuah kotak cincin.


"Marry me?" tanyanya sambil menyodorkan cincin tersebut.


Dina benar-benar dibuat syok.


'Nu, kamu lagi bercanda ya?" tanya Dina.


"Enggak lah, masak pernikahan dibuat bercanda."


"Marry me?" tanya Danu sekali lagi.


"Nu, kamu serius?" tanya Dina sambil menutup mulutnya karena kaget.


Danu menggangguk," Iya Din kamu masih belum yakin?" tanya Danu balik.


"Tapi Nu, aku kan..."


"Kamu kenapa?"


Dina tertunduk lesu.


"Tapi aku merasa nggak pantas saja untuk kamu. Aku merasa diri aku terlalu kotor," ucap Dina sambil menundukkan wajahnya.


Bulir bening menetes di pipinya.


"Ngak, kok Din. Jangan bicara seperti itu, aku bisa kok menerima keadaan kamu apa adanya," tutur Danu sambil mengusap bulir bening yang menetes di pipi Dina.


beberapa saat Dina terdiam mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Danu.


Danu kembali menyodorkan kotak cincin


"Maukah menikah denganku?"tanyanya lagi.


"Hiks mau Mu,"ucap Dina sambil mengganggukan kepalanya.


"Alhamdulillah,"ucap Danu.


"Kalau begitu Sekarang kita turun, kamu nggak usah kerja kita sekalian fitting baju pengantin saja."


" fitting baju? tapi kita kan belum meminta doa restu dari ibu?"


"Sudah kok, aku sudah meminta Restu sebelum menanyakan ini kepada kamu."


Dina mengangguk dan tersenyum.


"Sudahlah Dina, Ayo kita turun. Diana juga sudah menunggu kita di butiknya," ucap Dina.


Dengan perasaan haru dan bahagia Dina menghapus air matanya, Ia pun turun dari mobil.


Dina tersenyum ketika melewati gapura.


Danu menarik, satu tangkai bunga kemudian memberinya pada Dina.


"Bunga ini secantik kamu Din," ucap Danu sambil tersenyum mesra ke arah Dina.


Dina meraih bunga tersebut dengan senyum simpul.


"Terima kasih Nu, Baru kali ini ada orang yang tulus seperti kamu," ucap Dina.

__ADS_1


mereka lanjutkan langkah menuju pintu, tiba di pintu Dina kembali dikejutkan dengan suara sorak.


"Cie cie calon manten," seru Diana dan para asistennya mereka pun menabur kelopak bunga di atas kepala Dina dan Danu.


Dina dan Danu saling memandang seraya melempar senyum.


"Selamat ya untuk calon pengantin kita yang baru."


Hehe Terima kasih semua, karena telah membantu menyiapkan kejutan kecil yang sederhana ini.


"Ayo Din, kita fitting baju pernikahan kamu," ucap Diana sambil menggandeng tangan Dina. Diana membawa Dina ke ruangannya.


'Kamu pilih desain yang mana Din?" tanya Diana sambil menunjukkan laptopnya.


"Yang simpel sajalah."


Dina pun memilih gaun pengantin dan desain kebaya yang akan dikenakannya untuk pernikahan yang nanti.


Setelah itu mereka pulang.


Mobil Danu berhenti di depan rumah Dina, kehadiran mereka langsung disambut dengan pertanyaan oleh Bu Rania.


"Loh Danu, kok sudah pulang?" tanya Bu Rania.


"Ayo bu kita masuk dulu," ajak Danu.


Danu dan Dina duduk di satu sofa.


"Ada apa nih, sepertinya ada yang serius?" tanya bu Rania.


Shakila menghampiri Dina dan duduk di pangkuannya.


"Begini Bu, kedatangan saya kemari, untuk melamar Dina secara resmi," ucap Danu.


Bu Rania sedikit kaget.


"Apa kamu sudah yakin Mu, pada pilihan kamu?" tanya bu Rania.


Sebelumnya Danu memang pernah membicarakan hal tersebut pada Bu Rania. Dan Bu Rania menyerahkan keputusan tersebut pada Dina sepenuhnya.


"Insya Allah saya sudah mantap bu, saya akan meminang Dina. saya juga sudah memberitahukan hal ini kepada kedua orang tua saya, dan mereka menyetujuinya."


"Alhamdulillah kalau begitu Nu, sekarang tinggal keputusan Dina bagaimana."


"Bagaimana menurut kamu Nak?" tanya Bu Rania.


Dina tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya Bu, Dina sudah menerima lamaran Danu, bahkan kami sudah fitting baju pengantin, baru saja di butik Diana," ucap Dina.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Ibu hanya bisa berdoa semoga ini jalan terbaik untuk kalian berdua."


"Aamiin Bu," sahut Dina dan Danu berbarengan.


"Shakila sini !"panggil Danu. Shakila pun datang menghampiri Danu.


Shakila mendaratkan bokongnya di atas paha Danu.


"Shakila mau punya ayah kan?" tanya Danu.


"Mau dong."


"Kalau begitu Shakila mau, kan jika om yang akan menjadi ayah bagi kamu ?" tanya Danu


"Mau Om, tapi nanti dibelikan es krim ya?"


"hahaha, cuma es krim. Iya, nanti Om belikan gerobak es krim sekalian."


"Asyik!"sahut Shakila. Ia pun langsung menghambur memeluk Danu.


"Terima kasih ya, Om," ucapan Shakila.


"Sama-sama Sayang."

__ADS_1


Dina dan Bu Rania begitu bahagia melihat pemandangan indah itu.


Bersambung dulu ya geng insya Allah masih ada satu bab lagi.


__ADS_2