
Diana diam sesaat setelah menerima telepon misterius itu..
"Apa yang harus aku lakukan," gumamnya
"Aku tak boleh menelpon Mas Angga, juga tak boleh menelpon polisi. Jika seperti ini aku pasti juga akan berada dalam bahaya, tapi..."
Diana kemudian meletakkan handphonenya, ia coba kembali mengingat alamat yang diucapkan oleh penonton gelap tersebut.
Secepatnya Diana meraih tasnya kemudian menghampiri Mira.
" Mira tolong hubungi suamiku, suruh dia membaca pesan di salah satu nomor yang mengirim pesan di handphoneku," ucap Dina.
" Mbak Diana mau ke mana?" tanya Mira ketika melihat Diana membawa tasnya.
" Kau segera hubungi saja Mas Angga, suruh dia masuk ke ruanganku dan bawa handphone-ku, aku harus pergi saat ini."
"Baik mbak," ucap Mira.
Mira kemudian langsung meraih handphonenya dan melakukan panggilan.
karena nomornya sudah disadap Diana tidak bisa menghubungi Angga karena itulah dia meminta Mira untuk menghubungi suaminya.
Diana kemudian berjalan menghampiri Rina, asistennya.
" Rina tolong pesankan taksi online!"
" Mbak mau ke mana?" tanya Rina Tolong pesankan taksi online secepatnya!" titah Diana dengan tegas.
"Oh iya iya Mbak," sahut Rina dengan cepat, karena sepertinya Diana terburu-buru.
"Sudah mbak," ucap Rina ketika ia telah selesai melakukan tugasnya.
Beberapa saat kemudian Dina menghampiri taksi yang sudah menunggu di depan butiknya.
Dengan tergesa-gesa Dina masuk ke dalam taksi tersebut .
Komplek pergudangan Al fajar, Pak ,"ucap Diana pada taksi pada sopir taksi itu.
Mobil berjalan perlahan meninggalkan butik itu. Diana terlihat begitu gelisah. "Pak bisa tolong lebih cepat, adik saya dalam bahaya," ucap Dina .
"Baiklah Sayang ,"ucap seseorang yang langsung tersenyum menoleh ke Diana.
Orang tersebut adalah sopir taksi.
Diana begitu kaget melihat orang tersebut, "Kau ?!" tanya Diana dengan mata yang membelalak dan jantung yang hampir copot.
tiba-tiba mulutnya dibekap oleh seseorang dari arah belakang.
***
Seperti yang diperintahkan oleh Diana Mira langsung menghubungi Angga. Meski berkali-kali ia harus melakukannya.
"Halo ada apa ?"Mira tanya Angga.
"Mas, Mbak Diana meminta Mas untuk datang ke ruangannya dan memeriksa handphonenya."
"loh memangnya Diana ke mana?" tanya Angga dengan panik.
__ADS_1
"Saya nggak tahu Mas, Mbak Diana tadi terlihat terburu-buru sekali. Iya sampai menyuruh Rina menelponkan taksi online."
Ketika menghubungi Angga, sebuah mobil berhenti.
Rina yang sibuk baru memperhatikan aplikasi taksi online nya.
" Seperti itu sopir taksi onlinenya?" tanya Karina ketika mencocokan Plat nomor polisi.
Karina langsung menghampiri sopir taksi itu.
"Jadi bapak baru tiba?"tanya Karina.
"Iya Neng, "jawab bapak itu.
"Lalu siapa yang membawa Mbak Diana?" tadi tanya Karina dengan khawatir.
"Bagaimana Mbak, Jadi pesan nggak?" tanya sopir taksi itu.
"Maaf Pak orderannya saya batalkan, saya ganti rugi sajalah ya Pak," ucap Rina sambil menyerahkan uang kepada sopir taksi tersebut.
Angga dan Mira masih berada dalam sambungan telepon. Karina masuk dan langsung melaporkan kejadian tersebut pada Angga melalui sambungan telepon.
"Jadi ke mana Diana pergi!" seru Angga dengan panik.
Tak tunggu lama lagi, Angga langsung menuju butik Diana.
Perjalanan yang harusnya yang memakan waktu 20 menit dalam kurang dari 10 menit saja ,Angga sudah tiba di butik Diana.
Angga langsung masuk ke dalam butik tanpa permisi.
" Dimana handphonenya Diana?" tanya Angga dengan wajahnya yang pucat karena panik.
" Astaghfirullahaladzim," ucap Angga ketika melihat foto Dina yang terlihat lebam dan babak belur.
" Diana pasti mendatangi tempat ini! tapi di mana tempat ini ?" tanya Angga Angga bermonolog.
Ia pun menyuruh seseorang untuk mencari lokasi nomor handphone yang menghubunginya
Kemudian Angga coba menghubungi Dina. Namun handphone Dina hanya berdering tanpa ada jawaban.
.
"Ke mana perginya Diana?" tanya Angga yang semakin khawatir dan panik.
enggak menghela nafas panjang meski begitu panik ia mencoba untuk berpikir jernih. Angga merogoh saku celananya untuk menelpon Pak Wijaya dan Bu Wina agar membantunya mencari cara.
Angga seperti kehilangan kewarasannya karena khawatir akan istri dan anak yang dikandung dalam rahim Diana.
Akhirnya setelah beberapa pertimbangan Angga memutuskan menelpon polisi dan beberapa orang bodyguard-nya.
Angga meminta seseorang untuk melacak nomor telepon yang mengirim pesan ke Diana.
Dalam waktu 10 menit lokasi nomor tersebut terlacak. Angga langsung bergegas menuju tempat lokasi tersebut.
Sepanjangan perjalanan engga masih terus menghubungi beberapa orang yang menurutnya penting untuk membantu pencarian istrinya.
dalam setengah jam Angga pun tiba di lokasi.Ternyata lokasi tersebut berada di dalam sebuah komplek pergudangan di daerah pinggiran kota.
__ADS_1
Angga dan orang-orangnya langsung berpencar mencari keberadaan Dina dan Diana di sekitar area.
Ada ratusan orang yang ikut mencari keberadaan Dina dan Diana.
Setelah menyusuri sekitar area tempat tersebut, mereka menemukan salah satu pintu gudang yang sedikit terbuka. Tanpa menunggu lama Angga langsung masuk ke dalam gudang itu.
"Dina!" panggil Angga karena mengenali dari pakaiannya
Angga langsung menghampiri Dina yang terbaring dengan wajah babak belur dan tak sadarkan diri.
"Dina! bangun Dina !"seru Angga sambil menumpuk-nepuk Dina.
Dina membuka matanya sedikit " Mas Angga," ucapnya lirih.
Kemudian Dina terpejam lagi, melihat hal itu Angga semakin panik.
" Dina! bangun Dina! di mana Diana?" tanya Angga dengan perasaan khawatir yang berkecambuk di dalam hatinya.
Dina kembali menutup matanya ia sudah tak sadarkan diri.
" Angkat dia! dan bawa dia ke rumah sakit! " titah Angga .
dalam kebingungan dan khawatiran Angga terus melakukan pencarian.
Tak lama setelah itu, beberapa polisi datang menyusuri area tersebut guna mencari keberadaan Diana di tempat itu.
Namun mereka juga tak menemukan keberadaan Diana, sementara Dina langsung dibawa menuju ke rumah sakit karena keadaannya sangat memprihatinkan, terdapat sekujur luka di wajahnya dengan pakaian yang robek.
Angga masih terus memburu mencari keberadaan Diana Ia pun memerintahkan seluruh orang-orangnya untuk berjaga di tempat-tempat umum dengan bantuan kepolisian.
Mereka berjaga di bandara, stasiun mau pun rute yang menuju arah luar kota.
Diana terus dicari, tetapi Diana tak meninggalkan jejak apapun.
Angga teringat apa yang dikatakan oleh Karina, jika Diana dijemput oleh seseorang yang diduganya sopir taksi online.
Angga pun mencari CCTV yang merekam detik-detik Diana masuk ke dalam mobil itu.
Akhirnya, mereka bisa melihat plat mobil yang membawa Diana tersebut.
Setelah mendapatkan bukti CCTV polisi langsung bergerak mencari pemilik dari plat mobil tersebut.
Mobil yang membawa Diana bergerak melaju ke arah luar kota, mobil itu menuju jalan kecil ternyata di ujung jalan sudah ada helikopter yang siap bergerak membawa Diana.
Diana yang tak sadarkan diri di bawah turun dari mobil kemudian naik ke dalam helikopter.
Diana terbangun ketika ia merasakan sesak dan udara yang pengap.
"Dimana aku tanya ?" tanya Diana sambil mengedarkan pandangannya.
Suara yang didengar Diana begitu berisik, Diana kaget ketika melihat seseorang pria yang begitu ia kenal tersenyum ke arahnya.
"Sudah bangun sayang?" tanya pria itu.
"Kau?!" Sekali lagi Diana terkejut dan langsung membelalakkan bola matanya.
Bersambung dulu ya gengs, tenang insya Allah ada satu bab lagi nih. So jangan ragu untuk memberikan dukungan hehe.
__ADS_1
Terima kasih,🙏😄😄