Pernikahan Ke 3

Pernikahan Ke 3
Kejutan


__ADS_3

Angga memeluk bantal guling nya kemudian menciumnya. Saat itu ia sedang bermimpi tengah tidur bersama Diana.


"Diana sini peluk aku," ucap Angga dalam igauannya.


"Ayo peluk aku!"


Angga membuka matanya karena tak mendapat respon. Tentu saja bantal guling itu tak mungkin bisa memeluknya.


Angga tersadar, kemudian bangkit dan bersandar pada headboard tempat tidurnya.


'Apa aku begitu merindukannya, ini sudah ketiga kalinya aku bermimpi tentangnya.'batin Angga


Beberapa hari ini Angga tidak bisa beristirahat dengan tenang pikirannya kacau. Tak hanya itu, ia juga malas untuk pergi ke kantor.


Angga bangkit untuk menatap dirinya di depan cermin.


'Apa sebesar ini pengaruh Diana dalam hidup ku?' batin Angga yang melihat keadaannya yang terlihat kacau.


Wajahnya yang tampan tertutup aura gelap.lingkaran hitam di bawah kelopak matanya begitu tegas.


Angga menatap dirinya di depan cermin dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Sulit untuk aku mengakui semua ini, tapi inilah kenyataannya. Tanpa mu aku memang tak berdaya, Diana," ucap Angga lirih.


Mungkin benar apa yang di katakan oleh orang-orang, kita baru akan menyadari betapa berartinya dia dalam hidup kita, jika dia telah tiada.


Angga langsung menuju kamar mandi. Kemudian bersiap untuk ke kantor.


Bu Wina heran melihat perubahan Angga yang seperti turun naik.


Karena tak ingin mengganggu suasana hati Angga yang sedang baik itu, Bu Wina hanya tersenyum simpul tanpa banyak tanya.


Angga juga tak banyak bicara pada saat itu. Selesai sarapan Angga langsung bergegas.


"Ma, Pa, Angga pergi dulu," ucapnya sebelum pergi.


Saking herannya melihat perubahan drastis Angga tersebut, Bu Wina dan pak Wijaya menatap Angga dengan mulut yang menganga.


"Pa, Angga kenapa ya? Hari ini ia terlihat begitu semangat, tak seperti semalam. Mama jadi khawatir."


"Biasa lah Ma, mungkin Angga lagi kasmaran kali, harusnya mama seneng dong Angga seperti itu."


" Iya sih, tapi apa yang membuat Angga berubah seperti itu?"


"Sudah lah Ma, Mama Tenang saja, Angga enggak akan berani berbuat macam-macam. Papa sudah menyuruh orang untuk mengawasinya."


"Ya sih Pa. Tapi Mama nggak tahu Angga berubah itu karena dia memilih Naysila atau memilih Diana."


"Biar saja dulu lah Ma, memutuskan sesuatu hal untuk masa depan kita itu memang butuh waktu, biar saja Angga memilih jalan hidupnya sendiri."


"Mama sih berharapnya Angga itu tetap memilih Diana . Jujur ya Pa, Mama mengurus pernikahan Diana ini dengan setengah hati, sambil berdoa semoga pernikahan ini di batalkan dengan sendirinya."


***


Angga tiba di sebuah toko bunga yang baru saja buka.


"Permisi," ucapnya kepada seorang pelayan toko.


"Ada yang bisa saya bantu, Mas ?" tanya Pelayan toko itu yang sedikit kaget dengan kedatangan Angga.


"Saya ingin pesan buket bunga mawar merah yang besar, yang indah, yang mahal pokoknya yang paling bagus," ucap Angga.


"Oh baiklah, mau berapa kuntum bunga mawar, Mas ?" tanya toko tersebut


"Kalau bisa, seribu bunga mawar," Jawab Angga.


"Maaf Mas, kalau 1000 bunga mawar kami tidak memiliki stok sampai sebanyak itu."

__ADS_1


"Kalau begitu berapa banyak yang kalian punya?" tanya Angga.


"Mungkin hanya ada sekitar 50 Kuntum bunga mawar ," jawab Pelayan toko itu. "Jika anda ingin memesan 1000 Kuntum bunga mawar, Anda bisa memesannya terlebih dahulu kami akan siapkan stoknya," imbuhnya lagi.


"Baiklah 50 Kuntum bunga mawar, bikin yang bagus, yang cantik untuk hari ini."


"Tolong siapkan juga Rp1.000 kuntum bunga mawar dan bikin buket yang indah, saya tak peduli berapapun harganya," ucap Angga.


"Baik Mas."


Angga rela menunggu 1 jam setengah mengawasi Pelayan toko tersebut merangkai buket bunga nya.


"Iya ingin memastikan sendiri jika Pelayan toko itu memberikan pelayanan terbaiknya."


"Sudah selesai," ucap pelayan tokoh tersebut.


"Angka tersenyum, Ia begitu puas dengan hasil kerja penjaga toko itu."


"Berapa harganya?" tanya Angga.


"Rp100.000 untuk satu tangkai bunga Mas. 50 tangkai berarti 5 juta," ujar pelayan toko tersebut.


"Baiklah tidak masalah. Angga menyerahkan uang Rp6.000.000 cash."


"1 jutanya tips untuk kamu, karena hasil karya mu bagus," ucap Angga.


"Wah terima kasih Mas." Pelayan toko itu begitu gembira.


"Sama-sama." Angga yang biasanya minum senyum, kini tersenyum sumringah, seperti seorang remaja yang sedang dilanda asmara.


"Apa Mas mau bawa sendiri atau diantar kurir ?"tanya penjaga toko.


"Bawa sendiri saja," ucap Angga.


"Oh ya, nanti hubungi saya di nomor ini. Saya akan transfer dp-nya untuk pembuatan buket 1000 Kuntum bunga mawar, ucap Angga, sambil menyodorkan kartu namanya.


"Terima kasih Mas," ucap pelayan tokoh tersebut.


Angga mengarahkan mobilnya menuju butik Diana.


Ketika tiba di butik itu, ia mendapati Mira sang asisten baru saja membuka pintu. Hari memang masih pagi saat itu, penunjuk waktu menunjukkan pukul 8. 30 pagi.


"Selamat pagi Mira ,"sapa Angga sok ramah.


"Mas Angga," ucap Mira kaget melihat Angga yang tiba-tiba bersikap ramah terhadapnya.


Biasanya Angga adalah orang yang dingin dan temperamental.


"Diana belum datang ?"tanya Angga


"Iya Mas, mbak Diana belum datang. Ada apa ya ?"


"Kalau begitu, boleh aku menunggu di dalam ruangan pribadinya?"


"Bagaimana ya?" Mira sedikit bingung.


" Ayolah, aku ini suaminya," bujuk Angga.


"Iya deh Mas, sebentar ya saya izin dulu dengan Mbak Diana , kalau begitu Mas Angga masuk saja terlebih dahulu."


"Jangan izin, aku ingin memberikan kejutan kepada Diana. Kalau kamu memberitahunya, itu namanya bukan kejutan lagi."


"Ehm Iya deh. Kalau begitu silahkan masuk."


"Tunggu sebentar, kamu pegang bunga ini ya."


Mira heran tapi ia menuruti juga.

__ADS_1


"Hati-hati jangan sampai rusak."


Angga kemudian masuk ke dalam mobil, kemudian memarkirkan mobilnya ke suatu tempat yang sedikit tersembunyi. Kemudian ia kembali menghampiri Mira dan membawa buket tersebut.


Mira masuk kemudian


mengambil kunci ruangan pribadi Diana di dalam laci.


Mira menghampiri pintu ruangan Diana kemudian membuka untuk Angga


Angga kemudian masuk ke dalam ruangan Diana.


"Kamu kunci dari luar," titah Angga.


***


Diana tiba di butiknya.


"Assalamualaikum," ucap Diana ketika masuk ke dalam butik tersebut.


"Waalaikum salam."


Diana menuju laci untuk mengambil kunci ruangannya.


Mira tersenyum melirik ke arah Diana. Iya sudah tidak sabar melihat keromantisan majikan tersebut.


Seperti biasa, Diana membuka kunci ruangannya.


"Hah! astagfirullah hal Azim!"


Diana begitu kaget ketika melihat buket berdiri dihadapannya.


"Surprise!"ucapan Angga sambil tersenyum.


Diana semakin kaget ketika melihat Angga tersenyum ke arahnya.


"Mas Angga,"lirih Diana.


"Kaget ya ?" tanya Angga.


"Iya, kok mas Angga ada di sini, nggak kerja?" tanya Diana berbasa-basi.


"Kerja, aku hanya ingin membuat kejutan untuk kamu." Angga menyodorkan buket mawar merah itu kepada Diana.


"Terima lah," ucap Angga lagi ketika melihat Diana yang terlihat ragu.


Diana tersenyum simpul sambil mengulur tangannya untuk meraih buket tersebut.


Ia tak mengerti kenapa tiba-tiba Angga bersikap manis dan membawakannya bunga.


"Tapi ini untuk apa Mas ?" tanya Diana.


"Bacalah kau akan temukan sebuah pesan di sana," ucap Angga.


Diana melirik di sebuah amplop berwarna merah muda.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu."


Angga mendekati Diana kemudian mencium keningnya.


"Aku kangen sama kamu," bisik Angga di tepi telinga Diana.


Deg ...jantung Diana terasa berhenti berdetak.


Baru kali ini ia mendengar Angga mengucapkan kata-kata romantis itu.


Angga melempar senyum manis sebelum ia keluar dari ruangan Diana, dan membiarkan Diana yang kini tengah larut dan kebingungan dan rasa tak percayanya .

__ADS_1


Diana menatap punggung Angga suara batinnya seketika berkecambuk saat itu.


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja. Terima kasih.


__ADS_2